
Usai banyak berbincang dengan Papanya Galen kembali ke kamar. Saat masuk kamar ia tidak melihat keberadaan Aline di sana. Mengecek ke dalam kamar mandi pun tidak ada.
"Apa mungkin masih nonton di bawah, tapi ini sudah larut malam," gumam Galen sambil berpikir kenapa istrinya belum kembali ke kamar.
Galen mencari istrinya di ruang keluarga.Televisi di sana sudah tidak menyala. Kartika juga sudah tidak ada.
"Apa mungkin Aline di kamar, Oma?" lekas Galen melangkah ke kamar Oma Ratih.
Saat membuka pintu ternyata benar, ia melihat istrinya tertidur di samping Oma sambil memeluk wanita paruh baya itu.
Galen menghela napas berat, sepertinya malam ini ia tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa memeluk raga Aline. Hal yang menjadi kebiasaannya setiap malam.
Ingin protes tapi Galen tidak bisa egois. Akhirnya Galen mengalah untuk tidak membangunkan Aline. Sudah di pastikan Galen tidak akan bisa tidur malam ini. Guling hidupnya tak bisa ia dekap.
Galen memilih kembali ke kamar karena semua penghuni dalam rumah itu semuanya sudah berada di alam mimpi.
.
.
"Mas, Bangun!" ucap Aline sambil membelai pipi suaminya yang masih tertidur. Aline duduk di sisi tempat tidur.
"Hmm...," jawab Galen malas membuka mata. Pasalnya ia baru bisa tertidur jam dua dini hari tadi.
"Bukankah Mas hari ini ke kantor?" Ayo bangun!" Aline masih berusaha membangunkan Galen.
"Aku baru tidur sebentar, Yang!" ucap Galen malas dengan mata yang masih enggan untuk terbuka.
Suaminya itu malah balik memeluk pinggang Aline erat seakan mencari kenyamanan untuk tidur kembali.
"Mas... Jangan seperti ini, loh! kamu itu pemimpin perusahaan. Tidak bisa seenaknya dalam bersikap." Aline terus berbicara menasehati Galen.
Akhirnya Galen membuka matanya, pria itu langsung bangun sambil duduk di samping Aline.
"Memangnya jam berapa sekarang?" tanya Galen sambil mengucek matanya.
"Waktu subuh, Mas. He..." jawab Aline sambil nyengir kuda.
Aline tahu waktu jam kantor masih lama, Tapi bagi seorang pemimpin perusahaan dan juga pemimpin rumah tangga sudah seharusnya memberikan contoh yang baik.
Jika di kantor suaminya harus memberi contoh kepada karyawannya berbeda dengan di rumah. Seorang pemimpin rumah tangga harus membimbing keluarganya.
Galen memilih untuk bangun dan mengerjakan solat subuh terlebih dulu. Sedangkan Aline kembali turun bergabung dengan asisten rumah tangga yang lain.
__ADS_1
Mereka sedang sibuk menyiapkan menu sarapan pagi ini.
Aline memulai harinya di rumah itu dengan menyiapkan segala keperluan suaminya.
Dari hal menyiapkan pakaian, makanan dan segala kebutuhan Galen.
"Di mana Mbok Yem?" tanya Aline kepada salah satu asisten rumah tangga yang lain, Mbak Ira namanya.
"Mbok Yem ada di kamar Non Kartika, Nyonya." jawab Mbak Ira.
"Oh, ya sudah bantu. Bantu saya siapakan sarapan pagi ini," titahnya kepada Mbak Ira.
"Siap, Nyonya!"
Aline tersenyum manis kepada dua asisten yang membantunya. ia sangat senang, dirinya diterima dengan baik di sana. Karena mulai hari ini dan seterusnya Aline akan tinggal di sini, di kediaman Wijaya.
Usai menyiapkan sarapan. Aline menyapa Oma Ratih yang sedang duduk santai di depan kolam renang. Pagi ini suasana sejuk sangat terasa di sana. Oma Ratih sedang menikmati indahnya suara gemericik air dari pancuran air yang mengarah ke kolam ikan, letaknya tak jauh dari tempat Oma Ratih berada saat ini.
"Selamat pagi, Oma!" sapa Aline dengan mencium pipi kanan Oma Ratih.
"Pagi, Sayang!"
"Sarapan sudah siap, sarapan yuk?" ajak Aline.
"Apa suamimu sudah bangun?" Oma Ratih balik bertanya.
Oma Ratih mengangguk pelan. "Aline...," panggil Oma Ratih lembut membuat Aline sedikit berjongkok di hadapan Oma.
"Ya, Oma!" Aline meletakkan tangannya di atas punggung tangan Oma Ratih.
"Nanti, bantu Galen untuk memantau Rumah Beautiq dan perusahaan kosmetik peninggalan Mama nya Galen. Selama ini, meskipun cucu Oma itu terbilang cuek dan terlihat santai tapi dia mampu mengembalikan perusahaan yang sempat hancur akibat ulah Mama tirinya. Sekarang kamu telah menjadi istri Galen. Oma harap kamu bisa membantunya, Karena tanggung jawab Galen sekarang bertambah dengan jabatannya di Aksara grup." ucao Oma Ratih terlihat khawatir. Akhir-akhir ini wanita paruh baya itu terlihat banyak berpikir. Dia menghawatirkan cucunya.
"Iya, Oma. Mas Galen sudah membicarakan ini sebelumnya sama aku. InsyaAllah, pelan-pelan aku juga akan belajar mengelolanya. Oma tidak perlu khawatir. Tenangkan pikiran Oma, jangan terlalu banyak berpikir." Aline mengelus pelan tangan yang kulitnya sudah terasa mulai mengendur itu, tapi tidak dengan wajah.
Oma Ratih terlihat masih cantik dengan usianya yang sudah setengah abad lebih itu. Hanya kondisi tubuhnya yang makin lemah.
Tersenyum mengembang di wajah cantik Oma Ratih.
"Oma mau masuk ke dalam atau mau di sini dulu? Aku mau menyiapkan pakaian Mas Galen sebentar!" tanya Aline kemudian.
"Oma di sini dulu, saja!"
"Ya sudah. Nanti biar di temani Mbak Ira ya?" Aline menepuk pelan punggung tangan Oma, lalu memandang wajah Oma Ratih dengan teliti. Ada yang berbeda dengan binar wajahnya.
__ADS_1
"Oma baik-baik saja, 'kan? Oma terlihat pucat. Apa karena semalam kita tidur terlalu malam?" tanya Aline dengan nada cemas.
Oma Ratih tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala. "Tidak, Sayang! Mungkin karena oma tidak berhias pagi ini, jadi terlihat sedikit pucat," sanggah Oma.
Aline merasa lega. "Benar juga, hari ini Oma tidak memakai lipstik!" lanjut Aline sambil terkekeh pelan, membuat Oma Ratih ikut tertawa.
Aline lekas berdiri, "Kalau begitu, Aline masuk dulu, nanti kita sarapan sama-sama, Ya!"
Oma Ratih mengangguk pelan. Sebelum pergi meninggalkan Oma, Aline membetulkan baju hangat yang di pakai Oma Ratih. "Pagi ini masih terlalu dingin, Oma. Pakai baju hangat nya harus betul agar Oma tidak kedinginan!" Oma Ratih tersenyum hangat membalas perlakuan Aline yang begitu perhatian kepadanya.
"Terima kasih, cucu menantu Oma!"
Aline pun membalas dengan senyuman manisnya. Kemudian melangkah masuk meninggalkan Oma Ratih sendiri di depan kolam ikan. Wanita paruh baya itu tengah asik memberi makan ikan-ikan hias di sana. Suasana semakin memanjakan telinga saat suara burung-burung peliharaan Tuan Wijaya berkicau di pagi hari ini.
"Mbak Ira... " panggil Aline saat ja memasuki rumah lewat pintu samping.
"Iya, Nyonya!" sahut Mbak Ira setengah berlari mendekat ke arah Aline. "Ada apa, Nyah?" tanyanya kemudian.
"Tolong temani, Oma di dekat kolam renang. Oma Sendiri di sana!" titah Aline.
"Siap, Nyah!" Mbak Ira menunduk sopan.
"Terimak kasih Mbak Ira," ucap Aline.
"Perasaan dari tadi Nyonya ngomong terima kasih terus, ini sudah tugas saya membantu Nyonya di rumah ini." balas Mbak Ira sambil tersenyum. "Saya permisi, Nyah! Asisten pembantu itu melangkah menuju kolam ikan di mana Oma Ratih berada.
Awalnya Aline merasa tidak enak mendengar sebutan Nyonya Aline untuknya, tapi tidak ada sebutan lain. Karena memang dia adalah Nyonya di rumah ini, selama Tuan Wijaya masih sendiri, Aline lah yang mengambil tugas mengatur semua yang berhubungan dengan kebutuhan rumah tangga.
Pengalaman pertama yang akan di lewatinya. Aline merasa senang, Galen sangat mendukung dan tidak memaksa. Ia membebaskan Alibe untuk mengatur semuanya. Sebelumnya Mbok Yem lah yang mengatur karena Nyonya Mariska sudah tidak tinggal di sana. Beralih ke Mbok Yem, sekarang semuanya kembali beralih kepada Aline. Istri dari Tuan Muda Alex.
Sekarang Mbok Yem hanya membantu mempersiapkan kebutuhan Tuan Besar saja karena beliau masih sendiri.
Saat memasuki kamar, Aline belum melihat keberadaan suaminya di sana. Sebelum Galen kembali Aline sudah mempersiapkan pakaian kerja untuknya.
Aline berniat untuk mandi lebih dulu. Tak lama setelah mandi Aline keluar dengan tubuh yang masih berbalut handuk dari dada sampai batas paha. Ia berjalan pelan menuju walk in closet. Tak menyadari ada seseorang yang berjalan pelan mengikuti langkahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca terus kelanjutan ceritanya nya....
Terima kasih untuk yang masih setia dengan cerita ini.