
Tinggalkan jejak kehadiran kalian, ramaikan kolom komentar ya. Biar Aku tuh semangat buat up.
ππSelamat membaca ππ
"Yah, kenapa asisten Tuan Wijaya bisa kenal sama Ayah?" tanya Aline saat motor gigon milik Ayah melakukan dengan pelan.
"Oh, I-itu ... Mmm ... itu karena Tomy sering membeli soto betawi di warung soto Ayah!" jawab Ayah bohong. Ayah Zaki masih berusaha menutupi masa lalunya.
"Berarti Tuan Wijaya sering ke warung soto dong? ko, Ayah gak pernah cerita sama Aline." sambung nya seraya mendekatkan kepalanya ke depan agar suara Ayah Akan bisa terdengar saat berbicara. Mereka melewati perjalanan malam sepulangnya dari rumah sakit.
"Tidak! sudahlah jangan bahas itu lagi. Kita harus segera pulang takut Ibumu cemas nungguin kita!"
Perjalanan itu pun berlangsung dalam keheningan. Tak terasa motor gigon yang Aline tumpangi sudah sampai di halaman rumahnya.
Pak Joko membukakan gerbang dan memberi sapaan kepada tuan rumahnya itu.
"Saya kira siapa, Pak? kenapa tidak pakai mobil saja," tanya Pak Joko.
"Lagi pengen muter-muter aja pakai si gigon! kangen katanya," Ayah Zaki memberi alasan.
Aline tersenyum menanggapinya. lalu pamit ke dalam rumah lebih dulu.
Ayah Zaki masih berada di garasi rumahnya. menatap kepergian Aline.
"Maafkan Ayah, Nak! suatu saat nanti Ayah pasti cerita kepadamu. Maafkan Ayah juga, kedepannya Ayah akan melarang kamu bertemu dengan Galen," ucap Ayah Zaki dalam hati.
Rumah sakit Soedibyo
"Saya sudah bilang, tahan dia agar tidak pergi!" bentak Tuan Wijaya kecewa saat mendengar ucapan Tomy bahwa Tuan Zaki Rahmadi, orang yang selama ini dicarinya sudah pergi tanpa sepengetahuan Tomy.
Tomy meninggalkan Ayah Zaki di kantin rumah sakit, mereka berdua bercerita singkat di sana. Yang pasti Ayah Zaki tak bercerita terus terang tempat tinggal nya saat ini. Dia hanya jujur sedang menjalani bisnis kuliner di suatu daerah, tanpa menyebutkan nama daerah nya. Padahal masih dalam satu provinsi usahanya itu berada.
"Maaf Tuan, tadi saya hanya tinggal ke toilet sebentar. Ketika saya kembali Beliau sudah tidak ada!" ucap Tomy seraya menunduk tak berani berbicara menatap Tuannya yang sedang menahan emosi.
"Aarghh ... " Tuan Wijaya menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jemarinya, merasa frustasi dengan kesalahan di masa lalunya.
"Kemana lagi Saya harus mencari kamu, Zak! Saya hanya mau meminta maaf, sudah memperlakukan buruk saat itu," sesalnya.
πππ
Galen baru saja dipindahkan ke ruangan perawatan. Pria yang baru saja sadar itu hampir saja memberontak saat Aline pergi meninggalkannya, beruntung Aldo memperingatinya agar tidak menambah masalah untuk Aline. Asistennya juga menceritakan pengamanan ketat rumah sakit itu untuk Galen agar Aline tak bisa menemuinya, makanya Akine harus melakukan penyamaran seperti yang dia lakukan saat ini.
__ADS_1
Beruntung Galen mengikuti ucapan asistennya itu. Bagaimanapun dia tak mau Aline semakin terpojok oleh Papanya.
"Papamu itu, baru sebentar menemuimu sudah langsung pergi gitu aja! dia lebih mementingkan urusannya daripada kamu," gerutu Oma Ratih setibanya di ruang perawatan.
Aldo melirik Bella sekilas. "Bella! Oma, salah membawa wanita ular itu kemari," batin Aldo lalu menggeleng kepala pelan melihat keberasaanya di sini.
Asisten Galen itu sangat tau sepak terjang Bella, wanita itu pasti kembali karena tau posisi Galen saat ini. Sikap yang ia tunjukkan di hadapan Oma Ratih merupakan tipu muslihatnya saja.
"Sayang ... kata Oma, kamu sudah sadar!kenapa masih memejamkan mata? Aku sengaja datang untuk menemuimu. Aku kangen, Gak!" ucap Bella manja.
Galen membuka matanya perlahan mendengar suara orang yang pernah singgah di hatinya dulu. Mungkin saja jika tidak mencari keberadaan Bella, Galen masih terus berharap kepadanya.
Galen membuka perlahan matanya, lalu mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan berharap Aline kembali menemuinya. lalu menghela napas kasar.
Oma Ratih menautkan alisnya. "Kamu cari siapa, Nak? lihat Oma sengaja mengajak pacarmu dulu ke sini. Oma ingat betul, karena kepergiannya ke luar negeri, hidupmu jadi tak teratur. Pasti kamu kangen 'kan sama dia?" Oma Ratih menarik tangan Bella agar mendekat ke arahnya yang duduk di samping Galen.
"Aku dan Dia hanya masa lalu Oma, jadi tak seharusnya dia berada di sini, " ucap Galen ketus.
"Kamu, jangan begitu dong sayang...! Aku masih sangat mencintai kamu, Gal." Bella mencoba merayu.
"Saya mau istirahat, tolong Kamu keluar dari sini!" titah Galen kepada Bella.
"Kamu jangan seperti itu, Gal. Hargai usaha Oma mu yang sudah menjemputku?" Bella tak mau kalau harus terusir sebelum mendapatkan simpati Galen.
"Aldo, bawa wanita ini keluar, " titah Oma Ratih.
"Tunggu... Oma tidak bisa seperti itu, kalian yang sudah jemput Aku, kalian yang memintaku ikut ke sini. Kenapa kehadiranku diacuhkan begini? Gal... mana rasa cintamu padaku dulu?" teriak Bella saat dirinya di tarik paksa Aldo keluar dari ruangan.
"Maaf, nona! Tuan Alex harus banyak istirahat. mohon untuk tidak mengganggunya," ucap Aldo seraya menutup pintu ruang perawatan.
"Ck, minggir! Aku harus berbicara sama Galen." Bella mencoba me menyingkirkan Aldo yang berdiri di depan pintu.
Aldo dengan cepat menyingkirkan tubuh Bella hingga tubuh wanita itu hampir tersungkur ke lantai.
"Maaf, Nona! jangan memaksa Saya untuk berbuat kkasar pada Anda. Saya mohon Anda pergi dari sini, atau Saya akan memanggil anak buah saya untuk menyeret Anda!" ancam Aldo.
"Sialan... awas, ya! Saya tidak terima di perlakukan seperti ini," pekik Bella kalau berbalik arah untuk meninggalkan ruangan itu.
Bella berjalan seraya menggerutu kesal. merasa tidak terima, Galen sudah mengusirnya seperti itu.
"Kita lihat saja, nanti! Aku pastikan, Galen akan kembali padaku. Sikapnya seperti itu mungkin karena dia masih kecewa kepadaku karena pernah meninggalkannya. Dan buat nenek tua itu, Aku balas nanti setelah Aku menjadi Nyonya Alexander." Bella terus menggerutu ketika berjalan menuju lift.
__ADS_1
Langkah Bara terhenti saat akan memasuki ruang perawatan Galen. Pria itu menoleh sekilas ke arah Aldo yang berdiri tak jauh darinya.
"Selamat malam, Tuan," sapa Aldo seraya sedikit membungkuk memberi hormat.
"Selamat, malam. Ada siapa di dalam?" tanya Bara singkat.
"Oma Ratih, tuan."
Bara mengangguk pelan, lalu membuka pintu pelan memasuki kamar perawatan Galen. Oma Ratih terlihat sedang mengupas buah apel, sedangkan Galen duduk bersandar dengan posisi tempet tidur pasien yang bisa dirubah posisinya.
"Selamat malam, Oma," sapa Bara seraya mengulurkan tangan untuk menyalami Oma Ratih.
Lekas Oma Ratih meletakkan benda tajam kecil di tangannya lalu membalas uluran tangan Bara.
"Malam, sama siapa kamu ke sini, Bar?" tanya Oma Ratih seraya melanjutkan kembali mengupas apel setelah bersalaman dengan Bara.
"Sendiri, Oma! Saya sengaja pulang dari kantor langsung ke sini," jawab Bara lalu beralih menatap Galen. "Bagaimana keadaanmu, Gal? Ini saya bawakan sedikit buah untukmu. "
"Baik. Terima kasih untuk buahnya.
"Sama-sama" Bara meletakan buah dalam keranjang yang ia bawa untuk Galen.
Bara lebih memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Hubungan Galen dan Bara tidak sedekat hubungannya dengan Kartika. Jadi pria berjas rapi yang menyempatkan waktunya sepulang dari kantor itu tak banyak bicara dan lebih memilih duduk seraya memainkan ponsel di tangannya, menunggu kedatangan Tuan Wijaya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa,
likeπ
Komen ya, agar author itu tau kehadiran kalian itu ada.
__ADS_1
Terus dukung karya ini ya.
Salam hangat dari teteh author Mayya_zhaπππ