
...Jangan lupa habis baca kasih like, komen, vote juga agar karya ini ikut masuk deretan nangkring di rangking karya ๐๐๐๐...
...๐ธ๐ธ๐ธ Selamat Membaca๐ธ๐ธ๐ธ...
Aline dan Galen meninggalkan gedung tua itu. Tak lupa Galen meraih ponsel Aline yang terjatuh di lantai sebelum pergi dari sana.
Malam ini Aline tak pulang kerumahnya. Ia takut orang tuanya sedih melihat kondisinya.
Galen membawa Line menggunakan motor gedenya, motor milik Aline ditinggalkan di gedung tua itu. Sebelumnya Galen menelpon beberapa temannya yang tadi ikut nongkrong bersamanya untuk mengambil motor di gedung tua agar di bawa ke basement apartemen nya.
Galen mengajak Aline tinggal di apartemen miliknya untuk sementara sampai kondisinya membaik dan Aline pun menyetujuinya.
Di Apartemen Galen di lantai delapan, kini Aline berada. Galen membantu Aline mengobati luka di bibir dan mengompres luka lebam di pipinya.
"Tempat tinggal lu bagus juga! aww ... pelan dong!" ringis Aline saat handuk kecil di tangan Galen menyentuh luka di sudut bibirnya.
"Ini juga udah pelan banget, Pol! jelaslah bagus, investasi Gue, nih!" tutur Galen.
Kedua mata mereka saling mengait, dengan jarak yang dekat seperti ini, membuat Aline salah tingkah tengah ditatap Galen.
"Sini biar Gue aja yang kompres lebamnya!" Aline meraih handuk kecil dari tangan Galen. Merasa salah tingkah saat mata mereka bertemu.
Jantungnya berdebar tak terkontrol. Ada perasaan tak biasa saat jarak mereka sedekat ini. Setelah selesai mengobati lukanya, Aline meraih tangan Galen, melihat seberapa besar luka sayatan di tangannya.
"Kenapa jadi grogi begini sih!" batin Aline meraih salep di kotak obat yang berada di atas meja, segera ia oleskan salep tersebut ke atas luka di tangan Galen.
"Lebih baik lu, kasih kabar sama orang tua lu! takutnya mereka cemas nyariin!" titah Galen, saat Aline baru saja mengoleskan salep pada luka ditangannya. Lalu Galen merogoh kantung guna mengambil ponsel milik Aline di dalamnya, kemudian menyodorkannya ke tangan gadis yang baru saja menutup salep dan memasukannya ke dalam kotak obat.
"Oh, iya Gue lupa!" Aline segera meraih ponsel miliknya.
"Ko, mati!"
Galen mengangkat bahu. "Mana gue tau, sama sekali enggak gue cek pas di ambil di lantai gedung tadi!" ucap Galen.
Aline mencoba menekan tombol on dipinggir ponsel itu, ternyata baterai ponsel masih banyak saat ponsel itu menyala.
"Kayaknya preman tadi deh, yang menonaktifkan Ponsel gue!"
"Mungkin," jawab Galen singkat lalu lanjut merebahkan tubuhnya di sofa empuk di sana, seakan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya karena sudah larut malam.
"Kacamata Gue tertinggal, ya?" tanyanya pada Galen.
"Kayaknya, sih. Gue bawa lu ke sini aja tanpa paket kacamata! ungkap Galen.
Aline berusaha mengirim kabar kepada Ayah Zaki meski tanpa menggunakan kacamata, sedikit sulit baginya, karena Line sidak bisa menulis/membaca tanpa bantuan kacamatanya.
Aline mengabari sang Ayah bawah Ia mendadak pergi ke luar kota tadi sore sepulang kerja bersama beberapa karyawan kantornya. Berat rasanya harus berbohong kembali kepada orang tuanya. Tapi Aline terpaksa melakukannya, karena tidak mau membuat mereka khawatir melihat kondisinya saat ini.
"Huh ... Maafin Aline, Ayah, Ibu! harus bohong lagi sama kalian!" ucap Aline pelan. Lalu menoleh ke arah samping, melihat Galen sudah berbaring di atas sofa ruang tamu apartemennya.
Terdengar suara gendang dari perut Aline. Ternyata karena insiden yang menimpanya menghabiskan tenaga, saat ini Dia merasa lapar, Ia teringat dengan martabak yang di belinya sebelum kejadian itu.
Dengan cepat Aline berdiri lalu mendekat ke sofa yang ditiduri Galen. Sebelum tertidur pria tinggi dengan wajah tampan tapi penampilannya kaya preman itu sudah menyuruhnya untuk istirahat di kamar miliknya. Apartemen itu terdiri dari dua kamar. satu kamar tak terpakai sehingga dijadikan tempat menyimpan barang-barang Galen yang tak terpakai.
Aline sedikit membungkuk untuk membangunkan Galen.
__ADS_1
"Gal ... bangun!" Aline menggoyangkan tubuh pria itu pelan.
"Mmmm," gurau Galen sambil menutup mata.
"Bangun ... Gue laper! martabak yang tadi Gue beli sekalian dibawa enggak sih?" tanya Aline seraya terus mengguncang tubuh pria yang setengah sadar memasuki alam mimpi itu.
"Ih ... bangun dong! Gue enggak bisa tidur kalau perut kosong."
"E-eh ..."
"Bruk"
"Dug, aww ..." Galen menarik tangan Aline yang menempel di tangannya. Menganggap dirinya adalah guling. Tanpa sadar menarik Aline sehingga tubuh mereka berdua terjatuh di lantai dengan posisi Aline berada di bawah. Kepala Galen sempat terbentuk ujung meja karena terjatuh.
"Duh ... benjol deh, pala gue!" Satu tangan Galen mengelus kening dan satunya menahan tubuhnya agar tidak menimpa Aline.
Galen masih belum menyadari posisi nya saat ini.
"Minggir! berat banget tau enggak, lu?" ucap Aline kencang. kedua tangannya menahan dada Galen agar tak terlalu dekat dengannya.
"Cepol ... ngapain lu di sini?" tanya Galen menatap Aline, kedua tangannya kini menahan berat tubuhnya yang berada di atas Aline.
"Lu yang narik Gue, barusan! cepetan minggir dari atas Gue!" bentak Aline.
Bukannya bangun dari atas tubuhnya, Galen Seperi menajamkan pendengarannya. Suara yang berasal dari perut Aline menjadi pusat perhatian mereka berdua.
Galen tertawa terbahak mendengarnya.
"Lu laper, pol?" Galen kembali tertawa renyah.
Galen menggelengkan kepala pelan. " Lu, inget aja sama martabak! Gue liat lo berantakan aja, enggak tega. Amau bawa martabak lu!" hardik Galen seraya mengelus pantat karena terpental hingga membuat pantatnya mendarat keras di lantai.
"Gue laper, tau!" ucap Aline berdiri lalu melangkah ke arah dapur yang terhalang lemari hias berlapis kaca, sehingga pemandangan ruang tamu bisa terlihat dari arah dapur.
"Ada mie instan di lemari atas, Pol! sekalian deh masakin juga, jadi ikut laper denger suara merdu dari perut lu, Hahaha ...." ejek Galen dengan tawa renyahnya.
Aline tersenyum kecut mendengar ejekannya, lalu berjalan pelan menuju dapur seraya menepuk dadanya seakan menenangkan sesuatu di dalam sana.
"Tenang- tenang! kenapa jantung gue berdebar gini lagi, ya? sakit jantung deh kayaknya kalau dekat tuh preman tengil." Aline membuka lemari atas kemudian meraih dua bungkus mie instan di dalamnya. Kemudian memasak dua bungkus mie instan lengkap dengan sayur, telur dan irisan cabe di dalamnya. Sebelum tidur mereka mengisi perut yang kosong terlebih dulu dengan mie rebus buatan Aline yang pedesnya nampol.
*
*
Satu Minggu ijin dari pekerjaan dan tak pulang ke rumah, selama itu pula Ia memulihkan luka di wajahnya. Meski luka di hati tak ikut sembuh, setidaknya dirinya bisa bangkit dari kejadian malam itu, malam yang membuatnya ketakutan. Aline pun kembali ke tengah keluarga yang menyayanginya. seakan mendapat kekuatan lebih jika berada di dekat ayah dan ibunya.
Kini Aline tengah bersiap menemui desainer ternama yang akan bekerja sama dengannya.
Aline memutuskan untuk mengambil cutinya istimewanya. Ia ingin mencoba menjadi model sebelum mengambil keputusan pekerjaan mana yang lebih menjanjikan untuk hidupnya. Di FMC TV ada jatah cuti kerja yang keluar untuk karyawan selama lima tahun sekali sebanyak tiga puluh hari.
"Selamat siang Bu Syahrani, mohon maaf saya baru menemui Anda. Selama seminggu ini saya banyak keperluan yang tak bisa ditinggalkan," ucap Aline bersalaman dengan wanita bertalenta di hadapannya itu. Setelah beberapa menit menunggu nya di ruangan Bu Syahrani.
Bu Syahrani mempersilakan Aline duduk kembali.
"Tidak apa-apa Aline. Hari ini, apakah kamu siap mencoba bakatmu menjadi model pakaian gaun malam untuk sebuah majalah ternama," todong Bu Syahrani tanpa memberi Aline pilihan.
__ADS_1
"Hari ini, Bu?" Aline terkejut seraya mengerutkan alisnya.
Bu Syahrani mengangguk pasti.
"Enggak ada casting dulu, atau percobaan gitu, Bu?" Aline bertanya ragu.
"Tidak perlu, Saya sudah melihat Penampilan Kamu di pameran kemarin," ucap Bu Syahrani seraya berdiri untuk langsung mengajak Aline melihat koleksi berbagai macam gaun malam miliknya.
Hari ini adalah hari pertama nya menjadi seorang model. Dengan kerja kerasnya, Ia akan gigih belajar, agar bisa membuktikan kepada seseorang bahwa dia tidak bisa ditindas. Ia akan membalas orang yang telah membuatnya sakit hati. Juga ingin membuktikan kepada orang yang selama ini merendahkan dirinya.
Harapan baik untuk masa depannya.
*
*
*
Tiga Minggu sudah Aline beralih profesi menjadi model. Beberapa kali sudah ia menjalani pemotretan untuk beberapa majalah. Namanya kian di kenal oleh para pemburu berita. Nama Aline Barsha kini mulai muncul di berbagai media sosial karena kecantikan wajah, dengan sikap ramahnya.
Penampilan Aline pun sangat berbeda dari sebelumnya. Riasan wajah alami tanpa make up selalu ditunjukan saat tidak ada pameran atau pemotretan.
Aline lebih nyaman dengan penampilan naturalnya. Kacamata besarnya pun tak lagi menghiasi wajahnya. Aline menjalani pengobatan untuk mata minusnya. Sehingga ia tak perlu selalu menggunakan kontak lensa, saat bekerja maupun saat bersantai.
Gaya berpakaian Aline pun ikut berubah setelah menjadi model. Modis dan trendy
jadi contoh gaya berpakaian yang diikuti anak muda saat ini.
Aline pun menjadi lebih sering berkomunikasi dengan Galen. Tanpa Pria itu Aline tak mungkin bisa melewati hari terpuruknya.
Semangat dari Galen membuat Aline terus berusaha menjadi lebih baik tanpa merubah sifat dan kebiasaannya.
Berbaur dengan warga, tak lupa selalu berbagi saat jatah honor jadi model didapatnya.
Tanpa Aline dan Galen sadari. Seringnya mereka bertemu telah menumbuhkan rasa yang tak biasa, meski pertemuan selalu ada debat dan perselisihan tapi sikap itulah yang membuat mereka terikat. Kangen jika tak bertemu dan Rindu terpendam saat tak menatap.
.
.
.
bersambung
Jangan lupa, ya like komen dan vote nya..
Jaga kesehatan buat para readers tersayangku๐
Salam hangat dari teteh Author Mayya_zha
๐๐
๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป
Rekomendasi karya bagus untukmu. dari Ka Gupita.
__ADS_1