
"Lalu apa keputusan kamu dengan penawaran Tuan Braja," tanya Bu Marni setelah Sandra menceritakan penawaran Tuan Braja kepadanya. Mereka berdua kembali duduk lesehan beralaskan karpet.
"Aku tidak akan melibatkan dia dalam masalahku ini, Bu! Aku takut jika kedepannya nanti akan ada masalah lain yang akan muncul. Meskipun sekarang tidak ada yang tahu kehamilanku tapi suatu saat nanti lambat laun pasti semua mengetahui kebenarannya bahwa anak ini bukanlah anak ku dan Tuan Braja." Sandra diam sejenak. "Makanya lebih baik aku menolaknya. Dia pantas mendapatkan wanita yang baik dariku."
Bu Marni hanya menganggukkan kepala membenarkan ucapan Sandra.
"Kalau itu keputusanmu, ibu tidak bisa berkata apapun lagi. Semoga kedepannya niat mu dilancarkan. Dan ini doakan semoga ayah dari anak yang kamu kandung bisa menerima keadaanya. Coba bicarakan ini baik-baik dengannya. Kamu belum mencobanya, pertemuan kalian tadi terlalu singkat untuk menjelaskan ini semua," ucap Bu Marni dan Sandra membenarkan itu.
Di tempat lain, seorang pria masih mengunci diri dalam ruang kerjanya. Dimana keadaan ruangan itu sangat berantakan. Bara melampiaskan semua kekecewaan dengan mengacak barang-barang yang ada di dalamnya.
Asisten dan sekertaris yang masih setia berada di depan ruangan itu terlihat heran dan bingung dengan kejadian ini. Mereka menebak-nebak permasalahan apa yang sedang di alami Bara.
"Anda yakin Pak Jon, tidak terjadi apapun sama bos kita? Kenapa dia jadi brutal seperti ini?" selidik Lesti seakan mencari penjelasan melalui manik mata Joni.
Pria yang sedang di tatap tajam itu hanya mengangkat bahu, ia benar-benar tidak tahu soal kejadian ini.
Bara berencana mencari keberadaan wanita yang telah mengacaukan hatinya beberapa minggu ini setelah peresmian DM grup.
Takdir berkata lain, Bara menemukan Sandra bersama pria lain. Apalagi ia harus mengetahui sendiri bahwa Sandra sedang hamil. Berbagai prasangka memenuhi pikirannya.
Hingga kedatangan seorang wanita cantik yang masih muda datang ke sana. Kartika berjalan sedikit berlari saat keluar dari lift. Gadis itu mendapat kabar tentang Bara kakaknya dari Joni. Sebab nomer ponsel kakaknya itu tidak bisa di hubungi.
Kartika hampir sebulan berada di Indonesia. Ia mengambil libur cuti untuk kuliahnya. Menurut Kartika, sayang sekali jika liburan ke negara asalnya hanya sebentar. Tiga bulan, waktu yang di ambil Kartika untuk liburan. Universitas tempatnya mengecam pendidikan memang memberikan masa libur semester dalam waktu yang lumayan lama. Itu semua karena mahasiswa di sana berasal dari berbagai negara. Banyak yang berasal dari Indonesia selain Kartika.
"Dimana Kak Bara?" tanyanya kepada Joni.
Joni malah melongo melihat gadis cantik yang sedang bertanya kepadanya.
"Hello...," Kartika mengibaskan kelima jarinya di depan wajah Joni. Tapi pria itu malah menggaruk lehernya yang tidak gatal.
__ADS_1
Lesti yang melihat itu hanya mengelengkan kepala. Sekertaris Bara itulah yang menjawab pertanyaan dari Kartika. "Pak Bara ada di dalam! Ruangan ini terkunci sehingga Kami tidak bisa mengetahui kondisi di dalam, tapi mendengar dari suara yang ditimbulkan nampaknya ada beberapa barang yang ia pecahkan," sahutnya.
Kartika berjalan mendekati daun pintu lalu menempelkan telinganya di sana. Berusaha menembuskan pendengarannya.
Hening... Tidak ada suara yang terdengar.
Kartika semakin panik, ia takut Kakak nya itu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
Tok... Tok... Tok...
Dengan sekuat tenaga Kartika mengetuk kencang pintu tersebut.
Untung saja saat ini semua karyawan sudah tidak ada lagi di sana. Sebab saat ini waktu sudah menunjukan pukul Sepuluh malam. Joni dan Lesti harus lembur bukan karena pekerjaan. Tapi mereka lembur karena menjaga bisa mereka takut terjadi sesuatu di dalam sana.
"Kak Bara, ini aku Kartika! Kakak di dalam 'kan? Buka pintunya!" teriak Kartika dari luar.
Tidak ada sahutan dari dalam. Tidak mau menunggu lama Kartika segera menelpon Galen. Meminta bantuan Kakaknya yang lain.
"Sebaiknya aku telepon Kak Aline," pikir Kartika. Tapi selagi mencari nama Aline di ponselnya. Benda pipih yang masih berada di tangan Kartika berdering. Ternyata Galen menghubunginya balik.
"Ada apa, Dek?" tanya Galen dari sebsrang telepon.
"Kak tolong Kak Bara! Sekarang aku berada di gedung DM grup. Kak Bara mengunci diri diruangannya. Menurut Joni, dia mengamuk di dalam," ucap Kartika dengan nada cemas dan takut. "Aku tidak mau terjadi sesuatu sama Kak Bara!"
"Apa masih ada office boy di sana?" tanya Galen.
"Tidak ada, semua karyawan sudah pulang. Hanya ada security, Joni dan sekertaris Kak Bara saja." lirih Kartika.
"Suruh Joni dan security mendobrak pintu itu, Aku akan segera ke sana!"
__ADS_1
"Cepat! Aku tunggu, Kak!"
Kartika pun menutup teleponnya lalu menyampaikan perintah Galen kepada Joni.
Lesti yang masih berada di sana hanya bisa menenangkan Kartika yang terlihat begitu ketakutan dan khawatir.
"Sabar ya, Mbak. Saya yakin Pak Bara tidak akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya sendiri," ucap Lesti seraya mengelus tangan Kartika yang ia rangkul.
"Tapi tidak ada jawaban dari Kak Bara." Kartika menitipkan air matanya. Joni mendekati Kartika yang sedang menangis.
"Apa mungkin Pak Bara ada di dalam kamar istirahat nya?" tebak Joni.
Kedua wanita itu sontak melirik ke arah Joni.
"Bisa saja ia tertidur di dalam sana!" celetuk Joni.
"Mana mungkin? Kalau begitu cepat dobrak pintunya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu di dalam kamar itu, dari tadi aku nggak dengar sahutan dari dalam."pekik Kartika, adik dari Bara itu semakin khawatir.
"Wah, sebenernya apa sih yang terjadi sama Pak Bos, bikin orang pusing aja!" Joni terlihat frustasi.
Asistennya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Bara. Ia segera melangkah memanggil security. Tidak ada cara lain, Joni tidak akan sanggup harus mendobrak pintu tinggi dan keras itu. Pintu yang di buat khusus untuk ruangan big bos.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.