Fake Love

Fake Love
Rencana Licik Rara


__ADS_3

Tidak sampai siang Sandra berada di pasar Menemani Bi Mirna dan Pak Budi berjualan.


Pukul sepuluh siang dai sudah berada di peternakan, tentunya diantar oleh Bapak dari Rara.


Sandra mengedarkan pandangan saat memasuki area peternakan, mencari sesosok yang ia lihat tadi pagi. Berharap selama dia berada di pasar tadi. Bara sudah berkeliliking peternakan.


Sandra telat sekitar dua jam. Ia memang sengaja, agar tidak bertemu dengan Bara. Beruntung pemilik peternakan itu memiliki perasaan kepadanya. Tuan Braja juga mengerti dengan kondisi Sandra saat ini.


Meskipun sedikit kecewa dengan keputusan Sandra yang menolak ajakannya untuk menikah tapi pria itu tidak patah semangat.


Ucapan Ibu beliau yang juga menyukai Sandra adalah pacuan untuk nya terus maju untuk mendapatkan hati gadis itu. Keberuntungan menurutnya menikah dapat 2 nyawa. Ibu dan Anak yang sedang Sandra kandung.


"Kalau masih sakit jangan memaksakan diri untuk masuk kerja!" Tiba-tiba saja Tuan Braja datang dan menegurnya membuat Sandra tergelonjak kaget.


"Astaghfirullahalazim." Sandra memegangi dadanya sendiri sambil memegangi pagar besi merasa terkejut dengan kedatangan Tuan Braja.


"Maaf... Maaf... Saya membuat mu terkejut! Kamu tidak pa-pa?" tanya Tuan Braja khawatir. Tangannya hendak mengulur membantu Sandra tapi dengan cepat Sandra mampu berdiri menyeimbangkan diri.


"Saya tidak apa-apa, Pak!" Sandra meyakinkan.


"Itu... Em... Tadi pagi saya lihat ada... " Sandra terlihat ragu saat berbicara. wajahnya menunduk bingung. Ia ingin bertanya soal Bara, dimana pria itu berada. tapi tidak tahu harus bertanya seperti apa.


"Ada apa?" tanya Tuan Braja pelan dan lembut.


"Ah... Tidak jadi, Pak! tidak ada pa-pa kok!" jawab Sandra kaki, ia tidak jadi menanyakan Bara. Tuan Braja malah tersenyum dengan sifat malu Sandra.


Tuan Braja mengalihkan obrolan dengan menanyakan kabar dia hari ini, bagimana kondisi kandungannya serta obrolan yang membuat Sandra mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Tuan Braja. Mereka telihat asik berbincang.


Dari kejauhan Sandra dan Tuan Braja terlihat sangat romantis.


Dua orang pekerja yang baru saja membawa susu hasil perlahan ke gudang penyimpanan melihat interaksi keduanya.


"Tuan Braja dan Sandra sangat cocok sekali ya," ucap salah seorang diantara mereka.


"Iya mereka kompak, dan memiliki sifat yang sama. Dua-duanya baik!"


"Semenjak ada Sandra, Tuan Braja juga terlihat lebih bersemangat. Jadi tambah ganteng apalagi kalau ada yang ngurus." obrolan kedua ibu-ibu itu terdengar oleh Bara yang baru saja datang.


Bara menghentikan langakhnya saat mendengar nama Sandra dan Tuan Braja di sebut.


Sepertinya harapanku bakal pupus


bahkan para pekerja sangat mendukung kebersamaan mereka berdua.


Tapi Bara tidak patah semangat ia berusaha mengacuhkan ibu-ibu yang sedang bergosil tadi semakin lama berdiam diri di sana. Mentalnya akan ancur, bisa membuat Bara mundur.


"Selamat pagi, Tuan Braja!" sapa Bara membuat Sandra kembali terkejut.


Sesaat tatapan mereka saling bertemu, tapi Sandra lekas memutuskan dan menundukkan pandangan.


"Selamat pagi juga Pak Bara! Saya kira Andra akan langsung datang ke peternakan sesampainya di kota ini," tanya Tuan Braja.


"Saya istirahat dulu di hotel tak jauh dari sini, Tuan Braja. Rasanya sangat lelah dan mengantuk, lagian tadi masih sangat pagi saat saya sampai sini," balas Bara kemudian mengalihkan pandangannya kepada Sandra.

__ADS_1


Sandra yang di beri tatapan tajam oleh Bara semakin tertunduk.


'Kenapa dia melihatku seperti itu'


Sandra semakin salah tingkah dan gugup.


Rasa mual yang tidak memandang situasi tiba-tiba Sandra rasakan. Ia dengan cepat menutup mulut. Kemudian membungkukkan sedikit badannya kepada kedua pria yang sama-sama sedang menatapnya.


Sandra pamit tanpa berucap, ia berjalan cepat menuju kamar mandi yang tak jauh dari sana.


Tuan Braja terlihat khawatir melihat kondisi Sandra.


"Maaf, Pak! Anda bisa menunggu di ruangan saja, di sana!" Tuan Braja menunjukkan ruangannya. Pandangan Bara pun mengikuti arahannya. "Saya mau menyusul dia dulu." Lekas Tuan Braja menyusul ke kamar mandi.


Sangat terlihat jelas wajah cemas dan khawatir Tuan Braja. Sebenarnya Bara juga merasakan hal yang sama tapi ia masih enggan menunjukkan sikapnya kepada Sandra. Sehingga membuat Sandra semakin salah paham dan mengira bahasa Bara memang mengacuhkannya. Bara pun memilih masuk ke ruangan Tuan Braja.


Bara mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu. Mencari sesuatu yang bisa ia jadikan informasi.


Nada dering dari ponsel miliknya mengalihkan perhatian Bara. Ternyata asistennya lah yang menghubunginya


"Kenapa kamu lama sekali? Saya sudah ada di peternakan!" tanya Bara dengan nada sedikit tinggi.


"Saya akan menuju ke sana, Pak! Tapi wanita yang bersama kita tadi datang lagi dan membawakan kopi untuk anda kemudian---"


"Saya tidak peduli cepat kemari atau saya akan potong gaji mu bulan ini." Bara langsung mematikan ponselnya tidak mendengarkan ucapan Joni selanjutnya.


"Akh.... merepotkan sekali wanita ini, kenapa harus numpang membersihkan diri di sini? Mana pinjam baju segala." Joni merasa sebal dengan Rara.


Rara merengek meminjam baju. Sebab baju yang dikenakannya basah terkena siraman kopi karena Rara menabrak Joni yang baru datang dari luar.


Joni tidak membawa baju gantinya ke kamar hotel. ia mengira tidak akan lama beradaa di sana, jadi joni hanya membawa tiga pakain ganti utnuk hari ini saja.


Berbeda dengan Bara, Joni melihat bosnya itu membawa satu koper kecil. Isinya pasti baju ganti. Sebab koper milik bosnya itu ada di atas tempat tidur dalam keadaan sudah terbuka. Daripada harus kembali lagi ke mobil hanya untuk mengambil baju. Joni memilih mengambil baju kaos milik Bara.


Urusan ijin, Joni akan menjelaskannya nanti.


"Woi... lama banget sih, Lo! nih baju gantinya, cepet keluar gue mau pergi nyusul bos gue!" teriak Joni agar Rara mendengarnya.


Krekk....


Rara muncul dari balik pintu hanya kepalanya saja yang keluar.


"Emang Mas ganteng, kemana?" tanya Rara sambil menengadahkan tangannya menagih baju yang ia pinjam.


"Udah ada di peternakan. Cepetan ganti baju loh, terus keluar dari kamar ini, gue mau pergi!" ucap Joni sinis.


"Iya, Sabar, napa sih! Gak sabaran banget," cerocos Rara lalu menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Brukk...


Joni semakin di buat kesal. Tadi pagi ia harus berdebat dengan Rara yang tidak mau diantarkan ke peternakan lebih dulu olehnya. Rara ingin menunggu Bara yang mengunci diri di akar hotel, sengaja dilakukan karena Bara merasa risih dengan sikap Rara yang selalu ingin menempel padanya.


Sehingga Joni menjadi umpan untuk Rara.

__ADS_1


"Cepetan woi"


Rara keluar dengan wajah cemberut.


"Untung lo cantik kalau tidak udah gue geprek, abisnya nyebelin banget." gerutu Joni yang langsung menarik Rara keluar dari kamar hotelnya.


Sepanjang perjalanan menuju peternakan Rara merasa senang setelah tahu baju yang ia pakai adalah milik pria tampan yang ia suka.


"Kamu harus kembalikan baju itu, harganya mahal!" oceh Joni.


"Berapa?" tanya Rara penasaran.


"Seharga satu motor matic baru."


Rara sampai melongo mendengarnya.


'Wah berarti dia kaya dong. lebih kaya dari Tuan Braja kayaknya, secara mobilnya aja bagus banget. Ah... rencana aku alihkan saja sama Mas tampan tadi, pasti mau gak mau dia akan bertanggung jawab kalau kita sudah melakukan itu. Harus cepat dan segera. Tapi aku harus menyingkirkan keberadaan pria menyebalkan ini.'


Rara menatap sinis Joni kemudian menyeringai licik akan rencananya.


***


"Lebih baik kamu pulang saja, istirahat. mungkin mual yang kamu rasakan karena mencium aroma kandang yang menyengat?" tutur Tuan Braja.


Sandra menggelengkan kepalanya. "Tidak Tuan, saya tidak masalah dengan bau dari kandang sapi. Mungkin karena saya belum sarapan saja, jadi agak sedikit mual," ungkapnya.


"Ayo ke ruanganku, ada sarapan di sana! Jangan menundanya sarapan pagi. Sekarang ada nyawa yang harus kamu perhatikan gizi dan perkembanganya!" ucap Tuan Braja penuh perhatian.


Sandra semakin merasa tidak enak hati dengan perlakuannya.


Padahal ia sudah menolak lamarannya tapi tetap saja Tuan Braja masih perhatian dan baik kepadanya.


Sikap Anda begitu tulus, Pak! Apa aku jahat sudah menolak tawarannya. Padahal itu sangat aku butuhkan saat ini.


Bagaimana ini... Di sini ada Bara yang belum tahu bahwa anak ini adalah darah dagingnya. Dan Tuan Braja, pria ini tidak mundur saat tau aku hamil. Bahkan ingin bertanggung jawab jika ayah bayi ini tidak mau menganggapnya ada.


Aku ingin memberitahu Bara, tapi bagaimana cara mengungkapkannya, sikapnya saja kembali acuh. Dia tahu aku hamil tapi tidak ada seucap kata pun bertanya anak siapa ini, mungkin malam itu hal yang biasa buatnya bersama wanita. Dan aku sama seperti wanita lain yang di anggap angin lalu olehnya.


Sandra malah terdiam dengan pemikirannya.


"Ayo! ke ruanganku!" ajak Tuan Braja lagi.


"Saya ke ruangan ayaa saja, Pak! Ingin bersandar sebentar. Kepala saya sedikit pusing," elak Sandra. Ia sedikit menghindar dari Bara. Sandra akan mencari waktu yang pas untuk berbicara pria itu, ia tidak mau Tuan Braja tahu kalau Bara 'lah ayah dari anak yang ia kandung.


.


.


.


.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2