Fake Love

Fake Love
Gal... Kamu Sadar!


__ADS_3

Tuan Wijaya memilih kembali ke hotel. Urusan Istri dan selingkuhannya sudah ada Tomy yang menangani. Ia tidak mau ambil pusing lagi masalah Mariska.


Tuan Wijaya bukannya tidak pernah mengetahui tingkah istrinya yang sering menghabiskan uang dalam jumlah besar karena merasa tidak bisa memberikan kepuasan batin seperti yang di harapkan Nyonya Mariska.


Tuan Wijaya mengabaikan Mariska dengan tingkahnya. Tak jadi masalah untuknya karena kekayaannya takkan habis hanya karena Mariska menghamburkan uang untuk berbelanja.


Semenjak Almarhumah Nyonya Indira tiada. Tuan Wijaya seperti kehilangan has rat untuk bercinta. Bukan karena masalah keperkasaannya yang diragukan tapi Ia lelaki sejati yang setia pada satu cinta. Beliau bukanlah orang yang melampiaskan hasrat tanpa cinta. Bayang-bayang Indira selalu hadir pada dirinya.


"Hah... Buk!" Tuan Wijaya memukul dinding hotel saat baru saja sampai dan menutup pintu di hotel yang akan di tempatnya selama beberapa hari kedepan.


Keluarga Wijaya mempunyai hunian di negara itu. Karna jaraknya jauh dari rumah sakit, Tuan Wijaya memilih menyewa kamar hotel agar memudahkannya bulak balik memantau keadaan Galen.


Tangan kanannya Tuan Wijaya memerah akibat pukulannya.


"Andai, Aku tak egois dulu. Kamu pasti masih ada bersamaku, Ra!" ucap Tuan Wijaya dengan nada sendu.


Di saat sendiri seperti sekarang ini, sosok yang biasa bersikap dingin dan kekar di hadapan semua orang kini lebih terlihat rapuh dan menyedihkan.


Penyesalan selalu ia rasakan dalam kesendirian. Tak ada tempat berbagi cerita yang bisa ia percaya.


Sahabat yang dulu sangat ia andalkan dalam bertukar pikiran dan berpendapat telah ia sakiti perasaannya.


Bokongnya duduk di lantai dengan kedua kaki yang di Tekuk menahan kedua tangan yang menyangga kepalanya. Ia tertunduk dalam segala pemikirannya.


Setelah merasa suasana hatinya sedikit tenang. Tuan Wijaya melangkah menuju tempat tidur king size yang berada dihadapannya. Ia perlu mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sejenak. Sebelum ia kembali ke rumah sakit untuk menemani Oma Ratih menunggu Galen yang masih belum sadar pasca operasinya.


...🌴🌴🌴...


Aline kembali beraktifitas seperti biasa pagi ini. Tak ada kesibukan yang berarti setelah hengkangnya dari dunia entertainment. Sisa pekerjaannya sebagai model dan sisa kontraknya menjadi bintang iklan masih bisa ia kerjakan sesekali saja.


Gadis yang baru saja menyirami tanaman bunga yang ia rawat dua pekan terakhir semenjak vakumnya menjadi duduk santai memandangi bunga-bunga yang tumbuh subur di hadapannya.


"Non ..., ini Bibi bawakan teh kesukaan Non Aline sama camilan," ucap Bi Kesih seraya meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja.

__ADS_1


"Makasih, Bi!"


"Sama-sama, Non." Bi Kesih hendak kembali ke dapur yang letaknya tak jauh dari kursi santai yang Aline duduki saat ini.


Aline meraih cangkir berisi teh hangat kesukaannya. "Ayah sama Ibu sudah pergi ke kedai ya, Bi?" tanya Aline menghentikan langkah Bi Kesih.


"Tuan Zaki pergi ke cabang kedai soto yang ada di Bogor, Non! kalau Ibu seperti biasa, mau mengecek persediaan bahan di kedai di Kemang. Oh, iya ... tadi Ibu Winda berpesan agar Nona Aline menyusul ke sana! maaf Bibi hampir aja lupa menyampaikannya," Bi Kesih sedikit membungkuk seraya mendekap nampan yang ia bawa.


"Tidak pa-pa, Bi!"


"Bibi kembali kebelakang ya, Non!"


"Iya, Bi. Tolong bilangin Pak Joko buat nyiapin motor ya, Aku mau nyusul Ibu!" titah Aline sopan.


Bi Kesih mengangguk seraya melangkah meninggalkan Aline yang masih duduk santai di belakang rumahnya.


Aline menikmati teh dan beberapa camilan yang di bawa Bi Kesih menghadap ke arah taman bunga yang baru saja bila siram agar selalu tumbuh subur.


Tiga hari sudah semenjak operasi Galen di luar ngeri berhasil dan Aline selalu mendapat kabar dari Oma Ratih perihal kondisi Galen yang masih belum sadarkan diri.


Gadis itu juga meminta maaf masih belum bisa menyusul ke sana. Ia tidak mau membuat Ayahnya kecewa lagi karena dirinya.


Ayah Zaki sudah bisa memaafkan kejadian di depan lift tempo hari bersama Tuan Wijaya. Aline juga memberi tahu Oma Ratih kalau Ayahnya akan menerima baik kedatangan Tuan Wijaya jika ada niatan baik darinya untuk meminta maaf.


"Iya, Oma. Ayah menunggu Tuan Wijaya untuk membicarakan masalah mereka. Ayah juga berpesan kepada Aline kapanpun ia akan menerima kedatangan Tuan Wijaya," ujar Aline dari sebrang telpon.


"Syukurlah ... semoga dengan kembalinya silaturahmi Ayahmu dan Anggara, hubungan mu dengan cucu Oma bisa lancar," ujar Oma Ratih bersyukur.


"Amin, Oma! terimakasih sudah mendukung kami," sahut Aline dengan wajah cerianya. Ia tidak mau menunjukan wajah sedihnya karena beberapa hari ini pikirannya tak lepasa dari kondisi Galen.


"Tak usah berterima kasih, sayang. Oma berharap kalian bisa bersatu dan bahagia. Kamu mau berbicara lagi dengan Galen? kebetulan Oma akan ke ruangannya."


Setiap kali menghubungi Oma Ratih. Aline selalu diajak mengobrol bersama Galen, melalui sambungan telpon. Meski tak sadar, ia yakin alam bawah sadar Galen bisa mendengarkan ucapan Aline. Olah karena itu, Oma Ratih sering meletakkan Ponsel miliknya di dekat telinga Galen. Agar cucunya itu bisa cepat sadar karena mendengar suara Aline.

__ADS_1


Aline banyak bicara saat ponsel milik Oma di loudspeaker. Suara Aline yang banyak bicara seakan sedang bercerita kepada Galen. Tertawa, mengejek dan memotivasi agar Galen cepat sadar, Aline utarakan dalam suaranya.


"Gal ... Aku tunggu janjimu! cepatlah kembali, kamu berhutang sebuah harapan kepadaku!" Suara Aline semakin meredup.


Aline tak pernah putus asa meski tak ada tanggapan atau respon berarti dari Galen. Gadis itu terus berbicara tentang rencan, kegiatan sehari-hari bahkan vakumnya dari dunia entertainment dan modeling pun ia ceritakan. Karena Itu salah sari harapan Galen agar suatu saat ketika pria itu menjadikan Aline sebagai pendamping dalam bahtera rumah tangganya. Aline menjadi istri dan Ibu yang selalu mendampinginya tidak sibuk dengan kegiatan.


Keinginan dan harapan sama yang pernah mereka bicarakan berdua.


"Gal... ingat si Cepol mu ini terus menunggumu! Aku sudahi dulu ya, jangan kelamaan tidurnya. Bangun! jangan biarkan Si Cepol mu ini lama bersedih. Love U, Gal."


"Oma! masih disanakah?" panggil Aline kepada Oma, karena sambungan telpon itu hanya panggilan suara saja.


"Iya, Oma masih di sini!" Oma meraih ponsel dari sisi Galen lalu menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


"Aline tutup dulu telponnya, terus kabari Aku, Ya, Oma! Aline mau nyusul Ibu dulu ke kedai. Oma Jaga kesehatan. istirahat juga. Maafkan Aline masih belum bisa ke sana. Tapi Aline janji akan membujuk Ayah agar memberi ijin pergi menemui Galen," ujar Aline.


"Jangan terlalu memaksakan, Nak! kamu harus menghargai perasaan ayahmu. Tidak perlu khawatir. Oma janji akan selalu memberi kabar padamu!"


"Terima kasih, Oma! Assalamu'alaikum," ucap Aline mengakhiri sambungan telponnya.


"Waalaikumussalam," jawab Oma Ratih.


Saat Oma Ratih hendak meletakkan ponselmha ke atas nakas. Beliau melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.


Tubuh kekar yang tengah berbaring dibatas brankar rumah sakit itu mengalami pergerakan pada jemari dan mata yang tertutup rapat itu sedikit demi sedikit membuka matanya.


Oma Ratih lekas menghampiri dan meraih tangan Galen.


"Gal ... Kamu sadar!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2