Fake Love

Fake Love
Aku Hamil, Mas


__ADS_3

Aline menutup mulutnya sendiri, matanya berkaca-kaca. Air mata tidak bisa ia tahan, lolos jatuh begitu saja saat melihat garis dia di benda yang saat ini ia pegang.


Rasa bahagia, hari bercampur jadi satu. Penantiannya selama ini ternyata terkabulkan.


Aline masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Masih berlama-lama di kamar mandi membuat Bu Winda yang ada di luar cemas menunggunya.


Tok... tok... tok...


"Nak... Bagaimana hasilnya?" Bu Winda mengetuk pintu kamar mandi.


Tak ada jawaban dari Aline, ia malah tersenyum seraya memegangi perutnya.


Kenapa aku tidak menyadari keberadaanya, ya? Sehat- sehat di perut mama sayang.


Aline melihat pantulan dirinya di kaca. Gedoran pintu membuat Aline tersadar.


"Nak... Bagaimana, kamu baik-baik saja kan? Kalau hasilnya masih negatif, tidak apa-apa, belum rejeki kalian. Bukalah pintunya, jangan buat Ibu khawatir!" ucap Bu Winda dari balik pintu.


Krekk!...


Pintu kamar mandi terbuka perlahan.


Aline keluar dengan wajah menunduk. Air matanya kembali mengalir mengingat kebahagiaan yang ia dapat sekarang ini.


Tapi berbeda dengan pemikiran Bu Winda. Beliau mengira tebakannya benar, hasilnya yang Aline dapat adalah negatif.


Bu Winda menarik tubuh Aline kedalam pelukannya. Aline kembali menangis tersedu-sedu.


"Sudahlah... Yang sabar! Dulu papa mertuamu dan mendiang mamanya Galen juga lama mendapatkan anak. Kamu harus sabar, ya!" Bu Winda dengan lembut menenangkan Aline lalu perlahan melepas pelukan mereka.


Ibu dari Aline itu mengusap wajah Laine yang masih berlinang air mata.


"Bu...," Aline mengangkat tespack yang ia pegang, menunjukan nya kepada Bu Winda.


Bi Winda meraih benda tersebut. Beliau membulatkan mata melihatnya.


"Alhamdulillah... Sudah Ibu duga sebelumnya, pasti kamu hamil, Nak!"


Aline mengangguk pelan sambil tersenyum bahagia.


"Kehamilanmu sangat mirip dengan ibu dulu. Ayah mu yang mengalami gejala mual dan pusing. Bahkan Ayahmu sempat di rawat karena gejala itu," ungkap Bu Winda.


"Kenapa aku tidak menyadari itu ya, Bu. Padahal ibu pernah cerita itu kepadaku. Apa akan Ayah lama mengalami sindrom itu, Bu? Aline kasihan smaa Mas Galen. Melihatnya mual dan muntah tiap pagi."


Bu Winda tersenyum kecil mendengar kekhawatiran Aline.


"Sama seperti wanita pada umumnya gejala seperti itu akan berangsur hilang dengan sendirinya, sekarang kamu harus lebih memperhatikan suamimu. Apa kamu tidak mengalami atau merasakan sesuatu?"


Aline terdiam sejenak sambil berpikir, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak Bu, tapi... akhir-akhir ini makanku banyak. Ibu tahu... Aline sampai tidak memakai pakaian dalam karena banyak yang kekecilan," tutur Aline.


"Miskin sekali suamimu sampai pakaian dalam saja kamu tidak punya," sindir Bu Winda.


"Aku dan Galen habis dari apartement, Bu! Jadi wajar baju di sana banyak yang kecil." Aline mengerucutkan bibirnya.


Bu Winda terkekeh melihatnya putrinya.


"Ayo, keluar. Kita beritahu suamimu!" ajak Bu Winda.

__ADS_1


"Bu..." Aline mencekal Bu Winda. "Biar nanti Aline saja yang kasih tau, Mas Galen!"


Bu Winda mengangguk setuju. "Ya, kamulah yang berhak memberitahunya. Tapi setelah ini kamu harus memeriksakan kandunganmu," ucapnya lagi.


"Iya, Bu. Nanti aku sama Mas Galen akan ke rumah sakit memeriksakannya. Aku mau ganti baju dulu, kayaknya nggak betah banget gak pake daleman!" ujar Aline seraya keluar dari kamar Bu Winda.


Wanita yang baru mengetahui kehamilannya itu terlihat sangat bahagia saat ini. Haru bercampur bahagia itu terus mengembangkan senyumannya.


Aline berjalan cepat melangkah ke kamarnya yang ada di lantai dua itu. Bu Winda yang melihat Aline bergerak lincah itu dengan sontak berteriak.


"Aline... Jangan lari, pelan-pelan saja, ingat kandunganmu!" teriak Bu Winda seketika menyadarkan Aline.


"Iya.. Bu!" Dengan pelan Aline menaiki anak tangga. Sudah tak sabar rasanya ingin memberitahu Galen.


.


.


.


Di kamar Aline.


"Kenapa di sini juga sama, kekecilan semua pakaian dalamku!" keluh Aline setelah mencoba satu persatu pakaian dalam yang ia punya.


Beruntung ada beberapa tangtop yang ada penyangga busanya, jadi bisa Aline pakai.


***


Galen dan Ayah Zaki terlalu asik bermain catur hingga ia tidak sadar kalau sudah melewatkan waktu selama dua jam berdua.


Ternyata lebih sulit berpikir makan anak catur daripada bersaing dalam bisnis.


Galen meregangkan otot dengan merentangkan tangannya. Matanya melirik jam tangan yang melingkar ditangannya.


Dengan gerakan tersentak Galen berdiri dari duduknya.


Ya ampun, aku terlalu lama bermain catur.


Aline pasti menungguku dari tadi.


Batin Galen kemudian ia pamit kepada ayah mertuanya, Ayah Zaki yang sedang merebahkan tubuhnya di gazebo.


"Yah, aku ke kamar dulu!" pamit Galen dan mendapat balasan dengkuran kecil dari Ayah Zaki ternyata begitu cepat mertuanya itu tertidur. Pantas saja saat main catur denganya Ayah Zaki terus menguap ternyata ia menahan kantuk hanya demi mengajarkan Galen main bermain catur.


Beberapa kali mengulangi dan mengajarinya cara tepat mematikan raja membuat Galen jadi senang bermain catur. Menurutnya sih melatih otak agar bisa mengatur cara bertahan dalam kekuasaan.


Galen meninggalkan Ayah Zaki sendiri lalu bergegas ke kamarnya untuk menemui Aline. Ia tidak mau Aline cemberut karena keasikan bermain sendiri.


"Sayang..." panggil Galen saat ia memasuki kamar.


Tak ada suara balasan. Tapi ia melihat sosok yang ia cari sedang tertidur lelap di atas tempat tidur.


Galen berjalan mendekati Aline. "Kamu hobi sekali tidur sekarang ini, pantas saja bentuk tubuhmu semakin berisi. Sangat menggemaskan," gumam Galen sambil tersenyum melihat Aline.


Tatapan Galen bergeser pada tumpukan pakaian dalam penutup gunung kembar di samping Aline.


Galen berpikir sepertinya kejadian yang sama dengan di apartement kembali di rasakan Aline. Beberapa pakaian itu tidak bisa dipakainya.

__ADS_1


"Sepertinya kamu memang harus mengganti semuanya, Yang! Tidak hanya si gunung kembar yang makin berisi. Tapi bumper mu juga semakin lebar. Jadi harus beli celana baru juga." Galen menggelengkan kepala memikirkan nya.


Saat Galen hendak membetulkan posisi tidur Aline ternyata gerakan Galen membuat wanita itu terbangun.


"Mas...," ucap Aline seraya mengucek matanya pelan.


"Apa Sayang! Maaf kamu menungguku sendiri di sini!" balas Galen lalu duduk di sisi tempat tidur.


Tiba-tiba Aline langsung memeluk Galen sambil menangis membuat suaminya itu terkejut dan mengira Aline menangis karena salahnya tidak menyusulnya ke kamar. Galen malah asik bermain catur bersama Ayah Zaki.


"Hiks... hiks... Mas... " Aline menagis tersedu sambil memeluk erat Galen.


Galen masih bingung dengan apa yang terjadi. "Kamu kenapa, Yang? Maaf.... Maaf... Mas keasikan main sama Ayah sampai lupa nyusul kamu ke sini!" Galen membalas pelukan Aline tak lupa ia memeluk pelan pundak Aline berusaha menenangkan nya.


"Aku... Aku...!"


"Kamu... Kenapa, Yang?" tanya Galen khawatir. "Jangan buat Mas bingung?" Galen perlahan melepas pelukan mereka, lalu merangkup wajah Aline yang menangis.


Sikap Aline yang gampang menangis dan marah mungkin di sebabkan oleh hormon kehamilan yang ja alami. Buktinya ia sangat begitu perasa terhadap semua kejadian yang ia lalui.


"Aku hamil, Mas," ungkap Aline saat Galen menatap intens kedua matanya.


Galen bergeming mendengar ucapan Aline.


"Mas gak seneng ya, aku hamil," Alin berpraduga kalau diamnya Galen karena tidak senang dengan berita yang ia ucapkan.


Matanya kembali berkaca-kaca. Galen lekas menggeleng kepalanya cepat. Ia tahu Aline pasti salah menduga sikapnya.


"Mas bukannya tidak senang, Sayang. Mas hanya terkejut, Mas bahagia akhirnya perjuangan Mas selama ini berhasil." Galen mencium kening Aline.


Mereka berdua berpelukan erat, saling menyalurkan rasa kebahagiaan. Akhirnya penantian selama beberapa bukan ini membuahkan hasil. Aline hamil, entah berapa minggu usia kandungannya saat ini.


Aline mengungkapkan semuanya kepada Galen yang terus tak henti-hentinya menciumi perut Aline yang masih rata.


"Mas, udah ih... geli," Aline mendorong kepala Galen agar menjauh dari perutnya.


"Mas...!" panggil Galen.


"Hmm... Kita harus memeriksakannya ke dokter. Aku tidak tahu usia kandungannya," ujar Aline.


Galen lekas duduk tegak di samping Aline. "Iya, Sayang. Itu harus, kita akan ke dokter untuk memeriksakannya. sekalian nanti kita mampir dulu beli sesuatu."


"Beli apa, Mas?"


"Beli apa yang kamu mau tadi! Bukannya pakaian dalammu banyak yang tidak muat." Galen menaikkan alisnya jahil sambil menatap tubuh Aline bagian depan yang terlihat menyembul karena Aline memakai dress tanpa lengan.


Aline menyadari tatapan Galen mengarah ke arah mana. Ia lekas menutupinya dengan tangan lalu berjalan cepat menuju lemari hendak mengambil cardigan agar bisa sedikit menutupi pakaian yang Aline kanalan saat ini.


.


.


.


Sebelum up yang baru mampir ke karya temanku ya gaes.


__ADS_1


__ADS_2