Fake Love

Fake Love
Gadis Ini Penakut Juga


__ADS_3

Akhirnya Sandra jatuh dalam pelukan Galen. Kedua mata mereka saling menatap. Sandra sampai tak berkedip melihat wajah tampan pria di hadapannya itu.


"Duh, jantung gue! Deg degan gini ya," ucap Sandra dalam hatinya.


Sikap dinginnya membuat Sandra semakin penasaran dengan pria yang lagi-lagi kembali menolongnya.


"Dasar ceroboh," cebik Galen ketus. Lalu melepaskan kedua tangan yang memeluk Sandra membuat wanita itu hampir terjatuh kembali.


"E-eh ... Tuan, kompromi dulu dong kalau mau ngelepasin, hampir jatuh lagi!" Sandra mencoba berdiri dengan benar seraya mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Galen.


Galen sama sekali tak menghiraukan Sandra. Tanpa menoleh lagi ke belakang ia meninggalkan Sandra, satu sudut bibirnya tertarik puas sudah mengerjai Sandra seraya menggelengkan kepala. Meski sikap diam dan dingin mendominasi sikapnya kali ini, tapi sifat jahil Galen tak hilang dari dirinya.


"Tuan Galen. . . Tunggu!" Sandra kembali mengejar Galen, setelah dekat ia mengimbangi langkah pria yang berada di depannya itu.


"Tuan, mau kemana sih? Ini udah malem, bukannya istirahat malah keluyuran gak jelas. Katanya mau pulang cepat tapi perintah sama anjuran dokter di langgar terus," cerocos Sandra yang tiba-tiba menubruk tubuh kelar yang berada di depannya karena orang itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Aduh... " Sandra menabrak punggung Galen.


"Oh my god, ni bos gue jalan seenaknya aja," gerutu Sandra seraya mengelus pelan dahinya. Lalu mundur beberapa langkah menghindari Galen.


Sandra mendongak melihat Galen. Pria itu sudah berada tepat dekat dengan wajahnya sambil menatapnya tajam.


"Astaghfirullahaladzim... Tuan ngagetin aja." Galen mendekati Sandra yanng masih memegangi dadanya karena kaget.


Galen berdiri di hadapan Sandra dengan tatapan menelisik. "Ngapain, ngikutin!" tanyanya dingin.


"Oma, khawatir sama Tuan, jadi Saya ngikutin Tuan." Sandra tersenyum kaku sambil memperlihatkan dereran giginya.


"Kamu, Saya tugaskan nemenin Oma, bukan ngikutin Saya!" ucap Galen masih dengan nada ketusnya.


"Ya, ampun ni orang enggak ada lembut-lembutnya kalo ngomong," batin Sandra.


"Saya gak akan ganggu Tuan ko, beneran deh. Anggap aja Saya gak ada. Saya cuma takut Tuan kenapa-napa!"

__ADS_1


Galen menatap tajam Sandra tanpa membalas ucapannya, Galen berbalik lalu melanjutkan langkahnya. Malas berdebat kalau sudah menyakut Oma Ratih. Tak peduli dengan Sandra yang terus mengikutinya.


Sesampainya di rooftop rumah sakit.


Cahaya lampu di rooftop itu tak begitu terang, membuat suasana terlihat samar.


Galen berjalan mendekati pagar pembatas. Tangannya berpangku pada besi tersebut. Pandangannya ia arahkan lurus seakan menembus cakrawala. Di ikuti Sandra di sampingnya.


Lama Galen terdiam. Merasakan dinginnya malam di rooftoop rumah sakit. Pikirannya masih tentang seseorang yang Oma Ratih ceritakan kepadanya. Seorang gadis yang sudah merubah hidupnya menjadi lebih ceria. Dan janji yang ia ucapkan di hadapan Oma untuk menjadikan Aline sebagai istrinya. Semua terus berputar tapi tak ada satu pun yang ia ingat.


"Shitt." Galen mengumpat kesal. "Kenapa tidak ada yang Aku ingat sedikitpun tentang dia. Banyak berpikir membuat Galen semakin frustasi.


"Jangan terlalu berat berpikir, Tuan! jalani aja hidup untuk sekarang ini, untuk kenangan yang terlupa, 'kan bisa di buat kembali." oceh Sandra. Gadis itu hanya mendapat lirikan tajam dari Galen.


Sandra memanyunkan bibirnya. Sia-sia ia berceloteh tangapannya hanya seperi itu dari Galen.


Suasana kembali hening. Membuat Sandra yang menemaninya di kegelapan malam dingin itu menguap.


"Hoahh ..." Kesekian kalinya Sandra membuka mulutnya rasa kantuk sudah menyerangnya.


Hingga akhirnya Galen membuka suara mengutarakan kegelisahan hati membuat Sandra bersigap.


"Bagaimana sikapku nanti kalau orang yang Oma sebut kekasih ku datang menemuiku." Galen membuka suara tanpa memandang ke arah Sandra.


"Maksud Tuan?" Sandra mengerjapkan mata.


"Aline yang Oma bilang sebagai kekasihku akan datang ke sini." Ujar Galen.


"Ya, tinggal di temuin aja, Tuan. Kenalan lagi aja biar gak canggung. Kalau memang benar dia kekasih Tuan pasti banyak kenangan yang akan membantu ingatan Tuan Galen kembali," sahut Sandra.


"Tuan harusnya bersyukur kekasih Tuan rela menyusul ke sini. Pasti kalian saling mencintai di ingatan Tuan yang hilang," sambung Sandra lagi.


"Tapi bayangan dirinya sama sekali tak ada di benakku. Aku merasa asing melihat wajahnya di foto itu," sahut Galen

__ADS_1


"Ya elah, Tuan. Namanya juga hilang ingatan. Mana inget coba!" Sandra tersenyum mengejek seraya menggelengkan kepala.


"Sebaiknya Tuan ikuti aja alurnya. Kalaupun sulit mengingat ingatan yang hilang setidaknya Tuan bersama orang-orang yang sayang sama Anda. Tidak seperti Saya, ingatan tak pernah hilang tapi untuk dekat dengan satu-satunya orang yang di sayang begitu sulit.


Galen kembali terdiam dengan segala pemikirannya.


"Kita kembali ke ruangan yuk, Tuan! Aku sudah ngantuk banget belum lagi harus ke hotel. Hoaaamm, mataku dah gak kuat." Sanda menelungkupkan kepala diantara tangan yang di lipatnya dibatas besi pembatas.


Galen membuang napas pelan. Jika memang Tanpa ia sadari Galen sudah beberapa langkah meninggalkannya sendiri.


Galen kembali dengan sifat jahilnya. Ia bersembunyi di balik tembok. Sandra masih di posisi yang sama. Di lemparkannya kayu kecil hingga menimbulkan bunyi nyaring.


Brakk ...


"Astagfirullahalazim" Sandra membuka mata lalu menguceknya kemudian ia edarkan pandangannya mencari sosok Galen.


"Tuan...Kamu dimana?" teriak Sandra, ia sudah mulai panik sendirian di atas rooftop yang sepi.


Dengan langkah cepat Sandra berlari menuju pintu darurat menuju lift.


"Duh.... serem banget sih! cepet banget Tuan Galen perginya. Awas aja kalau ketemu, gue jitak kepalanya." Sandra memencet tombol panah bawah pada lift yang tertutup. Angka di atas pintu lift itu masih menunjukan nomer 2, berarti masih jauh menuju lantai atas gedung itu.


"Ih, lama banget sih, masa iya harus lewat tangga darurat. Mama tolongin Sandra," Gadis itu meringis sedih seraya menghentakkan kakinya ke lantai membuat suara hentakkan itu terdengar menggema di ruangan itu. Sandra merinding sendiri dibuatnya.


Di balik tembok, Galen tersenyum geli melihat Sandra yang ketakutan. " ternyata gadis ini penakut juga."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2