
Sandra dan Bara tertawa bersama saat mereka pernah mengalami hal lucu yang sama.
Sesaat keduanya terdiam saling mengatur napas setelah tertawa.
"Kamu harusnya bersyukur, meskipun mama mu bersikap buruk tapi ia tidak pernah meninggalkan kalian. Dia tetap mempertahankan kalian 'kan?" Sandra berucap kembali sambil meneguk minuman kaleng yang disuguhkan Bara sebelumnya.
Tidak ada sebutan tuan lagi untuk Bara setelah obrolan hangat yang mereka lakukan. Bara meminta Sandra menyebutnya dengan sebutan nama saja. Tapi wanita itu merasa tidak nyaman saja karena umur Bara lebih tua daripada dirinya. Sandra memilih menyebut aku kamu dalam setiap obrolannya.
"Tapi perbuatan jahatnya tidak bisa dibenarkan," sambung Bara lalu melempar kaleng kosong pada tempat sampah yang ada di pojok ruangan.
Plung... Brak...
Kaleng kosong bekas minuman soda itu tepat sasaran masuk kedalam tempat sampah tersebut.
"Wah... hebat... Tepat sasaran," sorak Sandra terkagum dengan gerakan Bara. Sebab jarak antara Bara dan Tempat sampah itu lumayan jauh.
"Andai saja, aku juga tepat sasaran ketika melabuhkan cintaku!" ujar Bara yang langsung berdiri dari duduknya.
Sandra mengerutkan alis mendengarnya.
"Apa sih gak jelas! Aku boleh pinjam baju kamu tidak. rasanya kurang nyaman memakai kimono ini?" pinta Sandra sedikit berteriak ketika Bara masuk ke dalam kamarnya.
"Nanti aku carikan." Bara memilih membersihkan diri meskipun hari sudah sangat larut. rasanya tidak nyaman dengan bau alkohol yang menempel di bajunya.
"Lama sekali sih dia?" Sandra menunggu Bara keluar dari kamarnya. Wanita itu melihat kotak obat di atas meja. Bara lupa menyimpannya kembali ke tempat semua, setelah ia meminum obat pereda rasa mabuk.
Sandra meraih kotak obat tersebut. Ia lihat ada salep untuk luka lebam.
"Aku ijin sama Bara kalau sudah keluar dari kamar," pikir Sandra saat meraih salep itu.
Luka bekas cambukkan dari Tuan Burns masih terasa. Bahkan sudut bibir Sandra sedikit sobek karena tamparan keras dari pria gila itu.
Selagi Bara berada di kamarnya. Sandra membuka tali samping kimononya. Perlahan ia oleskan salep itu ke luka yang ada di tubuhnya.
"Sshh... Ah...," Desah Sandra saat lukanya terolesi salep. "Sialan pria saiko itu, kenapa perih sekali lukanya," gerutu Sandra. Meskipun perih tapi wanita itu terus mengobati luka pada tubuhnya sendiri.
Tubuh bagian depan sudah Sandra obati. Wanita itu sedikit kesulitan saat mengolesi salep bagian belakang tubuhnya.
Baju tidur model kimono yang ia kenakan harus ia lepas agar bagian belakang terlihat jelas. Tapi Sandra merasa malu kalau Bara melihatnya. Padahal di depan Tuan Burns saja ia mampu memperlhatkan seluruh tubuh nya. Entah mengapa ia merasa malu jika Bara keluar tiba-tiba dan melihat luka yang ada pada dirinya.
Dua manik mata memperhatikan kegiatan Sandra dari tadi. Hanya saja wanita itu tidak menyadari kalau Bara sudah keluar dari kamarnya dengan membawa baju dan celana yang sudah ia siapkan, pakaian yang sekiranya cocok untuk Sandra.
Perlahan Bara mendekati Sandra yang duduk membelakanginya. Saat Sandra sadar Bara berada di belakangnya ia dengan cepat menarik baju yang terlanjur terbuka setengah tubuhnya. Saat ini Sandra memang tidak memakai pakaian dalam untuk menutupi gunung kembarnya.
"Biar aku bantu olesi salepnya." celetuk Bara membuat Sandra dengan cepat menarik kimononya agar menutupi punggung yang penuh dengan luka cambukkan.
__ADS_1
"Kemarikan salepnya."
"Tidak usah... Biar aku sendiri yang mengobatinya," tolak Sandra halus karena ia merasa malu dengan kondisi tubuhnya.
Bara merampas salep yang ada di tangan Sandra.
"Aku bantu obati lukamu atau kamu pergi dari tempatku sekarang!" ancam Bara membuat Sandra menciut. Ia tidak bisa keluar dari tempat ini sekarang. Pasti Tuan Burns masih mencari nya saat ini.
"Baiklah..." balas Sandra dengan suara pelan. Wanita itu lekas membelakangi Bara.
Sandra menaikkan kedua kakinya ke atas sofa. Perlahan Sandra membuka balutan kain pada tubuhnyatubuhnya sehingga menampakkan punggung yang penuh dengan luka cambukkan yang sudah membiru.
Bara membulatkan mata saat melihatnya. Hatinya ikut nyeri melihat luka yang di dapat Sandra dari Tuan Burns.
Sandra memeluk kedua lututnya yang menekuk di atas sofa. Ia rapatkan tubuh bagian depan agar sedikit tertutup dari pandangan Bara.
"Ssshhh..." desis Sandra saat Bara mengolesi luka pada punggung Sandra.
Luka di kulit putih mulus itu begitu jelas terlihat.
Rintihan yang keluar dari mulut Sandra menandakan kesakitan pada lukanya. Sandra sedikit bergerak setiap kali Bara mengoleskan salep itu.
"Kenapa kamu tidak berpikir dulu sebelum mengambil keputusan. Apa kamu tidak berpikir bekerja dengan Tuan Burns sama saja kamu mengantarkan nyawamu sendiri," ucap Bara. Pria itu dengan pelan bahkan sangat hati-hati dan teliti agar luka lebam di kulit Sandra bisa terolesi seluruhnya.
"Apa tidak ada cara lain untuk mendapatkan uang," Bara terus mengocwh seakan menyalahkan Sandra.
"Bagi kalian orang-orang yang berpendidikan dan kamu yang hidup dengan kekayaan dari kecil mungkin akan mengatakan aku bodoh. Kalian tidak pernah merasakan betapa takutnya kehilangan satu-satunya orang yang kita punya di dunia ini. Ditinggalkan ayah yang menelantarkan seorang wanita sakit-saitan dan anak gadis yang harus berjuang untuk hidup mereka," ujar Sandra dengan suara serak karena menahan tangis.
Bara menghentikan gerakannya. Pria itu terdiam mendengarkan kisah pilu Sandra yang tidak ia ketahui.
Sandra menyembunyikan wajah di atas kedua lututnya yang ditekuk. Bahunya naik turun. Tangisnya pecah saat ia teringat kembali dengan perjuangannya dari kecil. ketakutannua saat Bu Sarah mengalami drop. berjuang sendiri mendapatkan uang untuk biaya pengobatan sang Ibu. Mencari Keberadaan Sang Ayah yang tak kunjung ia temui. Ayahnya seakan hilang ditelan bumi sampai sekarang. Karena itulah Sandra menganggapnya telah mati.
"Maaf... Aku tidak tahu kalau kisah hidupmu begitu pilu." Bara menaikkan kain agar menutupi tubuh Sandra.
Sandra mengangkat wajahnya. Ia masih terisak dalam tangis. Tapi saat merasakan tubuhnya kembali tertutupi pakaian yang berbahan maxmara itu, Sandra merapikannya.
"Kamu beruntung, Tuan Wijaya dan keluarganya begitu menyayangimu meski tahu kesalahan ibumu besar kepada keluarga mereka. Setidaknya ada tempat bersandar saat kamu merasa sedih dan kecewa. Sedangkan aku, sama sekali tidak ada yang peduli. Bahkan Bi Erma, satu-satu nya keluarga ibu malah menjual ku kepada pria brengsek agar aku mendapatkan uang untuk operasi pertama ibuku, dulu." Sandra terkekeh kecil menertawakan kemalangan nasibnya.
Bara hanya bisa bergeming. Di balik sifat cerewet dan galak yang Bara tahu, ternyata Sandra menyimpan luka yang begitu dalam dalam hatinya.
Pria itu tidak mau banyak bicara. Ia membiarkan Sandra mengeluarkan semua keluh kesah dalam dirinya.
"Disaat aku menemukan seseorang yang membuatku merasa terlindungi dan aman. dia sama sekali tidak mempunyai perasaan kepadaku. Mengasihi ku itu lebih tepat untuk sikap baiknya selama ini karena itulah aku mengundurkan diri dari Aksara grup. Aku cukup tahu diri. Sudah cukup kebaikannya yang aku terima, aku tidak mau semakin rendah diriku. Mengharapkan belas kasihannya untuk keluargaku."
Bara mengerutkan alis. "Kamu menyukai Galen?" tanya Bara sontak membuat Sandra meliriknya.
__ADS_1
"Tapi dia tidak menyukaiku, mungkin aku salah menafsirkan perasaanku. Kekaguman pada kebaikannya aku anggap kalau aku mencintainya. Ternyata diri ini salah. Itu hanya sebatas kagum pada kebaikan dirinya saja. Terbukti perasaan terhadap Galen dengan cepat hilang dari hati ini."
Ternyata kita menyukai orang yang saling terpaut.
Kamu menyukai Galen dengan begitu banyak kebaikannya.
Begitu juga diri ini, aku menyukai Aline dengan segala kerendahan hatinya.
Kita sama sama merelakan perasaan demi kebahagiaan mereka.
Sebab Aline dan Galen memang ditakdirkan bersama.
"Aku lelah, Bar. Aku lelah dengan hidup ini. Ingin rasanya mengakhiri hidup, tapi bayangan Ibu selalu menarikku kembali. Besok Ibu menjalani operasi, sedangkan aku masih disini. Bagaimana aku harus mencari kekurangan biayanya kalau malam ini saja aku malah lari dari Tuan Burns." Sandra semakin menagis tersedu-sedu.
Bara menariknya ke dalam pelukan. Memberikan ketenangan pada jiwa yang sedang rapuh itu.
"Menangislah...! Keluarkan semua sesak dalam hatimu! Besok aku antar pulang biar aku yang membayar kekurangan biaya operasi ibumu," ucap Bara disela pelukannya.
Sandra menarik sedikit tubuhnya dari pelukan Bara tanpa melepas rangkulan tangan pria itu. ia tatap wajah tampan yang ada di hadapannya saar ini.
"Benarkan kamu mau menolongku?" tanya Sandra masih dengan air mata di pipinya.
Bara mengangguk pelan. "Ya."
Seeakan mendapatkan secercah harapan, Sandra begitu bahagia mendengarnya. Akhirnya operasi ibunya bisa dijalankan. Kesedihan berganti senyuman manis di wajah Sandra.
"Terima kasih... Aku janji akan mengganti uangnya!" Sandra tersenyum bahagia sambil menangis.
Bara kembali menariknya ke dalam Pelukan. Pelukan yang membuat Sandra merasa nyaman, dan terlindungi. Sandaran baru untuk hidupnya.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya...
Akankah tumbuh perasaan pada mereka????
ikuti terus ya...
Sambil nunggu cerita selanjutnya... yuk mampir ke karya sesama Author.
ini karya seru loh..
__ADS_1
Di baca ya....