Fake Love

Fake Love
Rencana Untuk Rara


__ADS_3

Perjalanan Jakarta-Bandung tidak selambat biasanya. Sebab Tuan Braja kembali ke Bandung pada waktu tengah malam.


Dua jam waktu cepat yang mereka tempuh. Pak Budi benar-benar malu dengan tingkah putrinya pada Tuan Braja. Tepat pukul dua pagi mereka sampai di kota Lembang, Bandung. Suasana begitu sepi. Tuan Braja menurunkan Pak Budi dan Bu Mirna tepat di depan rumah mereka.


Pak Braja memohon maaf atas apa yang sudah dilakukan Rara.


“Maafkan kelakuan putri kami, Tuan!” ucap Pak Budi sambil menundukkan kepala ketika mereka baru saja turun dari mobil Tuan Braja tepat di depan rumah mereka.


“Iya, Pak! Saya juga mohon maaf sudah mengusir Rara dengan kasar. Sebab saya benar-benar tidak suka kehidupan saya di usik,” tegas Tuan Braja.


Kemudian Tuan Braja berlalu dari hadapan Pak Budi dan Bu Mirna.


Pasangan pasutri itu masih setia berdiri hingga mobil yang di kendarai Tuan Braja menghilang dari pandangan.


“Ka mana inditna Rara nya, BuBu?” tanya Pak Budi kebingungan. Pasalnya ia berulang kali menghubungi Kang udin jawabnya sama, tidak ada Rara di sana.


“Te hapal atuda pa! Bapa sih manjaken sok manjaken budak jadi wae sikapna kelewatan hayeuna. Ibu teh khawatir sieun Rara kunanaon,” balas Bu Mirna.


(Ngga tahu atuh Pa! Bapa sih sering manjain anak jadi aja sikapnya keterlaluan. Ini jadi khawatir takut Rara kenapa-napa)


“Nya ntos atuh, enjing wae milarian na hayeuna mah poe keneh. Semoga si Neng te kunanaon,” Pak Budi berharap cemas.


(Ya sudah atuh, besok saja kita mencarinya. Semoga si Neng tidak kenapa-napa)


Keduanya masuk ke dalam rumah. Mereka beristirahat terlebih dulu, menunggu besok pagi. Barulah mereka akan mencari Rara.


***


Tok ... tok ... tok....


“Uwa... Wa... Assalamu’alaikum, Wa...,” suara seseorang terdengar dari luar rumah.


Pak Budi dan Bu Mirna sangat terkejut mendengarnya. Pagi ini mereka berdua terlambat bangun tidur.


“Ibu wae nu ningali ka payun!” ucap Bu Mirna ketika Pak Budi hendak bangun dari tidurnya.


(Ibu saja yang lihat ke depan)


Segera Bu Mirna membuka pintu.


“Waalaikumsalam,” jawab Bu Mirna seraya membuka pintu.


“Uwa... Teh Rara---!” pekik Asep tak sanggup melanjutkan ucapannya.


“Ku naon, Tom?” Bu Mirna makin penasaran. “Kenapa sama Rara, Tom?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Teteh ada di pojok pasar!” balasnya dengan suara terengah dan terbata. Sebab Tomi harus berlari sampai ke rumah Pak Budi dan Bu Mirna saat melihat kejadian itu.


Bu Mirna mengerutkan alis tak mengerti dengan ucapan Tomi, keponakannya yang baru seminggu liburan di Bandung. Ia tinggal di Jakarta bersama kedua orang tuanya.


Pak Budi dan Bu Mirna bekerja di Jakarta berkat bantuan dari orang tua Tomi.


“Rek naon si Neng di Pasar subuh kie?” pikir Bu Mirna.


“Gak tau atuh Uwa. Tadi Tomi sama Mama ke pasar, eh ... lihat ada orang berkerumun. Mama langsung menjerit pas ngeliat gadis yang sedang di kerumuni Teh Rara.” Tomi mulai menceritakan kejadianya di pasar. “Tomy di suruh Mama kasih tau Uwa Budi sama Uwa Mirna. Teh Rara sudah di bawa ke rumah sakit!”


“Astaghfirullahalazim, ya Allah... gusti pangeran aya naon iye? Bapa..,” teriak Bu Mirna memanggil Pak Budi yang masih ada di dalam rumah.


Mendengar suara teriakan dari istrinya. Pak Budi lekas menghampirinya.


“Aya naon, Bu?” tanya Pak Budi.


“Rara ... Rara di bawa ka rumah sakitnya si Nayi, mamanya Tomi, Pak! Kapendak di pasar ku anjeunna sareng si Tomi. Hayu Bapak, urang ka rumah sakit. Tingali si Neng,” ajak Bu Mirna dengan tidak sabar. Ibu dari gadis yang saat ini berada di rumah sakit dengan mamanya Tomi itu terlihat tergesa-gesa mengambil sesuatu di kamarnya.


“Tomy makasih ya, informasinya. Nanti Uwa susuk ke sana. Bagaimana keadaan Teh Rara? Saat kamu melihat pertama kali,” tanya Pak Budi penasaran.


“Itu... Itu... Teh Rara...,” Tomi terlihat ragu memberitahunya.


“Kenapa Tom?” Pak Budi penasaran.


“Teh Rara kelihatan habis dilecehkan, Wa!” tutur Tomi yang sempat ragu berkata takut Pak Budi dan Bu Mirna tidak mempercayainya.


Bu Mirna dan Pak Jokowi bergegas pergi ke rumah sakit.


Tiga puluh menit perjalanan menggunakan motor matic milik mereka. Armada yang selama ini menjadi kendaraan andalannya.


“Nayi...,” panggil Bu Mirna pelan saat melihat Nayi, adik dari Pak Budi duduk di kursi besi di depan sebuah ruangan.


Nayi, Mama dari Tomi lekas berdiri saat melihat kedatangan orang tua Rara.


“Dimana Rara? Kunaon bisa pendak sareng Rara di pasar? Kayaan Rara kumaha hayeuna, Nay?” cecar Bu Mirna kepada Nayi dengan nada khawatir dan cemas.


(Rara di mana? Kenapa bisa ketemu sama Rara di pasar? Keadaan Rara bagaimana sekarang?)


“Teteh... sing sabar heula, Rara tos di suntik obat penenang. Tadi mah da ngajerit terus sambil ngaronta minta tolong. Saur dokter mah, Rara di perkosa bergilir! Ntos di periksa ku dokter, biyen pisan teh. Rara siga na trauma, Teh!” Nayi menjelaskan dengan pelan dan hati-hati.


(Teteh ... Yang sabar dulu, Rara sudah di suntik obat penenang. Dari tadi menangis terus sambil meronta-ronta minta tolong! Sudah di periksa sama dokter, barusan banget. Rara sepertinya trauma, Teh!)


Bagai tersambar petir. Mendengar musibah yang di alami Rada membuat tubuh Bu Mirna mendadak lemas tak bertenaga. Kemudian Nayi menuntun Bu Minta agar duduk di bangku besi.


“Ya Allah, Bapak! Si Neng, Pak!” lirih Bu Mirna dengan ucapan sedih di iringi isak tangis. Pak Budi pun mendengar ucapan Nayi. Bapak dari Rara itu pun merasakan hal yang sama. Dia pun terkejut. Hatinya juga sedih dan terasa sakit putri bungsu mereka mengalami kejadian seperti ini.

__ADS_1


“Dimana Dokterna, Nay?” tanya Pak Budi. Ia ingin menanyakan kondisi Rara. Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya itu.


“Dokter aya di ruanganna, Wa!”


Pak Budi lekas berjalan menuju ruangan dokter yang menangani Rara.


Flashback


Usai diusir kasar oleh Tuan Braja, Rara pulang dengan perasaan sedih dan kecewa.


Tertangkap tangan saat melakukan aksinya. Tuan Braja begitu murka. Padahal selama ini ia begitu diperlakukan baik oleh pria yang umurnya terpaut jauh dengannya itu.


Rara salah mengartikan kebaikan Tuan Braja. Kebaikan dan perhatiannya selama ini dikarenakan ia tahu, jika ibu dan bapaknya tidak berada di Lembang sebab masih bekerja di Jakarta. Jadi ia ikut memperhatikan adik dari temanya itu. Kang Udin, kakak dari Rara.


Dari penampilan Rara memang cantik. Tapi Tuan Braja membutuhkan wanita dewasa yang mau mendampinginya, dan membantu merawat ibunya yang sudah tua. Sebab hanya dia yang Tuan Braja punya.


Rara pergi dengan perasaan sedih, kecewa dan malu. Ternyata sikapnya selama ini berlebihan. Kecewa sebab Tuan Braja tak tertarik sedikitpun kepadanya, padahal ia sudah berpenamlilan berbeda. Malu karena ia tertangkap tangan ingin menjebak Tuan Braja dan itu terlihat oleh Tuan Braja sendiri.


Mengendarai motor matic miliknya Sandra yang sengaja di tinggal di sana. Rara terus tancap gas tanpa peduli ia berada di mana. Ketika ada di ujung pasar, motornya mogok karena kehabisan bensin. Di sana terlihat beberapa pemuda sedang berkumpul main kartu, mereka dalam keadaan mabuk.


Saat Rara melewati mereka, Rara di goda oleh salah seorang dari mereka.


“Neng, bade kamana?” tanya salah satu pemuda dalam keadaan mabuk, ia berisik dari duduknya lalu mendekati Rara yang terlihat mendorong motor matic nya.


“Indit, Kaditu, jauh-jauh. Ih... Bau! Lalaki kos didinya te guna marabok wae bisana,” ucap Rara dengan nada meremehkan.


(Pergi sana, jauh-jauh, Ih... Bau! Lelaki kaya kamu tidak berguna, mabok saja bisanya)


Rara pun pergi dari hadapan pria yang tadi menggodanya sambil menatap meremehkan mereka.


“Sombong pisan eta awewe. Mentang-mentang geulis! Aing kerjain karak nyaho.” Pria itu kembali menghampiri temannya yang lain.


(Sombong banget tuh cewek. Mentang-mentang cantik! gue kerjain baru tau rasa)


Satu persatu diberi bisikan oleh pria itu. Mereka lekas berdiri semua dari duduknya.


Senyum menyeringai lebar dari pria yang menggoda Rara. Kemudian mereka menyusul Rara melancarkan aksi yang sudah direncanakan untuk membalas sikap ketus Rara kepada pria mabuk tadi.


.


.


.


...Bersambung

__ADS_1


...


__ADS_2