Fake Love

Fake Love
Akan segera bertemu


__ADS_3

Tomy masuk ke dalam ruangan tunggu dengan pelan. Tuan Wijaya memberi kode kepada asisten itu untuk keluar. Agar tidak mengganggu Oma Ratih yang sedang beristirahat. Tubuh tuanya itu terlihat lelah setelah beberapa hari berada di rumah sakit.


Tuan Wijaya merupakan mantan menantu dari Oma Ratih, tetapi Beliau tetap dianggap sebagai mama mertua oleh Tuan Wijaya karena kedua orang tuanya sudah tiada. Apalagi anak dari istri pertamanya Nyonya Indira Pratiwi tinggal bersama Oma Ratih.


Saat beranjak remaja, Galen memilih tinggal bersama Oma Ratih. Cucunya itu beralasan ingin menemani hari tuanya. Padahal meski tidak tinggal bersama dengan Oma Ratih, Galen kerapkali berkunjung ke sana. Galen hanya merasa jengah tinggal bersama dengan sikap Nyonya Mariska yang pandai bersandiwara, terlebih saat bersama papanya. Sikap baik dan manis selalu di tujukan di hadapan Tuan Wijaya. Kasih sayang yang di berikan terhadapnya dan anak kandung dari Nyonya Mariska pun sangat berbeda. Galen sudah puas merasakan sakit hati dari mama sambungnya itu.


Tuan Wijaya keluar untuk menerima berita yang di bawa Tomy. Padahal dirinya sudah mengatakan tidak ingin di ganggu.


“Tuan Baskoro meminta Anda menarik gugatan terhadap orang yang sudah mencelakai Tuan muda Alex, Bos! Beliau mengatakan akan menarik semua saham yang ada di beberapa kantor cabang Aksara grup,” ucap Tomy sopan dengan nada suara pelan.


“Ada hubungan apa Baskoro dengan gadis yang ada di penjara itu?” tanya Tuan Wijaya tegas.


“Gadis itu putri dari Tuan Baskoro, Bos! putrinya bermasalah dengan wanita yang bersama Tuan muda dalam kecelakaan itu, jadi menurut pengakuan Tuan Baskoro putrinya tidak mengetahui kalau Tuan muda Alex bersama wanita itu!” sambung Tomy.


Tuan Wijaya tersenyum kecut mendengarnya. Tak peduli alasan apapun yang di buat putri dari Tuan Baksoro itu. Ia tetap bersikeras terus melajutkan gugatannya.


“Jika Anda tidak cepat menarik gugatan itu, Tuan Baskoro akan menarik semua saham yang berada di perusahaan kosmetik Maynez dan Rumah Beautiq, Bos!” lanjut Tomy.


Tuan Wijaya langsung menoleh ke arah Tomy, kemudian tersenyum sinis.


“Sifat licik putrinya menurun dari ayahnya!” ujar Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya duduk di bangku pengunjung yang ada di luar ruangan tunggu, termenung sesaat. Jika ia bersikeras tetap melanjutkan gugatannya.


Perusahaan yang kini berkembang pesat milik almarhum istri pertamanya akan hancur jika Tuan Baskoro menarik sahamnya dari sana. Apalagi saat ini putranya Galen dalam keadaan koma.


Berkat putranya tersebut Perusahaan kosmetik dan Rumah Beautiq yang sempat bangkrut akibat ulah istri keduanya yang tak becus menggantikan posisi Almarhum Nyonya Indira Pratiwi bisa bertahan dalam kejayaan beberapa tahun ini.


 


“Setujui apa yang diminta Tua bangka itu.” Tuan Wijaya mengambil keputusan yang sangat berat.


“Baik, Bos.”

__ADS_1


“Lakukan dengan segera, Saya tahu betul sepak terjang tua bangka itu dalam berbisnis. Dia akan menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawannya dengan cepat,” titah Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya bangkit dari duduknya. Tomy memberi hormat dengan membungkukkan sedikit badan hingga bosnya itu melewati dirinya masuk kedalam ruangan. Sepeninggal bosnya, Tomy segera melakukan apa yang di perintahkan oleh bos besarnya itu.


Bukannya tak berani melawan, bisa saja dia membiarkan Tuan Baskoro menarik sahamnya lalu mengganti nya dengan menyuntikan saham darinya. Tapi Dia tahu betul dengan sifat Galen yang tak mau ada campur tangannya dalam perusahaan almarhum mamanya.


“Artis muda yang bersama Galen itu, beraninya dia melibatkan anak saya dalam masalahnya. Saya akan buat perhitungan sama dia!” batin Tuan Wijaya lalu masuk kedalam ruang tunggu di mana keluarganya menunggu.


****  


Kondisi Aline sudah mulai stabil, kondisnya pun masih belum bisa untuk melakukan pekerjaan. Setiap hari ia selalu menanyakan kondisi terkini Galen kepada Aldo, beruntung Risa sudah mendapat nomer asistennya Galen, saat malam kecelakaan itu terjadi.


Beberapa kali Aline mencoba menemui Galen di rumah sakit itu. Penjagaan ketat dilakukan di sana. Hanya keluarga nya saja yang bisa menjenguknya. Aldo pun tidak bisa membantunya karena perintah Tuan Wijaya harus benar-benar dipatuhi oleh mereka.


Ayah Zaki sering melihat putrinya yang murung dan sedih akhir-akhir ini, beberapa kali Aline memaksakan datang dalam kondisi yang belum stabil berusaha menembus pertahanan penjagaan di rumah sakit tempat Galen di rawat tak membuahkan hasil.


Tuan Wijaya lah yang sudah memerintahkan agar artis yang bernama Aline Barsha dan menunjukan foto gadis itu agar tidak diijinkan menjenguk Galen. Beliau sudah mengira, karena kondisi Aline yang tak mengalami luka serius pasti akan datang ke rumah sakit itu.


Berbagai cara di cobanya agar Galen bisa sadar. Termasuk menghubungi wanita yang dulu pernah dekat dengan Galen. Wanita yang meninggalkan cucunya sampai terpuruk akan kepergiannya ke luar negeri. Oma Ratih menggunakan kekuasaan mantan menantunya Tuan Wijaya agar menemukan wanita yang bernama Bella di negara N.


Ayah mana yang tega melihat anaknya dalam keadaan terus bersedih. Terlebih ia melihat kebahagiaan yang terpancar saat malam acara penghargaan sebelum musibah itu terjadi. Ayah zaki melihat senyum dan tatapan penuh cinta dari Aline saat memandang Galen. Meski melihat dari televisi, tapi firasat seorang ayah pun tak pernah salah.


Sore itu Ayah Zaki baru saja pulang dari kedai soto miliknya, bersyukur soto dagangannya habis lebih cepat. Beliau mendekati Aline di ruang keluarga. Aline terlihat sudah begitu rapi setelah mandi sore. Risa sudah menghubungi Aline tadi pagi bahwa hari ini adalah hari terakhirnya cuti dari pekerjaaan. Esok hari Aline harus bersiap untuk kembali beraktifitas seperti biasanya.


“Wah ... sudah cantik begini, ko mlah melamun, nanti kesambet loh, Nak!” Ayah Zaki mengagetkan Aline yang duduk memeluk kedua kaki yang di tekuknya.


“Ayah, ngagetin aja! Kapan pulang?” tanya Aline seraya menurunkan kedua kakiknya lalu meraih tangan Ayahnya lalu menyalaminya.


“Dari tadi loh, Ayah di sini! Kamu aja yang asik sambil melamun,” ejek Ayah Zaki.


Aline hanya mengulas sedikit senyum membalas candan Ayahnya. Pandangannya kembali ia fokuskan keluar jendela dengan berpangku dagu di atas punggung tangan yang di lipat di atas sandaran sofa.


“Kamu mau coba menemui Galen?” bujuk Ayah Zaki.

__ADS_1


Aline hanya menggeleng pelan. “Percuma, Yah! Tuan Wijaya, papa Galen memerintahkan anak buahnya agar Aline tidak bisa menjenguk Galen. Apa ini memang salah Aline ya, Yah?” ucap Aline sedih.


Rasa rindu di hatinya membuatnya seakan tidak ada semangat. Kerinduan akan sosok tengil dan tak pernah mau kalah dengannya. Dasar Cepol, Pol, ciee yang sudah cantik. Kata-kata itu kadang terdengar olehnya. Semakin membuat kerinduan itu semakikn mendalam.


“Ayo ... Ayah antar kesana sekarang! kalau pergi dengan Ayah, pasti Kamu bisa bertemu dengan Galen. Kamu ‘kan tau sendiri, Ayah punya seribu cara mengecoh orang. Apalagi anak buah Tuan itu, siapa tadi namanya?” tanya Ayah zaki.


“Tuan Wijaya,” jawab Aline singkat.


“Iya, T-tuan Wijaya!” Ayah Zaki berpura-pura tidak mengenali Tuan Wijaya. Dia akan melakukan segala cara agar bisa melihat putrinya tersenyum, meskipun harus berhadapan dengan orang yang paling dihindarinya selama ini.


“Bener, yah!”


 Ayah zaki mengangguk cepat.


“Ayah terima kasih, Ayo kita berangkat sekarang yah mumpung masih sore, biar gak kemalaman sampai sana,” ajak Aline kepada Ayahnya.


Wajah aline seketika sumringah dan senang mendengar Ayah Zaki akan membantunya menemui Galen, meski hanya bertemu di luar ruangan pun tidak masalah buat Aline yang penting gadis itu bisa melihat kondisi Galen dengan kedua matanya.


.


.


.


.


bersambung


jangan lupa dukungannya ya.....


teteh tunggu.....


 

__ADS_1


__ADS_2