Fake Love

Fake Love
Kebahagiaan dan Kesedihan


__ADS_3

Seteleh puas dengan obrolannya pagi ini. Galen, Aline, Oma dan Kartika ikut ke rumah sakit untuk menjadi saksi pernikahan Aldo. Mereka berempat berangkat lebih dulu. Tuan Wijaya harus menggantikan Galen dan Aldo untuk pertemuan dengan klien bisnisnya. Mungkin akan datang terlambat.


Pagi ini pun, Tuan besar itu tidak ikut bersapa ria dengan putra nya yang baru pulang berbulan madu itu.


"Papa akan menyusul setelah pertemuan ini, mungkin akan sedikit terlambat," ucap Tuan Wijaya pada Galen yang sudah siap sebagai saksi di pernikahan sederhana Aldo.


Ruangan rumah sakit tempat Bu Rahma di rawat menjadi tempat berlangsung nya pernikahan Aldo dan Rima. Rima tidak menginginkan ada hiasan berlebihan di ruangan itu, ia tidak mau menganggu pasien lain di rumah sakit itu. Meski bwgiti Rima tetap berhias diri selayak pengantin wanita yang akan menikah pagi ini. Di temani Aline dan Kartika.


Mereka bertiga berada di samping ruang perawatan Bu Rahma. Setelah ijab kabul dilaksanakan dan terucap kata sah, barulah Rima akan menghampiri pengantin pria.


Aline mantap kagum melihat Rima. Riasan cantik dengan hijab yang ia pakai membuat Aline terus memuji gadis yang sebentar lagi berubah statusnya menjadi seorang istri itu.


"Kamu cantik sekali dengan hijab pengantin ini," puji Aline membuat Rima tertunduk malu.


"Terima kasih, Kak Aline!" balas Rima pelan.


"Kamu juga cantik dan manis saat berpakaian biasa. Rasanya melihat mu memakai hijab, adem gitu." lanjut Aline.


"Itu sudah jadi tugas wanita muslim yang harus menutup auratnya, Kak!"


"Aku ingin sepertimu, Rim. Tapi jiwa dan hati ini belum terpanggil untuk berhijrah," Aline memegangi dadanya dan menoleh ke arah cermin rias yang berada di hadapan Rima.


"Semoga Kak Aline, cepat mendapat hidayah untuk berhijrah." celetuk Rima, gadis itu lekas menunduk kembali takut Aline merasa tersinggung. "Maaf, Kak!"


Aline tersenyum lembut. " Tidak pa-pa, Rima. Doakan agar niatan berhijab bisa terkabul kepadaku." ucap Aline.


Kartika tidak banyak berkomentar dan ikut bergabung dalam obrolan mereka berdua. Adik dari Galen ini lebih banyak berputar dengan ponselnya.


Di ruangan perawatan, Oma Ratih menemani Bu Rahma yang kondisinya sudah sedikit membaik. Hanya tidak bisa di ajak berbicara terlalu banyak. Bu Rahma juga memakai alat bantu pernafasan karena napasnya sedikit sesak.


Oma Ratih yang ikut duduk di kursi roda menemani Bu Rahma sesekali memegang tangan wanita yang tengah berbaring di atas brankar itu dengan lembut.


"Tenanglah, putrimu menikah dengan orang yang tepat. Aldo pemuda mandiri dan bertanggung jawab." Oma Ratih mengajak bicara kepada Bu Rahma.


Seulas senyum dan anggukan dari Bu Rahma menandakan beliau juga merasa tenang dan bahagia melihat Rima bersanding dengan Aldo.


Selama tinggal di Rumah Asuh, Bu Rahma hapal betul sikap Aldo yang bertanggung jawab atas amanah yang di berikan Galen kepadanya. Mengurus dan menjaga anak asuh dan tidak pernah lupa memberi uang bulanan yang di perlukan semua orang yang berada di sana.


Awalnya Ustadz Arifin ragu akan pinangan Aldo terhadap putrinya. Ayah dari Rima itu merasa berkecil hati, karena mereka dari keluarga tidak mampu bahkan untuk makan dan tinggal saja mereka masih di biayai oleh Galen.


Agar Ustadz Arifin tidak merasa malu dan menganggap semua biaya yang Galen berikan kepada Ustadz itu cuma-cuma.


Galen pernah berkata, bahwa itu adalah gaji atau upah beliau karena mau mengajari dan mendidik anak-anak yang tidak mempunyai orang tua seperti anak-anak di Rumah Asuh.


Setelah mengetahui asal usul Aldo yang di ceritakan sendiri oleh calon menentunya itu. Ustadz Arifin merasa lega dan menerima Aldo sebagai menantunya.

__ADS_1


.


.


"Bagaimana saksi, sah?" ucap pak penghulu kepada dua orang saksi dari pihak Aldo dan Rima.


"Sah." keduanya berucap kompak.


Terlihat senyum bahagia tergurat di wajah Bu Rahma yang masih memakai alat bantu napas itu. Dia ingin menyaksikan pernikahan putrinya sendiri. Oma Ratih memberi kekuatan dengan menggenggam tangan Bu Rahma.


Aline dan Kartika mengapit Rima yang berjalan perlahan menuju kamar perawatan Bu Rahma.


Sesampainya di kamar tempat akad berlangsung. Rima menghampiri Aldo, Pandangan mata Aldo tak lepas dari Rima yang berpenampilan berbeda untuk hari ini.


Aline dan Kartika mendekati Oka Ratih yang sejak tadi memilih menemani Bu Rahma. Mereka menyaksikan bagaimana dua pengantin baru itu saling menatap. Ada rasa bahagia, tersirat juga wajah sedih saat Rima menatap Bu Rahma.


Rima berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh saat melirik Bu Rahma yang tengah menatap dirinya dengan seulas senyum bahagia. .


Wajah ibunya makin terlihat pucat pasi. Sangat jelas terlihat, Bu Rahma seakan kesulitan bernapas.


Jari telunjuk Bu Rahma menunjuk pada Sosok pria yang berdiri menunggu kehadiran Rima.


Pandangan Rima kembali beralih ke arah Aldo, pria yang kini telah resmi menjadi suaminya. Rima berjalan pelan mendekwtk Aldo dan kini mereka saling berhadapan.


Aldo meletakkan tangannya di atas kepala Rima tepat di ubun-ubun lalu membaca doa. "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


Saatnya meminta doa restu kepada orang yang menjadi saksi pernikahan mereka.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka. Semua pandangan beralih ke Tuan Wijaya yang baru saja datang dan memasuki ruangan tersebut.


Tuan Wijaya tersenyum kikuk saat menjadi pusat perhatian. Ia berjalan mendekati Galen. Orang tua dan anak itu memberi ucapan selamat kepada Aldo.


Sedangkan Rima langsung mendekati Ustadz Arifin. Mereka saling memeluk, tangis Rima pecah dalam pelukan ayahnya itu.


Tak ada pesta dan jamuan mewah. Hanya doa dari orang - orang yang berada di dalam ruangan itu.


Tit......


Suara yang keluar dari bedside monitor yang memonitor kondisi pasien, berupa detak jantung, nadi, tekanan darah, temperatur bentuk pulsa jantung secara terus menerus itu berbunyi.


Menunjukkan detak jantung yang berhenti tiba-tiba.


Semua orang yang berada di dalam ruangan ikut terkejut dengan kondisi Bu Rahma yang mendadak berubah.

__ADS_1


"Bu ...," panggil Rima lirih, segera ia mendekati brankar di mana Bu Rahma berbaring. Aldo mengikutinya dari belakang.


Ustadz Arifin pun dengan cepat mendekati istrinya.


Galen keluar kamar untuk memanggil dokter. Aline menarik Oma Ratih agar sedikit menjauh dari brankar.


"Bu, Rima sudah memenuhi keinginan ibu. Rima sudah menikah dengan orang yang tepat. Ibu harus kuat dan berjuang untuk sembuh!" Rima memeluk raga ibunya yang sidha terpejam.


Layar monitor sudah menunjukkan garis lurus pada layarnya, menandakan detak jantung wanita itu sudah berhenti.


Ustadz Arifin meraih pergelangan tangan istrinya. Ia menarik napas berat. "Innalillahi wainnailaihi rojiun." ucapnya pelan.


"Inalilahi Wainalillahi rojiun." ucap semua orang yang berada dalam ruangan itu kompak.


Rima mendongak mentap Ustadz Arifin sambil menggelengkan kepala. "Tidak, Ibu masih hidup, Yah." Rima menangis histeris.


Aldo yang berada di samping Rima meraih tubuhnya lalu merangkul ke dalam pelukan. Memberikan kekuatan pada wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.


"Ibu, Mas... Kita baru saja melaksanakan keinginan beliau agar segera menikah," ucap Rima di sertai isak tangis, Aldo makin mengeratkan pelukannya.


Aline memilih membawa Oma Ratih keluar ruangan. Di ikuti Kartika di belakangnya.


Tuan Wijaya mendekati Ustadz Arifin, memberikan tepukan pelan pada pria yang kira-kira seumuran dengannya itu.


"Saya turut berduka, Ustadz," ucap Tuan Wijaya pelan sekali lagi ia menepuk pundak Ustadz Arifin.


"Terima kasih, Tuan!" balas Ustadz Arifin dengan wajah yang sedih, tak ada air mata di sana. Seakan ia sudah siap dengan apa yang akan terjadi setelah ini.


Dokter dan suster masuk ke dalam ruangan. Hasil yang sama dokter ucapkan. bahwa Bu Rahma sudah tidak bisa di selamatkan lagi.


Hari ini kebahagiaan dan kesedihan datang secara bersamaan. Bahagia untuk Aldo yang sudah resmi mempersunting wanita idamannya tanpa perjodohan, taaruf ataupun pacaran.


Kesedihan karena wanita yang resmi menjadi istrinya bersedih kehilangan ibu tercintanya.


.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya..


Entah kenapa beberapa hari ini kayak gak dapet feel buat alir ceritanya.

__ADS_1


Maaf ya kalau kurang menarik. Terima kasih buat kalian readers yang masih tetap setia membaca...


__ADS_2