Fake Love

Fake Love
Akulah Pemilik Hatinya


__ADS_3

Ia ingin memberitahu Galen tapi suaminya tidak ada di belakangnya. Aline melihat Galen sedang menerima telepon.


Aline kembali berbicara dengan wanita yang ada di hadapannya ini. "Boleh aku menggendongnya?"


Ada sedikit keraguan mendengar Aline meminta untuk menggendong bayi montok itu.


"Berikan saja, ia adalah temanku!" ucap Derald yang datang membawa beberapa pakaian bayi ditangannya.


"Derald..." Aline meras terkejut. Ternyata benar apa yang ia pikirkan, Bayi itu adalah bayi yang ia lihat dirumah sakit. "Apa dia Zahra Zara," tanya Aline laku beralih kepada bayi montok yang terus tersenyum itu.


"Ya, dia Zara." balas Derald.


Aline mengambil alih Zara dari tangan Jasmin.


"Maaf... Mba, aku sempat berpikir yang jelek tentangmu!" Jasmin memberikan Zara kepada Aline


"Tidak pa-pa, kamu memang harus waspada," balas Aline. Ia begitu senang menggendong Zara.


Bayi montok dengan pipi gembul itu terlihat sangat menggemaskan. Bayi itu juga tidak menolak saat Aline gendong.


Tangan mungilnya malah meraba wajah Aline.


"Mamama...." oceh Zara.


Aline begitu senang mendengar ocehan itu.


"Dia selalu berceloteh seperti itu, kepada Jasmin juga seperti itu!" ujar Derald.


"Sayang!" Galen kembali menghampiri Aline.


"Mas...!" Aline menoleh menatap Galen. "Lihat Mas! Bayi yang kita lihat beberapa bulan lalu sudah besar."


"Apa kabar, Gal?" sapa Derald.


"Kabarku, baik! Aku dengar kamu sudah mengundurkan diri di perusahaan Tuan Baskoro." tanya Galen kepada Derald.


Derald hanya mengangguk membenarkan tanpa ingin memberitahu apa yang ia alami.


"Ya, benar sekali!"


Jasmin yang mendengarnya pun merasa terkejut. "Mas berhenti dari perusahaan papa? Lalu bagaimana kalian menyambung hidup kalau mas berhenti bekerja?" Jamin refleks bertanya seperti itu.


"Kamu tenang saja. Aku akan berusaha untuk bekerja, selagi tubuh ini sehat. Aku akan mencari pekerjaan yang halal untuk menghidupi putriku." Derald menjawabnya dengan tenang.


Galen yang melihatnya kini yakin. Derald sudah berubah. Begitu juga dengan Aline.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Derald.


"Kami sedang melihat-lihay saja. Ada yang ngidam pengen ke tempat ini tapi tidak mau beli pengennya lihat-lihat doang!" ucap Galen sambil melirik Aline.


"Kamu hamil?"


"Alhamdulillah, Mas!


"Semoga lancar dan sehat sampai persalinan."


"Amin," jawab mereka kompak.


Ada raut kekecewaan di wajah Jasmin. Derald memahami itu.


"Dia siapa?" tanya Aline mengarahkan tatapannya kepada Jasmin.


"Adiknya Chyntia." Jasmin sedikit menunduk saat diperkenalkan.


"Kamu cantik, terlihat sangat keibuan sekali saat bersama Zara tadi."


"Aku memang sangat menyayanginya." ungkap Jasmin sambil meraih jemari Zara dan menegur bayi itu.


Zara malah mengarahkan tangannya kepada Jasmin, minta digendong lagi.


"Loh, kamu lagi sama tante Aline, Sayang!" ucap Jasmin. Tapi bayi itu tidak peduli, ia ingin kembali dalam gendongan Jasmin. Aline pun tidak bisa memaksa meski masih ingin lama menggendong Zara, tapi bayi itu ingin kembali pada Jasmin.

__ADS_1


"Lain kali main lagi smaa Tante Aline ya, Sayang!" Aline mencubit pelan pipi cubby Zara.


Zara terlihat menguap dan mengarahkan ibu jari ke mulutnya sendiri.


"Sepertinya dia ngantuk, Mas!" ucap Jasmin.


"Sebentar aku ambilkan susunya di tas!" Derald berjalan cepat ke tempat penyimpanan barang. Ia menyimpan susu yang sudah ia buat sebelumnya di cooler bag.


"Mas Derald pergi dari rumah kami hari ini, bahkan uang yang ia kumpulkan saat bekerja diserahkan kepada papa." Tiba-tiba saja Jasmin berucap kepada Aline.


Aline hanya yang mendengarnya merasa sedih dengan keadaan mantan kekasihnya itu.


"Aku sangat kecewa sama Papa. Beliau begitu tega kepada cucunya sendiri." Wajah Jasmin terlihat begitu sedih. "Maaf, aku jadi cerita hal yang seharusnya tidak kalian ketahui. Aku hanya tidak tega kepada Mas Derald. Saat ini bebanya bertambah banyak, ia juga harus membiayai Bu Leli yang mengalami stroke dua bulan ini," ungkapnya lagi.


"Tidak apa-apa. Jika itu membuat kesedihanmu berkurang," sahut Aline.


"Aku hanya kasihan kepada Zara." Jasmin dengan lembut menimang Zara yang setengah tertidur. Bayi montok itu tidak rewel jika berada dalam gendongan Jasmin.


"Yang... Kita pulang sekarang. Oma sudah menunggu!" ajak Galen dan mendapat anggukan pelan dari Aline.


"Ini susunya," Derald kembali datang dengan membawa sebotol susu formula untuk Zara. Derald menyerahkannya kepada Jasmin. "Sebaiknya sambil duduk, biar kamu tidak pegal." ucap Derald kepada Jasmin. "Disana." Jasmin berjalan ke arah sofa yang ditunjuk Derald.


"Apa dari bayi Zara tidak minum Asi?" tanya Aline menatap Zara yang dengan kuatnta menyedot susu formula dari botol.


Derald menggeleng pelan.


Hati Aline merasa terenyuh, mendengarnya. Aline tidak akan membiarkan anaknya nanti tidak merasakan asi. Ia ingin saat bayinya lahir mendapatkan asi ekslusif.


"Derald... Aku tahu kamu kuat, jadilah ayah yang kuat dan tegar agar bisa melindungi putrimu, nanti!" ucap Aline dan mendapat anggukan dari Derald.


"Aku pulang dulu. Zara seperti begitu dekat dengan Jasmin. Dia cocok untuk jadi ini sambung buat Zara, putrimu pasti butuh seorang ibu sambung Derald." lanjut Aline.


Derald hanya tersenyum menanggapi Aline. "Aku belum ada pemikiran sama sekali ke arah sana. Diri ini masih belum pantas untuk mencari pengganti."


"Tapi Zara membutuhkannya, Rald"


"Doakan saja, kami mendapatkan yang terbaik."


"Ya, selamat atas kehamilanmu, Aline."


"Terima kasih."


"Mas..." panggil Aline kepada Galen yang terlihat sedang berbicara kepada salah satu karyawan toko tersebut. Terlihat Galen seperti memasukan sesuatu ke dalam dompetnya. Aline akan menanyakannya, nanti.


"Kita pulang sekarang!" ajak Galen dan mendapat anggukan dari Aline.


"Sampai berjumpa lagi, Rald!" Aline menjabat tangan Derald bergantian dengan Galen.


"Berkunjunglah ke kantorku. Barangkali kita bisa bekerja sama! Kamu sangat berkompeten soal pemasaran." ucap Galen sambik basa basi menawarkan pekerjaan.


"Terima kasih atas tawarannya. Akan saya pikirkan dulu!" balas Derald.


Aline dan Galen akhirnya keluar dari toko itu. Sedangkan Derald melanjutkan pembayaran yang sempat tertunda.


Usai melakukan pembayaran kasir toko mengeluarkan beberapa perlengkapan bayi kepada Derald.


"Maaf... Pak ini ada titipan buat dede bayinya!" ucap kasir tersebut.


Derlad mengerutkan alis. "Buat anak saya? Dari siapa?" tanyanya.


"Dari pria yang tadi mengobrol bersama Anda, Pak!" sahut kasir itu.


"Galen." ucap Derald pelan. "Ya sudah, terima kasih,"


Kalian memang sungguh berhati baik. Padahal aku sangat malu jika bertemu dengan kalian. Setiap bertemu akai selalu teringat perlakuan burukku terhadap Aline.


Semoga kalian berdua diberkahi kebahagiaan.


Batin Derald seraya menghampiri Jasmin yang sudah menunggunya. Ia akan ikut ke rumah lama Derald dan kembali ke kos an seperti biasa.


Seseorang akan menyadari kesalahannya di saat mengalami kejadian hebat menimpa dirinya. Bersyukur Yang Maha Pemberi Kehidupan masih memberi kesempatan untuk kita merubah diri. Karena dengan pengalaman kita bisa mendapat pelajaran yang sangat berharga.

__ADS_1


Semua orang yang kebanyakan para wanita menatap Galen dengan binar wajah kagum kepadanya.


"Oh... So sweet banget sih, tuh cowo. Mau bawain belajaan ceweknya," ucap salah seorang wanita yang terpaku melihat Galen yang berjalan melewatinya.


"Mau banget tuh cowok kayak gitu!" ucap temannya yang satu lagi.


Galen dengan tubuh kekar dan gagah menghipnotis para wanita yang ada di mall tersebut. Mereka semua terpukau dengan penampilan Galen yang memakai pakaian casualnya, semakin terlihat maskulin dan cool. Memakai jas pakaian santai seperti ini saja semua wanita terpesona apalagi memakai pakaian kantor. Jiwa wibawa dengan tubuh tegapnya pasti makin banyak wanita yang naksir.


Aline kembali menghentikan langkahnya.


ia tertinggal beberapa langkah dari suaminya. Sejenak Aline terdiam, ia masih bisa mendengar ocehan para wanita itu.


"Eh, pria tampan itu balik lagi," oceh wanita itu lagi.


Alin mendongak, ternyata benar suaminya itu berbalik menyusulnya lagi.


"Kenapa berhenti? Apa ada yang kamu rasa?" tanya Galen khawatir.


Aline merasa kesal, kepada kedua wanita itu. Ia ingin membuat mereka tahu kalau Galen hanya miliknya seorang.


"Aku pusing, Mas!" Aline memegang keningnya. Padahal itu hanya alasannya saja.


"Pusing?"


"he'eum,"


Galen mengedarkan pandangannya, seakan mencari sesuatu.


"Kamu tunggu di sini sebentar saja," ucap Galen membuat Aline sedikit mengerutkan alis.


Aline menoleh ke arah ke dua wanita yang masih berada di belakangnya. Mereka terlihat berbisik, entah apa yang sedang mereka bisikkan.


"Sayang...!" Galen kembali sambil berlari ke arah Aline. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Aline.


"E-eh, Mas...! Aline terkejut saat tubuhnya melayang diangkat oleh Galen.


"Kita ke rumah sakit sekarang! Katanya kamu pusing sekalian periksa kandunganmu." ucap Galen membuat wanita yang menatap ke arahnya membulatkan mata kagum dengan sikap Galen.


Otot kekarnya makin terlihat saat menggendong Aline ala bridal style.


"Wow... perfect banget sih tuh cowok. pengen banget satu saja kayak dia!" ucap wanita yang tadi terus memandangi Galen.


Aline makin kesal melihatnya. Ia ingin menunjukan bahwa Galen hanya miliknya.


"Terima kasih, Sayang!" Aline mencium pipi Galen agak lama di hadapan para wanita itu. Tak lupa Aline juga melingkarkan tangannya di leher Galen. Ia ingin menunjukan bahwa dia adalah pemilik dari pria yang tengah mereka kagumi itu.


"Rasakan... kalian harus tahu, bahwa hanya akulah pemilik hatinya." Aline memberikan tatapan sinis ke arah dua wanita itu. lalu kembali menatap Galen yang sedang fokus berjalan dengan senyum kebanggaannya.


.


.


.


.


Cie.... banyak yang naksir Galen nih.


Calon papa muda kita ...


Baca terus kelanjutan ceritanya ya. 🥰


Mampir juga ke karya temanku. karya author Selvi_19.



.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2