
"Jangan kenceng-kenceng! nanti ada yang denger, malu gue, Njirr!" Pram masih membungkam mulut Wendi.
Wendi berhasil melepaskan bungkaman tangan Pram.
"Bau asem tangan lu, Ooekk... cuih!" Wendi meludah asal.
"Lagian lu kalau ngomong enggak pake filtar asal ceplak, kalau ada yang denger. mereka anggep gue playboy."
"Dih, nyatanya memang begitu. Gak nyadar! lu tuh harusnya malu. Jadi pria tuh harus sejati, jangan mempermainkan wanita. Jauh-jauh dari gue sifat kaya gitu. Semoga Allah memberikannya jodoh buat gue gadis yang baik, cantik, solehah. Amin," Wendi mengangkat kedua tangan lalu mengusapkan ke wajahnya.
Wendi dan Pram masih terus berdebat sambil berjalan menuju parkiran motor.
"Do'ain gue juga Wen, ibadah lu kan rajin, jadi do'a lu pasti cepet di jabah."
"Meskipun gue berdoa tapi kalau sikap lu masih maenin cewek mah, gak bakal di jabah juga, Pram! dah ah balik yuk! gak enak pulang kemaleman sama Ustad Arifin," seru Wendi mendelik sebal ke arah Pram.
"Kita tunggu Bang Galen dulu, kata Mbk Aline sebentar lagi mereka pulang," sahut Pram yang sudah bertengger diatas motor gedenya.
"Ok deh."
Mereka berdua akhirnya menunggu Aline dan Galen di parkiran. Obrolan ringan sambil menikmati pemandangan Kota tua di malam hari menjadi kegiatan yang sedang mereka lakukan saat ini.
"Njirr, dari tadi gue liat sepasang kekasih terus yang lewat! ada yang nemplok di motor, ada yang lewat sambil pegangan tangan. Ada yang gelendotan mesra sama cowoknya. Lah gue, apes banget malam ini harus berduaannya sama lu, Wen!" gerutu Pram dengan meremehkan.
Tempat ini semakin ramai oleh pengunjung. Mereka banyak yang menghabiskan dan melepas lelah dari rutinitas pekerjaan di siang hari. Di Kota tua ini, banyak juga para pasangan kekasih yang menghabiskan malam di sana.
"Lah, lu ngajaknya gue mulu, coba ajak cewek lu! itu juga kalau lu dah punya cewek. Lah masih jomblo aja, banyak oceh. " Wendi menggelengkan kepala mendengar ocehan Pram. Ia duduk berjongkok sambil menghisap satu putung roko di tangannya.
menunggu kabar dari Aline karena gadis itu meminta mereka untuk menunggunya. Ia takut terjadi sesuatu karena tadi Galen sempat mengalami pusing meski hanya sesaat.
*
*
*
"Kita langsung pulang aja ya, Gal!" ajak Aline saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
Sebelumnya Aline sudah memberi kabar kepada Pram dan Wendi, kalau dirinya dan Galen akan segera pulang.
"Ya, orang tuamu pasti sudah menunggu. Apalagi Ayah Zaki, aku bisa di kasih bogem mentah kalau bawa anak perawannya pulang malam. Ayahmu itu menyeramkan kalau lagi marah," cerocos Galen sambil bergidik ngeri. Ia lekas memasang selt belt ke tubuhnya.
"Auw," ringis Galen saat Aline mendaratkan cubitan di perutnya. "Sakit, Yank!" keluh Galen.
"Aku aduin ke ayah, loh! Lagian kamu, sebentar lagi Ayah Zaki jadi mertuamu, loh!" seru Aline sambil menarik selt belt juga.
Saat menarik selt belt, benda itu sedikit macet, sehingga Galen yang melihat calon istrinya kesulitan membantunya menarik selt belt dan memasangkannya untuk Aline. Keduanya saling bertatapan ketika selt belt itu terpasang.
Galen mencuri ciuman singkat di bibir Aline, membuat gadis itu memukuk pelan pundak Galen.
"Ih, kamu iseng deh!"
__ADS_1
"Iseng ngangenin, tau Yank! Benar kata Ayah kamu, Yank. Jangan keseringan bersama. takut ada hasutan orang ketiga. Bikin aku gak tahan!" Galen bersiap untuk melajukan mobilnya.
"Tuh, makanya dengerin omongan orang tua!" ucap Aline sambil menutup bibirnya takut-takut Galen mencuri ciuman lagi darinya.
Galen tertawa singkat melihat tingkah Aline. Gadis itu terlihat menggemaskan saat ini.
"Tenang, Yank! aku gak akan ngambil kesempatan lagi, ko! mau yang lama tapi halal. Stok sabar masih banyak di sini!" Galen menunjum dadanya sendiri.
"Aku masih punya rasa takut sama Ayah Zaki, gak bisa berkutik kalau Ayahmu sudah memasang wajah marah. Betul-betul membuatku tak berkutik. Apalagi kalau tau ciuman putrinha sudah berhasil aku rasakan," Galen lekas keluar dari parkiran perlahan mobil yang mereka kendarai melaju meninggalkan Kota Tua.
Aline terlihat serius mendengarkan ucapan Galen. kemudian menyandarkan tubuhnua di bangku kemudi saat Galen siap melakukan mobilnya.
"Kedua bocah tadi kemana?" tanya Galen saat mobilnya melaju menjauh dengan kecepatan pelan.
"Mereka ngikutin di belakang? kita mau ke rumah asuh dulu apa tidak?" Aline balik bertanya.
Galen melihat waktu di benda kecil yang melingkar di tangannya. "Gak keburu, Yank! udah malem. Lain kali aja, ya? aku gak enak sama Ayah dan ibumu! kamu mau kesana?"
"Aku sih, terserah kamu. Kalau kamu tidak bisa ya, gak pa-pa!" balas Aline menatap lembut ke arah Galen. Membuat pria yang tengah serius mengemudi itu menoleh ke arahnya.
"Masih banyak waktu, lain kali kita ke sana. Aku tidak mau membuat kedua orang tua mu khawatir karena kita seharian pergi berdua. Apalagi Ayah Zaki sudah mewanti-wanti jangan terlalu sering jalan berdua terlebih sudah ada ikatan di antara kita. Pamali bukan?" Galen mengelus pelan pipi Aline. Membuat pipi gadis itu bersemu merah.
Hari yang begitu menyenangkan dan berkesan mereka lewati hari ini. Sepanjang perjalanan Aline dan Galen berbincang rencana jadwal yang sudah di susun pihak EO (event organizer).
Aline merasakan ada yang berbeda dengan mobil yang mereka naiki. Galen pun terlihat mengerutkan alis dengan kemudi nya.
"Mobilnya kenapa gak seimbang gini, Gal?" Aline bertanya dengan wajah panik.
"Gak tau! kayaknya bannya bocor, Yank!" jawab Galen berusaha menyeimbangkan jalan mobil yang mulai oleng.
Mobil yang mereka tumpangi saat ini mulai berbelok-belok tak seimbang karena ban depan mobilnya bocor.
"Minggir, Gal! berhenti. Tolong hentikan mobilnya, sekarang!" Aline memegangi kedua sisi kepalanya dengan kedua tangannya.
Galen masih berusaha mengendalikan mobilnya, kecepatan yang lumayan cepat saat membuat Galen harus perlahan untuk menepi karena jika langsung menginjak rem, mobil mereka bisa berguling karena tak seimbang.
Ketakutan akan kecelakaan tempo hari membuatnya sedikit trauma. Galen yang melihat Aline dengan wajah ketakutan dan sedikit pucat pun merasa aneh.
"Kenapa, Yank! Hei! aku tepikan dulu mobilnya. Sebentar!" Galen menatap Aline sekilas mengacuhkan pandangannya ke depan jalan.
"Gal ... awas!" Aline berteriak saat ada seseorang menyebrang di depan mobilnya.
Galen langsung membanting setir dan menginjak rem.
"Cepol ... Awas!" Galen memeluk Aline yang berteriak histeris.
Brukk!
Mobil yang mereka kendarai menabrak pembatas jalan. Beruntung hanya cap mobil yang rusak. Karena Galen dengan pasti menginjak rem mobil tersebut, jadi benturan tidak terlalu parah.
"Galen ... jangan tinggalin aku, tolong!" Aline menangis histeris di pelukan Galen.
__ADS_1
Gadis itu masih menutup wajahnya dengan kedua tanganya.
kondisinya dan Aline baik-baik saja.
"Hei, Pol ... Cepol lihat aku! aku ada di sini," Galen meregangkan pelukannya tanpa mempedulikan orang-orang yang mulai berdatangan mendekati mobilnya.
Aline menggelengkan kepalanya, ia tak berani membuka mata. "Aku takut kehilangan kamu lagi, Gal!" jangan tinggalkan aku!" Aline masih saja belum menyadari kalau mereka baik-baik saja.
Di saat melihat keadaan Aline. Bayangan saat kejadian kecelakaan dulu terlintas dalam bayangan Galen.
Galen terdiam sesaat, bayangan itu satu persatu ia rangkai, dan perlahan pria yang mengerutkan alis sambil menutup mata itu mengingat kejadian yang terjadi padanya bersama Aline.
Galen menangkup kedua pipi Aline. "Pol, Cepol! buka matamu. "Perlahan Galen melepaskan tangan Aline dari wajahnya.
Wajah Aline terlihat menyedihkan. Gadis itu masih sesegukan dengan ari mata yang masih mengalir di pipi putihnya.
" Kita baik-baik saja, Pol"
Aline membuka matanya saat mendengar ucapan Galen. Masih terisak dalam tangis, Aline terkejut dengan panggilan yang Galen ucapkan untuknya.
Galen tak pernah menyebut panggilan Cepol untuknya saat ingatannya hilang.
tapi kali ini Aline mendengar sesuatu yang berbeda.
"Apa Galenku telah kembali?" tanya Aline sambil mentap wajah Galen yang tersenyum memandangnya.
.
.
.
.
Mohon maaf beberapa hari gak konsisten banget buat nulis. InsyaAllah minggu depan mau rutin menulisnya, semoga tidak melenceng dari keinginan.
Gimana kabar kalian, para Readers.
Semoga kalian semua sehat ya, sehat jasmani, rohani terutama sehat isi dompet.
😁😁🤑
Karena author lagi sakit, terutama sakit kanker(kantong kering) makanya bikin Author males dan uring-uringan🤣.
Semangat semangat buat cari cuan agar isi dompet bertambah.
ijin promo karya yah....
mampir ke karya temanku yuk.
__ADS_1
Bersambung