Fake Love

Fake Love
Prosesi Lamaran


__ADS_3

Ting


Suara pesan Snapchat muncul saat Aline termenung mencoba mengingat apakah ia kenal dengan wanita yang ada di bangku belakang mobil itu. Dan Aline yakin ia belum pernah bertemu dengan dua orang yang terlihat wajahnya. Satu lagi terhalang bangku kemudi yang menutupi wajahnya, jadi ia tidak tahu kalau itu Sandra.


📩 (Aku pergi mengantar ibu dari Sandra dulu, tadi kebetulan saat bersamaan pulang dari kantor bibinya menelepon Sandra, kondisi Ibunya memburuk. Aku hanya ingin menolong dan membawanya ke rumah sakit) Galen


Aline tersenyum melihat isi pesan dari Galen. Seakan mengetahui isi pikiran gadis itu. Aline bersyukur Galen bersikap terbuka dengannya.


📩(Benarkah! Kalau begitu hati-hati. Salam untuk Sandra , semoga ibunya gak kenapa-napa. Aku tunggu nanti malam! ☺) Aline.


Sebuah senyum terukir di wajah Galen setelah membaca balasan dari Aline.


📩(Siap, Sayang. Tunggu aku😘)


Kini keduanya tersenyum setelah menutup pesan Snapchat yang mereka kirim. Tak terasa mereka pun sudah tiba di Rumah sakit dengan segera petugas rumah sakit datang membantu membawa Ibu Sarah ke ruang UGD untuk segera ditangani.


Lumayan lama mereka menunggu di depan ruangan tersebut.


“Terima kasih, Gal. Aku tidak tahu kalau tidak ada kamu kondisi Ibu sekarang seperti apa?” ucap Sandra setelah Bu Sarah mendapatkan pertolongan sehingga kondisinya sudah mulai stabil saat ini.


“Sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong. Maaf Aku tidak bisa berlama di sini. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, hubungi saja Aldo. Lebih baik kamu ijin untuk tidak bekerja besok, temani dulu ibumu,” Ucap Galen ke arah Sandra yang menunduk di hadapannya.


“Terima kasih.”


*


*


Galen meninggalkan Sandra setelah berpamitan kepada Bu Sarah dan Bi Erma karena keadaannya sudah berangsur membaik.


“Saya permisi Bu, semoga lekas sembuh.” Galen pamit dengan sopan dan santun kepada Bu Sarah. Lalu beralih kepada Bi Erma yang membalasnya hanya dengan anggukan dan senyuman.


“Terima kasih, Nak!” ucap Bu Sarah dengan suara pelan.


Galen tersenyum lembut. “Sama-sama, Bu. Banyak istirahat agar ibu cepat pulih kembali! Saya pamit, Assalamualaikum.” Galen menepuk lembut dan pelan salah satu tangan Bu Sarah yang tak tertancap selang infus.


"Waalaikumusalam," jawab Bu Sarah pelan dan Bi Erma mengikuti begitu juga Sandra.


“Sandra antar ke depan dulu ya, Bu!” seru Sandra yang mendapat anggukan dari Bu Sarah.


Setelah melihat Sandra dan Bosnya keluar dari ruang perawatan. Bi Erma mendekati Bu Sarah. “Andai saja calon suami Sandra seperti dia, ya, Kak,” oceh Bi Erma lalu mendapat senyuman kecil dari Bu Sarah.


Wanita yang terbaring lemah itu lantas memejamkan mata, obat tidur yang ia minum sudah mulai bereaksi. Setelah beberapa hari tidak bisa beristirahat karena menahan sakit, kini ia bisa beristirahat tanpa rasa sakit.

__ADS_1


Di luar ruang pasien.


“Maaf sudah menyita waktunya. Semoga acaranya malam ini berjalan lancar, salam untuk Aline. Sampaikan maafku karena tidak dapat menemaninya,” ucap Sandra tanpa melihat lawan bicaranya.


“Akan aku sampaikan. Utamakan kesehatan ibumu terlebih dulu. Berikan apa pun yang ia inginkan selagi masih bisa kamu berikan, Saya permisi.” Galen berjalan meninggalkan Sandra yang kembali tertunduk di hadapannya. Gadis tak sanggup melihat wajah Pria yang telah berjalan menjauh darinya.


Sandra mengangkat wajahnya, mengikuti arah Galen sampai sosok itu hilang dalam pandangannya.


“Kenapa semakin hari perasaan ini semakin tumbuh. Aku harus bisa melupakannya. Malam ini, ia akan resmi melamar Aline. Dan Aku harus tau diri siapa diriku!” batin Sandra.


Sandra kembali ke dalam ruangan. Wajah sendu terlihat jelas pada Sandra.


“Kamu suka sama atasanmu itu, ya, San?” tanya Bi Erma sontak membuat Sandra menoleh kearahnya seraya menggelengkan kepala.


“Jangan berbohong. Bibi tau kamu punya perasaan sama dia, Bibi bisa lihat dari tatapan matamu terhadapnya.”


Sandra menghela napas lalu membuangnya kasar seakan mengeluarkan beban perasaan yang ada di hatinya.


“Percuma mempunyai perasaan sama dia, Bi! Aku siapa? Perasaan ini tak kan pernah bersambut. Lagian malam ini, dia akan melamar kekasihnya.” Sandra mendaratkan tubuhnya pada kursi di samping brankar tempat ibunya berbaring saat ini. Diraihnya satu tangan Ibunya yang tengah memejamkan mata. Tangan yang selalu memberinya sentuhan kasih sayang hingga Sandra rela mengorbankan apa pun untuk kesembuhannya.


“Baru melamar bukan menikah jadi masih ada jalan untukmu mendapatkannya, coba kamu pikir, kalau kamu punya suami kaya. Kamu tidak perlu cape-cape cari kerja.” Bi Erma memberi usul yang membuat Sandra menggelengkan kepalanya.


*


*


Semua kini tengah bersiap menyambut kedatangan tamu yang sudah ditunggu dari tadi.


Keluarga Wijaya satu persatu memasuki kediaman Ayah Zaki. Kartika dan Oma memakai gaun dengan warna yang senada hanya model yang membedakannya.


Semua barang yang di bawa sebagai hantaran pun satu persatu di serahkan kepada calon besan.


“Simpan di ruang santai aja dulu, barang hantarannya,” bisik Bu Winda pada Zainab yang hadir membantunya.


“Iya, Win!” Zainab kemudian menyuruh beberapa orang yang turut membantu membawa hantaran untuk meletakkan nya di tempat yang sudah di tunjuk pemilik rumah.


Semua barang hantaran lamaran sudah di amankan dan di susun rapi.



Saat semua keluarga Wijaya yang ikut dalam acara lamaran itu sudah memasuki ruangan. Pembawa acara mempersilakan tamu yang hadir untuk beristirahat sejenak sebelum acara di mulai.


Kini saatnya beberapa rangkaian dalam prosesi lamaran dilaksanakan. Keluarga Tuan Wijaya dan keluarga Zaki Rahmadi saling berhadapan, Galen dan Aline juga sudah hadir di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


“Baiklah kita mulai saja acara yang sudah di nantikan dari tadi. Kepada para tamu dan keluarga yang hadir. Mohon untuk mengikuti serangkaian acara dengan hikmat, agar acara ini terlaksana dengan baik dan lancar,” ucap pembawa acara yang memandu prosesi acara lamaran malam ini.


Perkenalan dan penyambutan dari perwakilan keluarga Ayah Zaki sudah berbicara panjang lebar dan mempertanyakan niat keluarga Wijaya datang malam ini.


Pihak Keluarga Wijaya pun sudah mengungkapkan niat kedatangan mereka malam ini untuk keperluan apa.


“Bagaimana, saudari Aline. Apakah Anda menerima niat baik dari saudara Galen Alexander untuk mempersunting Anda menjadi istrinya?” tanya pembawa acara membuat anggota keluarga yang hikmat mengikuti acara tersebut ikut deg degan dibuatnya.


Aline diam sejenak.


“Jangan terlalu banyak berpikir, kasian ni pujaan hatinya sudah deg degan nungguin jawabannya.” Pembawa acara sedikit bercanda membuat suasana tegang sedikit mencair.


Semua orang tersenyum mendengarnya. Ada beberapa orang di belakang Aline menyuarakan suaranya.


“Terima... terima... “ ucap beberapa orang kompak membuat Aline semakin grogi untuk menjawab.


Aline meremas tangannya yang berada di pangkuannya. Pandangan Aline dan Galen saling bertatapan. Mereka saling melemparkan senyum.


Pembawa Acara menyodorkan microphone kepada Aline agar jawaban yang akan diucapkan oleh gadis itu bisa terdengar oleh semua orang.


Aline mengangguk pelan lalu mendekatkan bibirnya ke arah microphone untuk menjawab pertanyaan pembawa acara tadi.


“Ya saya, terima lamarannya,” ucap Aline dengan tersipu malu.


“Alhamdulillah,” ucap semua kompak. termasuk Galen yang berucap syukur lalu membasuh wajah dengan kedua telapak tanganya.


.


.


.


.


**Aseekk nih udah lamaran...💃💃


tinggal tunggu tanggal pernikahan.


nyok siap siap buat para readers mau pake dresscode warna apa nih buat ke acara pernikahannya Galen dan Aline. 😍😍😍


Doakan saja ya, agar lancar sampai hari H. mudah mudahan tidak ada hal yang mengagalkannya**.


.

__ADS_1


.


__ADS_2