Fake Love

Fake Love
Melawan Rasa Takut


__ADS_3

"Lakukan interaksi perlahan, jangan membuat benteng pada suamimu sendiri. Kamu harus membuka diri. Lawan rasa takut mu," ucap seorang psikiater sambil memegangi kedua tangan Aline. Seakan memberikan intruksi dan dorongan kepada wanita cantik yang berada dalam satu ruangan bersamanya.


Aline mengangguk dalam diam. Seakan mencerna setiap perkataan yang diucapkan Dr. Fitri Yuliani, S.Psi., M.Si, seorang dokter psikiater yang bekerja di rumah sakit keluarga suaminya itu.


Selama hampir dua jam, Aline berada di ruangan dokter tersebut. Wanita yang berprofesi sebagai psikiater itu bertanya kepada Aline. Menanggapi keluhan dan perasaan yang di rasa pasiennya itu secara pelan dan hati-hati.


Sementara Galen yang sedang menunggunya di depan ruangan tiba-tiba mendapat telepon dari Aldo. Galen memerintahkan beberapa anak buahnya berjaga di depan ruangan selama dirinya menerima telepon. Lalu bergegas menjauh dari ruangan tersebut untuk membicarakan masalah kantor dengan asistennya itu.


Hari ini hari pertamanya ia bebas dari pekerjaan kantor, meskipun menjabat sebagai CEO di perusahaan milik keluarga jua sendiri. Galen tidak serta merta melepaskan tanggung jawabnya begitu saja. Ia akan melakukan pemantauan setiap saat. Untuk hal penting ia akan melakukan zoom meeting bersama beberapa direksi.


"Ada apa, Do? Apa ada masalah dengan perusahaan?" tanya Galen pada Aldo melalui pknselnya. Ia berada di depan balkon rumah sakit. Tak jauh dari ruangan psikiater.


"Maaf mengganggu, Tuan! Ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Tapi ada satu file yang meminta persetujuan Anda untuk pencairan dana besar dari keuangan amal milik perusahaan," ujar Aldo.


Perusahaan Aksara Grup memang mempunyai dana yang dikhususkan untuk sebuah amal. Dan amal tersebut banyak di sumbangkan kepada panti asuhan dan amal yang lain. Termasuk pembangunan Masjid di beberapa daerah.


Galen mengerutkan alis tak mengerti maksud dari Aldo. "Apa itu?"


"Pembangunan masjid di daerah Cianjur akan segera di bangun. Pihak pengelola pembangunannya meminta Anda agar segera menyetujui pencairan dana agar pembangunan segera di mulai," Tutur Aldo dari seberang telepon.


"Bukannya itu urusan Papa, Do?" pekik Galen.


"Semua persetujuan sudah beralih kepada Anda, Tuan!" Aldo menjelaskan.


Galen membuang napas berat. "Ckk, lalu apa yang dilakukan pria tua itu, sekarang ini? Damai sekali hidupnya! Aku sedang cuti bekerja, Do," decak Galen. "Bawa file nya ke rumah Aline saja, Saya sedang di rumah sakit, tak lama lagi kami pulang!" titahnya pada asistennya itu.


"Siap, Tuan!" Aldo bergegas membawa file yang harus di tanda tangani, Galen. Sebelum melangkah keluar ruangan ia melirik jam di pergelangan tangannya. Matanya memicing lekat, pada benda bulat itu.


"Sepetinya aku tidak bisa memberikan file ini kepada Tuan Muda. Sebentar lagi Tuan Roland akan tiba di sini." gumam Aldo.


Tok tok tok


Sandra mengetuk pintu lalu menundukkan kepala sopan ke arah Aldo. Seperti biasa Sandra akan langsung masuk dan menyimpan beberapa file yang sudah tersusun rapi di meja kerja bosnya. Wanita itu pun hendak kembali ke meja kerjanya di luar ruangan.


"San...," panggil Aldo. Seketika Sandra menghentikan langkahnya.


"Iya, Pak!" Sandra berdiri menatap Aldo.


"Kamu bisa antarkan file ini ke rumah Nona Aline? Saya di minta untuk mengantarkan file ini kepada Tuan muda. Tapi ... sepertinya saya tidak bisa. Tuan Roland akan tiba beberapa saat lagi, Beliau sedang dalam perjalanan ke sini. Saya akan mewakilkan Tuan Alex untuk menyambutnya. Kamu bisa menggantikan saya kali ini?" tanya Aldo.


Sandra mengangguk. "Bisa, Pak! Tapi jam pulang jam pulang kantor masih lama?" Sandra meningkatkan.


"Saya akan memberimu ijin keluar, setelah itu kami tidak usah kembali ke kantor." Lekas Aldo menyerahkan file itu kepada Sandra.


Sandra pun mendapat ijin pulang lebih cepat untuk mengantarkan file kepada Galen.


*


Usai menutup telponnya, Galen hendak kembali ke ruangan di mana istrinya berada. Di ujung koridor rumah sakit, Pria itu bertemu dengan Bu Sarah dan Bi Erma yang hendak memasuki lift usai keluar dari ruangan dokter penyakit dalam yang masih satu lantai dengan ruangan psikiater itu, hanya terpisah beberapa ruangan saja.


"Bu Sarah, "panggil Galen membuat kedua wanita menoleh kepadanya. Bu Sarah duduk di kursi roda lekas mengarahkan pandangannya ke sumber suara begitu juga dengan Bi Erma yang membantu mendorong kursi rodanya.


"Nak, Galen." Senyum Bu Sarah mengembang saat melihat Galen berjalan ke arah mereka.


Galen mendekat lalu menyalami lembut tangan Ibu dari Sandra itu. Tak lupa ia juga menyapa Bi Erma.


"Bagaimana kondisi Ibu saat ini?" Galen menyapa lebih dulu.


"Kabar Bu Sarah baik, baru saja kami selesai cek up." Bi Erma yang menjawab, Bu Sarah tersenyum membenarkan ucapan adik nya itu.

__ADS_1


"Syukurlah, teruskan pengobatan nya, Bu. Agar kesehatan ibu semakin membaik. Jangan khawatir akan biaya pengobatan. Perusahaan akan menjaminnya," ucap Galen memastikan.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih atas semua bantuan dari kamu. Tapi rasanya Ibu lelah harus terus bolak-balik cuci darah. Kondisinya memang sudah membaik. Semoga saja ibu masih bisa bertahan sampai mendapat pendonor ginjal yang cocok," lirih Bu Sarah. "Kalau oleh meminta, ibu ingin Sang Pencipta kehidupan ini mengambil kehidupan ibu lebih cepat daripada harus hidup dengan merepotkan Sandra."


Galen menyamakan tingginya dengan Bu Sarah yang duduk di kursi roda. Lalu meraih jemari tangan wanita itu. "Jangan pernah berputus asa! Ibu tidak mau kan perjuangan anakmu- Sandra yang sudah bekerja keras untuk kesembuhan mu sia-sia? Anda pasti sembuh, yakinlah!" Galen berucap tenang dan tersenyum.


Bu Sarah membalas senyuman itu. Pemuda di hadapannya ini begitu lembut dan perhatian kepada dirinya.


Galen kembali berdiri setelah memberikan semangat untuk Bu Sarah. Mereka bertiga terlibat obrolan santai sesaat. Bukannya Galen lupa untuk kembali ke ruangan di mana Aline berada. Tapi pria tampan itu tidak enak hati harus mengacuhkan Bu Sarah.


Wanita itu beberapa kali bertanya kepada Galen. Dengan sabar Galen menjawab dan memberikan pengertian kepada Ibu dari Sandra itu.


Obrolan itu berakhir saat Galen melihat Aline berjalan ke arah mereka.


"Sayang .... " Galen berjalan mendekati Aline. Pria itu merangkul pinggang istrinya lalu mengecup singkat kening Aline. "Maaf, aku pergi meninggalkanmu, ada urusan tadi!" Aline tersenyum menanggapinya.


"Mereka ... Siapa?" tanya Aline, Tatapnnnya mengarah kepada dua wanita di belakang Galen.


"Ayo, aku kenalkan kepada mereka!" ajak Galen.


Aline dan Galen berjalan mendekati Bu Sarah dan Bi Erma. Kemudian Aline tersenyum kepada kedua wanita itu setelah mereka saling berhadapan.


"Ini, Bu Sarah. Ibunya Sandra!" Galen memperkenalkan. Aline lekas menyalaminya dengan sopan. "Dan ini, Bi Erma. Bibinya Sandra," lanjut Galen, kembali Aline menyalaminya juga.


"Bu, ini istri saya. Aline!" Galen memperkenalkan Aline.


"Kalian sudah menikah?" tanya Bi Erma terkejut. Tersirat raut kecewa di wajah Bi Erma.


"Alhamdulillah, sudah," jawab Galen.


"Selamat, Nak! Semoga rumah tangga kalian di berkahi kebahagiaan." Bu Sarah mendoakan.


Bu Sarah mendongak menatap Bi Erma. Tanpa berbicara Bu Sarah memberi kode kepada Bi Erma. Mengajaknya untuk segera pulang. Rasa mual kembali terasa oleh wanita yang duduk di kurdi roda itu.


"Selamat atas pernikahan kalian. Maaf tidak bisa banyak bertegur sapa. kami harus segera pulang." Bi Erma akhirnya memberikan ucapan selamat kepada Galen dan Aline dan berpamitan kepada pasangan pengantin baru itu. Bi Erma menundukan kepala untuk pamit.


"Terima kasih, hati-hati di jalan," jawab Aline. Lalu membalas dengan gerakan serupa dengan Bi Erma.


Bu Sarah tersenyum sopan kepada Aline, lalu beralih kepada Galen. "Ibu pulang dulu, Nak Galen. Maaf kepala ibu pusing dan mual, ibu ingin segera pulang!" tutur Bu Sarah.


"Apa perlu diantar, Bu?" Bu Sarah menggeleng.


"Mobil online sudah menunggu kami di parkiran. Terima kasih atas tawarannya."


Perlahan Bi Erma mendorong pelan kursi roda itu. Meninggalkan pasangan muda itu.


"Kamu begitu perhatian kepada ibunya Sandra?" Aline membuka suara lalu menatap Galen.


Galen tersenyum lalu meraih jemari tangan Aline lalu menautkannya dengan jemari tangan miliknya.


"Aku hanya merasa kasian kepada Ibunya. Dengan menerima Sandra bekerja di perusahaan sedikit banyak membantu biaya pengobatan untuk ibunya. Karena pengobatan yang dijalani sangat membutuhkan banyak biaya. Setidaknya dengan bekerja di perusahaan ada jaminan untuk pengobatan orang tuanya." Galen berucap sambil berjalan menuju lift.


Aline terdiam, mereka berdua harus menunggu lift sampai di lantai tiga di mana mereka berada saat ini.


Ting...


Lift terbuka, keduanya memasuki lift. Anak buah Galen yang bertugas menjaga Aline tadi memilih tidak ikut masuk ke dalam lift. Bisnya memberikan kode kepada keduanya mengambil jalan lain.


Pria tampan yang masih menautkan jemarinya dengan Aline. Ia tahu jika istrinya mempunyai perasaan curiga terhadap sikapnya kepada Bu Sarah tadi. Galen akan membahasnya nanti ketika sampai di rumah. Setelah menekan angka 1 menuju lobi rumah sakit. Galen kembali berdiri tegak di samping Aline.

__ADS_1


"Benar ... Hanya kasian, tidak ada perasaan lebih? Kepada ... anaknya mungkin?" Aline menunduk usai bertanya. Tepat saat lift tertutup. Sontak membuat Galen menatapnya.


"Kamu cemburu?" Aline mendongak menatap Galen, kemudian menggeleng pelan. Merasa malu akan pertanyaannya.


"Yah ... Padahal aku sangat berharap kamu cemburu!" Galen menajamkan pandangannya kepada Aline lekas wanita itu menunduk malu.


"Kalau aku bilang iya, apa kamu marah, Mas?" ucap Aline pelan saat mengucapkan sebutan baru untuk suaminya.


Bahagia, itu yang Galen rasakan saat ini. Mendengar sebutan baru untuk dirinya dari istri cantiknya itu.


"Kamu manggil aku, apa, Sayang? boleh aku dengar sekali lagi?" Galen menyentuh dagu Aline agar menatapnya.


"Mas ..."


Galen tersenyum senang.


Baru kali ini Aline merubah panggilan kepada dirinya. Darri semenjak kenal sampai menjalani hubungan dengannya kekasihnya itu selalu memanggil nama. Karena memang awal mereka kenal sebutan nama lah yang Aline ucapkan.


Berbeda dengan Galen. Ia lebih bisa mengekspresikan sebutan lain untuk kekasihnya itu.


Seperti saat ini. Saking bahagianya mendengar sebutan baru dari Aline yang terdengar biasa tapi menurut pria di hadapan Aline itu, sangatlah luar biasa.


Penekanan kata 'Mas' untuknya terdengar manja. Dan itu membuat Galen senang.


"Aku senang dengan panggilan barumu untukku. Aku juga senang kamu cemburu pada Sandra. itu artinya kamu benar-benar mencintaiku." Tanpa banyak bicara lagi Galen membungkam bibir Aline, menyalurkan rasa bahagian yang ia rasakan.


Aline membulatkan mata. Merasa belum siap dengan apa yang dilakukan suaminya. Tapi ia teringat ucapan dari Dokter Fitri. Mencoba menerima setiap perlakuan dari suaminya. Tumbuhkan kepercayaan bahwa pria yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang selalu melindunginya.


Sentuhan lembut yang diberikan Galen perlahan membuat Aline terhanyut. Mereka pernah melakukan ini beberapa kali, sebelum Aline memiliki trauma. Awalnya Aline bergetar takut. Galen melepaskan pelan bibir manis Aline. Kemudian berbisik lembut kepada istrinya itu.


"Aku mencintaimu, aku akan melindungi mu, saat ini, nanti dan selamanya." Galen tidak mau memaksakan keinginannya. Ia melihat wajah terkejut Aline dengan tangan gemetarnya saat bibirnya menyentuh bibir merah muda istrinya itu.


Tapi Galen bersyukur Aline tak menolaknya kali ini. Itu berarti Aline berusaha menghilangkan rasa takutnya.


Aline merasakan hangatnya hembusan napas suaminya yang terengah di telinganya, seakan sedang menahan sesuatu.


Galen sedikit menunduk. Menempelkan keningnya dengan kening Aline. Hangat napas Galen kembali terasa menyapu wajah Aline.


Kedua tangan Galen merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.


"Bantu aku, untuk lepas dari rasa takutku, Mas!" Aline berucap pelan. Lalu ia berjinjit mengecup bibir Galen.


Kali ini giliran Galen yang terkejut dengan aksi Aline untuk melawan rasa takutnya.


.


.


.


.


BERSAMBUNG>>


Alhamdulillah, Author bisa up kali. Tepat satu minggu tidak up bab. Mohon maaf. entah kalian **masih bersedia baca atau tidak.


Bersyukur masih mendapat ijin meneruskan tulisan receh ini sama pak kapolres di rumah ๐Ÿ˜. Pria tersayang yang sangat saya jaga derajatnya. Karena tanpa ijinnya rasanya berat hati ini meneruskan tulisan.


Tapi dari off nya kemarin Author dari menulis ada pelajaran yang di dapat dari nasehat pak kapolres mengenai hobi dan tulisan yang kita curahkan dalam novel ini.

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ**


__ADS_2