
“Bara, kemarilah!” panggil Tuan Wijaya lalu menyuruhnya mendekat saat ia melihat Bara berdiri tengah mendengarkan obrolan serius mereka.
Bara mengangguk pelan dengan senyum yang ia kembangkan saat semua melihat ke arahnya. Lekas ia berjalan mendekati Tuan Wijaya lalu menyaliminya. Lalu menoleh ke arah Galen.
“Selamat, Gal! Akhirnya kamu menemukan cinta sejatimu.” Pandangan Bara beralih kepada Aline yang ikut menatapnya. Gadis itu langsung menunduk saat tahu Bara lah ikut hadir di acara lamarannya.
“Terima kasih, Kamu datang sendiri?”
Bara mengangguk pelan. Lalu beralih kepada Aline. “Kita bertemu lagi, tak menyangka kamu akan menjadi saudara iparku! Semoga acara pernikahan kalian berjalan lancar.”
“Terima kasih atas doanya,” jawab Aine sopan.
Malam semakin larut, obrolan persiapan pernikahan Aline dan Galen sudah di sepakati. Aldo dan Tomy selaku asisten dari Galen dan Tuan Wijaya sepertinya harus bekerja extra untuk acara pernikahan ini.
Satu persatu anggota keluarga Wijaya yang ikut dalam acara lamaran tersebut sudah pulang. Aldo ikut pulang terlebih dulu sambil mengantarkan Risa. Tinggal keluarga inti saja yang masih berada di sana.
“Terima kasih, besan. Maaf keluarga kami merepotkan,” ucap Oma Ratih kepada Bu Winda.
“Tidak usah berterima kasih, Oma! Itu kan sudah tugas kami selaku tuan rumah,” sahut Bu Winda yang kini merangkul tubuh tua wanita yang berjalan beriringan dengannya.
“Kak Bara ikut pulang ke rumah ‘kan?” tanya Kartika pada Bara yang mengikuti langkah Oma Ratih. Gadis itu sangat berharap Bara ikut bersama mereka.
“Pulanglah kerumah, Bar! Sekalian ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” sahut Galen yang menyusul langkahnya.
“Baiklah! Kakak akan pulang bersamamu.” Bara mendaratkan kecupan singkat di pucuk kepala adiknya yang tengah menggelayut manja padanya.
Kini, semuanya sudah berada di depan rumah Aline, bersiap untuk pamit dan memasuki mobil masing-masing.
“Loh, papamu mana Gal?” Oma Ratih mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Tuan Wijaya.
“Wijaya pamit ke kamar mandi, sepertinya efek makan sambel sama jengkol balado tadi, Oma! Perutnya jadi bermasalah.” Ayah Zaki memberitahu karena saat berjalan dengannya tadi, Tuan Wijaya merasakan mules tak tertahan hingga membuat dirinya berjalan cepat mencari toilet.
__ADS_1
Oma ratih menggelengkan kepala seraya tersenyum geli mendengar penuturan Ayah Zaki, “Lagian dia tuh, kayak gak pernah makan aja, udah tau sambelnya nampol pedes, dia malah nambah pake jengkol balado segala.” Oma ratih mendaratkan tubuhnya di bangku tak jauh dari posisinya berdiri saat ini. Ia memilih duduk sejenak sambil menunggu Tuan Wijaya karen tubuh tuanya tak bisa berdiri lama. “Win, lain kali ajarkan Oma buat soto betawi seperti tadi ya! Oma lebih suka sotonya, nikmat sekali semua hidangannya. Kalian ini benar tuan rumah yang memanjakan tamunya,” puji Oma Ratih.
“Alhamdulillah kalau Oma suka, soto Betawi itu resep dari Babeh saya yang di turunkan sama Bang Zaki. Oma mampir ke kedai saja, nanti kita belajar di sana!” ucap Bu Winda.
Oma ratih mengangguk setuju. “Atur waktu untuk Oma kesana ya, Aline pasti bisa kan masak ‘kan?” tanya Oma ratih kepada Aline yang berdiri tak jauh darinya.
“Aline hanya bisa makannya aja, Oma!” jawab Aline membuat Oma ratih mengerutkan alisnya.
“Bohong, Oma! Aline tuh paling jago masak. Dia sering bantu koki di kedai ko,” celetuk Ayah Zaki membuat Aline mendelik kearahnya.
“Wah kalau begitu, Oma tak perlu belajar masak deh, biar nanti Aline aja yang masakin Oma! Setelah kalian menikah, Oma akan ikut tinggal bersama kalian. Oma tidak mau masa tua Oma, hidup sendiri!” wajah Oma Ratih berubah sendu membuat Aline mendekat lalu merangkul tubuh tua itu dalam pelukannya.
“Oma ... jangan begitu, ‘kan ada Kartika.” Sahut Kartika iktu mendekat ke arah Oma Ratih.
“Kamu akan meneruskan kuliahmu di Amerika, tetap saja Oma akan sendiri!”
“Benar juga ya, tapi kan masih dua bulanan lagi, Oma!” seru Kartika.
“Iya, Oma akan tinggal bersama Aku dan Galen nanti, doakan niat kami lancar sampai acara pernikahannya nanti ya, Oma!” Aline mengelus pelan tangan Oma Ratih.
“Amin, Oma akan selalu mendoakan kalian. Papamu lama sekali Gal? Sedang apa sih dia di belakang?” gerutu Oma. Pandangan wanita tua itu beralih ke arah pintu, menanti kemunculan Tuan Wijaya yang tak kunjung datang dari sana.
“Biar Aline saja yang lihat ke dalam Oma!” Aline beranjak dan berlalu memasuki rumah baru beberapa langkah, tatapan Aline bertemu dengan netra hitam milik Bara yang berdiri menghalangi jalannya.
Aline menunduk karena ia merasa ada yang berbeda dari tatapan yang ia terima dari Kakak tiri calon suaminya itu. “permisi, Kak!” Bara sedikit menggeser tubuhnya.
Gadis itu malah mengembangkan senyumnya setelah melewati Bara, karena Galen sudah memberikan senyum kepadanya terlebih dulu.
“Mau aku anter gak, Yank? Takut kamu ada yang culik di belakang?” bisik Galen membuat Aline mendaratkan cubitan kecil di perutnya. Aline bergegas berjalana cepat menuju kamar mandi yang letaknya di belakang tak jauh dari ruang keluarga.
“Aww,” jerit Galen membuat semua yang berkumpul di teras depan melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Kenapa, Gal?” tanya Ayah Zaki saat melihat Galen meringis sambil memegangi perutnya. “Kamu juga mules kayak papamu?”
Galen menggelengkan kepala pelan. “enggak, Om. Perutku hanya kram saja,” elak Galen.
“Kalau sakit, coba susul Aline untuk minta obat sama dia, jangan di biarkan harus segera diobati!” titah Ayah Zaki membuat Galen menyunggingkan senyum senang.
Galen lekas berjalan menyusul Aline.
“Teh, Om Wijaya msih di dalam toilet?” tanya Aline pada Zainab yang kebetualan ada di ruang keluarga sedang merapikan barang seserahn yang di bawa calon besan tadi.
“Barusan sih, teteh liat masuk ke dalam toilet, kenapa gitu?”
“Udah ditungguin di depan, mau pada pulang!”
TOKTOKTOK!
Aline mengetuk pintu kamar mandi yang di masuki Tuan Wijaya. “Om ... ada di dalam?” pangil Aline.
“Ya, Oma di dalam. Tunggu sebentar!” sahut Tuan Wijaya dari dalam kamar mandi. “Shitt ... bisa begini sih perut. Makannya gak kerasa tapi nikmat banget tuh jengkol baladonya.” Tuan Wijaya memegangi perutnya yang teras sedikit membaik.
“Teteh, bawaannya banyak banget ini?” Aline terkejut melihat barang hantaran untuknya lalu meraih satu kotak hantaran yang isinya jam tangan yang harusnya berpasangan. “Loh ini kan, jam tangan yang aku inginkan, harusnya ‘kan berpasangan kenapa hanya satu buat wanitanya saja, buat cowonya ga ada teh?”
Zainab mengangkat bahu. “Te hapal da, dari tadi teteh di sini, ya cuma itu saja yang ada!” sahut Zainab. “Kamu beruntung sekali, neng! dapat calon suami yang keluarganya sayang sama kamu. Ini juga, baru lamaran bawaannya bagus dan banyak kaya gini. Dulu waktu masih perawan teteh ngebayangin di bawain kaya gini, tapi boro-boro di bawain seserahan , mau nikah aja keluarganya mantan suami teteh aja sikapnya tidak baik, di tambah selama pernikahan teteh belum bisa kasih keturunan kepada mereka. Makin bencilah mereka sama teteh.” Wajah Zainab berubah sendu.
Aline yang biasa di panggil neng oleh Zainab itu merasa prihatin mendengar pengakuan Zainab saudara sepupu ibunya yang erasal dari Cianjur. Lalu meletakkan kotak hantaran yang ia pegang beralih merangkul Zainab kemudian memberikan semangat kepada wanita dewasa itu.
“Sabar ya teh, semoga teh Zainab dapet lagi jodoh yang lebih baik dan sayang sama teteh!”
“Amin, makasih neng!”
Di balik tembok seseorang mendengarkan obrolan mereka berdua.
__ADS_1