
"Mau kemana, Mas?" tanya Aline. Wanita yang sedang menyusui Baby Zayn langsung terbangun setelah melihat jagoannya tertidur.
Aline merapikan pakaian bagian depan lalu mengikuti langkah suaminya.
Galen langsung melangkah ke ruang ganti setelah menerima sebuah panggilan dari ponselnya.
"Mas mau ke kantor Bara, Kartika telpon dia bilang Bara mengunci diri di dalam ruangan dari tadi sore."
Aline menyatukan kedua alis yang mengerut. "Ko, Bisa?"
Galen mengangkat bahunya. "Entalah, dia memang suka seperti itu, lebih memilih menyendiri lalu melampiaskan semua kegalauan dalam diri lewat sebuah amukan."
"Ko aku jadi ngeri, Mas!" Aline bergidik mendengarnya.
"Dia tidak akan menyakiti seseorang. Bara hanya melampiaskan pada benda saja. Itu sudah jadi kebiasaannya." Galen paham jika Bara melakukan seperti itu, berarti perasaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Mas pergi dulu!" Galen mencium bibir Aline singkat. Lalu meraih kunci mobil.
Galen bergegas pergi, sebelum keluar kamar tidak lupa ia mendekati Baby Zayn terlebih dulu. Memberinya kecupan di pipi gembulnya.
"Daddy pergi dulu, Sayang!"
"Hati-hati, Mas!" ucap Aline dengan senyuman manisnya.
"Kenapa rasanya berat sekali kali ini melangkah, apalagi bekal senyuman dari istri tercinta membuat Mas jadi ingin berdua saja. Ah... ada-ada saja kelakuan bujang lapuk itu!" keluh Galen.
Pria itu merasa berat melangkah keluar dari rumahnya. Apalagi saat melihat Baby Zayn tertidur pulas. Dari tadi Galen menunggu saat itu, dimana dia bisa berduaan dengan Aline, saat Baby Zayn tertidur. Begitu sulit waktunya jika bayi montok itu membuka mata.
Aline habya akan fokus kepada baby zayn.
Semakin hari istirnya itu semakin terlihat menggoda.
Terkadang Daddy dan Baby Zayn itu saling berebut sumber susu bergizi yang Aline miliki. Bentuk dan ukuran yang semakin pas dan aduhai, membuat Galen makin betah bermaja di gunung kembar itu.
Cekittt...
Cubitan kecil ke perut Galen dari Aline membuat suaminya itu meringis kesakitan.
"Cepat sana! Bantu, Mas Bara. Kasihan dia."
" Iya... Iya... Duh, Yang bukannya kasih ciuman penyemangat malah ngasih cubitan." Galen mengelus perutnya lalu melangkah keluar kamar.
"Kalau aku kasih dikit, udahannya bisa lama, nanti nyamber kemana- mana!" seloroh Aline.
Galen pun bersiap pergi. Ia melarang Aline yang akan mengantarkannya sampai teras depan sama seperti biasanya. Jika Galen keluar dari rumah, Aline dengan setia mengantarkan kepegiannya.
***
Sesampainya di kantor Bara, Galen melongo melihat keadaan ruangan yang seperti kapal pecah.
Ia hanya melihat Joni yang sedang memunguti berkas di bantu Sandra. Gadis itu terus menguap karena kantuk. Lesti yang tadi kehadirannya masih stand bay harus segera pulang karena anaknya membutuhkan dirinya. Joni mengijinkannya karena ia tahu kalau Lesti adalah seorang ibu rumah tangga.
__ADS_1
Tidak ada yang Galen ucapkan ketika pertama kali ia datang sampai beberapa saat. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Kelakuanmu tidak pernah berubah. Setidaknya cari tempat dulu, kalau mau bikin kegaduhan kayak gini. Kamu harus bayar triple buat bayar Joni dan Lesti buat beresin berkas yang berantakan ini," ucap Galen memecah keheningan yang ada.
Kartika sampai tertidur di sofa karena tak ada argumen yang keluar dari kakak beradik tak sedarah itu.
Si pemilik ruangan sama sekali tidak terusik dengan ucapan Galen. Bara yang sudah merasa puas telah mengeluarkan segala gundah di hati, duduk santai di kursi kebesarannya.
"Bisa gak sih, meluapkan kekesalan itu tidak harus begini caranya. Bagaimana nanti jika kamu sudah menikah? Sebenarnya apa yang terjadi?" cecar Galen dengan banyak pertanyaan.
Kartika yang sangat mengantuk dengan cepat tertidur. Padahal tinggal sedikit lagi semua berkas terkumpul. Kartika meras lega setelah mendapati Bara yang baik-baik saja. Gadis itu sangat ketakutan ketika tahu Bara mengamuk. Karena ia pernah melihat kakak pertama nya itu kehilangan banyak darah akibat tangan yang terkena serpihan kaca.
"Jon, cukup kumpulkan saja berkas-berkas itu! Biar besok Lesti yang menyusun ulang. Sekarang tolong antarkan Kartika pulang!" titah Bara kepada asistennya itu.
"Siap, Pak Bos!"
Joni sangat bersemangat malam ini. Ia akan mengantar wanita cantik yang ia kagumi tadi.
"Dek... Bangun!" Galen membangunkan Kartika yang tertidur di sofa.
Galen paham kalau Bara ingin berbicara berdua saja dengannya.
"Ngantuk banget, Ka!"
"Kamu bisa tidur di perjalanan. Pulanglah! Oma pasti cemas menunggumu," ucap Galen. Kartika lekas terbangun dan mengikuti perintah Kakak keduanya itu.
"Baiklah, tapi Kak Galen akan menemani Kak Bara di sini 'kan?" anggukan dari Galen membuat Kartika bersedia untuk pulang.
Kini, hanya ada mereka berdua. Keadaan ruangan yang berantakan tak mereka hiraukan. Yang terpenting berkas-berkas penting aman terselamatkan.
Bara menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar. Saat ini Bara butuh seseorang untuk di ajak bertukar pikiran.
Selama ini masalah pribadi ia tanggung sendiri, tidak pernah mengungkapkan kepada siapapun. Kecuali masalah kantor, solusi dan masukan selalu ia dapat dari Papa Wijaya dan Rekan bisnis yang lain.
Kehidupan pribadi Bara sangat tertutup. Banyak yang mempertanyakan mengenai siapa calon pendampingnya. Tapi tidak sedikitpun Bara angkat bicara soal itu.
"Sandra hamil?" cetus Bara.
Uhuk... uhuk...
Galen tersedak kopi panas saat mendengar ucapan Bara. Lekas ia mengambil tisu, membersihkan sisa kopi di bibirnya. Lidahnya terasa panas saat itu.
"Kamu menghamilinya?"
Bara mengangkat bahu sebagai jawabannya.
Galen semakin bingung dengan keadaannya.
Akhirnya Bara menceritakan kejadian siang itu. Tak ada yang terlewati. Seminggu sebelum kejadian ini, Bara sempat menanyakan soal Sandra kepada Galen karena wanita itu pernah dekat dengannya. Barangkali ia bisa menemukan keberadaan Sandra.
Tapi sayangnya tak ada informasi apapun yang Sandra dapat dari Galen. Wanita itu benar-benar tidak mempunyai kerabat selain Bi Erma yang berada di tahanan saat ini.
__ADS_1
Galen mengerti apa yang terjadi. Kesalahan satu malam itu membuat tertarik dan menyimpan perasaan kepada Sandra.
"Apa kamu sudah tanyakan langsung kepadanya siapa Tuan Braja?" Galen kembali bertanya.
"Tidak perlu di tanyakan, dari sikap dia memperlakukan Sandra dengan perhatian dan kekhawatiran pun aku sudah bisa menduga bahwa kemungkinan pria itu adalah suaminya." tutur Bara.
"Hanya dugaan 'kan?"
Bara mengangguk pelan.
"Jangan ambil keputusan sendiri. Kamu tidak tahu apa yang terjadi selama kalian tidak bertemu. Kenapa tidak menanyakan lebih jelas kebenarannya. Salah jika kamu meninggalakan dia begitu saja!"
Bara diam sejenak mencerna ucapan Galen.
Bertukar pikiran memang satu-satunya cara untuk mengambil keputusan.
"Bagaimana jika memang benar bayi yang ada dalam kandungan Sandra adalah darah daging. Dan Sandra mengira kamu smaa sekali tidak peduli dengannya. Asal kamu tahu, Sandra termasuk wanita kuat yang lebih memilih menanggung semuanya sendiri!"
Bara menoleh ke arah Galen membenarkan ucapan pria itu.
"Berarti aku harus susul dia untuk mencari tahu kebenarannya?"
"Benar apa kata orang kalau seseorang sedang jatuh cinta bisa membuat orang itu seketika menjadi bodoh," ejek Galen.
"Bukannya sama sepertimu!" balas Bara tidak mau kalah.
"Yang penting aku dan Aline sudah menikah dan tidak ada salahnya bucin smaa isti sendiri. Sekarang mau tunggu apalagi, bukankah alamat Tuan Braja ada di berkas perjanjian itu, kami lebih gampang mencarinya. Dan secepatnya bertemu Sandra untuk mendapat penjelasan darinya."
Ucapan Galen membuat Bara bergegas mendekati tumpukan berkas yang sudah dikumpulkan Joni.
Satu persatu ia memeriksa berkas-berkas itu. Mencari surat perjanjian nya dengan Peternakan Greenfills. Sedikit memakan waktu karena susunan berkas itu tidak sesuai urutan.
Bara dibuat pusing sendiri oleh perbuatannya.
Galen menyunggingkan senyum kepuasan. Kakak angatnya ternyata sedang jatuh cinta.
"Kenapa hanya diam saja, bantu aku?" titah Bara kepada Galen yang diam saja memperhatikannya.
Galen berdiri dari duduknya, mendekati Bara yang sibuk meneliti berkas sekalian menyusunnya sesuai urutan masing-masing file.
"Maaf... Bekerja keraslah sendiri! Karena pria sejati adalah pria yang bertanggungjawab atas perbuatannya. Kamu harus segera mencari Sandra dan memperranggung jawabkan perbuatanmu, jika memang dia hamil olehmu. Dan satu lagi kamu juga harus bertanggung jawab sama kekacauan yang kamu buat sendiri. Susun berkas sesuai urutan, Selamat bekerja lembur! Hahaha...." Galen tertawa puas setelah mengejek Bara. Pria yang ingin segera pulang itu berlalu meninggalkan Bara seorang diri.
"Aline... Mas pulang! Kita lanjutkan pekerjaan yang tertunda membuat adik untuk Baby Zayn." Galen kembali tertawa geli sudah memanas-manasi Bara.
"Shitt... Awas kau!" Kesal Bara.
.
.
.
__ADS_1
Haha.... Makanya Bara bere gak da guna ngamuk ngamuk gak jelas. Emang sih kalau sudah cemburu apa-apa sudah menduga duga sendiri, Nah sekarang rasakan harus menyusun ntuh berkas sendiri.
Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. ๐๐๐