Fake Love

Fake Love
Keadaan Rara


__ADS_3

Rara merasa takut saat pria mabuk tadi menghadang jalannya. Saat ini dia tidak sendiri tiga orang temannya ikut menghadang juga.


“Rek naha kadarie?” tanya Rara kepada pria mabuk tadi seraya mengedarkan tatapannya kepada pria yang lain.


(Mau ngapain pada ke sini?)


“Rek ngajak didinya seneng-seneng!” balas pria mabuk itu sambil mengerlingkan matanya ke arah Rara.


“Males pisan seneng-seneng sama lu! Awas... ah, minggir coba, ngahalangan jalan wae!” Sentak Rara masih dengan ketusnya.


(Malas banget senang-senang sama lu! Awas... ah, minggir coba, menghalangi jalan saja!)


Pria mabuk itu langsung memberi kode kepada temannya yang lain. Agar membekap Rara dari belakang.


Sontak Rara terkejut saat mulutnya di bungkam oleh salah satu dari mereka dari belakang. Memberontak dan berteriak pun rasanya percuma, tenaganya kalah kuat dari mereka. Motor yang tadi didorong Rara disembunyikan di balik bangunan kosong. Rara di seret oleh para pria mabuk itu ke gedung kosong tepat di samping pasar. Suasana malam ini cukup sepi, kegiatan pasar akan ramai sebelum subuh nanti.


Mulut Rara disumpal kain. Kedua tangannya terikat. Para pria itu bergantian menikmati tubuh Rara yang masih perawan itu. Pria pertama yang merasakan pembukaan segel kehormatan Rara adalah pria mabuk yang ia remehkan.

__ADS_1


“Makanan jadi cewek mah, ulah sok geulis meski emang geulis. Sombong si lu,” ucap Pria mabuk itu kemudian memanggil yang lain untuk bergantian menikmati tubuh Rara.


Derai air mata dan kesakitan yang Rara rasakan sama sekali tidak mereka pedulikan. Berulang kali tubuhnya di nikmati oleh mereka. Rara pingsan tak sadarkan diri, kondisinya sungguh sangat mengenaskan.


Hingga menjelang subuh pasar perlahan ramai oleh para pedagang yang akan menjajakan barang dagangannya.


Seseorang berteriak melihat sesosok wanita muda yang busananya sudah tak beraturan lagi. Keramaian pun terjadi. Pasar itu heboh dengan ditemukannya wanita cantik korban pelecehan yang masih hidup saat itu. kebetulan saat itu Nayi yang mengenali korban langsung membawanya ke rumah sakit.


Flashback off


“Putri bapa mengalami trauma yang begitu berat. Ia berteriak saat dokter pria yang datang mengobatinya tadi. Oleh karena itu, saya menggantikannya untuk menangani putri bapak. Alhamdulillah dia tidak terlalu takut dengan wanita.” Dokter wanita itu menjeda ucapannya lalu membuka berkas hasil visum yang sudah di lakukan oleh pihak rumah sakit sebelumnya.


Hancur seketika perasaan kedua orang tua Rara. Kehormatan putrinya yang terenggut secara paksa oleh para pria entah siapa mereka.


Keduanya lekas kembali ke ruang perawatan Rara.


Hati orang tua mana yang tidak sedih melihat kondisi anaknya yang seperti mayat hidup saat dimintai keterangan. Oleh polisi wanita. Rara akan menjerit ketakutan saat melihat pria yang berjalan mendekat kepadanya.

__ADS_1


Tapi tidak kepada Pak Budi. Rara langsung memeluk tubuh bapaknya dan berteriak minta di lindungi.


Satu minggu telah berlalu setelah musibah yang dialami Rara. Pak Budi dan Bu Mirna tidak lagi berjualan di pasar.


Bu Mirna tidak bisa pergi dari rumah meski hanya sebentar. Ia takut Rara kembali histeris. Jalan satu-satunya adalah membawa Rara berobat ke psikiater dan harus menjalani terapi mental. Sebab korban pelecehan seperti Rara harus mendapat penanganan khusus.


Hari demi hari mereka jalani karena tidak lagi berjualan lagi di pasar. Pak Budi bekerja serabutan. Selanjutnya Pak Budi meminta pekerjaan di tempat Tuan Braja, meskipun rasanya malu sekali akan tingkah Rara yang pernah berbuat kurang ajar kepada Tuan Braja. Tapi pemilik dari peternakan yang saat ini semakin berjaya itu merasa kasihan dengan musibah yang dialami Rara.


“Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa Rar Pak!” ucap Tuan Braja seraya merangkul tubuh Pak Braja saat mereka sedang berjalan menuju kandang.


“Doakan untuk kesembuhan Rara, Tuan!” pinta Pak Budi.


Tuan Braja mengangguk pelan. Kemudian mereka berpisah di ujung ruangan. Pak Budi harus segera memberi makan sapi-sapi. Sedangkan Tuan Braja kembali ke ruanganya.


Kabar baik yang beredar di peternakan itu juga diketahui oleh Pak Budi, soalnya pemilik peternakan yang akan segera menikah dengan seorang wanita pilihan ustad yang ada di kampungnya. Tuan Braja telah memilih seorang janda beranak satu, wanita cantik dengan penampilan islaminya. Wanita yang di tinggal suaminya meninggal dunia


Pak Budi makin merasa nelangsa dengan nasib putrinya. Apakah ada yang mau kepada putrinya nanti, wanita korban pelecehan.

__ADS_1


Batin Pak Budi sambil berpikir keras cara apalagi yang harus ia lakukan untuk mengobati Rara.


bersambung


__ADS_2