
Bu Winda tercengang mendengar ucapan Aline. Tangannya berhenti mengelus rambut putrinya itu.
"Apa yang kamu khawatirkan, Nak!" Bu Winda mengambil alih gelas yang berisi teh di tangan Aline kemudian meletakkannya di atas meja tak jauh dari tempat tidurnya.
"Apa aku masih pantas untuknya, Bu?" keluh Aline.
Bu Winda meraih jemari Aline memberi kekuatan di sana. "Dengarkan ibu, Nak! pantas atau tidak bagaimana kita menyikapinya dan ikhlas untuk menerimanya. Galen sudah pernah bicara masalah ini kemarin, bukan? Kamu tidak lihat bagaimana tulusnya Galen kepadamu, Nak. Apalagi sekarang yang kamu khawatirkan? tentang kehamilan itu tidak akan terjadi." Bu Winda berusaha meyakinkan Aline.
"Apa menurut ibu, aku tidak egois mempertahankan Galen tetap ada bersamaku, meski keadaannya sudah seperti ini." Aline masih terlihat ragu. Di hatinya ia ingin Galen tetap ada bersamanya, hanya untuknya. Tapi di sisi lain, gadis itu juga merasa tidak pantas untuk Galen setelah apa yang terjadi pada dirinya.
Bu Winda menjelaskan pelan kepada Aline, bahwa ayahnya sudah meminta pihak Galen untuk membatalkan pernikahannya. Galen dengan tegas menyatakan tidak akan pernah membatalkan. Calon suaminya itu hanya menyetujui jika pernikahan mereka ditunda tidak untuk dibatalkan.
Ada perasaan kagum dan senang di hati Aline mendengarnya. Galen tetap mempertahankannya meski kondisinya berbeda.
"Kamu berhak bahagia, Sayang! sudah jangan terlalu banyak berpikir. kita bicarakan ini baik-baik bersama Galen setelah mereka pulang dari masjid. Ibu dan Ayah hanya bisa merestui. Semua keputusan ada pada kalian berdua." Bu Winda mengelus pelan bahu Aline. "Ibu mau siapkan sarapan dulu, nanti kita lanjut lagi. Kamu mau ikut bantu-bantu?" ajak Bu Winda kepada Aline yang tengah bimbang akan keputusan.
Aline menggeleng lemah, ia lebih memilih di kamar saja. Rasa ngilu di kakinya masih terasa. Semua tubuhnya masih terasa sakit.
Setelah mendengar apa yang diungkapkan ibunya. Aline telah mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang harus segera ia ambil. Semakin hari semakin dekat dengan hari pernikahannya ia ingin yang terbaik untuk semuanya. Meskipun undangan cetak tak jadi di sebar tapi rangkaian acara pernikahan sudah tersusun dengan rapi sesuai jadwal. Aline belum membatalkannya.
Bu Winda berharap setelah berbicara dengan Aline, putrinya itu bisa ikhlas dan terus melanjutkan pernikahannya. Galen sudah berbesar hati untuk tetap memilih Aline.
Wanita yang selalu berbicara lemah lembut dan keibuan itu keluar dari kamar Aline. Langkahnya terhenti, sekilas ia menoleh ke dalam kamar, memperhatikan Aline yang diam berpikir. Memang situasinya sulit untuk putrinya kali ini.
Aline terdiam nampak sedang berpikir. Dirinya tidak rela melepaskan Galen. Tetapi ia juga merasa tidak pantas untuk pria tersebut, Aline pikir banyak wanita yang masih suci dan lebih baik dari dia.
Sinar mentari pagi mulai menyusup masuk melalui celah jendela membuat Aline kembali tersadar dari lamunannya. Gadis itu sudah mengambil keputusan untuk kelanjutan hubungannya dengan Galen. Biarkan ia bersikap egois kali ini.
Bu Winda, Zainab dan Bi Kesih terlihat sibuk menyiapkan makanan pagi ini. Mereka sudah terbiasa makan pagi sebelum beraktivitas.
Ayah Zaki dan Galen masih berbicara serius di teras depan rumahnya usai kembali dari masjid tadi. Bu Winda memanggilnya untuk sarapan bersama.
Saat ini mereka berada duduk di satu meja yang sama. Menikmati sarapan pagi yang disiapkan pemilik rumah dengan hikmat. Ada rasa canggung karena Aline sedari tadi diam tanpa kata. Hanya Bu Winda dan Zainab yang menawari untuk menambah makanan atau tidak.
Setelah makan Ayah Zaki mengajak Aline duduk bersama di ruang keluarga. sesaat sebelum kepergiaannya ke rumah sakit bersama Bu Winda untuk mengambil hasil visum.
"Nak, masalah ini tidak bisa didiamkan. Andai saja pernikahan kalian tidak dalam jangka waktu dekat ini. Undangan cetak sudah di tahan untuk tidak disebar. Tapi rangkaian acara yang lain sudah terjadwal dengan baik." Ayah Zaki berbicara serius kepada Aline.
Putrinya itu mendengarkan dengan baik. "Iya, Ayah, Aline paham itu."
Ayah Zaki memandang bergantian kepada Aline dan Galen. "Ayah menyerahkan keputusan kepada kamu, lanjut atau tidak itu terserah kamu, Nak! Ayah tidak akan memaksa." ucapannya ditujukan untuk Aline.
"Dan untuk Galen, maafkan Ayah! Ayah tidak meragukan rasa cinta kamu terhadap putri ayah. Kita tidak tahu keadaan akan seperti ini." Ayah Zaki menjeda ucapannya, "Kita harus memutuskan hari ini juga. Ayah tidak mau membuat keluarga Wijaya malu dihadapan umum. Aline harus memutuskanya sekarang, meneruskan pernikahan atau membatalkannya," ucap Ayah Zaki tegas membuat semua yang berada di sana terlihat tegang. Terutama Galen.
"Yah, kita sudah membahas soal ini. Saya tetap akan melanjutkan pernikahan kami." sela Galen.
__ADS_1
"Kamu benar menerima semua kondisinya. Kejadian kemarin sudah menjadi aib bagi kami. Apa kamu tidak malu terus melanjutkan pernikahan ini hanya untuk menutupi aib putri kami?" Aline tertunduk mendengar ucapan Ayah Zaki. Rasanya rendah pada diri sendiri kembali ia rasakan.
"Apapun yang terjadi pada Aline, Saya akan terus bersamanya. Bukan untuk sekedar menutupi aib, Saya bertekad terus melanjutkan pernikahan ini, karena tulus kepadanya dari awal, Yah!" Galen beralih menatap Aline. Pria yang tengah putus asa itu mendekati Aline,Pria itu begitu takut Aline akan memutuskan untuk membatalkan pernikahannya.
Aline sedikit menghindar saat Galen mendekat kepadanya. Ada perasaan sedih melihat Aline tak mau ia sentuh. berbeda saat kemarin setelah kejadian kelam itu.
"Yang ... Apa kamu akan menyerah begitu saja, setelah semua yang kita lewati sama-sama?" Aline mulai terisak mendengar ucapan Galen. "Apa kamu tetap ingin pernikahan yang sudah kita rencanakan batal begitu saja?" Aline makin tidak sanggup mendengarnya. Gadis itu menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Bu Winda yang ada di sampingnya. Tangis dan isak tangis terlihat saat bahu Aline naik turun seiring tangisnya tanpa suara.
Aline ingin berkata tak ingin berpisah, tapi mulut begitu sulit mengucapkannya.
Bu Winda memberi usapan lembut pada bahu Aline. "Jangan seperti ini, Nak! kamu harus tegar," bisik Bu Winda.
Tanpa ada balasan dari Aline, Galen lekas berdiri, ia tidak mau semakin memaksa keinginannya pada Aline. Meskipun sangat berat untuknya tapi Galen akan berusaha menerimanya, mungkin Aline butuh waktu.
"Aku akan tetap menunggu kamu, Yang! aku tahu ini sangat berat, maaf jika terlalu aku terkesan terlalu memaksa." Galen berdiri pamit kepada Ayah Zaki, Zainab dan sapaan tanpa suara kepada Bu Winda.
Ayah Zaki hanya memberi tepukan di bahu pria itu saat mereka saling berpeluk singkat. "Sabar, ini ujian buat kalian."
Galen tersenyum sedih, Begitu berat untuk melangkah. Dengan menguatkan hati Galen berjalan pelan keluar dari rumah itu.
Hati Aline semakin teriris. Gadis itu melepas pelukannya dari Bu Winda.
"Apa kamu sudah menyerah dan benar-benar ingin pergi meninggalkan aku," ucapan Aline masih bisa di dengar oleh Galen. Ia menghentikan langkahnya.
Melihat Aline mengangguk pelan, seketika wajah putus asa itu berubah senang. Senyuman lantas menghiasi wajah yang saat ini di tumbuh bulu haus di rahangnya itu.
Ingin rasanya berlari memeluk tubuh gadis di hadapannya yang sudah membuat perasaan dan jantungnya hampir berhenti berdetak.
Bukan hanya Galen tapi kelegaan terlihat pada wajah Ayah Zaki dan Bu Winda begitu juga dengan Zainab. Mereka merasa senang. Setelah kesedihan akhirnya akan ada kebahagiaan.
"Yah, saya bisa mengajukan permintaan?" tanya Galen ragu.
Ayah Zaki memberikan sorot mata penasarannya.
"Saya ingin pernikahannya dilaksanakan segera, Saya takut Aline merubah kembali keputusannya." Semua terkejut dengan penuturan Galen. Sebegitu takutkah ia Aline menarik kembali keputusannya.
"Ayah, sih terserah pada Aline saja. Memang seharusnya niat baik itu harus disegerakan, jika kita menunda terlalu lama, takutnya akan ada hal yang tidak diinginkan kembali terjadi."
"Malam ini juga laksanakan pernikahan ini!" suara yang begitu dikenal terdengar di depan pintu. "Kenapa, bukahkan niat baik harus segera dilaksanakan." cetus Papa Wijaya.
Kali ini Galen sangat setuju dengan keputusan Papanya.
"Kamu, sejak kapan berada di sini? datang tidak memberi salam, Tiba-tiba memberi usulan yang mendadak." ketua Ayah Zaki.
"Mau memberi salam tapi suasana sedang melow, jadi aku ikut teehanyut juga." akunya. "Lalu bagaimana, jadi? Malam ini?" tanya Papa Wijaya.
__ADS_1
"Jadi, Pah!" celetuk Galen.
"Hei, keputusan ada pada putriku." kilah Ayah Zaki.
"Tadi kata ayah, niat baik harus segera dilaksanakan!"
Terjadi sedikit perdebatan antara calon mertua dan calon menantu itu.
"Iya, tapi kan--
"Aline setuju! tapi tidak ada cara meriah ataupun rangkaian adat, atau resepsi. Aku hanya ingin acara ini saja, di hadiri keluarga."
"Alhamdulillah.... " Sujud syukur Galen ucapkan.
Semua terlihat lega dengan keputusan yang ada.
Tak terasa obrolan itu berlangsung hampir dua jam. Ayah Zaki melupakan rencananya ke rumah sakit. Dengan bantuan Papa Wijaya, pihak ruamh sakit akan mengirimkan salinan hasil visum ke rumah Ayah Zaki. Dokter akan menghubunginya untuk memberi penjelasan dari hasil tersebut.
Galen mendekati Aline. "Terima kasih, Yang."
Aline tertunduk tidak berani menatap Galen. "Maaf jika keadaanku nanti akan mengecewakanmu."
"Ssttt... Jangan pernah membahas itu lagi, aku terima semua kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu. Kita akan merangkai kehidupan indah bersama." Aline mendongak menatap Galen, sebuah senyuman terbesit di wajah cantiknya.
Bu Winda dan Zainab saling merangkul, rasanya lega melihat senyum itu kembali hadir di wajah Aline.
Ayah Zaki dan Papa Wijaya saling berpeluk singkat saling menepuk pundak.
Harapan kedua orang tua yang sama.
menginginkan kebahagiaan pada putra-putri mereka.
Tinggal Aldo dan Tomy yang pastinya akan sibuk mempersiapkan acara yang malam ini akan berlangsung. Bersiaplah untuk bekerja untuk keduanya. ๐๐
.
.
.
.
.
Bersambung>>>>
__ADS_1