Fake Love

Fake Love
resepsi mantan


__ADS_3

Galen hanya tersenyum mendengar ocehan Oma Ratih. Wanita paruh baya itu pernah beberapa kali memergokinya berbicara dengan seseorang dari obrolannya ditelpon. Oma pikir mana mungkin cucunya itu sedang berbicara dengan pacaranya. Gaya bicaranya saja seperti itu tak ada romantis dan sayang-sayangan. Tapi Galen terlihat menjadi dirinya sendiri saat itu, tawa mengembang terpancar di wajahnya meski rasa sakit di bagian belakang kepala masih terasa.


"Oma," panggil Galen sontak membuat wanita paruh baya itu menoleh ke arahnya.


"Hm, kenapa?"


"Kapan kita pulang?" tanya Galen seraya turun dari ranjang pasien, lalu memeluk Oma kesayangan nya itu dari belakang.


Oma Ratih sedang mengupas apel dan memotongnya kecil agar memudahkan untuk memakannya.Oma Ratih sangat memperhatikan kondisi Galen, terkadang Kartika pun datang sesekali untuk menemani Oma di sana. Berbeda dengan Mama sambungnya, terakhir kali menjenguk Galen saat anak sambungnya itu masih tak sadarkan diri. Sampai hari ini, Nyonya Mariska beralasan masih sibuk dan belum sempat untuk datang ke rumah sakit.


"Sore ini, jika hasil pemeriksaan rontgen kepala makanya Kamu jangan pecicilan terus, jangan coba-ciba kabur lagi dari sini!" Oma Ratih memperingatkan.


Galen meregangkan pelukannya lalu menggiring tiang kecil tempat infus di sangkutkan, cairan dalam kantung itu belum lama di ganti suster. infus itu adalah cairan terakhir yang di terimanya. Pria yang kepalanya tak berambut itu berjalan menuju jendela yang menampakan pemandangan di luar rumah sakit. Kondisi tubuhnya sudah terlihat pulih tapi tidak di bagian kepala. Terkadang masih terasa pusing dan nyeri di bagian belakang kepalanya.


Keretakan di bagian tengkorak kepala belakang mengharuskan Galen harus di rawat beberapa hari lagi setelah sadar dari koma-nya. Beruntung pria itu tidak mengalami geger otak akibat benturan keras dalam kecelakaan yang itu. Menurut dokter yang menanganinya keretakan tengkorak kepalanya akan mengakibatkan Galen sering mengalami pusing di bagian kepala belakang.


"Kenapa gak sekarang aja sih, Oma?" celetuk Galen merasa tak sabar ingin segera pulang.


Oma memandang cucunya yang berdiri di samping jendela sedang memandang balik ke arahnya. Tatapan tajam Oma membuat Galen tidak berkutik, hanya cengengesan kecil yang ditunjukan pria berkepala botak itu.


"Siapa sih yang mau Kamu temuin! dari kemarin Oma perhatikan seperti seseorang yang sedang merindu? tadinya Oma kira, Kamu akan sadar saat Bella diajak ke sini! taunya malah sudah sadar sendiri!" cetus Oma Ratih mendekati Galen dengan beberapa potongan jeruk yang sudah bersih di atas piring kecil di tanganya.


"Makanlah banyak buah biar kondisi mu cepat pulih!" titah Oma lagi seraya menyuapkan daging jeruk dan beberapa potong apel yang sudah di bersihkan sebelumnya kepada Galen.


"Terima kasih, Oma! emang nenek paling the best banget deh, Oma ini! Galen tidak ada perasaan lagi sama Bella, Oma! salah banget kemarin Oma malah bawa dia ke sini," ucap Galen seraya membuka mulutnya minta disuapkan kembali buah jeruk yang masih tersisa di piring.


"Oma 'kan tidak tau, seingat Oma Kamu lagi bucin- bucinnya saat dia pergi!" ledek Oma Ratih yang masih sabar menyuapi cucu manjanya. Galen pun kembali membuka mulut menyambut suapan demi suapan dari nenek kesayangannya itu.


Galen yang berpenampilan preman dan sangar di jalanan, sangat berbeda dengan Galen yang ada di hadapan Oma Ratih ini.


Oma Ratih akan sangat memanjakannya terlebih saat dalam keadaan sakit begini.


"Aku tahu siapa Bella sebenarnya setelah dia pergi dariku. Wanita itu tidak akan berhenti sampai apa yang diinginkannya bisa ia dapatkan, Oma! Galen yakin, kepulangannya kembali ke negara ini pasti menginginkan sesuatu."


"Ah... Kamu, bisa ngomong begitu saat ini! dulu lupa ya, secinta apa Kamu sama Bella, sampai buat Oma pusing sama perubahan sikap Kamu," ejek Oma Ratih.


Galen menertawakan dirinya sendiri teringat kebodohannya dulu. "Itu kebodohanku, Oma! jangan diungkit lagi," titahnya.


Obrolan santai terus berlanjut. Oma Ratih tidak mau membuat cucunya terlalu berat berpikir. Tanggung jawab perusahaan Aksara Grup seharusnya sudah ia jalani saat ini, berhubung Galen yang merupakan Tuan muda Alex itu masih belum pulih, Tuan Wijaya memerintahkan Bara untuk menggantikannya sementara waktu.

__ADS_1


Oma Ratih menanyakan siapa wanita yang sering Galen hubungi, tapi cucunya itu hanya menanggapi dengan senyuman. Oma Ratih meminta Galen untuk mengenalkan wanita yang sudah membuat Galen selalu ceria setelah berkomunikasi dengannya.


"Nanti pasti Aku kenalkan, Oma! bersamanya Aku bisa jadi diri sendiri, ada yang berbeda saat bersama dia," tatapannya menatap lurus ke arah pemandangan kota Jakarta sore itu, seraya tersenyum kecil.


Oma Ratih mengelengkan kepala melihat cucunya yang sedang dimabuk rindu itu. kemudian ia berlalu meninggalkan Galen dalam lamunannya hendak menyimpan potongan buah yang tersisa.


"Istirahatlah dulu, sebentar lagi dokter datang memberikanmu, jangan paksa otakmu untuk berpikir, " titah Oma Ratih. Galen pun mendengarkannya dan kembali ke ranjang pasien untuk beristirahat.


"Sshh," Galen merasakan ngilu di bagian punggungnya saat ia merebahkan tubuhnya di ranjang pasien.


"Hati-hati," Oma membantu merubah dudukan posisi pada ranjang pasien.


"Oma, maafkan Galen sudah banyak merepotkan! ingin sekali, Aku bisa merasakan sentuhan mama di saat seperti ini!" ucap Galen sendu.


"Oma 'kan selalu ada buat Kamu. Sudahlah jangan bersedih. Kalau teman temanmu tau kamu perasa begini, bisa jadi bully-an mereka ini." Oma Ratih mengalihkannya agar Galen tidak terlalu banyak berpikir.


"Apa Pras dan Wendi sudah pernah ke sini, Oma?"


Oma Ratih mengangguk pelan. "Pernah sekali, waktu Kamu belum sadarkan diri! mereka bilang, Kamu harus hubungi mereka kalai keadaanmu sudah membaik," ucap Oma yang duduk di sofa seraya menonton televisi yang berada di ruang perawatan itu.


"Kenapa Oma, gak bilang dari kemarin?" seru Galen.


"Oma ' kan sudah tua jadi wajar kalau lupa!" elak Oma Ratih.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di acara pernikahan Derald dan Chyntia.


Resepsi pernikahan Derald dan Chyntia yang digelar begitu megah dan mewah itu banyak mendatangkan para artis, dan kolega bisnis Pak Baskoro. Termasuk Bara Indrawan dan Tuan Wijaya yang datang terpisah ke acara tersebut.


Tuan Wijaya datang bersama Nyonya Mariska. Penampilan Nyonya Mariska yang glamor dan mewah mendapat perhatian penuh dari Bu Leli ibu dari pria yang sedang berdiri di pelaminan menyalami para tamu yang datang.


"Sis, lihat wanita itu! nanti Ibu akan minta belikan pakaian seperti itu sama Derald. Secara dia 'kan jadi mantu orang tajir sekarang!" ucap Bu Leli.


"Yang tajir dan banyak uang tuh, mertuanya, Bu! bukan Kak Derald. Ingat bu jangan sampai kita membebani Kakak. Ibu tuh terlalu banyak menuntut, kasian Kak Derald kan lagi sepi job syuting sekarang ini!" Siska menasehati Bu Leli yang gila harta.


Para tamu undangan yang sedang asik menikmati suasana resepsi mengalihkan pandangan mereka kepada sosok wanita yang baru saja datang bersama beberapa sahabat artis yang bernaung di salah satu rumah produksi ternama.


Gadis cantik berbalut gaun dengan riasan natural di tambah rambut di gerai membuatnya tampik cantik malam ini. ya, Aline Barsha dengan anggunnya berjalan melewati para tamu undangan di dalam gedung tersebut. sebelumnya Aline di cegat beberapa wartawan untuk mengucapkan selamat untuk kepada Derald dan Chyntia.

__ADS_1


"Mbak Aline bisa kasih ucapan untuk kedua mempelai kita? sebentar saja" salah satu wartawan menghampiri Aline.


Aline mengangguk lalu mengikuti salah satu wartawan untuk melakukan video singkat di tempat yang sudah di sediakan. Risa, asistennya pun mengikuti dari belakang.


Wartawan itu memberi kode sagar Aline memulai ucapannya.


"Selamat kepada teman artis kita, Derald Ardiansyah dan Chyntia Anya atas pernikahannya, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah." Aline memberi ucapan singkat di sana lalu memberikan sedikit waktu lagi kepada para wartawan untuk memotret penampilannya malam ini.


Aline tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah para wartawan yang memanggil namanya. Tak mau berlama-lama di sana, Aline segera melangkah meninggalkan stand foto lalu berjalan ke arah pelaminan untuk memberikan selamat secara langsung.


"Mbak," panggil Risa menahan langkah Aline. Asistennya itu nerasa takut Aline berbuat sesuatu, karena Dia sudah mengetahui siapa yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Dan sekarang dengan leluasa Chyntia terbebas dari kesalahannya.


"It's ok, Sa! tenang aja. Aku gak akan macam-macam ko!" Aline berkata pelan guna menenangkan Risa.


Perlahan Aline menaiki beberapa anak tangga, ia harus mengangkat sedikit gaunnya agar mempermudahnya berjalan. asistennya Risa menunggunya tak jauh dari pelaminan. Didekatnya kedua pasangan yang bersanding mesra berdiri di pelaminan.


Aline mengulurkan tangan ke arah Derald.


"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Aline dengan senyum. Meski rasa sakit hati masih terasa saat melihat mereka berdua tapi kali ini Aline lebih merasakan sakit hati karena perbuatan licik Chyntia.


"Terima kasih," jawab Derald.


"Kasian banget sih, Kamu! tak punya pasangan ya, datang ke sini sendiri? menyedihkan," sindir Chyntia.


Aline sama sekali tak menganggapnya. lekas ia berjalan melewati Chyntia ingin segera pergi dari acara resepsi itu. Yang penting dirinya sudah datang meski hanya sebentar tak perduli akan ada berita apa tentangnya esok hari.


"Heh... gak punya nyali dia buat jawab." Chyntia masih saja mengejeknya.


Aline menghentikan langakahnya, kemudian berbalik lalu mendekat ke arah Chyntia. sedikit menyondongkan tubuhnya ke arah Chyntia lalu berbisik di telinganya.


"Aku diam bukan berarti takut, Aku tahu semua kelicikan mu, Chyn! Aku tidak akan membalas semua kejahatanmu padaku, ingat karma pasti ada. Kamu dan Derald pasti akan merasakan hasil dari perbuatan kalian beruda." Aline menegakkan badannya kembali. Berjalan anggun meninggalkan Chyntia yang terlihat mengepalkan tangan menahan kesal dengan ucapan Aline.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


Jangan lupa kasih dukungan untuk Teteh Author. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2