
"Kamu memang selalu mengerti Aku, Seno!" Nyonya Mariska memeluk tubuh lelaki yang telah membawanya dalam puncak keindahan.
Selimut putih yang menutupi tubuh polos mereka.
"Honey ... Kamu yakin akan segera pergi dari sini? istirahat dulu sebentar! Percuma kamu tergesa menemui suamimu, kalau dirimu tak pernah dianggap saat bersamanya." Seno semakin memeluk erat tubuh Nyonya Mariska.
"Aku sudah terlalu lama pergi! Semoga saja operasinya, gagal. Dan Galen tidak bisa diselamatkan, jadi seluruh harta Wijaya bisa beralih kepada Kartika. Anak itu bisa kita manfaatkan!" Nyonya Mariska lekas melepaskan tangan Seno yang membelit tubuhnya.
Wanita itu segera berdiri dan berjalan ke kamar mandi guna membersihkan diri agar bisa mempersingkat waktu. Mengingat kepergiaannya sudah terlalu lama dari rumah sakit.
Seno menyeringai licik. "Dan kita yang akan mengendalikan semuanya." Seno berbicara dengan nada tinggi agar Nyonya Mariska bisa mendengarnya. Pria itu terkekeh pelan lalu membalikan tubuhnya menghadap langit kamar hotel yang ia tempati sebagai tempat pertemuan mereka beberapa hari mendatang selama Nyonya Mariska berasa di Singapura.
Dress merah yang beberapa saat lalu ia beli di Butik Crollante saat ini menempel pada tubuhnya. Usai membersihkan diri wanita itu tergesa-gesa pamit kepada Seno yang masih memejamkan mata setelah pertempuran beberapa saat lalu.
"Beb, Aku kembali ke rumah sakit dulu, mungkin setelah itu menemani Wijaya dulu di penginapan." Nyonya Mariska berbicara sambil mendekati Seno dikecupnya singkat pipi dari selingkuhannya itu.
Seno yang setengah tertidur pun menarik kembali Nyonya Mariska hingga tubuh wanita itu terjatuh menimpa Seno.
"Aww ... Beb, jangan seperti ini!"
🌱🌱🌱
Kondisi Galen yang baru usai operasi masih belum ada perubahan berarti. Tuan Wijaya pun pamit kepada Oma Ratih untuk meninggalkannya sebentar dengan alasan ada satu pekerjaan yang harus diselesaikannya. Oma Ratih pun mengerti dengan pekerjaan mantan menatunya yang tak kenal waktu itu.
Padahal itu hanya alasannya saja. Tuan Wijaya akan membongkar perselingkuhan istrinya itu sendiri. Meski tak berarti untuknya, tetapi hal itu ia gunakan agar dirinya terlelas dari Mariska.
Derap langkah Tuan Wijaya terdengar menggema di Koridor hotel mewah Murich yang letaknya bersisian dengan pusat perbelanjaan yang beberapa waktu lalu dikunjungi Nyonya Mariska.
__ADS_1
Berita tentang Nyonya Wijaya yang sedang bersama selingkuhannya itu tak mau di lewatkan begitu saja oleh Tuan Wijaya.
Kali ini ia yakin akan melepaskan wanita yang selama ini hanya di jadikan pendamping tanpa makna itu. Kebersamaannya bersama Mariska akan terus mengingatkannya kepada rasa bersalah terhadap Indira.
Rasa cinta yang tidak akan pernah tumbuh untuk Mariska. Kalau saja Kartika tidak hadir diantara mereka sudah sejak lama Tuan Wijaya menceraikan Nyonya Mariska.
Salah satu anak buahnya yang berjaga di tak jauh dari kamar hotel yang di tempati Nyonya Mariska dan Seno berada.
"Dimana mereka?" Ucapnya pada salah satu anak buahnya.
"Mereka berada di dalam Tuan!"
"Buka pintunya!" titah Tuan Wijaya kepada anak buahnya.
ceklek
pintu terbuka sebelum anak buah Tuan Wijaya membukanya.
"****, mereka mengikutiku! bagaimana ini, mana Seno masih ada di dalam." batin Nyonya Mariska.
Refleks Nyonya Mariska menutup pintu kamar mendekati Tuan Wijaua yang bediri di depannya. Matanya memerah, rahangnya mengeras dengan mengepal tangannya ia mencoba menahan emosi.
Ia tidak mau kemurkaannya terhadap Mariska membuat suasana di hotel itu kacau.
"Sedang apa Kamu disini! bukannya menemani Saya dan Oma. Kamu malah asik bersenang-senang disini! " Tuan Wijaya berucap marah, tatapan tajam yang ditujukan kepada Nyonya Mariska seperti mengelupasj kulitnya. Rasa takut itu datang tiba-tiba hingga ia mundur selangkah menghindarinya.
"Ada apa Honey? kenapa masih belum pergi?" gurauan Seno terdengar dari dalam. Pria itu setengah terlelap selepas kepergian Nyonya Wijaya. Ia tidak mengetahui kejadian yang terjadi ndri depan kamar hotel.
__ADS_1
Suara Seno membuat Tuan Wijaya semakin marah, emosi yang ia coba tahan dari tadi kini tak bisa ia kendalikan.
"Wanita ****** ... beraninya kamu mengkhianatiku." Tuan Wijaya mencekik leher Nyonya Mariska dengan satu tangannya lalu mendorongnya ke dalam kamar hotel.
Tomy yang melihat tindakan Tuan Wijaya ititu segera menyuruh anak buahnya mengamankan kamar hotel agar tidak ada petugas yang curiga.
Asisten Tuan Wijaya itu mengikuti langkah majikannua hingga ke dalam kamar hotel.
"Mas... lepaskan! sakit Mas! Awww ...," jerit Nyonya Mariska saat tubuhnya terlempar ke atas tempat tidur membuat Seno yang setengah terlelap itu terkejut di buatnya.
"Uhuk... uhuk.. " Nyknya Mariska terbatuk karena cekalan di lehernya begitu kuat.
"Kamu tidak apa-apa, Honey?" Seno membantu Nyonya Mariska bangkit setelah tersungkur karena di dorong keras oleh Ruan Wijaya.
"Mereka membuntutiku! kita ketahuan, Seno!" Nyonya Mariska memegangi leher yang terasa nyeri akibat cengkraman yang di dapatnya dari Tuan Wijaya.
"Kalian akan menerima akibat dari pengkhianatan ini. Kamu!" Tuan Wijaya menunjuk Nyonya Mariska dengan telunjuk dan Tatapan tajamnya. "Kartika akan sangat membenci mamanya, jika tahu kelakuan mu seperti ini di belakangnya.
"Dan Kamu! hanya pria parasit yang hanya menumpang hidup pada kemewahan yang Saya berikan pada wanita itu." cibir Tuan Wijaya kepada Seno lalu beralih menatap Nyonya Mariska.
Merasa tidak terima dirinya disebut parasit oleh Tuan William. Seno lekas berdiri lalu berjalan cepat ke arah Tuan Wijaya.
Bukk.
.
.
__ADS_1
.
.