Fake Love

Fake Love
Tiba Di Apartement


__ADS_3

Dug.... dug... ciiitttt....


Mobil yang Aline tumpangi mengalami kebocoran ban. Aline sempat panik karena mobil iti sedikit oleng.


"Kenapa, Pak?" tanya Aline kepada Pak supir.


"Ban mobilnya bocor, Nyah!" balas Pak Supir. "Kita harus cari tambal ban dulu, Nyah!"


Aline melihat waktu pada jam mungil di pergelangan tangannya.


"Aku bakal kesiangan, Pak!" Aline mengarahkan pandangannya ke sekitar tempat mobil nya mengalami kempes ban. Bisa saja ia menemukan taksi di pagi buta begini.


"Itu dia! Alhamdulilah, " ucap syukur Aline saat melihat satu taksi berwarna biru langit tak jauh darinya.


Aline lekas melambaikan tangannya. Taksi itupun melaju mendekatinya. Aline kemudian bertanya kepada supir taksi, bisakan ia mengantar Aline ke alami tujuan Aline.


Awalnya supir taksi menolak tapi setelah tahu alamat tujuan Aline searahdengan pesanan online nya. Supir taksi pun menyetujui. Lumayan mendapatkan tumpangan ke arah yang sama. Sekali jalan dapet duit dua kali. Rejeki pagi hari yang patut di syukuri.


Aline pamit dulu ke supir pribadinya. Ia lebih baik naik taksi daripada harus ikut menunggu.


"Pak... Aku naik taksi saja, ya? Nanti setelah mobilnya beres, Bapak bisa nyusul ke apartement," ucap Aline kepada supir pribadinya.


"Siap, Nyonya?"


Aline pun segera naik ke dalam taksi. Mobil kedua yang Aline tumpangi kembali melaju ke arah tujuannya.


***


"Ini ongkosnya, Pak!" Aline menyodorkan uang kepada supir taksi.


"Kebanyakan, Neng!"


"Terima saja, Pak. Saya berterima kasih bapak sudah mempersingkat waktu saya sampai kesini. Kalau saya terlambat, bisa-bisa suami saya ke buru bangun."


"Sama-sama, Neng! Emang Neng dari mana sampai takut suaminya bangun duluan."


"Semalam dia kecapean jarak kantor ke rumah terlalu jauh, jadi dia pulang ke sini dulu. Ini saya bawakan sarapan untuk dia!"

__ADS_1


"Wah, perhatian sekali si Neng sampai bela-belain anterin sarapan, jauh-jauh," puji supir online itu.


"Biasa saja, Pak!" Aline menanggapinya santun.


"Kalau begitu, terima kasih, Neng. Semoga rumah tangganua selalu rukun dan bahagia."


"Aamin... Terima kasih, Pak!" Aline membungkuk sopan setelah keluar dari taksi tersebut.


Suara klakson terdengar tanda mobil taksi yang ia tumpangi pamit kepada Aline untuk melaju pergi.


Aline menundukkan kepala membalasnya.


Dengan langkah Anggun Aline berjalan melewati jalan setapak yang pinggirannya terdapat taman indah. Aline makin tersenyum lebar sambil menghirup udara segar dari beberapa pohon yang tumbuh si sekitar taman. Aline makin terlihat cantik dengan dress warna peach yang ia kenakan saat ini. Ia terus berjalan menuju lobi apartement.


"Selamat pagi, Nona!" Sapa salah satu penjaga kepada Aline. Penjaga itu berdiri tepat di pintu masuk.


"Pagi juga Pak!" balas Aline dengan ramahnya.


"Tumben sekali pagi-pagi ke sini?" lanjut penjaga itu.


"Suami saya pulang ke sini semalam, jadi saya susul ke sini bawain sarapan!" Aline tersenyum manis menjelaskan sambil mengangkat paper bag yang ia pegang


Penjaga yang semalam membantu Sandra mendekati temanya yang bertegur sapa dengan Aline.


"Siapa, Bro? Ayu tenan senyumnya," si penjaga yang baru datang mengagumi kecantikan Aline dengan senyum lesung pipinya, ditambah pipi cuby yang makin membuatnya semakin manis ketika tersenyum.


"Oh, Itu istrinya Pak Galen. Pemilik apartemen mewah nomer 1 di lantai 29." ucap temannya menjelaskan.


Lantai 29 begitu terkenal dengan Apartement mewah. Pemilik apartement dilantai itu termasuk orang-orang berkelas. karena mereka memiliki akses untuk menggunakan helikopter di rooftop atas gedung. di lantai 30.


Lantai tersebut juga hanya ada beberapa orang yang menempatinya.


"Nomer 1 lantai 29," Penjaga yang membantu Sandra memastikan.


"Iya...,"


"Perasaan semalam gue nganterin cewek sama cowok ke sana, deh!"

__ADS_1


"Masa sih!" Penjaga yang menyapa Aline seakan tidak percaya.


"Beneran,"


"Temen Pak Galen mungkin,"


"Mungkin."


Kedua penjaga itu saling menebak siapa pria dan wanita yang semalam masuk ke dalam apartement nomer 1 lantai 29 itu.


Karena penjaga yang membantu Sandra semalam adalah orang baru, jadi ia tidak begitu mengenal para pemilik apartement.


Ting...


Pintu lift terbuka di lantai 29. Aline terlihat bersemangat dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. Rasanya tidak sabar ingin memberi kejutan kepada Galen tentang kedatangannya pagi ini.


Semoga, Mas Galen masih tidur! Dia kan memang susah kalau bangun pagi. Setiap hari harus pakai jurus maut pakai ciuman dulu, baru dia mau bangun.


Aline berucap sendiri dalam hati dengan tersenyum sambil menggelengkan kepala mengingat aktivitas nya di pagi hari ketika membangunkan suaminya itu.


Langkah Aline terhenti saat ia berada di depan pintu apartement suaminya.


Apartement yang mempunyai banyak cerita tentang mereka berdua. Belum lama mengenal Aline, Galen sudah mengajaknya ke sana. Dan setelah menikah, mereka juga sempat tinggal disana meskipun tidak lama.


Aline memasukan ibu jarinya ke mesin pencetak sidik jari. Satu-satunya akses untuk membuka pintu apartement tersebut hanya sidik jari Galen dan Aline.


"Kenapa sepi sekali?" Aline mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan apartement.


"Mas... Mas Galen... !" Panggil Aline tapi tidak ada suara yang menyahut.


Aline menoleh ke kamar mandi, terdengar suara gemercik air di sana. Lantas Aline berjalan melangkahkan kakinya mendekati kamar mandi.


.


.


.

__ADS_1


Baca terus kelanjutan ceritanya yak...


__ADS_2