
"Mas, Makan dulu. Ya. Biar ada tenaga menghadapi klien rese itu." Aline membawa satu piring ke hadapan Galen. Suaminya terlihat sangat sibuk dengan laptopnya. Ia tengah mencari informasi tentang Tuan pokcoy, klien yang menurut Galen dan Aldo sangat rese dan menyusahkan.
Galen meninggalkan laptopnya begitu saja setelah selesai mencari tahu berita tentang Tuan Pokcoy. Ia menghampiri Aline di sofa.
"Apa boleh, aku makan kamu dulu, Yang?" goda Galen dan mendapat pelototan tajam dari Aline.
"Jangan gila, Mas! Ini kantor, loh."
"Lah, memang kantor, siapa bilang ini rumah. Kalau kita berada di rumah tidak akan aku ijin dulu saat mau serang kamu."
"Mas...." pekik Aline membuat Galen tertawa renyah. Suaminya itu sangat senang sekali menggoda Aline.
"Aku mau disuapin," ucap Galen.
Tanpa menolak keinginan suaminya, Aline lekas meraih piring berisi makanan yang ia sediakan untuk Galen. Perlahan Aline dengan telaten menyuapi Galen. Tidak mau melewatkan waktu Galen berdiri sebentar untuk mengambil laptop.
"Tunggu, Sayang! Mas ambil laptop dulu." Setelah itu Galen kembali duduk di sofa. Ia meminta Aline menyuapinya sambil mengecek beberapa file yang sudah Aldo siapkan sebelumnya.
Sambil menyuapi Galen Aline ikut makan dalam piring yang sama. Seperti itulah mereka jika sedang makan berdua. Lebih sering makan dari piring yang sama, kecuali saat makan di luar.
"Minum dulu, Mas!" Aline menyodorkan gelas berisi air putih kepada Galen.
"Makasih, Sayang!"
"Sama-sama, Mas!"
Aline membereskan bekas piring kotor dan kotak bekas makanan yang ia bawa, lalu menaruh piring kotor tersebut di atas meja yang ada di pojok ruangan.
Sesaat Aline teringat dengan Rima yang mengalami keguguran. Aline dan Galen menikah lebih dulu dari pada Aldo. Tapi Aline belum ada tanda-tanda hamil pada dirinya.
"Kapan aku bisa hamil?" Aline memegangi perutnya. Ia masih diam berdiri di dekat meja.
Galen menoleh ke arah Aline melihat apa yang di lakukan istrinya. Segera Galen meninggalkan apa yang sedang ia kerjakan, lalu berjalan mendekati Aline.
"Kenapa, Sayang?" tanyanya pelan dengan menaruh dagunya di bahu Aline, ciuman singkat Galen daratkan di pipi putih milik istrinya yang saat ini makin terlihat cuby.
Kedua tanganya memeluk tubuh Aline dari belakang.
"Ko, aku belum ada tanda-tanda kehamilan ya, Mas?" ucap Aline sendu. Ia sangat berharap bisa segera hamil karena orang tuanya dan Oma sangat menginginkan keturunan dari Aline dan Galen.
"Sabar, mungkin masih dalam proses. Kalau belum jadi, berarti kita harus lebih gencar lagi mempertemukan Benjhon dan Vivi," goda Galen sambil mengelus pelan perut Aline. Tangan kekar itu menyelinap masuk ke dalam blouse Aline.
Tidak hanya itu, Galen juga menggigit pelan telinga Aline membuat sengatan desiran menjalar di tubuh Aline.
"Mas... Jangan! Ini kantor, sebentar lagi tamu bisnismu datang," cegah Aline sambil berusaha menghindar dari sentuhan suaminya.
__ADS_1
Aline sangat hapal sekali dengan sikap Galen. Jika sudah ada keinginan bercumbu dengan Aline tidak bisa dicegah atau di halangi. Galen melepas pelukannya tak perduli Aline menolaknya. Membuat Aline berbalik badan, penasaran kenapa Galen melepaskannya.
Diraihnya remote yang ada di atas meja kerjanya, lalu Galen melepas jas kerja yang ia kenakan. Menaruhnya di sandaran bangku.
Klik...
Dengan satu tekanan pada salah satu yang ada pada remote itu, otomatis pintu masuk terkunci.
Galen kembali mendekati Aline, senyuman malu-malu mau Aline berikan. Seakan menyambut sentuhan yang akan Galen berikan kepadanya.
"Masih ada lima belas menit lagi, kita main cepat , Sayang!" bisiknya pada Aline.
Galen mengiring Aline agar berbalik menghadap meja yang ada dibelakangnya.
Kali ini permainan membelakangi Galen menjadi cara yang akan mereka rasakan.
Lekas Galen melepas setengah celananya, mengeluarkan Benjhon yang sudah berdiri tegak minta di keluarkan.
Aline harus sedikit menungging agar Galen leluasa menghantam Vivi yang juga tak sabar ingin segera bertemu Benjhon.
Siang ini menjadi pertempuran untuk kesekian kalinya yang diterima Aline di ruangan kantor Galen. Suara ******* Aline selalu menjadi musik yang memabukkan bagi Galen. Suami Aline makin mamacu cepat pergerakannya. Membuat pergerakan hebat pada tubuh Aline.
Tidak ada penolakan jika Galen sudah menginginkannya. Dimanapun asal ada tempat berdua dan bisa di kondisikan mereka akan bercampur gairah di sana.
unggul miliknya.
.
.
"Kenapa terkunci?" Sandra penasaran dengan pintu ruangan Galen yang terkunci di saat jam istirahat selesai.
Wanita itu mendapat kabar dari Aldo bahwa setelah istirahat diminta menemani Galen untuk pertemuan bisnisnya.
Sandra sudah mengetahui kalau kali ini mereka akan bertemu Tuan Pokcoy, salah satu klien bisnis yang sedikit sulit untuk diajak bekerja sama.
Ceklek.
Pintu ruangan Galen terbuka. Aline keluar dengan tawa cerianya.
"Mas.. Sudah! Malu di lihat karyawan lain." Aline menjauhkan wajah Galen yang sesekali menciun pipinya.
"E-eh... Sandra!" ucap Aline merasa malu karena ada Sandra di meja kerjanya.
Sandra menundukkan kepala sopan kepada Aline dan Galen yang berjalan keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"San, kamu temani saya ketemu klien kita kali ini," ucap Galen tegas layaknya atasan kepada bawahannya.
"Iya, Pak. Semua berkas sudah saya siapkan. Tuan Pokcoy juga sudah berada di ruang pertemuan menunggu Pak Galen," tutur Sandra membuat Galen sedikit mengerutkan alisnya.
"Kenapa tidak memberitahuku?" tegur Galen dengan suara sedikit menyentak.
"Maaf, Pak! Saya sudah mengetuk pintu ruangan pak Galen beberapa menit yang lalu. Tapi tidak terbuka. Saya sudah dua kali mengetuknya!" ujar Sandra membela diri.
Sandra tahu jika pintu ruangan terkunci Pasti di dalam sana, ada suatu kegiatan yang tak bisa di ganggu. Makanya, lebih baik Sandra menunggu sampai pintu itu terbuka oleh si pemilik ruangan itu.
Galen menyadari kesalahannya, ruangan Galen yang kedap suara saat tombol otomatis di nyalakan membuat Galen tidak bisa mendengar suara. Jangan 'kan ketuakn pintu, suara teriakan dari luar saja sama sekali tidak terdengar.
"Oh, ya. Maaf!" balas Galen. "Kalau begitu kamu sudah siap?" tanyanya kemudian.
"Siap, Pak!" Sandra meraih beberapa file lalu menempelkannua di depan dada.
"Sayang... Tunggu Mas di ruangan saja ya, Mas nggak akan lama ko!" Galen berucap sambil menatap Aline.
Galen berencana setelah pertemuan nya dengan Tuan Pokcoy, Ia dan Aline akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi mereka berdua karena Aline sangat menginginkan adanya kehamilan pada dirinya.
"Ya, Mas. Aku tunggu di dalam saja," balas Aline sembari tersenyum. " Semoga pertemuannya dimudahkan ya."
"Terima kasih, Sayang!" Galen mencium mesra kening Sandra tanpa peduli dengan kehadiran Sandra yang ada di depan mereka.
Sandra menunduk saat Galen mendaratkan ciuman pada kening istrinya itu.
"Ayo, Sand! Kita segera temui Tuan Pokcoy, dia pasti rewel tahu kita telat begini," ajaknya pada Sandra, lalu beralih kepada Aline. "Aku pergi dulu sebentar, ya?"
Aline mengangguk pelan.
Sandra mengikuti langkah Galen. wanita yang perasaannya bertepuk sebelah tangan dengan Galen itu menyapa Aline sopan sebagai karyawan Galen.
"Permisi, Bu Aline!"
Aline mengangguk sambil tersenyum membalas Aline.
Tatapan Aline terus tertuju kepada dua orang yang berjalan makin jauh darinya. Sandra dan Galen yang berjalan beriringan melewati koridor ruangan menuju tempat pertemuannya dengan Tuan Pokcoy. Aline merasa ada yang berbeda dengan Sandra. Entah mengapa perasaan Aline agak ragu kepada Sandra.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya....
__ADS_1