
Setelah jawaban terucap dari bibir Aline yang membuat semua berucap syukur, kini saatnya menyematkan cincin di jari manis keduanya.
Aline dan Galen saling memandang. Bagi Aline rasanya seperti mimpi hubungan mereka sampai sejauh ini. Ia sangat bersyukur hal buruk yang ia bayangkan sebelumnya tidak terjadi. Gadis itu membayangkan penolakan dari Galen karena tidak mengingat sedikit pun tentang dirinya. Namun kenyataannya kini berakhir bahagia. Pria yang telah merubah dirinya itu akan menjadi pendamping hidupnya.
Kartika yang bertugas membawa kotak berisi sepasang cincin berjalan mendekat ke arah dua insan yang kini tengah berbahagia itu. Gadis itu menyerahkan satu cincin kepada kakaknya yang tengah menanti
Dengan arahan dari pembawa acara Galen perlahan meraih tangan Aline lalu menyematkan cincin di jari manis gadis yang tersenyum kearahnya. Setelah cincin terpasang sempurna, kini giliran Aline memasangkan cincin ke jari Galen.
keduanya menunjukan ke arah kamera jemari yang sudah tersemat cincin itu untuk di dokumentasikan.
Selanjutnya banyak rose yang di atur oleh fotografer setelah acara penyematan cincin.
Kedua calon pengantin terlihat sangat berbahagia malam ini.
Semua anggota keluarga yang hadir turut berbahagia melihat satu persatu susunan acara telah usai. Beberapa anggota keluarga memberikan selamat untuk kedua calon pengantin itu. Mereka bergantian untuk mengabadikan moment ini.
"Ingat jangan keseringan ketemu, nanti ada pingitan setelah tanggal pernikahan di tentukan," ujar salah satu anggota keluarga dari Tuan Wijaya memperingati Aline dan Galen.
Aline hanya tersenyum sedangkan Galen menunjukan jari jempol mengiyakan. "siap Tan," sahutnya.
"Mbak Aline..." teriak Risa membuat Aline dan Galen kompak melihat ke arah suara yang memanggil nama Aline.
"Hai... Ris, kenapa baru datang?" sahut Aline. Keduanya kini saling berpelukan.
"Selamat ya Mbak, akhirnya kalian bisa bersama," ucap Risa seraya melepaskan pelukannya lalu mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Galen yang diam tanpa memberikan ekspresi kepada Risa.
"Terima kasih, Sa! ini Risa, manager ku dulu." Aline berbisik kepada Galen. Ia paham kalau pria di hadapannya ini, tidak mengingat Risa sama seperti kepadanya waktu itu.
Setelah Aline ingatkan, barulah Galen tersenyum ramah kepada Risa. Bagi Galen bersama Aline pasti akan ada suasana baru.
Risa yang mengerutkan alis lalu melirik Aline seakan mempertanyakan hal yang terjadi kepada Galen melalui kode. Aline lantas membisikkan sesuatu kepada Risa. "Nanti Aku ceritakan kepadamu." Risa mengangguk pelan kemudian pamit untuk menemui Bu Winda yang tengah sibuk menyapa anggota keluarga Wijaya yang lain.
Kini semua anggota keluarga sedang menikmati jamuan makan malam yang sudah di siapkan oleh tuan rumah. Acara lamaran ini sebagai ajang perkenalan antara dua keluarga bahkan ketiga keluarga. Keluarga Oma Ratih, Keluarga Ayah Zaki dan keluarga Wijaya.
Ketika semua menikmati hidangan, Aline dan Galen memilih berada di taman hias yang berada halaman rumahnya.
"Aku gak nyangka hubungan kita akan sejauh ini, Gal!" ucap Aline yang kini duduk berdua dengan Galen di kursi taman.
__ADS_1
Keduanya tengah menikmati indahnya malam. Bintang yang menunjukan keberasaanya di hiasi sinar rembulan yang menambah romantisnya suasana malam ini seakan dunia pun mendukung kebahagiaan dua insan yang tengah bersuka cita itu.
Aline tengah memperhatikan Galen yang sedang menengadahkan kepalanya memandangi langit.
"Aku lebih tidak menyangka bisa mengenalmu. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata akan perasaan ini. Tapi entah mengapa aku yakin bersamamu, kekosongan hatiku akan terasa indah." Galen meraih jemari di angkatnya lalu dikecup pelan punggung tangan gadis yang kini tengah memandangnya kemudian menggenggam tangan itu erat.
Kedua netra mereka saling bertemu. Senyum dan tatapan teduh yang menenangkan membuat suasana malam ini seperti milik mereka berdua.
*
*
*
"Kita sepakat tanggal pernikahan akan di laksanakan setelah satu bulan dari sekarang." Ayah Zaki menegaskan kepada keluarga Wijaya.
Kesepakatan di setujui kedua pihak keluarga. Tapi belum di ketahui oleh Aline dan Galen.
"Kemana kedua calon pengantinnya?" Oma Ratih mengedarkan pandangannya mencari cucu dan calon cucu menantunya.
"Mereka di luar, Oma," sahut Kartika.
"Panggilan, mereka kesini, Kar!" titah Tuan Wijaya.
"Kak," panggil kartika entah kepada siapa. Tetapi Aline dan Galen menoleh ke arahnya. "Kalian berdua di panggil Oma ke dalam."
"Ngapain?" tanya Galen penasaran.
Kartika menganggap bahu lalu kembali masuk ke dalam ruang keluarga. Saat memasuki ruangan ia lihat keseruan anggota keluarga dalam mencapai mufakat untuk acara pernikahan Aline dan Galen. Ia merasa sedih karena sosok mama tidak ikut hadir saat ini.
"Dimana mama sekarang?" gumam Kartika pelan.
Gadis itu memilih untuk melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, saat Kartika hendak duduk di salah satu sofa, ia lihat sosok yang ia kenal. Gadis itu langsung mendekat dan memanggilnya. "Kak Bara," Kartika berlari pelan lalu memeluk tubuh kakak kandung satu mama itu.
"Kakak kemana aja? apa Kak Bara bersama Mama? bagaimana keadaan Mama sekarang?" cecar Kartika yang menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bara.
Ternyata meskipun tahu kelakuan buruk sang Mama, Nyonya Mariska. Tapi Kartika tidak bisa menampik rasa rindu terhadap mamanya. Meski bagaimanapun ia adalah Mama kandungnya.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Mama! dia baik-baik saja." Bara membelai lembut pucuk kepala adiknya itu.
Jarang sekali adik dan kakak itu berdekatan seperti ini. Sama seperti Galen, semenjak bekerja dan mengurus perusahaan yang di percayakan kepadanya. Bara sangat jarang berkumpul dengan keluarga membuat hubungan kakak beradik itu semakin jauh.
__ADS_1
Ia hanya sesekali kembali kerumah dan datng sesuai perintah Papa Wijaya. Seorang Papa sambung yang sudah berbaik hati menerimanya sebagai anak bawaan dari Nyonya Wijaya.
Sebenarnya Bara merasa malu atas perbuatan sang Mama terhadap Papa Wijaya. Tapi, karena Tuan Wijaya selalu memberikan semangat bahwa papanya itu akan selalu menganggap Bara sebagai anaknya.
Menganggap perbuatan Mariska tidak ada hubungannya dengan Bara. oleh karena itu, Tuan Wijaya akan selalu menganggap Bara sebagi anaknya.
"Lalu di mana Mama sekarang, Ka?" tanya Kartika seraya mendongak menatap Bara kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Kakak satu Mama itu.
Bara mengusap pelan pipi putih adiknya itu. di pandangnya wajah polos adiknya yang terlihat sedih. "Kakak juga tidak tahu, Kakak yakin Mama bisa jaga dirinya sendiri. Sudah jangan bersedih, gak enak di lihat yang lain."
Kartika mengangguk lalu mengusap pipinya sendiri. Sambil dirangkul Bara, Kartika masuk ke ruang keluarga untuk menemui semua keluarga yang sedang berkumpul di sana.
"Jadi kalian setuju 'kan dengan tanggal yang sudah di tentukan." tanya Tuan Wijaya kepada kedua calon pengantin.
"Kami ikut saja sesuai keputusan yang sudah di buat," jawab Galen lalu menoleh kepada Aline. "Kamu bagaimana, yank?" tanyanya dengan tatapan penuh kebucinan kepada Aline.
Aline menunduk malu ketika Galen memanggilnya sayang di hadapan semua keluarganya.
Beberapa anggota keluarga tersenyum geli mendengar ucapan Galen. Baru kali ini mereka melihat Galen berucap manja kepada seseorang.
"Aku juga ikut keputusan bersama aja, Om!" sahutnya seraya menatap Tuan Wijaya.
Bara yang baru saja masuk lekas bertegur sapa dengan beberapa anggota keluarga yang ia kenal, lalu menatap kedua calon pengantin yang sedang dimintai persetujuan oleh Tuan Wijaya.
"Ternyata perasaan ini harus terkubur tanpa bisa diungkapkan," tatapannya tak lepas dari wajah gadis yang tersenyum cantik dengan lesung pipi yang muncul saat senyuman itu terus terpancar dari wajahnya saat ini.
.
.
.
.
Bersambung>>>>
.
.
Mohon maaf buat kalian semua. kemarin enggak up. RL benar benar tidak bisa di tinggalkan.
__ADS_1
Author sangat bersyukur masih ada yang setia membaca karya receh ini.