Fake Love

Fake Love
Mobil yang hilang kendali


__ADS_3

“Pakai sabuk pengamannya,” titah Galen cepat kepada Aline.


“Sabar, ih ..., lu mah romantisnya depan banyak orang doang. Pandai bersandiwara kaya Derald,” celetuk Aline sontak membuat Galen langsung menoleh kearahnya, memberikan tatapan tajam karena sudah menyamakan dirinya dengan Derald si penipu.


“Ops ...Sorry.” Aline membekap mulutnya sendiri, lalu menghindar dengan menarik seatbelt agar aman dalam berkendara.


Aline terlihat kesulitan menarik seatbelt di sampingnya.


“Ih, susah amat sih,” gerutu Aline saat seatbelt itu tak bisa ditariknya. Padahal kegugupan lah yang membuat Aline menjadi serba salah dalam bersikap.


“Gimana sih? udah gak bisa nyetir, bahkan narik seatbelt aja gak bisa, ngapain punya mobil?” cemooh Galen. Tubuh pria beranting di salah satu telinganya dan berwajah tampan itu menjadi lebih dekat dengan Aline saat berusaha membantunya.


Aline merasakan jantungnya kembali berdegup kencang saat tubuh mereka hampir tak berjarak. Ia memalingkan wajahnya keluar jendela mobil. Lalu sedikit menggeser tubuhnya menempel ke pintu mobil karena wajah Galen hampir saja bersentuhan dengan wajahnya. Tapi sayang setelah seatbelt terpasang sempurna membelit tubuh Aline. Anting cantik yang menggantung di telinganya tersangkut di baju bagian pundak, saat dirinya menyeka wajah dengan lengannya. Bahan barukat tipis yang melekat ditubuhnya membuat aksesoris itu tersangkut di lengan bawah pundak.


“E-eh ko nyangkut gini?,” seru Aline saat telinganya tertarik menyebabkan gaun berlapis barukat tipis itu.


Galen menoleh ke arah Aline.


“Gal ... Tolongin! Kalau gaunnya rusak gimana?” Keluh Aline.


“Ck ... sini, maju sedikit! Susah ngelepasin antingnya, gak keliatan kalau jauh begitu!” titah Galen.


Tubuh Aline mendekat lalu menghadap ke arah Galen. Hembusan napas terasa hangat saat wajah Galen berada di sisi pipinya. Galen harus berhati-hati melepaskan anting yang tersangkut pada gaun tersebut.


Pria berwajah tampan itu makin mendekatkan wajahnya karena anting yang dipakai Aline berukuran kecil. Pria itu agak kesulitan untuk membukanya.


Aline terdiam karena kedekatan mereka begitu dekat.  Serba salah karena takut degupan jantungnya terdengar oleh Galen. Wangi tubuh Galen tercium menenangkan jiwa Aline.


“Selesai,” ucap Galen ketika ia berhasil melepaskan anting dari gaun berlapis barukat itu.


Refleks Aline menoleh untuk melihat ada sobekan atau tidak pada gaunnya, tapi hidung bangir milik Galen dan Aline beradu saat itu, membuat kedua mata orang yang berhadapan itu saling menatap.


Mata bulat berbulu mata lentik itu hanya bisa mengedip pelan melihat kedekatan wajah mereka. Tatapan Galen begitu hangat memancarkan kasih sayang di dalamnya.


Lama mereka terdiam masih nyaman dengan tatapan yang memancarkan kenyamanan cinta di sana.


Aline sedikit menunduk untuk memutus tatapan Galen yang membuat perasaan yang tak biasa itu semakin tumbuh. Sedari tadi jantungnya terus memompa cepat membuat debaran semakin terasa.


Galen menyentuh dagu Aline yang makin tertunduk. Diangkatnya agar kembali menatap dirinya.


“Gue enggak pernah bisa bersandiwara tentang perasaan! lu orang yang udah buat gue lupa akan keterpurukan perasaan ini, sekarang lu adalah penghuni hati gue saat ini, Pol!” ucap Galen pelan tapi begitu menyentuh perasaan Aline.

__ADS_1


Kata-katanya membuat Aline terdiam sesaat, seperti ungkapan cinta namun tak secara langsung berbicara. Perlahan Galen mendekatkan wajahnya ke arah Aline.


Gadis berbulu mata lentik itu memejamkan matanya, perlahan Ia rasakan hembusan napas itu semakin dekat. Galen menempelkan bibirnya dengan bibir merah muda ranum milik Aline lalu menyesap perlahan.


Aline membuka matanya terkejut, saat merasakan sesuatu menempel dan memberikan sensasi yang baru dirasakannya. Dan itu pengalaman pertama untuknya. Aline diam tak membalas karena memang tak mengerti harus berbuat apa.


Galen melepas begitu saja pugutan bibir hangat itu. Aline lekas menunduk untuk menahan malu saat Galen terus menatapnya.


“Maaf! Kamu harus tau, Aku gak pernah bersandiwara dengan perasaanku padamu, Cepol!"


"Aku tulus sayang sama Kamu.”


“Kamu ... gak marah 'kan?” Galen meraih tangan Aline lalu menciumnya lembut.


Aline mendongak lalu membalas tatapan Galen kemudian menggeleng pelan untuk menjawabnya. Pria yang mengungkapkan perasaanya itu tersenyum bahagia merasa Aline mempunyai perasaan yang sama dengannya.


Galen kembali memiringkan kepala lalu mendekatkan wajahnya dengan Aline. Bibir merah muda itu kembali membuatnya candu. Pugutan hangat itu mengundang desiran aneh di tubuh keduanya. Seiring permainan hangat dan pelan yang Galen berikan. Aline mulai bisa mengimbangi permainan bibir itu.


Semakin lama suasana di dalam mobil kian memanas. Galen melepaskan pugutan hangat lalu mengusap pelan bibir merah muda milik Aline yang terlihat sedikit bengkak di bibir bawah akibat ulahnya kemudian mendaratkan kecupan di keningnya. Gadis itu menarik napas panjang seakan kehabisan udara. Itu membuat Galen tertawa ke arahnya.


“Beruntungnya Aku mendapatkan ciuman pertamamu,”


Aline menutup wajah dengan kedua tangannya merasa malu dengan ucapan Galen. Ciuman itu adalah yang pertama baginya.


“Ok ... Ok ...,sekarang kita pulang!”


Aline melepaskan kedua tangan dari wajahnya. Galen meraih tangan kanan Aline lalu menggenggamnya erat. Kini, tak ada panggilan lu dan gue antara mereka.


Ungkapan perasaan yang terucap oleh Galen telah merubah keraguan Aline terhadap lelaki. Ia berharap, semoga kali ini tak ada cinta palsu lagi untuknya.


Galen mengemudikan mobil dengan satu tangan, karena tangan yang satunya  betah menggenggam tangan Aline. Mobil yang dikendarainya melaju perlahan meninggalkan Gedung Balai Permadani, membelah jalanan Ibu Kota yang tengah ramai malam itu.


Sepanjang perjalanan Aline tersenyum mengingat pengalaman pertamanya bersama Galen. Dulu saat berpacaran lama dengan Derald, Aline hanya mendapat pelukan dan kecupan di kening. Itupun setelah Aline memberikan uang yang Derald minta. Derald akan bersikap sangat manis setiap kali meminta tolong kepada Aline, itu juga tak jauh soal uang.


Aline duduk bersandar pada sandaran bangku penumpang, melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Meskipun tak bisa mengemudi tapi ia bisa merasakan ada keganjalan dengan mobil yang ditumpanginya.


“Gal ... kenapa?” tanya Aline ke arah Galen.


Mobil yang dikendarainya seperti hilang kendali. Galen sempat beberapa kali menginjak rem tapi tak berfungsi. Kepanikan mulai terlihat di wajah tampannya. Waktu yang sudah larut malam membuat suasana jalanan tak seramai jam sibuk di kota besar itu.


Makin lama mobil itu hilang kendali, Galen berusaha menghindari kendaraan besar di depannya. Galen tidak mau ambil resiko terlalu besar akan keselamatan mereka. Pasti akan berakibat fatal jika menabrak kendaraan besar tersebut.

__ADS_1


“Gal ... awas ...” teriak Aline. Terlihat wajah tegang di sana. Galen masih terus berusaha menghindari mobil yang berada di depannya, dengan gesit ia berbelok kanan dan kiri. Galen seperti berpacu di area balap mobil.


“Sepertinya ada yang sengaja memutuskan kabel rem mobil ini!” ucap Galen yang masih terus mengendalikan mobil.


“Gal .. Aku takut,” ucap Aline dengan suara gemetar dengan wajah ketakutan.


“Kamu tenang pegangan yang kuat, Aku akan berusaha menghentikan mobil ini.”


Mobil yang dikemudikan Galen berbelok cepat untuk menghindari mobil yang berada di tengah, Ia dibuat terkejut dengan adanya mobil sedan yang berhenti di pinggir jalan. Tanpa bisa menghindar Galen terpaksa membuang setir cepat ke luar jalur perjalanan.


 


Brak ....


Suara benturan keras terdengar saat mobil yang membawa dua orang yang baru saja menyatakan perasannya menabrak tiang pembatas dan menabrak tiang besi di depannya.


“Aline ...” teriak Galen seraya meraih Aline ke dalam pelukannya saat tangannya melepas kemudi stir mobil.


Galen berusaha melindungi Aline dari benturan yang akan terjadi dari kecelakaan itu.


"Aaww ... Aa -Line," panggil Galen dengan suara yang makin menghilang. Suaranya terdengar seperti kesakitan dan sempat memanggil nama Aline.


Aline merasa tubuhnya terguncang sedikit membentur jendela mobil tapi pelukan itu melindunginya dari kaca mobil yang pecah akibat membentur tiang besi yang jatuh di atas mobil mereka..


.


.


.


bersambung


Jangan lupa dukungannya ya....


buat karya Teteh Author..


s


Salam hangat dari Teteh Mayya_zha😘😘😘


 

__ADS_1


 


__ADS_2