Fake Love

Fake Love
Tuan Pokçoy


__ADS_3

Ting....


Suara lift berhenti dan terbuka otomatis. Tandanya Aline sudah sampai di lantai tujuannya. Di mana suaminya berada.


Empat kotak dalam satu ikat Aline bawa. Istri bos pemilik perusahaan itu sama sekali tidak merasa malu dengan barang bawaan yang ia bawa.


Tawaran security yang akan membantunya membawa bawaanya itupun, di tolaknya. Menurut Aline dia masih sanggup untuk membawanya.


Dari kejauhan terlihat dua orang pria yang sangatlah Aline kenal. Ya, dia adalah Galen dan Aldo. Aldo terlihat sedang berbicara dengan suaminya dengan wajah yang cemas. Dengan Galen yang menepuk pundak Aldo tapi entah apa yang sedang terjadi, Aline tidak tahu. Karena penasaran, Aline lekas berjalan menghampiri Aldo dan Galen.


"Mas...," panggil Aline saat wanita cantik itu berada dekat dengan Galen.


"E-eh... Sayang kamu sendiri?" tanya Galen yang langsung mencium kening Aline saat istrinya itu selesai mencium punggung tangan Galen. "Kenapa tidak menyuruh security untuk bantu bawa ini, Sayang? Ini berat loh?" omel Galen. "Ckkk...," decaknya pelan.


"Ya, Oma tidak mau ikut ke sini, katanya cape! Ini untuk makan siang aku kamu, Aldo dan Sandra," tutur Aline.


Galen meraih bekal yang di bawa Aline, Senyum cantik terpancar kepada Galen agar tidak lagi mengomel karena Aline yang keras kepala.


"Aku masih kuat kalau hanya bawa itu, Mas. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Aline yang sangat hapal dengan tatapan Galen kepadanya.


Tatapan Aline beralih kepada Aldo, ia melihat raut wajah cemas pada asisten suaminya itu.


"Aldo kenapa, Mas?" tanya Aline pelan sambil berbisik kepada Galen.


"Nanti Mas ceritakan," ucap Galen ayng akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terserah istrinya itu mau berbuat apa yang pasti jika hal tersebut membuat Aline kelelahan. Barulah Galen akan menegurnya kembali.


Aline mengangguk paham, kemudian ia terdiam mendengarkan suaminya berbicara kepada Aldo.

__ADS_1


"Do, pulanglah! Saya bisa urus semua sendiri. Tenang saja." Galen berucap tegas dan meyakinkan.


"Apa tidak masalah jika saya pulang saat ini, Tuan? Klien bisnis Anda yang satu ini sangat teliti dan tidak mau ada kesalahan. Saya sangat hapal betul sifatnya." ungkap Aldo, ia merasa tidak enak hati jika harus pulang di saat yang tidak tepat.


"Saya bisa menanganinya. Yakinlah, apa kamu ragu soal ketegasan saya?"


"Tidak, Tuan. Saya yakin Anda pasti bisa memasuki celah kesulitan saat menghadapi klien kita yang satu ini."


"Nah, itu kamu tahu. Sekarang pulanglah. Rima lebih membutuhkanmu. Sabar... mungkin ini bukan rejeki kalian. Produksi lagi biar cepet ada hasil kembali." canda Galen membuat sudut bibir Aldo sedikit terangkat.


Di saat sedih dan gundah seperti ini, Galen masih bisa berucap sepeti itu.


"Saya pamit, Tuan, Nona Aline!" ucap Aldo sopan dan lembut kepada keduanya.


"Ya, temani istrimu sampai masa pemulihan. Aku mengijinkanmu untuk tidak masuk bekerja beberapa hari. Ingat cuma beberapa hari jangan keterusan." Galen mengingatkan.


Aline yang dari tadi sudah dengan pemikiranya sendiri lekas membalas dengan anggukan saat Aldo pamit kepadanya.


Aldo pun pergi meninggalkan Aline dan Galen yang masih menatapnya hingga Aldo masuk ke dalam lift.


"Mas, Apa yang terjadi sama Rima?" tanya Aline penasaran.


Ia sempat berpikir Rima keguguran. Tapi itu hanya dugaannya saja, karena ia mendengar ucapan Galen yang mengatakan masih belum rejeki dan produksi. Suaminya itu 'kan suka aneh dalam mengapresiasi kan sebuah peristiwa dengan kata-kata yang terkadang cukup nyeleneh.


"Ya, Rina mengalami pendarahan saat dia sedang berada di Rumah Asuh. Wanita itu sama sekali tidak mengira itu keguguran. Awalnya Rika menduga itu hanya siklus menstruasi saja. Tapi ternyata, ia kehilangan kandungan yang usianya masih sangat muda, baru sekitar satu mingguan." ungkap Galen sambil melepas kepulangan Aldo yang begitu mendadak.


Padahal sebentar lagi pertemuan bisnis dengan klien yang sulit di ajak bernegosiasi itu akan di mulai.

__ADS_1


Galen menarik napas lalu membuangnya berat. "Ayo... Masuk, Sayang!" Galen meraih tangan Aline. Mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangannya.


Aline mengikuti suaminya. Ia melewati meja kerja yang biasa Sandra tempati.


"Sandra mana, Mas?" tanya Aline.


"Dia keluar sama yang lain! Mungkin istirahat di kantin kantor," sahut Galen


"Kalau Aldo dan Sandra tidak ada lalu ini siapa yang makan?" Aline menunjuk bekal makanan yang ada di tangan Galen dengan bibirnya.


"Kita yang akan makan,"


Ceklek...


Pintu ruangan Galen terbuka, Ia segera menarik Aline untuk ikut masuk ke dalam ruangannya.


Sesampainya di dalam. Aline menyiapkan makanan yang ia bawa. Dua kotak bekal ia pisahkan karena di pastikan tidak akan di makan. Aline memberikan bekal makanan tersebut kepada petugas pantry yang baru saja datang membawakan tempat makan untuk alas makanan yang ia bawa.


"Mas, Makan dulu. Ya. Biar ada tenaga menghadapi klien rese itu." Aline membawa satu piring ke hadapan Galen. Suaminya terlihat sangat sibuk dengan laptopnya. Ia tengah mencari informasi tentang Tuan pokcoy, klien yang menurut Galen dan Aldo sangat rese dan menyusahkan.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca kelanjutan ceritanya ya,


__ADS_2