Fake Love

Fake Love
Berpisah dengan Galen


__ADS_3

Satu jam menuju rumah sakit terasa lama untuk Bu Winda. Sepanjang perjalanan tak hentinya Bu Winda berdoa agar putrinya tidak kenapa-napa.


ICU Rumah sakit Pelita


"Kenapa bisa terjadi seperti ini?" bentak Tuan Wijaya di hadapan anak buahnya di luar ruang ICU.


"Maaf Tuan besar, setibanya di Balai Permadani Tuan muda Alex melarang kita untuk mengikutinya, hanya Aldo yang berada bersamanya," ucap salah satu anak buah Tuan Wijaya sambil menunduk takut.


"Cepat cari tahu yang terjadi, seret orang yang sudah berani berbuat licik kepada anak saya!" titah Tuan Wijaya dengan suara tegasnya.


Begitu tiba di rumah sakit Pelita, Tuan Wijaya lekas menyuruh asisten nya untuk segera memindahkan anaknya ke rumah sakit miliknya di Jakarta. Rumah sakit terlengkap fasilitasnya. Melihat keadaan rumah sakit yang biasa digunakan untuk umum, ia berpikir anaknya tak pantas di rawat di rumah sakit ini.


Oma Ratih datang dengan tergesa. Rasa cemas dan khawatir terpancar di raut wajah nenek yang sudah membesarkan cucu kesayangannya itu.


"Gimana keadaan cucuku? bagaimana semua bisa terjadi? dimana Aldo?" cecar Oma Ratih saat ia datang diantarkan oleh supir keluarga Wijaya.


"Dia baik-baik saja, Bu," ucap Nyonya Mariska hendak menyentuh pundak Oma Ratih.


"Baik-baik saja, gimana? yang namanya masuk ICU berarti itu tidak baik, atau Kamu senang cucuku dalam keadaan seperti ini?" bentak Oma Ratih seraya melangkah menuju ruang ICU di mana Galen berada.


"Kenapa Ibu selalu berpikiran buruk padaku!" serang Nyonya Mariska berucap manja di hadapan Tuan Wijaya.


Oma Ratih tak mempedulikan rengekan manja Nyonya Mariska. Wanita paruh baya itu terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang ICU. Sesampainya di dalam ruangan, para dokter terlihat sedang membantu pemindahan Galen ke rumah sakit yang ditunjuk oleh Tuan Wijaya.


"Apa tidak terlalu beresiko kali di pindah rumah sakit, dok?" tanya Oma Ratih khawatir melihat Galen yang masih tak sadarkan diri berbaring tengkurap.


Luka di punggung dan kepala bagian belakang membuatnya harus berada dalam posisi seperti itu, karena melindungi Aline dari pecahan kaca mobil depan.


"Punggungnya mengalami luka memar cukup berat dan sedikit sobekan di kepala, Nyonya. Kita harus memeriksa bagian kepala dengan CT Scan takutnya ada kerusakan di otaknya yang menyebabkan pasien bisa kehilangan ingatannya," ucap dokter Laki-laki yang menangani Galen.


"Lakukan yang terbaik untuk cucuku, Dok! cepat Saya tidak mau Galen kenapa-napa," Oma Ratih membelai pelan kepala Galen yang pelontos tanpa rambut, Karen tindakan pembersihan luka yang di terimanya.

__ADS_1


Di ruangan perawatan.


"Aku gak kenapa-napa Bu, cuman sedikit linu aja," ucap Aline seraya bangkit dari tidurnya.


Aline bersikeras ingin menemui Galen. berulang kali gadis yang mendapat luka di bagian kening dan tangannya itu memberontak ingin keluar dari ruang perawatan.


"Biarkan kondisi mu pulih dulu, Nak! temanmu sudah mendapat perawatan dari dokter.


"Ayah ..., Aline mohon! ijinkan Aku bertemu Galen. Dia sudah mengorbankan dirinya untuk melindungi Aline, Yah." Aline beralih memohon kepada Ayah Zaki dengan wajah sedih dan mengiba.


"Nak, kali ini dengarkan perkataan Ibumu!" titah Ayah Zaki.


Ayah Zaki sempat melihat kondisi Galen dari luar ruang ICU sebelum Tuan Wijaya, Nyonya Mariska beserta beberapa anak buah mereka datang. Kondisinya memang terlihat begitu menghawatirkan dari balik jendela kaca yang membatasi ruangan tersebut.


Ayah Zaki segera menyembunyikan diri ketika mendengar derap langkah yang mendekat ke arah ruangan ICU tersebut. Ia melihat Tuan Wijaya dengan badan tegap dan sikap dingin nya yang tak pernah berubah dari dulu.


"Kamu masih mempertahankan wanita itu, Anggara. Kamu sudah benar-benar termakan hasutannya, sehingga Kamu membuat seseorang yang dulu dekat denganmu menderita," ucap Ayah Zaki pelan yang bersembunyi di balik tembok ruangan ICU.


"Sa ... gimana Galen? gimana kondisinya?" tanya Aline tak sabar.


Risa menghembuskan nafas pelan. "Mas Galen baru saja di bawa keluarganya untuk dipindahkan ke ruang sakit lain. Di rumah sakit ini fasilitasnya kurang, yang Aku dengar dari suster. Galen harus mendapatkan pemeriksaan khusus di bagian kepalanya," ucap Risa ragu tapi Ia harus mengatakan yang sebenarnya kepada Aline.


Tanpa memikirkan kondisinya, Aline langsung mencabut selang infus yang terpasang di tangannya, Dengan cepat ia turun dari ranjang pasien lalu berjalan cepat keluar kamar perawatan.


Bu Winda terkejut dengan aksi nekat Aline. Darah terlihat tercecer di lantai akibat selang infus yang cabut paksa oleh Aline. Bu Winda dan Ayah Zaki mengejar Aline yang berlari dengan menyeret satu kaki.


"Mbak Aline ... percuma Mbak, Mas Galen sudah di bawa pergi! lebih baik Mbak Aline istirahat dulu, pulihkan kondisinya, Mbak!" Risa membantu Aline berjalan cepat, sesekali Aline meringis merasakan luka di tangannya.


"Gal ... jangan tinggalin Aku!" panggil Aline lirih saat melihat kepergian Ambulans yang membawa Galen dan beberapa mobil mewah mengikutinya dari belakang. Sudah di pastikan mereka adalah keluarga dan anak buah dari Tuan Wijaya.


"Sudahlah, Nak! sebaiknya Kamu istirahat dulu, kaku sudah pulih kita temui temanmu." Ayah Zaki menenangkan.

__ADS_1


Aline dituntun Ayah Zaki agar kembali ke ruang perawatan. Aline menangis tersedu, rasanya ingin mengejar Galen. Kebahagiaan yang baru sesaat mereka rasakan karena perasaan yang saling bersambut harus berakhir duka, karena kondisi Galen yang masih belum sadarkan diri.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, hendak kembali ke ruang perawatan, Beberapa petugas berseragam kepolisian menghadang mereka, meminta ijin agar Aline bisa menceritakan kronologi yang terjadi pada kecelakaan yang menimpanya.


Ayah Zaki menyuruh Bu Winda dan Risa membawa Aline ke ruang perawatan. Lalu berbicara dengan Pak polisi yang berada di hadapannya.


"Maaf, Pak! anak saya masih belum bisa dimintai keterangan. Dia masih syok dengan kejadian yang menimpanya, kalau sudah pulih Saya ijinkan Anda untuk menanyainya," ucap Ayah Zaki tegas.


"Siap, Pak! terimakasih atas kerjasamanya, Saya tunggu sampai korban membaik, karena satu korban yang lainnya masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Saya harap putri Anda segera pulih." Pak polisi itu memberi hormat lalu pamit kepada Ayah Zaki.


Ayah Zaki melihat dari luar rumah sakit ada beberapa wartawan yang berusaha masuk tapi di hadang oleh beberapa anggota kepolisian. Sebelumnya Tuan Wijaya memerintahkan penjagaan ketat terhadap salah satu korban yang mengalami kecelakaan bersama anaknya. Semua biaya perawatan Aline di tanggung oleh Beliau.


"Kamu masih menggunakan kekuasaan mu, Anggara! dan kenapa anak kita harus saling mengenal. Indira, semoga kamu bahagia di surga maafkan Aku yang tidak membantah tuduhan wanita licik itu," batin Ayah Zaki lalu melangkah menyusul Bu Winda, Aline dan Risa ke ruang perawatan.


.


.


.


.


.


bersambung...


akan ada konflik yang terjadi...


jangan lupa habis membaca sempatkan tinggalkan like dan komen nya, biar Author semangat buat up lagi ...


Salam dari teteh Author yang mengharap hadirnya kalian di karya ini itu ada...๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ Mayya_zha


__ADS_2