Fake Love

Fake Love
Bibir Candu


__ADS_3

Oma Ratih tidak menyadari kedatangan Galen bersama seseorang di sana. Ia terlihat sibuk merapikan beberapa barang yang akan dibawanya pulang sambil terus mengoceh.


"Jam berapa Aldo akan ke sini? Ck.. Papamu, juga punya istri ko, sama sekali gak ada perhatiannya sama anak sambungnya. Batang hidung si Mariska belum terlihat lagi ke sini!" cibir Oma Ratih.


"Kamu juga kemana aja sih dari tadi? kalau Oma tau kamu keluar dari ruangan ini, Oma ikut teman Oma aja jengukin pacarnya. Tadinya Oma mau kenalin ke kamu, kali aja kamu suka. E-eh, dia udah punya pacar, sayang banget ya!" Oma Ratih masih berceloteh tanpa menoleh ke arah Galen.


"Yang benar aja, Oma. Masa Galen mau dikenalin sama nenek-nenek temen Oma.


"Teman Oma masih muda, seumuran dengan mu. Masa iya, Oma nyari cucu menantu seumuran Oma. Ah, gaje deh kamu ni."


"Kamu tau gak? dia manis juga kalau tidak pakai kacamata. Dia gadis yang sering Oma ceritain ke kamu. Gadis yang ada di Taman Kota itu, loh! Kamu ingat tidak?" Oma Ratih merasakan ada yang berbeda dengan Galen.


Biasanya cucunya itu akan memeluknya dari belakang, lalu menciumi pipi yang mulai berkerut karena usia itu. Oma Ratih merasa heran saat ini ia tak merasakan gerakan apapun. Beliau lekas membalikkan tubuhnya.


Oma Ratih melihat Galen berdiri di depan pintu.


Tangan Galen terlihat menggenggam jemari tangan dari seseorang yang bersembunyi di balik tubuh kekarnya itu.


Oma Ratih sampai harus memiringkan sedikit kepalanya agar bisa melihat dengan jelas orang di balik tubuh Galen.


"Kamu, sama siapa?" tanya Oma Ratih.


"Aku kan sudah janji mau ngenalin dia sama Oma! sekarang Aku ajak dia ke sini," jawab Galen.


"Pacarmu?" tanya Oma Ratih lagi.


Galen mengangguk pelan. Lekas ia menggeser sedikit tubuhnya agar Oma bisa melihat Aline.


Kedua orang yang kini saling berhadapan itu sama sama terkejut.


"Aline..."

__ADS_1


"Oma..., " panggil mereka bersamaan karena terkejut.


Oma Ratih berjalan pelan dengan senyum yang mengembang di wajahnya sedangkan Aline menatap Oma Ratih kemudian beralih ke wajah Galen. Gadis itu seakan bertanya melalui tatapan matanya.


"Ya, dia Omaku!" ucap Galen.


Aline pun berjalan mendekat ke arah Oma Ratih.


"Kalau tau kamu mau jenguk cucu Oma, kenapa enggak sekalian bareng aja tadi?" Oma Ratih berjalan mendekati Aline lalu memeluk Aline sebentar kemudian mengajaknya duduk di sofa mengabaikan Galen yang berdiri terkejut melihat reaksi Oma Ratih.


"Kalian saking kenal?" Galen melirik Oma dan Aline.


Mereka berdua saling pandang kemudian mengangguk barsamaan.


"Dia teman Oma yang barusan oma ucapkan sama kamu, Gal!" seru Oma Ratih.


"Kamu, tunggu di sini! Oma tadi ngupas buah buat anak nakal ini." Oma Ratih melirik Galen sinis. "Berhubung sekarang ada kamu, kita makan bareng aja." Oma Ratih mengambil buah segar yang sudah disiapkan sebelumnya. Galen terabaikan bagitu saja karena kehadiran Aline.


Aline melirik ke arah Galen yang gerak geriknya membuat gadis itu tersenyum. Pria itu tertidur di ranjang pasien dengan membalikkan tubuhnya ke kanan dan kiri. membuat ranjang pasien itu berdecit karena ulahnya, lalu duduk di sisi ranjang meraih air minum yang ada di atas meja tak jauh darinya. Rasanya haus sekali bertingkah tak jelas seperti itu karena ingin mendapatkan perhatian Oma dan Aline.


Galen membayangkan bisa bermanja pada kekasihnya, malah dia diacuhkan begitu saja. Oma Ratih telah mencuri perhatian gadis yang sangat dirindukannya itu.


Oma Ratih menegaskan penglihatan nya saat memperhatikan wajah Aline. Seperti ada yang berbeda dari bibirnya.


"Bibir kamu kayak bentol gitu, Nak! coba sini Oma lihat!" titah Oma Ratih seraya mendekati wajah Aline.


Refleks, Aline memundurkan wajahnya merasa malu saat Oma Ratih memperhatikannya.


"E-eh... iya Oma. Ini di gigit serangga tadi!"


"Uhuk... uhuk... " Galen tersedak saat meneguk air yang baru saja di minumnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan Gal..., kamu ini, minum saja bisa tersedak. Makanya baca bismilah!" ledek Oma. Nenek itu menghampiri Galen lalu mengelus pundaknya pelan.


Bukannya kasian Aline malah tertawa kecil melihat Galen. Bibir bawah Aline terlihat bengkak akibat dari ulah pria di hadapannya itu.


Mereka bermain bibir terlalu lama hingga kebas dan bengak terasa oleh Aline di bibirnya.


Bibir Aline yang kini menjadi candu untuk Galen.


.


.


.


.


bersambung.


Maafkan dua hari ini tak bisa double up. kondisi teteh Author lagi tak menentu.


Doakan segera pulih kembali.


Jangan lupa dukungannya ya...


Terima kasih buat kalian yang masih setia baca karya teteh ini


Salam hangat teteh buat kalian ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Pintar jaga kesehatan ya.


Mayya_zha

__ADS_1


__ADS_2