Fake Love

Fake Love
Istri Bos


__ADS_3

Galen sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


Ia berjalan sambil mengapit tangan Aline di sampingnya. Mereka berdua terus menahan tawa. Serangan pagi tadi membuat kedua pasangan itu kembali mengulangi olahraga bergeloranya di kamar mandi. Jika buka karena ketukan pintu dari Mbak Ira, rasanya enggan untuk beranjak dari pertempuran.


Berulang kali Aline mencoba mengakhiri tapi ia tidak kuasa menahan serangan demi serangan yang memabukkan dari suaminya itu. Ia hanya bisa pasrah sambil menikmatinya


"Oma...," Sapa Aline saat tiba di ruang makan. "Maaf aku terlambat bergabung buat sarapan," ucapnya tak enak hati karena Oma Ratih, Tuan Wijaya dan Kartika sudah memulai sarapan paginya.


Oma Ratih tersenyum membalas Aline. Wanita paruh baya itu melihat setitik tanda merah di bawah telinga cucu menantunya itu. "Oma ngerti ko, kalian 'kan pengantin baru jadi masih perlu banyak waktu untuk berdua," cetus Oma Ratih berhasil membuat wajah Aline merona karena malu, ketahuan sama Oma Ratih karena aktivitas paginya bersama sang suami.


"Mas bilang juga apa, Yang. Oka pasti ngerti ko!" Galen menimpali seraya duduk bergabung bersama mereka.


Ucapan suaminya malah membuat Aline semakin malu, wanita itu pun ikut duduk di samping Galen.


Tanpa di minta Aline lekas menyiapkan sarapan. Menyendokkan nasi goreng ke dalam piring yang ada di hadapan Galen. menambahkannya dengan telur mata sapi dan acara kesukaannya.


"Ini makanannya, Mas!" Aline menyuguhkannya.


"Terima kasih, Sayang!" balas Galen menatap Aline dengan senyuman. Tatapannya beralih kepada pria tua yang selesai dengan makanan miliknya.


"Loh, papa sudah selesai?" tanya Galen heran.


"Sudah... Papa duluan, kamu jangan telat di pertama kamu masuk setelah lama cuti," ucap Tuan Wijaya tegas lalu mengusap sudut bibirnya dengan serbet bersih yang disediakan di samping piring makannya.


"Ya, aku tahu, Pah!" balas Galen kemudian memulai suapan pertamanya.


Kartika yang berada di tengah mereka tak ikut berbicara. Gadis itu sibuk dengan makanan di depannya.


Tuan Wijaya beranjak dari tempat duduknya lalu nghampiri Oma Ratih kemudian pamit kepada beliau. Tak lupa Tuan Wijaya menegur putri kesayangannya Kartika dan sedikit bertanya kepadanya.


"Bagaimana persiapan sekolah mu ke Amerika, sudah selesai semua 'kan?"


"Sudah, Pah. Tinggal tunggu hari keberangkatan saja," jawab Kartika yang langsung berdiri saat Tian Wijaya mendekatinya.


"Syukurlah, belajarlah dengan baik!" lanjut Tuan Wijaya lalu mendapat ciuman pipi dari Putrinya.


"Siap, Papa! pokoknya sebelum aku pergi ke Amerika papa harus ada waktu full time satu hari bersamaku!" pinta Kartika manja.


Semua yang berada di meja makan tersenyum melihat manjanya Kartika kepada Tuan Wijaya yang berwajah dingin.


"Hm..." jawab Tuan Wijaya singkat.


"Awas kalau Papa bohong."


"Kamu tahu di mana Papa berada kalau Papa belum menemanimu! Papa pergi ke kantor dulu." Tuan Wijaya beranjak dari ruang makan


Kartika kembali duduk melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Pria tua yang masih terlihat gagah dan tampan itu menoleh ke arah Aline.


"Terima kasih untuk sarannya pagi ini!" ucapnya jelas dan singkat tanpa ada sedikit senyum sekalipun.


Meski begitu Aline tetap membalasnya dengan senyuman.


"Sama-sama, Pah."


Pagi ini merka nikmati sarapan yang sudah di siapkan Aline meskipun sang koki terlambat bergabung untuk sarapan pagi.


.


.


Saat ini Galen tiba di kantornya. Semua orang mengucapkan selamat kepada Beliau atas pernikahanya. Mereka tidak menyangka big bos yang baru saja menjabat sebagai CEO perusahaan itu mendadak cuti karena menikah.


Mereka kira akan ada perayaan megah dan meriah tapi ternyata tidak.


Ada banyak karyawan wanita yang patah hati mendengarnya. Baru beberapa minggu Galen bekerja, banyak para karyawan wanita yang mencuri perhatian bos tampan itu.


"Sayang sekali dia sudah menikah? hilang sudah harapanku mencuri hatinya!" ucap salah seorang karyawan wanita dengan pakaian seksinya yang bernama Wulan.


"Hei... Janur kuning bisa lo tabrak kecuali bendera kuning!" celetuk Leni, teman wanita itu dengan rambut pendeknya


Senyum licik terpancar pada wanita dengan pakaian seksinya.


Keduanya berjalan menuju ruangan kerjanya dengan bisikan rencana yang mereka buat. Tapi tatapan sinis mereka berikan kepada wanita yang berjalan di belakang Galen.


"Tuh cewek, siapa sih? belum lama masuk kerja dapet posisi enak begitu. Bisa deket sama asisten bos lagi!" sewot Leni sambil melirik ke arah Sandra.


"Dih, cuman cewek kaya gitu mah gampang. Nanti gue bantuin lo buat deket sama asistennya. Pak Aldo mah nggak sebeku bos kita, gampang lah buat narik perhatian dia mah," cetus Wulan kemudian masuk ke dalam ruangan kerja mereka.


Selama Aldo dalam masa cuti setelah meninggalnya Bu Rahma. Sandra lah yang menggantikan Aldo membantu semua pekerjaan Galen, meski masih di pantau oleh Aldo.


Setiap harinya Aldo akan memberikan pengarahan kepada Sandra untuk tugas yang harus ia kerjakan. Meskipun lelah karena harus melakukan dua pekerjaan sekaligus tapi rasa capenya hilang begitu saja, karena bersama Galen.


Tidak bisa dipungkiri, Sandra masih memendam perasaan kepada Galen. Tidak ada niatan sama sekali dalam diri Sandra untuk merebut Galen dari sisi Aline.


Cukup mengagumi dalam diam saja Sandra sudah merasa bahagia. Di tambah sekarang ini dia bisa bersama dengan Galen.


Di kala waktu senggangnya dengan Galen Sandra akan terlihat lebih santai di banding saat bekerja. Ini yang sangat ia nantikan. Bisa mengobrol selayaknya dengan teman seperti dulu saat pertama bertemu dengan Galen di Singapura.


Sifat Sandra yang supel dan asik di ajak ngobrol membuat Galen juga ikut terbawa santai dengannya. Sesekali Galen menanyakan keadaan Bu Sarah, mamanya Sandra kepadanya.


Sandra masih menunggu donor jantung untuk ibunya dan itu sangat sulit. Jadi selama Sandra bekerja di kantor Galen. Bu Sarah aman untuk biaya pengobatan. Karena semua di tanggung oleh perusahaan. Itulah sebabnya Sandra begitu rajin dengan pekerjaanya yang sekarang ini. Dia tidak perlu banyak berpikir lagi untuk biaya pengobatan ibunya.


Gaji yang Sandra terima cukup untuk menghidupi ibunya dan juga Bisa Erma.

__ADS_1


Satu bulan telah berlalu, Galen semakin sibuk dengan pekerjaannya. Begitu juga dengan Aldo. Selama ada Galen di situlah Aldo juga berada. Sandra juga telah kembali kepada pekerjaannya.


Hari-hari yang Galen lalui tidak lepas dari kesibukan, Tapi Galen menepati janjinya untuk selalu meluangkan waktu untuk Aline.


Aline juga mulai terbiasa dengan aktivitas barunya. Wanita yang semakin anggun dengan penampilan nya itu sangat menyukai kegiatan barunya. Apalagi saat mengawasi kegiatan di Rumah Beautiq yang saat ini ia kelola. Cita-cita Aline dulu, terwujud dengan meneruskan peninggalan Almarhum mertuanya.


Galen dan Aline tidak pernah melewatkan waktu makan siang sendiri-sendiri. Pasangan itu selalu menyempatkan waktu sesibuk apapun mereka.


Terkadang Aline yang menyempatkan waktunya berkunjung ke kantor suaminya. Semua karyawan sudah mengenal siapa Aline.


"Selamat siang,Bu Aline!" sapa salah satu resepsionis. Dua orang resepsionis yang ada di meja kerjanya lekas berdiri saat melihat kedatangan Aline.


"Selamat siang juga, Fit!" balas Aline dengan senyuman ramahnya kepada Fitria yang memang sudah dikenalnya. "Tolong bagikan snack seperti biasa kepada yang lain!" titahnya pada resepsionis tersebut.


"Siap, Bu! Alhamdulillah jum'at berkah, kebagian juga kita, Bu." tanya Fitria siapa kepada Aline.


"Sengaja saya pesan lebih untuk di bagikan di sini!" balas Aline. "Ya sudah saya ke atas dulu, sudah di tunggu di sana!" ungkap Aline dengan nada ramah.


"Yeh, yang di tunggu Pak Bos! Ada stok satu Nggak Bu Aline, cowok yang sama persis kaya Pak Alex." canda Fitria tanpa canggung.


Aline tidak pernah membatasi celah antara dirinya dengan orang lain. Meskipun saat ini Aline adalah istri dari pemilik perusahaan besar itu.


Aline hanya menggeleng pelan menanggapinya. Karena ia tahu tidak akan pernah ada pria yang sama persis dengan Galen. Pria yang sangat Aline cintai, pria yang menempatkan Aline sebagai ratu.


"Yah, si Ibu. Kalau ada mesin foto copy manusia, mau deh. Tapi bisa hidup foto copy-an nya."


"Ada-ada saja, kamu Fit! Sudah ya, saya ke atas dlu. Permisi!"


"Ya, Bu. Terima kasih untuk snack nya." Fitria kembali berucap lalu mendapat senyuman dan acungan jempol dari Aline.


"Ya ampun, Baik banget sih, tuh istri bos. Beruntung banget gue kerja di sini!" ucap Fitri sumringah.


"Ya, jarang banget tuh istri pemilik perusahaan yang sikapnya ramah dan humble sama karyawannya. Biasanya yang ada, Istri bos itu sikapnya angkuh, jalan nya tegap tanpa mau menebar senyum sama karyawan rendahan kaya kita," ucap wanita yang ada di samping Fitria.


"Bener banget tuh. Nah itu dia snack yang akan dibagaikan," tunjuk Fitria ke arah dua orang security yang menjinjing masing dua kantung besar berisikan nasi box untuk makan siang.


karena hari ini hari Jum'at semua karyawan laki-laki istirahat lebih awal. Karena kewajiban solat jum'at untuk para karyawan laki-laki.


Hari jum'at berkah yang tak pernah Aline lewatkan setelah menjadi istri Galen.


Ia selalu membagikan makanan di sekitar jalanan. Tak banyak tapi kegiatan itu, rutin ia lakukan bahkan kepada wanita tua yang sering ia beri makanan dulu, tepatnya di depan Rumah Beautiq, Wanita tua yang pernah mendoakan Galen dan Aline bersatu.


.


.


.

__ADS_1


Baca terus kelanjutan ceritanya ya.....


__ADS_2