
"Mas, kita masak bareng lagi ya, aku sudah pandai memasak kali ini."
"Mas, hari ini aku masak jengkol balado kesukaan kamu, kamu pulang 'kan?"
"Mas, jangan lupa pulang lebih awal! hari ini ulang tahunku loh, aku masak banyak juga."
ucapan Indira muncul dalam benak Tuan Wijaya saat pria itu hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. .Kata-kata yang selalu mengingatkan dirinya kepada wanita yang ia cintai.
Tuan Wijaya tiba-tiba saja menyudahi makannya. Padahal masih ada makanan di piringnya. Pria itu terlihat termenung, penyesalan yang datang terlambat sudah berlalu berpuluh tahun lalu, tapi rasa sesal selalu hadir. Pria itu menyesal tidak bisa mendampingi mama dari Galen selama masa kehamilannya. Tuduhan keji malah dia berikan kepada istrinya itu.
Zainab melirik Tuan Wijaya. memperhatikan tingkah pria yang ada di hadapannya itu. "Kenapa? Apa masakanku tidak enak?" pikir Zainab karena aksi makan Tuan Wijaya tak berlanjut.
"Terima kasih, Zainab. Atas makanannya. Maaf saya harus segera pulang." Tuan Wijaya meletakkan sendok makannya begitu saja. Ia ingin segera pergi dari sana. kalau bisa secepat mungkin. Rasa penyesalan kembali menghantui dirinya.
Tanpa menunggu lagi, Tuan Wijaya bangkit. Pria itu pamit kepada Galen dan Aline. " Gal... Papa pulang duluan." Lalu beralih menatap Aline. "Cepat sembuh, Aline! maaf ..., om pulang dulu." ucap Tuan Wijaya lalu mendapat anggukan pelan dari Aline.
Dengan langkah cepat Tuan Wijaya meninggalkan ruangan. Tanpa menunggu Ayah Zaki dan Bu Winda kembali.
Zainab terdiam, Wanita itu merasa bingung dengan sikap Tuan Wijaya yang pergi tanpa melihat kembali ke arahnya. Apa karena makanan yang ia tawarkan kepadanya tidak sesuai seleranya atau karena hal lain. Sikap Tuan Wijaya membuat rasa sedih menyusup kedalam hatinya.
Wanita itu menghela napas berat. "Setidaknya habiskan makananmu dulu, Tuan!" gumam Zainab pelan sangat pelan sehingga hanya dia yang mendengar ucapannya.
Dengan bibir yang mengerucut Zainab membereskan piring yang masih berisi makanan bekas Tuan Wijaya. Ada perasaan kesal dan gelisah yang Zainab rasakan. "Apa aku berbuat salah pada Tuan Wijaya? apa dia marah sama aku?" batin Zainab sambil terus merapikan bekas makan dirinya dan Tuan Wijaya. Wanita itu jadi tak selera makan.
"Ah, terserah dia deh, siapa aku ngapain pusing mikirin sikap si tua itu," gerutu Zainab.
Di depan Zainab, Galen masih terus mencoba merayu Aline untuk memakan sesuatu, dari buah Apel yang sudah dikupas dan jeruk tapi Aline tetap menolak.
"Aku mau pulang," cetus Aline. Galen langsung menoleh, saat dirinya meletakkan piring berisi buah ke atas meja. setelah itu menghadap Aline lagi, merangkup jemari lentik Aline dengan kedua tangannya.
"Kamu masih butuh perawatan, Sayang...," Galen mencoba melarang.
Aline mengeleng, wanita itu terus berucap ingin pulang. Matanya sudah berkaca-kaca, menahan tangis. Galen semakin tidak tega. Ia tidak mau air mata kesedihan kembali ia lihat di wajah Aline.
"Baiklah, kita pulang sekarang! tunggu Ibu dan Ayah kembali." Aline mengangguk.
Melihat bekas luka di pergelangan Aline membuat Galen kembali tersulut emosi.
"Sialan, Ferdi akan merasakan hal yang lebih sakit lagi dibanding yang ia berikan pada kekasihku," ucapnya dalam hati dengan mengeratkan giginya.
__ADS_1
Galen berusaha menenangkan diri di depan Aline. Pria tampan itu menunggu kabar dari Aldo, sudah sampai mana anak buahnya membawa Ferdi ke Jakarta. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada penjahat itu.
Di tempat lain, Pras dan Wendi yang menerima kabar dari Aldo tadi subuh mengenai pencarian Ferdi langsung ikut membantu. Ia di perintahkan mencari keluarga Ferdi, istri dan anaknya. Pras yang tahu keberadaan istri dari penjahat itu langsung mendatangi rumah kontrakannya.
Pras pernah bertemu dengan Wina, istri Ferdi di ujung gang rumah kontrakannya. Saat Pras sedang ada pekerjaan di sana.
"Woi, lu gak ngomong kalau lu tau keberadaan istri tuh penjahat," hardik Wendi.
"Bininya yang minta supaya gue nyembunyiin keberadaannya. Dia gak mau berhubungan lagi dengan Ferdi." ujar Pras.
Mereka berdua turun dari motor gede, lalu melangkah pelan ke rumah kontrakan di daerah pinggiran kota Jakarta. Pras mencoba berbicara baik-baik, agar Wina mau bekerja sama dengan bos mereka.
"Saya bukan istri Ferdi lagi, pengadilan agama sudah menyatakan kami sudah bercerai, karena selama proses pengajuan perceraian yang saya ajukan tidak ada tanggapan dari Ferdi, dan selama tiga bulan lebih dia tidak memberikan nafkah lahir dan batin kepada saya," ujar Wina menjelaskan.
Tapi Pras tetap mencoba meminta tolong agar Wina mau membantu memancing Ferdi agar keluar dari persembunyiannya.
Wanita itu telihat sedang berpikir. Istrinya Ferdi berasal dari Garut, tapi wanita itu tidak mau kembali ke kampung halamannya, Suaminya itu pasti akan mencarinya ke sana. Setelah bebas dari penjara.
Wina memang sengaja menghindar dari Ferdi. Pria itu kerap kali memukulinya saat masih tinggal bersama bahkan dirinya pernah dijual kepada lelaki hidung belang karena Ferdi sudah kehabisan uang untuk berjudi. Saat Wina menolak, ia jadi sasaran empuk kebringasan Ferdi.
"Saya akan membantu kalian, tapi tolong lindungi saya dan anak saya dari Ferdi." ucap Wina.
Saat Pras akan menghubungi Galen. Aldo sudah lebih dulu menghubunginya.
Pras mendapat kabar dari Aldo, bahwa Ferdi sudah tertangkap. Ia memerintahkan agar Pras tidak perlu mencari keluarga Ferdi. Rasa syukur dan jengkel di rasakan Pras saat ini.
"Kenapa nggak dari tadi aja sih ngasih tau nya, jauh-jauh ke sini! mana panas, jalannya sempit," gerutu Pras saat sambungan teleponnya dengan Aldo berakhir.
"Kenapa, Pras?" tanya Wendi.
"Penjahat brengsek itu sudah tertangkap di Garut." ucap Pras singkat.
Deg...
"Garut," gumam Wina.
Benar pemikirannya pasti Ferdi akan mencari keberadaannya.
Wina mendongak mendengar ucapan Pras.
__ADS_1
"Ferdi sudah tertangkap?" tanya Wina ragu.
"Ya," jawab Pras. Wendi dan Pras bergegas pamit hendak kembali ke tempat yang biasa dijadikan Galen untuk berkumpul. "Kami tidak jadi meminta pertolongan anda." Mereka berdua berdiri lalu berjalan meninggalkan rumah kontrakkan Wina.
"Tunggu!" panggil Wina mencekal kepergian mereka berdua.
Wendi dan Pras menoleh. "Apa Tuan kalian akan menghabisi suami saya?" Wina sedikit berlari menyusul Pras dan Wendi.
"Bisa jadi, bahkan bisa sampai menghabiskan nyawanya."
Ada perasaan takut dalam diri Wina. Bagaimanapun Ferdi adalah ayah dari anaknya. Bahkan pria brengsek itu belum mengetahui kalau Wina mengandung anaknya.
Wina menjalani kehamilan dan kehidupannya seorang diri. Wanita itu tidak ingin bertemu lagi dengan Ferdi, tapi ia ingin memberitahukan bahwa bajingan itu mempunyai seorang putra. Wina berharap, Ferdi bisa berubah setelah ia tahu, dirinya sudah menjadi seorang ayah.
"Saya bisa titip sesuatu untuk dia."
Wendi dan Pras saling pandang lalu mengangguk bersamaan.
"Ya." Setelah mendapat persetujuan kedua pria itu. Wina berbalik dan berlari ke dalam rumahnya. Map berbentuk persegi berwarna cokelat itu ia serahkan kepada Wendi. Pria yang duduk di jok belakang.
Surat pernyataan resmi perceraian dan foto seorang anak laki-laki berumur tiga tahun terselip di dalamnya.
"Titip ini buat dia." Wendi mengangguk lalu menerimanya sesaat ia membolak-balikan map tersebut, penasaran dengan isinya. Tapi segera ia lipat kembali kemudian masukkannya ke dalam jaket bagian depan.
Pras menoleh ke belakang. Setelah Wendi menerima titipan tersebut, Pras langsung tancap gas meninggalkan rumah kontrakan itu.
Wina mantap diam kepergian kedua pria yang mendatanginya itu. Ada satu harapan yang terselip di hati wanita itu. Meskipun sudah tidak menjadi suaminya lagi, tapi doa selalu ia panjatkan agar Ferdi bisa berubah, sehingga suatu saat nanti jika Yanga Maha Kuasa masih memberinya umur panjang. Aksa putranya bisa bertemu dengan ayahnya.
.
.
.
.
Bersambung>>>>
**Kasiahan banget si lu Pras, Wen.. jauh jauh mencari tapi terlambat. Jangan jangan ngintilin cewek dulu kali tuh di jalan. Pras kan gak boleh lihat cewek bening dikit aja. ๐๐
__ADS_1
Semoga doa yang Wina panjatkan bisa terjabah. Semoga Aksa tidak mengikuti jejak ayahnya jadi penjahat.... โบ**