Fake Love

Fake Love
Satu Masalah Terselesaikan


__ADS_3

Bukk...


Pukulan yang dilayangkan Seno tak tepat sasaran. Dengan cepat Tuan Wijaya bisa menghindar. Tubuh Seno malah tersungkur sendiri saat Tuan Wijaya sedikit menangkas pukulan darinya.


Melihat Seno tersungkur di lantai, Nyonya Mariska lekas menghampirinya kemudian mencoba membantu Seno berdiri. Lalu beralih menghampiri suaminya yang masih terlihat kesal dan menahan amarah.


"Mas ... sudah cukup, Aku bisa jelaskan--


Tuan Wijaya mengangkat satu tangannya, memberi kode agar Nyonya Mariska tidak meneruskan perkataannya, "Tidak perlu kamu jelaskan karena itu tak berarti untukku! terserah kalian mau berbuat apapun tapi setelah kita bercerai dan kamu pergi dari kehidupanku. Ingat Mariska Saya sangat membenci pengkhianatan!"


Nyonya Mariska tersenyum kecut mendengarnya. "Dari dulu, apakah tidak ada sedikitpun perasaan darimu untukku, Mas?" Nyonya Mariska memberikan senyum meremehkan. "Jangan salahkan Aku jika berselingkuh darimu! kebutuhan lahir memang berlebihan untukku, tapi kebutuhan batin tak pernah sedikitpun kehangatan kamu berikan, Mas!" ungkap Nyonya Mariska.


Tuan Wijaya mengelengkan kepala menanggapinya seraya menarik sedikit sudut bibirnya. "Jangan kamu kira, Aku tidak tau, Mariska. Semua yang kamu lakukan di belakangku. Bukannya dari dulu kamu hanya menginginkan Uang dari ku, agar semua keinginan mu terpenuhi," ejek Tuan Wijaya meremehkan Nyonya Mariska.


"Jadi, tak perlu kebutuhan batin dariku pun kamu bisa mendapatkannya dari yang lain?" Tuan Wijaya menatap jijik pada wanita yang kini berdiri di sampingnya yang menunjukan wajah sendunya.

__ADS_1


Nyonya Mariska merasa harga dirinya begitu rendah oleh ucapan suami yang tak pernah menganggapnya ada itu.


"Pantas saja orang yang kamu sayangi pergi darimu, Mas! kamu manusia tidak punya perasaan, " celetuk Nyonya Mariska membuat Tuan Wijaya merasa geram terhadapnya.


Tuan Wijaya menoleh cepat lalu mencengkram dagu Nyonya Mariska dengan kasar, menengadahkannya agar melihat kearahnya.


"Jangan pernah berani berucap di hadapanku atau kamu aakan menjadi lebih hina dari seorang wanita ******." Tuan Wijaya semakin mengeratkan cengkraman tangan di dagu wanita itu, membuat Nyonya Mariska merintih kesakitan.


Di sisi lain, Seno meraih Vas bunga yang berada di atas nakas tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, pria itu berniat akan memukulkannya kepada Tuan Wijaya, tetapi Tomy yang melihat Seno menghalangi gerakannya.


Prang....


"Kalian tidak akan bisa lepas dariku." Tuan Wijaya memicingkan mata menatap tajam ke arah kedua orang itu. "Tomy, urus mereka berdua jangan biarkan mereka lepas, beri sedikit pelajaran kepada mereka berdua karena telah berkhianat dibelakangku." Tuan Wijayamelangkah keluar kamar hotel itu. Meninggalkan Nyonya Mariska yang ingin mengejarnya tapi tertahan oleh anak buah Tuan Wijaya.


"Tunggu, Mas! jangan lakukan itu kepadaku, ingat Aku adalah Ibu dari anakmu, Mas!" panggil Nyonya mariska.

__ADS_1


Tuan Wijaya sama sekali tak menanggapinya. Langkahnya terus berjalan meninggalkan Kamar hotel tempat dimana terbongkarnya perselingkuhan Nyonya Wiajha dengan Seno.


Satu masalah terselesaikan. Berpisah dengan Mariska sungguh membuat beban di hati Tuan Wijaya berkurang. Untuk Penjelasan kepada Kartika, ia yakin Kartika anak cerdas. Bisa menelaah situasi yang ada, apalagi dengan bukti yang kuat di tangan Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya berniat akan segera kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan masalah selanjutnya. Ia tidak mau konflik kesalahpahamannya tidak ada titik temu. Dia sudah lelah dengan semuanya. Ingin kembali merasakan kehangatan persahabatan yang dulu ia rasakan.


Dalam hatinya ia yakin Zaki bukanlah pendendam. Tuan Wijaya ingin kembali merangkulnya membangun cita-cita yang dulu pernah ia rencanakan dengan Zaki. Harapan itu masih tetap ada sampai saat ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2