
Masalah proyek pembangunan di Tangerang sudah teratasi dengan cepat. Galen dan Sandra terlebih dulu kembali ke kantor untuk mengambil berkas sambungan dari proyek tersebut.
Sandra harus menemani Galen karena dia lebih tahu jelas perincian yang telah disepakati sebelumnya dengan pihak yang bersangkutan dengan pembangunan proyek tersebut.
Setelah di rasa semua berkas lengkap. Sandra pamit lebih dulu kepada Galen.
"Saya pamit pulang duluan, Pak!" ucap Sandra sopan kepada Galen. Sikap Sandra menajdi canggung setelah penegasan Gaken kepadanya tadi.
"Sudah, malam. Sebaiknya kamu pulang bersamaku saja!" tawar Galen sambil merapikan berkas yang sudah siap dibawa pulang olehnya.
"Terima kasih, Pak! Tapi saya bisa sendiri," Sandra menolak ajakan Galen. Setelah menerima penegasan tadi Sandra lebih diam dan menjaga jarak dari Galen.
Sandra segera meninggalakan ruangan tidak peduli suasana gelap dan sepi dalam kantor tersebut.
Bukannya Galen tidak peduli, tapi sikap tegas nya saat ini harus ia berikan kepada Sandra. Rasa kemanusiaan masih ada dalam diri Galen. Ia menghubungi bagian keamanan di bawah gedung. Memerintahkan salah satu dari mereka yang berjaga agar mengantarkan Sandra pulang.
"Maaf Tuan, Bu Sandra sudah keluar kantor beberapa menit yang lalu." ucap security yang menerima telepon darinya.
"Ya sudah, saya kira dia belum keluar dari kantor ini. Tolong siapkan mobil saya, sebentar lagi saya turun ke bawah," titahnya pada security itu.
"Siap, Pak!"
.
.
Mobil yang di kendarai Galen meluncur dengan kecepatan tinggi saat keluar dari gerbang perkantoran.
Baru beberpaa meter melaju mobil itu terhenti saat melihat seorang wanita sedang berjalan menyusurk jalan setapak. Wanita yang pamit kepadanya tadi. Karena sudah malam hari tidak ada kendaraan umum lagi yang melewati terminal yang tak jauh dari kantor.
"Masuklah," titah Galen saat kaca mobil terbuka tepat di samping Sandra.
Sandra terdiam antara ingin masuk dan tidak. Ia sudah berjanji agar tidak mendekati Galen lagi. Tapi jika tidak ikut Galen, entah jam berapa dia akan sampai ke rumah. Apalagi saat ini hampir menjelang tengah malam. Sudah dipastikan tidak akan ada kendaraan umum lagi yang lewat.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Apa kamu mau sampai rumah besok pagi? Kalau masih bersikeras aku tinggal!" ucap Galen dengan wajah datar seraya menutup kaca mobil.
"Tunggu! Aku ikut!" Lekas Sandra membuka pintu depan mobil.
Tanpa banyak bicara lagi, Galen menginjak gas lalu mobil itu melaju dengan kencang membelah jalanan yang mulai sepi pengendara.
Jarak kediaman Wijaya memang sangat jauh. Sekitar satu jam perjalanan itupun jika jalanan lancar, kalaupun macet waktu yang akan di tempuh sekitar dua jam lebih.
Tidak ada percakapan selama perjalanan. Mereka saling diam dengan pemikirannya masing-masing.
Galen gelisah karena memikirkan Aline di rumah. Sudah dipastikan istirnya itu pasti akan menunggunya, terakhir kali menghubungi Aline saat Galen keluar dari area kantor.
Sandra merasa tidak canggung setelah Galen tahu perasaanya terhadap pria itu. Sandra yakin perubahan sikap yang selama ini ia terima dari Aline dan Galen karena mereka sudah mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Tapi makin ke sini Aline kembali bersikap biasa dan ramah kepadanya tidak seperti beberapa bulan lalu.
Nada dering terdenagr dari ponsel Galen. Pria itu mengurangi kecepatannya lalu memasang headset agar bisa menerima telepon sambil mengemudi.
Tuan Pokcoy?
Mau apa dia malam-malam begini menghubungiku?
__ADS_1
Galen tersenyum masam sambil berpikir. "Pasti ada sangkut pahitnya dengan kejadian hari ini, saya sudah menduganya Tuan Pokcoy," gumam Galen seraya menggeser tombol hijau pada ponselnya.
Sandra hanya memperhatikan apa yang di lakukan Galen. Ia terpaksa mendengarkan apa yang diucapkan Galen.
"Selamat malam, Tuan Pokcoy! Wah sepertinya Anda harus menjelaskan sesuatu kepadaku! Benarkan?" cetus Galen membuat Tuan Pokcoy tertawa di seberang telepon.
"Ternyata sangat berat menyimpan sesuatu dari Anda Tuan Alex, apa yang Anda pikirkan tentang saya?"
"Apa saya harus menanyakan semua ini di hadapan pihak yang berwajib?" ucap Galen mengintimidasi.
"Apa Anda sedang menakut-nakuti ku? Saya hanya ingin memberi penawaran yang bagus kepada Anda Tuan Alex."
"Heh... Dari cara Tuan Pokcoy berbicara saat ini, saya sudah bisa menebak siapa dalang di balik terhambatnya proyek di Tangerang."
"Temui saya di Cafe The moon. Kalau Anda tidak datang saya pastikan proyek di sana akan gagal total. Dan saya pastikan para pemegang saham akan sangat kecewa dengan kinerja Anda, Tuan Alex," ancam Tuan Pokcoy.
"Licik sekali caramu!"
"Saya tunggu Anda sini, jika Tuan Alex tidak datang sekarang. Berarti Anda tega membiarkan semua pekerja yang mencari nafkah di sana kehilangan ladang pekerjaannya."
"Anda benar---," Galen menghentikan ucapannya saat mendengar sambungan telepon terputus secara sepihak.
"Shitt... " Galen memukul setir mobil yang ia pegang.
"Kenapa, Gal?" tanya Sandra panik dengan sikap Galen. Sedikit samar ia mendengar percakapan Galen dan Tuan Pokcoy.
"Dalang semua masalah proyek itu ternyata Tuan Pokcoy. Aku harus menemuinya sekarang. Sand, Sorry... aku gak bisa antar sampai rumahmu. Aku harus menemui Tuan licik itu sekarang juga."
"Biar aku temani, Gal!"
"Tapi---" Sandra tidak jadi meneruskan ucapannya karena nada dering Galen kembali berdering. Kini nama My Wife yang muncul di layar ponselnya.
"Aline... Pasti dia cemas menungguku!" Galen ragu untuk menjawab telepon dari Aline. Saat ini kondisi Galen masih emosi, sudah dipastikan Aline pasti sangat khawatir kepadanya jika mendengar aaline berbicara.
Sambungan telepon beralih ke video call. Tanpa sadar Galen malah mengebor tombol hijaunya. Dan hal yang pertama yang Ali e lihat adalah Galen yang sedang mengendarai mobil dengan Sandra di sampingnya.
"Hallo... Mas, kenapa baru di angkat teleponnya," ucap Aline dengan suara terbata di akhir kalimatnya melihat ternyata Galen tidak sendiri di dalam mobil itu. Dan orang yang ada di sampingnya adalah Sandra.
"Sandra!" lanjut Aline.
Galen lekas menyadari kesalahannya. Ia lupa saat ini sedang bersama Sandra.
"Sayang... Jangan berpikiran yang aneh dulu, Sandra tadi nemenin aku ke proyek. Karena hanya dia yang tahu perinciannya secara detail. Maaf tidak bisa memberitahumu sebelumnya?" ucap Galen panik, melihat raut wajah kecewa Aline.
"Ya sudah, aku tunggu Mas di rumah." ketus Aline hendak menutup teleponnya.
"Sayang... Tunggu!" ucap Galen seraya menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku tidak bisa pulang. Aku harus menemui Tuan Pokcoy dulu!"
"Sekarang, Mas!" tanya Galen dengan nada terkejut. "Ini sudah malam!" Aline memperingati.
"Kalau tidak ama temui dia akan melakukan sesuatu. Semua pekerja tergantung pada keputusan Mas sekarang, datang atau mengacuhkan ajakannya untuk bertemu!"
__ADS_1
"Tapi, Mas...."
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah kenal dengan pria tua itu." Galen melirik Sandra. "Aku sendiri ke sana, aku akan mengantarkan Sandra dulu sebentar. Jangan berpikiran yang macam-macam. Doakan Mas biar semua selesai malam ini," ucap Galen mmebuat Aline memejamkan matanya, meyakinkan dirinya kalau suaminya baik-baik saja selama jauh darinya.
Jaga suamiku dari bahaya, lindungi dia ya Tuhan. Padahal wajahmu terlihat sangat letih Mas, kondisi tubuhmu juga elum sembuh betul.
Aline membuka mata sambil tersenyum ke arah Galen.
"Ya, aku doakan suamiku kembali ke rumah dengan selamat. Hati-hati di jalan, Mas. kabari aku segera." Aline tersenyum ke arah Galen. Ia juga melambaikan tangan ke arah Sandra untuk sedikit menyapanya.
Sandra melambaikan tangan balik sebagai balasan.
Video call pun berakhir. Ada rasa sungkan yang kembali menyeriak dalam hati Sandra. Bagaimana bisa ia terus mempunyai perasan kepada suami dari wanita yang begitu baik seperti Aline.
Tuhan... tolong hapus perasaan ini, jangan sampai aku menjadi wanita yang tidak tahu diri. Kalau aku terus mempertahankan perasaan ini terhadap Galen sama saja aku seperti wanita iblis yang sudah merebut ayahku.
Sandra meluruskan kembali duduknya. Karena mobil yang ia tumpangi siap melaju kembali.
Galen menghentikan mobilnya di jalan yang tak jauh dari gang rumah kontrakan Sandra.
"Sorry... Aku harus segera pergi. Masalah ini harus segera selesai. Agar tidak berkepanjangan! Tidak apa-apa 'kan, kamu turun di sini?" tanya Galen sedikit tergesa. Ia melihat waktu di pergelangan tanganya.
"Tidak pa-pa, Gal. Terima kasih sudah mengantar." balas Sandra lekas turun dari dalam mobil.
Tanpa banyak tanggapan, mobil yang Galen kendarai langsung meluncur meninggalkan tempat di mana Sandra turun. Hanya suara klakson yang terdengar satu kali, saat mobil itu menjauh.
"Aku khawatir sama kamu, Gal!" gumam Sandra, matanya masih tertuju pada mobil yang kian menjauh dari pandangannya.
Sandra merajh ponsel di tas selempangnya. lekas ia ketik nama cafe yang samar terdengar dalam percakapan Galen tadi.
Seteleh nana cafe itu di ketik di sebuah aplikasi pelacak tempat, memunculkan alamat cafe tersebut.
"Jarak Cafe The Moon tidak terlalu jauh dari sini. Apa sebaiknya aku susul Galen ke sana. Aku takut dia kenapa-napa. Apalagi dari tadi sore sempat dia memuntahkan makanan yang ia makan. Padahal sangat sedikit sekali dia makan." Segala pemikiran Sandra kepada Galen.
Ditempat lain Aline yang masih terjaga merasa cemas dengan Galen. Ia mengetikkan sesuatu kepada Galen.
๐ฉ Mas hubungi aku kalau terjadi sesuatu, kalau Mas cape mengendarai, lebih baik pulang ke apartement saja. Jarak ke sana lebih dekat. Daripada pulang ke rumah terlalu jauh jaraknya. Nanti aku susul Mas ke sana. Love u My hubby ๐.
Pesan chat Aline kirimkan kepada Galen. Tapi belum sempat terbuka.
Mungkin Mas Galen masih dalam perjalanan.
Kenapa hati ini jadi tidak tenang ya?
Semoga tidak terjadi sesuatu kepada Mas Galen.
Aku tunggu kamu pulang, Mas!
Aline harus menahan rasa cemburunya. Ia tidak mau rasa cemburunya yang terlalu besar jadi mengekang Galen. Sekarang ini, Aline sudah bersyukur Galen tetap menjaga hati dan perasaannya hanya untuk dirinya.
.
.
__ADS_1
.
Baca kelanjutan ceritanya ya....