Fake Love

Fake Love
Sayangnya Tulus Sebagai Saudara


__ADS_3

Selagi Kartika menemani Zia bermain. Suara yang dikenalnya samar terdengar dari samping kolam renang.


Sore ini Zia, keponakan cantiknya itu sedang asik bermain air di kolam renang. Kartika hanya duduk manis di gazebo yang letaknya tepat di tengah kolam.


“Aunty, kenapa tidak turun?” teriak Zia mendekati Kartika.


Gadis itu begitu pandai berenang. Bara selalu mengajarinya, jika berada di rumah mereka.


“Suttt.....” Kartika menempelkan telunjuk ke bibirnya memberi kode kepada Zia agar tidak bersuara.


“Aunty gak asik!” gerutunya gadis cantik itu.


Zia kembali berenang ke tepi kolam. Anak kecil itu sudah berani berenang di tempat yang dalam khusus untuk orang dewasa.


“Aku tidak habis pikir saja, Mas! Masa pengantin wanitanya melakukan perjanjian setelah menikah mereka tidak boleh punya anak. Lalu apa yang diharapkan dari pernikahan itu!” gerutu Sandra saat berjalan ber-iringan bersama Bara.


“Biarkan saja, itu urusan mereka, Sayang! Yang penting pembayaran ke butik milikmu lancar, ‘kan?”


Sandra menghela napas berat.


“Lancar, sih! Tapi---,” ucapan Sandra terputus saat melihat Zia sedang berenang di tempat dalam.


“Oh... No! Zia, Mas!” Sandra menatap ke arah kolam renang sambil menggelengkan kepalanya. Ia berjalan cepat mendekati Zia yang berada di tengah kolam untuk orang dewasa.


“Ini juga gara-gara, Mas Bara selalu mengajak Zia berenang di tempat dalam!” omel Sandra sambil menatap Bara.


Bara menggaruk tengkuk lehernya mendapat tatapan marah dari istrinya.


“Kenapa jadi aku yang jadi sasaran?” desis nya.


Kartika menahan tawa saat mendengar Bara kena sasaran oleh kakak iparnya itu.


Bara mengikuti langkah Sandra mendekati Zia yang asik berenang di tempat orang dewasa.


Kartika terdiam mencerna ucapan Sandra yang tadi ia dengar.


“Apa aku juga nikah kontrak saja ya? Tak lama setelah menikah kami bercerai. Supaya Papa bisa leluasa menikah lagi tanpa harus memikirkan aku!” gumam Kartika dengan pemikirannya.

__ADS_1


“Tapi siapa yang mau jadi suami kontrak ku?” Sandra masih mengoceh sendiri lalu ia menghela napas berat.


“Ah... Itu sih gampang! Yang pasti jalan keluar sudah ku dapat!” lanjutnya.


Kartika terlihat begitu senang dengan ide yang muncul di pikirannya. Ia lekas berdiri dari tiduran di sofa empuk yang ada di gajebo di tengah kolam renang itu.


Di ujung kolam renang, Sandra terus mengeluarkan ocehannya. Menyalahkan Bara atas tindakan yang sudah Zia lakukan.


Sandra tidak pernah melarang Zia berenang tapi kolam renang harus lebih rendah dari tinggi tubuhnya. Sebab Sandra tidak mau Zia tenggelam.


“Mama... gak seru tau kalau berenang di tempat cetek!” oceh Zia saat Sandra meneriakinya agar segera menepi.


Zia terus menggerak-gerakkan kaki dan tangannya di tengah kolam renang yang dalamnya melebihi tinggi orang dewasa.


“Kalau kamu tidak nurut apa yang mama ucapkan, mama tidak akan izinkan kamu main ke rumah mommy lagi!” ancam Sandra sambil melipat tangan di depan dada.


Benar saja itu, ucapannya itu berhasil membuat Zia berenang menepi ke arah mama dan papa-nya.


Mata yang memerah akibat berenang terlalu lama terlihat pada Zia.


Sandra berjongkok saat Zia menepi di tepi kolam renang. Gadis itu naik perlahan kemudian duduk di tepian kolam.


Zia mengangguk pelan.


“Paham, Mah! Zia ingat pesan mama,” Sahut Zia sambil mengusap wajahnya yang masih basah.


“Sudahlah, Mah! Biarkan Zia melakukan apa yang dia bisa!” Bara ikut menimpali.


“Jangan selalu menuruti apa yang dia mau, Mas! Bisa bukan berarti kita tak harus melakukannya.”


Bara tidak berkutik jika Sandra sudah melarang.


Zia terlihat mengerucutkan bibirnya.


“Aku berenang karena ada Aunty Kartika, mama!” Zia menunjuk Kartika yang berada di gazebo.


Kedua orang tua Zia menoleh ke arah gazebo.

__ADS_1


“KARTIKA!” teriak keduanya.


Wanita yang di teriaki oleh kedua orang itu lekas kabur masuk ke dalam rumah.


“Mama, jahat! Bisanya marah-marah terus sama Zia! Gak dengerin Zia dulu!” gadis itu balik marah kepada Sandra.


Zia bangkit berdiri melangkah meninggalkan Sandra yang mematung melihatnya.


Bara menahan senyum melihatnya.


Lirikan dari Sandra langsung membuat Bara terdiam. Suaminya itu takut kalau Sandra ikut marah padanya, bisa jadi nanti malam tidak dapat jatah emah-emahan sama Sandra.


“Mas, bantu bujuk Zia!” ucap Sandra, Bara hanya mengangkat bahu kemudian berjalan meninggalkan Sandra.


“Huh ... Pasti tidak mau diajak pulang, Deh!” gerutu Sandra lalu mengikuti langkah suaminya menyusul Zia.


Di lantai atas, Zayn melihat kejadian itu. Dia hanya bisa tersenyum melihat Zia cemberut. Sungguh hal yang sangat lucu baginya. Kadang Zayn sengaja mengerjai Zia agar gadis itu marah, kesal padanya kadang sampai Zia menangis. Tapi meskipun sudah diperlakukan seperti itu oleh Zuan. Zia tidak pernah kapok berada di dekat Zayn. Sebab Zia merasa aman berada di dekatnya.


Orang lain menganggap mereka saudara tapi pada kenyataannya mereka tidak ada ikatan persaudaraan sama sekali. Bara hanya anak dari mantan istrinya Tuan Wijaya, tak ada ikatan darah antara Bara dengan Galen.


Jadi sah-sah saja jika suatu saat nanti ada perasaan yang timbul akibat kebersamaan Zayn dan Zia.


Tapi tidak semudah itu, Zayn hanyalah menganggap Zia sebagai adiknya tidak lebih. Rasa sayangnya pada gadis itu murni dan tulus sebagai saudara.


.


.


.


Masih bersambung 🥰🥰


Halo readers tersayang. Terima kasih sudah mampir dan baca karya recehku ini.


kehadiran kalian tuh berarti banget buat otor. like dan komen kalian selalu kunantikan loh.


Ingat ya, like+komen+Favorit kan cerita ini kirim bunga dan hadiah buat otor ya saya oong, biar otor tambah semangat buat nulis lagi.

__ADS_1


Tengkyu meluap lupa buat kalian semua 🥰😘😘


__ADS_2