Fake Love

Fake Love
Ora Beach Resort 2


__ADS_3

Hilanglah sudah rasa lelah yang dirasa Galen. Melihat kebahagiaan Aline saja rasanya lelah terbayarkan sudah.


Galen berjalan mendekati Aline. Menyelipkan kedua tangan di samping tubuh Aline. Memeluk tubuh ramping itu dari belakang.


"Kamu kelihatannya senang sekali?" tanya Galen sembari meletakkan dagunya di pundak Aline.


Aline mengangguk pelan. Binar matanya tidak bisa dibohongi. Rasa senang dan bahagia berada di tempat itu. "Suasana di sini, tenang, udaranya masih sangat segar meski waktu sudah siang hari tapi rasa sejuk masih terasa." ungkap Aline perlahan menghirup udara agar masuk ke dalam rongga pernafasannya.


Dengan cepat Galen membalikkan tubuh Aline agar menghadap dirinya. Keduanya saling menatap, saling diam. Aline sampai tertunduk malu karena tatapan Galen padanya.


Perlahan tangan kekar Galen meraih wajah Aline yang menunduk. kedua netra kembali bertemu. Tanpa banyak kata, Galen memiringkan wajahnya. Aline pun memejamkan mata seakan menyambut sentuhan yang akan Galen berikan padanya.


Perlahan tapi pasti. Galen menempelkan bibirnya pada bibir Aline yang berwarna merah jambu itu. Bibir itu seakan memanggil dirinya untuk segera menikmatinya. Galen perlahan memainkan lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut. Saling memagut, saling menyesap. Lidahnya berputar di dalam mulut, bermain dengan lidah Aline yang sudah semakin pintar membalas sentuhan bibir Galen.


Aline mengalungkan tangannya di leher Galen. Sedangkan Galen menarik pinggang Aline agar semakin merapat pada tubuhnya. Mereka semakin leluasa saling menyalurkan rasa gelora yang selama ini terpendam.


toktoktok...


Suara ketukan dari pintu kayu begitu nyaring terdengar. Galen sama sekali tak berpengaruh dengan suara itu. Ia masih tetap melanjutkan kegiatannya.


Tak lama, tautan bibir itu terlepas. Galen beralih memberikan sentuhan pada telinga Aline. Tubuh Aline terasa berdesir oleh sentuhan itu.


Hembusan napas terasa hangat. Aline mencoba mencegah Galen untuk berbuat lebih padanya. Kesadarannya masih terjaga mendengar pintu kamar kembali di ketuk oleh seseorang. Galen mengumpat kesal kepada orang di balik pintu itu.


"Ckk ... Siapa sih? mengganggu saja!" umpat Galen saat keduanya melepas pagutan bibirnya.


"Biar aku yang buka pintunya, Mas!" Aline tersenyum kecil melihat kekesalan Galen.


"Ya, Kamu saja yang buka pintunya, Yang! Kalau aku, bisa jadi babak belur itu orang sudah menggangu waktuku bersamamu!" ucap Galen yang langsung melempar tubuhnya di atas tempat tidur empuk berlapis sprei warna putih itu.


Aline menggelengkan kepala. Lekas ia berjalan mendekati pintu.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. Dua orang petugas hotel berdiri di sana. Satu orang membawa koper yang ternyata milik Aline dan Galen.


Satu orang lagi membawa troli makanan dimana tersaji berbagai makanan dan minuman di atasnya.


"Permisi, Nona! Maaf, saya menganggu waktu anda. Kami hanya mengantarkan koper milik Anda. Dan kami suguhkan makanan pembuka untuk para pengunjung resort saat hari pertamanya di sini!" ucapnya sopan kemudian sedikit membungkukkan badan.


"Oh, Ya. Tolong bawa masuk ke dalam koper itu," titah Aline seraya membuka pintu lebar. Agar mempermudah para petugas hotel membawa masuk barang-barang milik Aline dan Galen.

__ADS_1


Tak lupa petugas itu juga membawa masuk makanan yang sudah disiapkan hotel untuk mereka.


Ternyata Bara memberi hadiah tiket liburan kelas VVIP, semua jamuan istimewa mereka dapatkan. Sungguh hadiah yang tidak membuat kecewa bagi Galen. Meski awal keberangkatan sangat menjengkelkan karena jaraknya yang lumayan jauh.


Mengetahui akan jauh seperti itu jika lewat darat, Galen pikir bisa menggunakan helikopter saja untuk pergi ke Ora Beach Resort. Itupun nanti jika ia dan Aline ingin pergi ke sana lagi suatu saat nanti.


"Selamat menikmati suasana di Ora Beach Resort, Tuan... Nona...! Silakan hubungi pusat hotel jika Anda membutuhkan sesuatu!" ucap satu petugas sopan kemudian mereka berdua undur diri dari tempat itu.


Pintu kamar kembali di tutup Aline. Ia berjalan mendekati makanan yang di letakkan di meja yang terdapat sofa panjang di sampingnya.


Melihat ada obat dan air hangat yang tersedia di antara makanan itu, Aline mendelik ke arah Galen yang sedang tidur terlentang di atas kasur sambil memejamkan mata.


Lekas Aline berjalan menghampiri Galen. "Mas ... Kamu sakit?" tanya Aline yang berdiri tepat di depan Galen.


"Sedikit pusing! mungkin karena mabuk perjalanan!" jawab Galen perlahan membuka mata.


"Ya sudah, aku ambilkan obatnya ya? Biar cepat di minum!" Aline hendak beranjak dari hadapan Galen, tapi pria yang tadinya dalam posisi tubuh terlentang lekas bangun lalu meraih tangan Aline kemudian menariknya.


Bugh...


Aline terjatuh tepat di atas tubuh Galen.


"Kamu tau tidak caranya agar aku bisa sembuh dari rasa pusing, yang Mas di rasa saat ini?" Aline menggelengkan kepala memberi jawaban kepada Galen.


Dengan cepat Galen membalikkan posisi tubuh. Saat ini Aline lah yang berada di bawah tubuh Galen.


Tatapan mendamba terpancar dari manik mata Galen. Aline begitu berdebar dalam situasi ini. Mungkin kini saatnya ia pasrah menyerahkan diri kepada suaminya.


Pagutan bibir yang sempat tertunda kini berlajut kembali. Kali ini sentuhan itu seakan meminta lebih, keduanya terdiam sesaat kala Aline melepas lebih dulu permainan mereka. Napas yang tersengal akibat kehabisan oksigen.


Aline menatap sayu pria yang ada di hadapannya itu. "Mas... Maaf, jika aku tidak bisa menjaga kehormatan ku sebelum menjadi istri mu." Aline memejamkan matanya sesaat. Lalu kembali membuka mata. "Maaf... akan membuatmu kecewa nantinya," ucap Aline pasrah.


Ia masih berpikir kalau kesuciannya telah direnggut pria brengseknya pernah berbuat jahat kepadanya.


Tanpa memberikan jawaban Galen kembali meraup bibir Aline, bermain bibir dengan lembut lalu menyusuri leher putih istrinya itu, perlahan membuka pakaian yang menutupi tubuh bagian atas itu. Perlahan tapi pasti Galen menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Aline maupun di tubuhnya.


Suasana sejuk yang terasa di kamar itu, kini berubah menjadi sedikit panas. Bukan dari panasnya matahari di siang hari, melainkan dari pancaran gelora yang beradu dari penyatuan kulit yang saling bersentuhan.


Galen menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Jejak kepemilikan ia tinggalkan di beberapa bagian tubuh Aline.


Tubuh Aline terdorong ke atas kala sentuhan terus ia dapatkan. Galen semakin leluasa menjelajahinya. Lembut, perlahan tidak menggebu. Desiran- desiran gejolak sama-sama mereka rasakan. Galen mengangkat wajahnya menatap wajah cantik Aline yang perlahan membuka matanya yang sayu akan kenikmatan yang baru setengah ia rasakan. Pria itu meminta persetujuan Aline untuk hal lebih yang akan ia lakukan.

__ADS_1


"Ini akan membuatmu sedikit sakit," ucap Galen menatap Aline.


Aline mengangguk pelan seakan memberi ijin kepada Galen untuk berbuat lebih kepadanya.


Dengan memejamkan mata perlahan, Aline memberikan keleluasaan Galen terhadap dirinya. Gelora kamar itu semakin memanas, deru napas kembali bergejolak dengan seiringnya penyatuan tubuh yang Galen lakukan kepada wanita yang sangat ia cintai. Dengan perlahan dan sangat hati-hati Galen melakukan penyatuan tubuh mereka.


Galen merasakan Aline mencekram punggungnya. Ia tahu Aline pasti merasakan sakit saat penyatuan mereka.


"Maaf, Sayang!"


"Sakit, Mas!" lirih Aline pelan saat merasakan sesuatu memasuki inti tubuhnya.


Galen dengan sangat lembut dan perlahan melakukannya. Ia tahu ini yang pertama buat Aline, sedangkan Aline menyangka dirinya sudah tidak suci. karena Aline belum bisa membedakan mana kesucian yang sudah terenggut dan masih utuh terjaga.


Siang itupun menjadi siang terindah bagi kedua pasangan pengantin itu. Gelora panas itu makin terasa saat penyatuan diri dua insan yang saling mencintai itu mereguk manisnya buah penantian yang selama ini mereka rasakan.


Jika orang lain menunggu malam pertama berbeda dengan Aline dan Galen. Suara kicauan burung dan sejuknya tempat itu menjadi saksi menyatunya cinta mereka dalam siang pertama bukan malam pertama.


.


.


.


.


.


Baca kelanjutan selanjutnya ya......


Yeayy....... Akhirnya..... nulis bab ini kelar juga ya.... Sumpah deh, kayaknya mending praktek daripada teori...๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


Belah duren di siang hari paling enak dengan suami.... di belai bang di belai, silahkan di belai.


Kata siapa harus dengan suami, sama teman boleh, sama pacar juga boleh banget....... tapi belah duren nya, duren beneran yang berduri ya. gratisss pasti tambah enak....


Kalau sama suami belah duren yang berambut, mahal juga pake ijab kabul sama mas kawin.๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Baca cerita teman author ya.. ini kisahnya


__ADS_1


__ADS_2