Fake Love

Fake Love
Puasa Dua Bulan


__ADS_3

"Dia bukan suami saya, Mbak! Dia kakak ipar saya," sanggah Jasmin.


"E-eh, maaf... Saya kira suaminya!" waiters tersenyum malu, lalu beranjak meninggalkan Jasmin dan Derald setelah meletakkan minuman itu.


Jasmin dan Derald saling pandang kemudian terkekeh pelan.


"Titip Zara! Aku beli susunya dulu." ucap Derald untuk kedua kalinya.


"Dari tadi titip-titip mulu, emangnya Zara barang!" dengus Jasmin membuat Derald tertawa kecil.


Derald pamit untuk segera membeli susu. Pria itu tersenyum sendiri melihat Jasmin. Adik dari mendiang istrinya itu, ternyata mempunyai sikap menyenangkan. Berbicara dengannya begitu nyaman buat Derald. Jasmin wanita yang nyaman diajak bertukar pikiran. Tidak menggurui tapi banyak saran dan masukan yang ia berikan.


Tak lama Derald kembali dengan dua kantung belanjaan di tanganya.


Ia melihat Zara sedang tertawa geli bersama Jasmin di dekat aquarium bear yang ada di cafe itu. Bayi montok itu kini tak lagi menangis, ternyata Jasmin pintar mengalihkan perhatian Zara.


Banyaknya ikan warna warni yang membuat Zara mendelak delik memperhatikan ikan ikan tersebut, sesekali Jasmin mengagetkannya, membuat Zara terkekeh geli.


"Ayo... ikan gigit Zara nih," ucap Jasmin sambil mendekatkan Zara ke dekat aquarium. Bayi itu hanya tersenyum entah dia mengerti atau tidak ucapan Jasmin tapi bayi kecil itu begitu senang tangan dan kakinya di gerakan dengan lincah.


Sempat ada salah satu pengunjung cafe mendekati Jasmin dan bertanya, kenapa dengan kaki Zara. Jasmin pun menjawabnya dengan bijak. Itu adalah bawaan dari lahir.


Rasa empati pun tercipta. si pengunjung cafe tersebut merasa kasihan kepada Zara. doa baik pun mereka berikan.


Zara yang tidak mengerti maksud dari pengunjung cafe itu malah tersenyum membalasnya. Tingkah lucunya membuat orang lain gemas kepadanya.


Derald merasa lega, karena ada yang sayang kepada Zara selain dirinya.


"Terima kasih sudah menjaga Zara," ucap Derald membuat Jasmin langsung membalikan tubuh menghadap Derald.


"Eh, ayah sudah balik lagi, tuh!" Jasmin seakan berbicara dengan Zara.


"Zara kelihatannya senang sekali dekat denganmu." Derald meraih tangan mungil putrinya lalu sedikit menggoyang-goyangkannya. "Anak papa main apa sama Tante... Seneng ya, lihat ikan warna-warni."


"Mamama..." celoteh Zara sambil mengerikan tangan ke arah Derald.


"Kamu hanya bisa menyebut kata itu saja." Derald mencubit pipi cubby Zara lalu mengambil alih Zara dari Jasmin.


"Sini, sama Ayah, kasian Tantemu pasti pegal gendong kamu!" Jasmin memberikan Zara kepada Derald.


"Tidak ko, Mas! Aku malah senang gendong Zara. Dia lucu banyak, banyak berceloteh. Kita harus sering-sering ngajak dia berbicara Mas, biar Zara terbiasa dan menyimpan banyak kata saat mendengar. Anak kecil pasti akan mengikuti semua ucapan kita," tutur Jasmin. "Mana susunya? biar aku buatkan dulu."


Drut... dut... dut...


Derald merasakan getaran dari pantat putrinya. Zara malah melarak-lirik mencari suara bunyi itu.


"E-eh.... kamu kentut ya?" tanya Derald kepada Zara. Bayi itu hanya tersenyum membalasnya.


Jasmin tertawa lepas melihat reaksi Zara. Bayi itu sungguh menggemaskan.


"Sepertinya Zara masuk angin, Mas! tadi pas di gendong sama aku juga begitu." sahut Jasmin.

__ADS_1


"Pantas dari semalam Zara rewel terus," ungkap Derald.


"Bukakah bukan depan sudah waktunya Zara dikasih makan ya, Mas?"


"Hmm..." Derald mengangguk.


Dan yang sekian kali nya suara dari pantat Zara kembali terdengar di barengan dengan aroma yang tidak sedap.


"Zara cantik, Pup... ya?" kali ini Jasmin yang bertanya, Zara bergerak kegirangan dibuatnya.


"Biar aku saja yang ganti pokoknya mas." Jasmin menawarkan diri. " Mas tolong ambilkan saja baju ganti dan diapers nya!"


"Terima kasih, Jas! Maaf... Aku selalu merepotkan mu!" Jasmin membalas dengan lirikan tajam. Rasanya jengah mendengar Derald selalu berterima kasih kepadanya.


"Ok... Ok..., aku paham." Jasmin lekas mengambil alih kembali Zara lalu membawanya ke toilet yang ada di cafe tersebut.


Usai mengambil diapers dan baju ganti Zara. Derald terlihat kebingungan mencari keberadaan Jasmin.


"Dede bayi sama Tantenya di toilet, Mas!" Salam satu waiters memberitahu.


"Oh, Ya... Terima kasih." Derlad lekas menyusulnya. Memberikan baju ganti dan diapers kepada Jasmin.


Setelah itu Derald kembali ke mejanya. Membuatkan susu untuk Zara. Derald sempat meminta tolong kepada waiters untuk mengocok botol susu dengan air panas agar sisa kotoran susu sebelumnya terbuang. Tak lupa minta sedikit air hangat untuk membuat susu.


Di Apartemen Galen


Aktivitas yang menguras tenaga itu kembali terulang untuk kedua kalinya di kamar mandi. Aline memanyunkan bibirnya bukan karena marah karena pertemuan Benjhon dan Vivi terjadi lagi untuk ke dua kalinya. Aline bingung dengan sikap Galen, mengaku lemas tapi minta nambah saat oke, oke, jos sama Aline.


"Aku laper, Yang! Lemes, tenaga Mas terkuras habis," keluh pria yang saat ini membenamkan kepalanya di paha Aline.


"Kalau begituan Mas kuat, Yang! Mau nambah lagi sekarang juga Mas masih sanggup." gumam Galen lalu memejamkan matanya perlahan, rasa kantuk kembali menyerangnya.


Aline mendengus mendengar penuturan Galen. Pria yang sedang memejamkan mata itu meiringkan kepalanya menghadap perut Aline diciumi perut istrinya itu.


"Mas... Geli, ih!"


"Kamu wangi banget, Yang!"


"Wangi apaan, orang belum pake minyak wangi. Cuma sabun mandi aja!" akunya.


"Tapi Mas suka dengan wangi tubuhmu."


Kruk... kruk...


Aline menajamkan pendengarannya. Ia bingung suara itu berasal dari perutnya atau dari suaminya, karena perut Aline akhir-akhir ini sering berbunyi seperti itu.


Masa sih laper lagi, tadikan udah makan roti panggang buatan Mas Galen, Tiga potong malah.


Aline mengalihkan tatapannya kepada Galen yang masih asik menenggelamkan kepalanya di perut Aline. Entah kenapa juga Galen begitu suka menciumi perutnya itu.


"Mas, mau makan apa? perut kamu bunyi loh, tadi kamu bilang laper? Mau di masakin apa?" berbagai pertanyaan Aline lontarkan tapi Galen malah betah memejamkan matanya.

__ADS_1


"Mas... Bangun, ih! Jangan suka menunda makan. Nanti magh nya kambuh." Aline terus berusaha membangunkan Galen.


Kalau sudah seperti ini Aline tahu cara ampuh agar Galen bangun.


"Mas, bangun makan dulu, nanti kalau sudah ada tenaga kita main lagi, aku deh yang main kendali," rayu Aline dan berhasil, Galen membalikkan wajahnya menghadap ke atas dan menatap Aline. Senyum sumringah dengan mata yang masih sayu dipaksakan terbuka saat mendengar ucapan Aline yang bagaikan angin segar penambah energi buat Galen.


"Beneran, Yang!" Galen bangun dari tiduran manjanya di paha Aline.


"Hmm... " jawab Aline singkat kemudian bangun dari duduknya meninggalkan Galen yang sedang duduk malas di sofa dengan penampilan kusutnya.


***


Tak berselang lama masakan sederhana yang Aline buat sudah siap di atas meja. Entah mengapa setiap masakan yang di buat istrinya sama sekali tidak membuatnya mual. Galen makan dengan layaknya. Padahal Aline hanya masak pasta mie saja.


"Kamu makan sendiri dulu, ya, Mas! Aku mandi!" ucap Aline lalu meninggalkan Galen yang sedang menikmati masakannya.


"Hm... Yang!" panggil Galen saat Aline sampai di dekat pintu kamar.


"Apa?" Aline berbalik badan menghadap ke arah Galen.


"Mau Mas, temenin nggak?"


Aline menunjukkan kepala tangan ke arah Galen setelah mendengar ucapan suaminya itu.


"Hahaha.... "Gelak tawa Galen begitu nyaring mendapat balasan dari Aline.


"Awas kalau Mas berani masuk! Aku suruh Mas puasa selama dua bulan tidak menyentuhku." cetus Aline dengan teriakannya saat masuk ke dalam kamar.


Galen refleks menghentikan suapannya. Lalu berjalan cepat menyusul Aline ke kamar.


Aline yang tahu Galen membuntutinya kembali berbalik ke arah pintu kamar.


Brughh..


Pintu kamar tertutup sempurna, lalu Aline menguncinya. Hampir saja beberapa centi lagi pintu itu mengenai wajah Galen.


"Yang... Mas bercanda jangan begitu dong. Kalau Mas Nggak nyiramin si Vivi selama dua bulan, nggak bakalan jadi dong benih yang Mas tebar."


"Mas.... ngomongnya di filter!" teriak Aline dari dalam kamar mandi karena saat ini ia sedang berendam di bathtub dengan air hangat. Merilekskan tubuh yang terasa lengket.


Galen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gawat Aline kembali dalam mode marah. Galen harus berhati-hati, dan mencari cara lagi agar istrinya kembali melunak.


Aline menggelengkan kepala dengan sikap Galen. Makin mesum saja makin hari.


Pagi ini saja badannya serasa remuk redam oleh aktivitas gotong royongnya bersama Galen menanam benih di lahan Vivi sampai terulang dua kali.


.


.


.

__ADS_1


.


Baca kelanjutan ceritnya ya...


__ADS_2