Fake Love

Fake Love
Menyelesaikan Tanggung Jawab


__ADS_3

Percakapan Bu Winda dan Galen berakhir tatkala Aldo datang membawa agenda rapat penting hari ini. Jadwal kerja yang begitu padat sebelum Galen libur dari pekerjaannya, membuat pria yang sedang duduk bersisian dengan Bu Winda itu harus segera pamit ke kantor.


Setelah memberi tahu jadwal Galen. Aldo bergegas keluar dari ruang perawatan itu. Ia akan menyambut Oma Ratih dan Kartika yang akan datang menjenguk.


Semalam Oma Ratih mencari tahu keberadaan Galen, kenapa cucunya itu tak kunjung pulang ke rumah. Aldo sedikit menceritakan hal yang terjadi terhadap Aline.


Dan pagi Ini wanita paruh baya itu bersikeras ingin menemui cucu dan calon cucu menantunya itu, padahal kondisi Oma Ratih sendiri sedang tidak stabil. Sekarang ini Oma Ratih harus di bantu tongkat untuk bisa berjalan. Satu kaki kanannya mengalami kelumpuhan ringan. Usia yang semakin tua membuat dia sering sakit-sakitan.


Galen menghela napas berat. Saat ia harus pergi meninggalkan Aline. Sebelum Galen beranjak, Oma Ratih dan Kartika tiba di ruang perawatan Aline.


Dengan di bantu Kartika, Oma Ratih berjalan pelan memasuki ruang perawatan.


"Assalamualaikum," ucap Oma pelan.


"Wa'alaikumussalam," jawab Galen dan Bu Winda kompak.


Galen lekas berdiri menghampiri Oma, Begitu juga dengan Bu Winda.


Galen meraih tangan yang terlihat keriput itu lalu menciumnya takzim, dipeluknya tubuh wanita paruh baya itu.


Pria bertubuh kekar dan tampan itu menunjukan mata yang berkaca-kaca di hadapan Omanya. Ingin rasanya menumpahkan tangis dipeluakan hangat wanita yang selalu menjadi tempatnya mengadu itu.


Galen menengadah wajahnya ke atas. Tak membiarkan setetes pun air matanya turun dari kedua mata elangnya.


"Kenapa tidak mengabari Oma semalaman?" ucap wanita paruh baya itu saat pelukannya merenggang.


"Maaf, Oma!" Galen melepaskan pelukannya.


Oma Ratih hanya menepui pundak pria itu pelan. "Kamu harus kuat, tunjukan ketegaranmu di hadapan Aline, jangan cengeng!" Oma Ratih beralih kepada Bu Winda.


Bu Winda mendekati Oma Ratih. Keduanya saling berpelukan. Bu Winda tak bisa berkata apapun. Ia menumpahkan tangisnya dalam pelukan Oma Ratih.


Suasana ruang perawatan itu menjadi penuh kesedihan. Seseorang yang menjadi tokoh utama dalam kesedihan dalam ruangan itu, telah terlelap karena obat yang ia minum tadi.

__ADS_1


"Sabar, ya!" Oma Ratih merengangkan pelukannya lalu mengelus pelan bahu Bu Winda, seakan memberikan kekuatan kepada Ibu dari calon cucu menantunya itu.


Hanya anggukan kecil, tanggapan dari Bu Winda. Bergantian Kartika memberikan salam dan pelukan singkat untuk Bu Winda.


Oma Ratih dituntun Galen untuk duduk di sofa. Setelah Oma Ratih duduk, tak lama Galen pamit. Pria itu melihat waktu di jam yang melingkat di tangan kirinya.


"Oma, maaf! Galen harus pergi ke kantor sebentar, ada rapat penting yang harus Galen pimpin pagi ini."


"Sepagi ini?" tanya Oma Ratih heran.


"Sudah jadwalnya, Oma!"


"Apa tidak bisa diwakilkan Aldo?"


"Ini sudah tanggung jawab Galen, Oma. Galen janji setelah semua urusan kantor selesai, secepatnya akan kesini lagi." Galen menatap Aline yang tertidur dengan posisi miring.


Selang infus sudah tak terlihat di pergelangan tangannya. Cukup satu botol infus untuk memulihkan kembali tubuh Aline yang terlihat lemah akibat semalam.


Galen membuang napas berat. Ada rasa berat dalam hatinya juga, saat akan pergi meninggalkan Aline. Tapi tanggung jawab yang ia pegang saat ini tidaklah mudah. Menjadi pemimpin yang bertanggung jawab atas ratusan karyawan yang bergantung padanya harus ia pikirkan.


"Biarkan Galen menjalankan tugasnya dengan baik, Oma!" sela Ayah Zaki yang baru saja datang memasuki ruangan.


Beliau mendengar perdebatan antara Oma dan cucunya itu.


Ayah Zaki baru saja kembali setelah tadi pagi pamit untuk mencari sarapan pagi, semalaman Bu Winda dan dirinya tidak sempat makan sampai pagi ini mereka baru merasakan perut yang sakit akibat belum terisi. Ayah Zaki tidak mau Istrinya yang mempunyai magh berat itu ikut sakit. Beberapa bungkus nasi beserta lauk sudah ia letakkan di atas meja.


"Ayah tau, tanggung jawabmu kali ini juga besar. Pergilah!" seru Ayah Zaki yang mendekati Galen dan menepuk pundak nya.


Galen menatap Ayah Zaki, terlihat tatapan khawatir dari manik mata Galen.


"Tenanglah, Aline akan baik-baik saja. Selesaikan tanggung jawabmu dengan baik di kantor. Bukankan dua hari lagi kamu mengambil cuti?" tanya Ayah Zaki kepada calon menantunya itu.


Galen mengangguk, "Iya, Yah!"

__ADS_1


Kini giliran Ayah Zaki yang menghela napas berat. "Pergilah, tapi sebelumnya Ayah minta, kita bicarakan kembali rencana pernikahan kalian. Apalagi dengan adanya kejadian ini. Banyak hal yang akan Ayah tanyakan kepada kamu!"


"Apa, Yah?"


"Nanti saja, jangan terlalu dipikirkan. Sana, Aldo sudah gelisah menunggumu di luar. Tunjukkan kedisplinan sebagai pemimpin di kantor. Jangan menyepelekan tanggung jawab. Ayah yakin kamu bisa membedakan mana urusan pribadi dan urusan kantor. Kamu harus pintar menempatkan posisi." ucapan Ayah Zaki seperti nasehat untuknya.


Galen terdiam sesaat. "Baiklah, Terima kasih, Yah." tepukan penguat Ayah Zaki berikan kepada Galen. Lalu ia beranjak pamit kepada Oma Ratih, Bu Winda dan Kartika. Sebelum Galen pergi, ia menghampiri Aline yang masih tertidur lelap.


Satu kecupan yang ia berikan di kening Aline. Seakan berat meninggalkan wanita yang ia cintai itu.


Rasa sesak kembali ia rasakan melihat wajah lebam Aline. "Aku akan balas semua yang ia perbuat kepadamu, Yang! Kamu harus kuat, kita akan melewati ini bersama." Tak mau lebih lama menatap Aline. Galen bergegas keluar ruangan.


"Hati-hati, Gal ingat jangan mengandalkan emosi, lakukan dengan pikiran tenang. Jangan persulit diri kamu sendiri." ucap Oma Ratih saat Galen hendak keluar ruangan.


"Iya, Oma!"


"Semuanya, Galen pergi dulu, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam, " jawab semuanya kompak.


.


.


.


Bersambung>>>>


.


.


..

__ADS_1


__ADS_2