Fake Love

Fake Love
Petuah Ayah Zaki


__ADS_3

Kendaraan roda dua itu berhenti di depan gerbang rumah Aline.


Pak Joko menyadari kehadiran mereka berdua. Dengan sigap pria yang usianya lebih tua dari Ayah Zaki itu membukakan pintu gerbang.


"Loh, Neng Aline sama Den Galen kenapa pakai motor tadi pagi pergi naik mobil" Pak Joko membuka setengah pintu gerbang.


"Ban mobil Saya bocor, Pak Joko! ini pakai motor teman"


Saat akan melewati pintu gerbang Pak Joko berbisik pada Aline.


"Ayah, Neng Aline dari tadi bulak balik nunggu kalian pulang."


"Beneran, Pak?"


Pak Joko mengangguk lalu menutup pintu gerbang.


Galen melanjutkan menarik gas motor sampai di teras rumah. Aline perlahan turun dari motor.


Saat tiba di depan rumah, benar kata Pak Joko. Ayah Zaki tengah duduk di bangku kayu sambil menghisap sebatang rokok linting.


Aline berjalan menghampiri ayahnya. "Ayah belum tidur?" Aline menyalami Ayah Zaki lalu ikut duduk bersama ayahnya di kursi yang berhadapan dengan Beliau.


Galen yang mengikuti Aline di belakang pun ikut menyalami Ayah Zaki. "Maaf, Yah! kami pulang terlalu malam. Tadi kami mampir dulu ke Kota Tua selesai menemui pihak EO," ungkap Galen jujur.


Calon suami Aline itu ikut duduk di samping Aline.


Ayah Zaki menghela napas berat. "Ayah bukan mau melarang kalian pergi bersama. Tapi tidak baik jika seorang wanita yang telah di lamar berpergian dengan calon pasangannya, Ayah takut kalian akan merasa bebas karena merasa sudah saling terikat. Jangan sampai kalian kalah oleh napsu sesaat." Ayah Zaki memandang bergantian ke arah Aline dan Galen.


Ayah Zaki takut jika Aline dan Galen melampaui batas, karena mereka merasa sebentar lagi akan menjadi pasangan halal, Ayah Zaki takut mereka berdua gelap mata dan melakukan hal terlarang sebelum waktunya.


Galen mengerti arah pembicaraan Ayah Zaki.


"Ayah tidak perlu khawatir, Saya tidak akan pernah melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan sebelum kata ijab terucap. Saya akan menjaga kehormatan putri Ayah." ucapan Galen membuat hati Ayah Zaki tenang.


Aline tertunduk mendengar obrolan ayah dan calon suaminya.


"Syukurlah kalau kamu mengerti itu, Gal tolong jaga Aline, ayah tidak mau melihat dia bersedih lagi. Ayah bahagia ia sudah berubah sekarang. Ayah merasa bersalah karena memaksanya berhenti dari karier keartisannya padahal saat itu pamornya sedang naik daun. Ayah tidak mau ia hidup dalam balas dendam."


"Ayah, ini bukan salah Ayah, aku memang yang memilih undur dari pekerjaanku, karena balas dendamku sudah terbalas ..." Aline menundukkan kepalanya teringat dengan misinya merubah penampilan dan menyaingi orang yang sudah berbuat jahat kepada dirinya.


Matanya gadis mulai berkaca-kaca, mendengar ucapan ayahnya yang sangat menginginkan kebahagiaan untuknya.


"Syukurlah kalau kamu sadar itu, Nak! karena tak baik sakit hati dan dendam tumbuh di hatimu. Ayah sangat ingin melihat kamu menikah dengan orang yang tulus mencintai kamu, Nak!" Ayah beralih kepada ke arah Gaken. "Ayah harap kamulah orangnya, Gal" manik mata Galen dan Ayah Zaki saling bertemu.

__ADS_1


"Saya sangat tulus cinta sama Aline, Yah! Ayah tak perlu khawatir."


Ayah Zaki mengangguk. Keresahan nya selama ini telah tercurahkan.


Ia merasa tenang, putrinya akan berada bersama orang yang tepat. Ia juga lega Aline sudah tak memiliki dendam dengan orang yang pernah menjalaninya seperti Derald dan Chyntia karena meninggalkan dendam dalam hati tidak akan membuat kelanjutan hidup kita bahagia.


"Lebih baik kamu bersihkan dulu, tubuhmu. suruh Bi Kesih bawakan minum buat Galen," titah Ayah pada Aline yang berwajah sedih.


"Hei, jangan bersedih. Semua orang tua akan selalu menginginkan kebahagiaan untuk anaknya begitu juga ayah." Ayah Zaki menyentuh dagu Aline agar menatapnya. seulas senyum terukir di wajah yang mulai terlihat keriput dan rambut yang mulai memutih.


"Ya, ayah! Maafkan Aline belum bisa membuat ayah bahagia." Putri dari Ayah Zaki itu terlihat sendu.


"Kita akan membuat semuanya bahagia, Yang! Semampu kita dengan cara kita. Sekarang masuklah, turuti perintah ayahmu! Aku di sini, nemenin ayah! sekalian buatkan aku minum yang dingin dan berwarna, biar suasana jadi adem hawanya panas di sini. Kalau ada jus tomat, Yang!" pinta Galen seraya melirik Ayah Zaki sekilas. Aline memperhatikan itu.


"Dih, tamu ko, request minta minum apa?" desis Aline. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, tapi setelah itu seulas senyum terukir di wajah cantik Aline.


Keadaan yang tadinya bernuansa sedih jadi sedikit mencair dengan tawa karena ucapan Galen.


Ayah Zaki pun menarik sudut bibirnya melihat sikap Galen terhadap Aline. Ia yakin , Pria di depannya yang tengah melempar senyum dengan putrinya itu, bisa memberikan kebahagiaan untuk Aline. Tapi tatapan nya sedikit tajam melirik Galen, membuat calon menantunya itu menciut lalu menunduk.


Aline berdiri sambil menahan tawa. "Yah, Aline ke dalam dulu. Ayah mau sekalian dibuatkan kopi?"


Gadis itu mengurungkan langkahnya, menunggu jawaban dari sang Ayah.


"Tidak usah, bawakan saja teh hangat jahe untuk Ayah! dan buatkan minum untuk calon suamimu ini!"


Sepeninggal Aline ke dalam rumah, Ayah Zaki dan Galen mengobrol santai di teras. Banyak pesan yang Ayah Zaki sampaikan pada calon menantunya itu menjelang pernikahan mereka.


Obrolan mereka terhenti sejenak saat Bi Kesih datang.


"Permisi, Pak! ini minumannya!" Bi Kesih meletakkan satu cangkir minuman dan Satu gelas jus tomat sesuai permintaan Galen pada Aline di meja.


"Loh, Aline mana, Bik?" tanya Ayah Zaki.


"Abis buat minuman ini, Neng Aline meminta Bibi nganterin ke sini, Pak! Kata Neng Aline, dia mau mandi dulu, sebentar, nanti balik lagi," ujar Bi kesih


"Terima kasih, Bi." seru Galen.


"Sama- sama, Den."


Bi Kesih berlalu setelah menghidangkan minuman dan cemilan sebagai teman berbincang malam itu.


"Diminum, Nak!"

__ADS_1


Galen mengangguk lalu lalu meraih minuman yang dibuatkan Aline untuknya.


Dari obrolannya tadi, Galen menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan Aline sehingga ingatannya kembali. Ayah Zaki merasa bersyukur karena hal itu, tapi ia juga merasa resah. Takut ada kejanggakan pada kecelakaan tersebut.


"Apa kamu sudah tau, penyebab ban mobilmu bocor?" tanya Ayah Zaki khawatir. Ia tidak mau kejadian dulu akibat ulah seseorang kembali terjadi.


"Ini, murni musibah, Yah! sepertinya di jalan tadi terkena paku," dalih Galen. Ia tidak mau ayah Zaki tahu yang sebenarnya.


Galen menutupi kebenarannya dari Aline dan Ayah Zaki. Ia tidak mau membuat mereka cemas dan khawatir.


Aldo-asistennya itu telah memberi kabar melalau pesan chat kepadanya. Kejadian yang menimpa bosnya itu disengaja. Dua paku tertancap di dua ban depan mobil bosnya itu.


Pelaku sepertinya sangat hapal situasi di tempat parkir, sampai ia tak terlihat di kamera CCTV parkiran tersebut. Aldo tidak bisa mengetahui siapa pelakunya.


"Biasanya orang yang akan mendekati pernikahan ada saja yang di alami. Kalau menurut orang tua dulu, pasti akan selalu ada perdebatan dan sesuatu yang terjadi. Makanya ayah melarang kalian sering bersama. Kalian berdua harus menjalani pingitan sesuai adat, agar tidak ada hal yang tidak diinginkan." Ayah Zaki menasehati.


Galen mendengarkan semua petuah yang disampaikan kepadanya.


Pria yang sebentar lagi akan menjadi imam untuk Aline itu, merasa semua yang ia dengar itu sangatlah bermanfaat untuk kehidupan rumah tangganya kelak. Seperti yang Aline harapkan.


Calon istrinya itu sangat berharap rumah tangga mereka seperti kehidupan rumah tangga orang tua Aline yang saling melengkapi dan memahami.


Tapi apakah Galen akan tahan jika tidak bertemu dengan Aline selama dua minggu, satu hari saja rasanya ingin cepat bertemu.


Mampir sini ya.. karya temanku.



Bersambung>>>>


.


.


.


.


.


🤣🤣🤣 Kasian nya calon penganten ini.. pasti Rindu sangat deh terpisah selama dua minggu... benar kata Dilan " Rindu itu berat"...


Tapi lebih berat nahan...Pupp 🤭🤭🤣🤣..

__ADS_1


__ADS_2