
"Sudahlah Kak, Aku yakin Kak Aline sudah tidak menyimpan dendam lagi kepada kalian. Kakak pasti sempat lihat Kak Aline tadi 'kan? Dia sudah bahagia, aku dengar dia akan menikah sebentar lagi! Atau nanti Kakak temuin dia untuk meminta maaf, agar perasaan kakak merasa lega!"
Siska belum mengetahui kalau Aline dan Galen sudah menikah. Yang ia ketahui kabar mengenai pernikahan Aline yang akan berlangsung tak lama lagi.
"Kamu benar, aku memang harus bertemu dengannya. Sungguh jahat perlakuanku dulu terhadapnya."
Hening, Derald bergeming seraya berpikir harus berbicara apa kepada mertuanya tentang kejadian ini. Selama ini Derald sudah berusaha mencegah Chyntia agar tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya dan bayi mereka. Derald juga membujuk agar Tuan Baskoro diberitahu jenis kelamin cucunya itu.
Tapi Chyntia selalu mengelak, ia beralasan Tuan Baskoro pasti marah besar.
Baru saja kepikiran mertuanya. Suara lantang dengan derap kaki yang mendekat ke arahnya begitu terdengar jelas oleh Derald. Lekas ia berdiri saat melihat Papa mertuanya berjalan mendekatinya.
"Kamu bagaimana jadi suami? mengurus istri yang sedang hamil saja tidak becus, sampai anakku harus melahirkan sebelum waktunya?" Omel Tuan Baskoro yang baru saja sampai di depan ruang UGD.
"Sabar, Pah?" Bu Mirna menenangkan.
"Maaf, Pah?" ucap Derald sambil tertunduk.
"Bagaimana cucuku, dia laki-laki bukan? Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk cucuku karena dia adalah penerusnya selanjutnya.
"Pah, harusnya kamu menanyakan kondisi putri kita dulu!" pangkas Bu Mirna.
"Aku yakin, anak kita kuat. Dia pasti bisa melewati masa kritis nya!" cetus Tuan Baskoro. Bu Mirna menggelengkan kepala mendengar ucapan suaminya, sama sekali tidak perhatian kepada putri pertamanya. "Dimana cucuku aku ingin melihatnya? Dia pasti laki-laki 'kan?" lanjutnya.
Tuan Baskoro sangat menginginkan cucu laki-laki, karena teman bisnisnya selalu membicarakan cucu saat mereka berkumpul di luar waktu kerjanya. Pria tua itu terobsesi untuk menjadikan cucunya penerus kebanggaannya yang akan ia didik dari kecil. Karena semua anaknya perempuan. Jadi Tuan Baskoro sangat menantikan kelahiran cucu pertamanya.
Chyntia selalu menutupi kebenarannya pada Tuan Baskoro. Ia selalu beralasan belum bisa mengetahui jenis kelamin bayi yang ada di kandungannya.
Dengan berusaha mengugurkan kandungannya. Chyntia berharap setelah keguguran ia akan ikut program untuk hamil anak laki-laki yang sangat di inginkan papanya.
Takdir berkata lain sekeras apapun usaha Chyntia menggugurkan kandungannya. Tapi Sang Pemilik kehidupan tidak membiarkan janin yang di kandungnya mati, malah semakin kuat melawan obat-obatan keras yang ia konsumsi.
Ada sebab dan akibat atas perbuatan yang sudah dilakukan. Bayi yang ada di dalam kandungan Chyntia mengalami cacat akibat beberapa kali sang ibu yang mengandung mencoba menyingkirkannya.
"Putri kami di ruang inkubator, Pah!" ucapan Derald membuat Tuan Baskoro mengerutkan alis mendengarnya.
"Putri?" tanya Tuan Baskoro sambil menatap tajam pada Derald.
"Ya, anak kami perempuan. Bayi mungil yang baru saja lahir ke dunia dengan selamat itu juga mengalami kelainan di kakinya. Saya harap papa mau melihatnya!"
__ADS_1
Tuan Baskoro diam tak bersuara. Merasa terkejut dengan ucapan Derald. Marah, kecewa mengetahui kebenarannya. Cucu yang ia harapkan adalah laki-laki bukan perempuan, terlebih mendengar kekurangan fisik yang di alami cucunya. Makin membuat emosi Tuan Baskoro meradang. Tak ada sahutan yang terdengar dari Tuan Baskoro.
"Maksud kamu apa Derald?" Bu Mirna meminta penjelasan.
Derald menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sebelumnya saya minta maaf, saya juga tidak tahu kalau sebelumnya Chyntia pernah melakukan aborsi. Itu terjadi ketika dia mengalami pendarahan, waktu usia kandungan nya menginjak usia empat bulan. Chyntia gagal menjalani aborsi, karena perutnya terasa sakit lebih dulu. Dia banyak meminum obat pengugur kandungan. Itu yang membuat bayi kami mengalami kelainan fisik." Derald berbicara sambil tertunduk, kemudian kembali berucap. " Chyntia berniat menggugurkan nya karena ... Papa sangat menginginkan cucu laki-laki," Derald memberanikan diri menatap Tuan Baskoro.
Tatapan tajam bercampur amarah Derald dapat dari mertuanya.
Siska adiknya hanya ikut mendengarkan. Tadinya ia mau ke ruangan bayi di mana keponakannya berada tapi diurungkannya saat melihat Tuan baskoro datang
Ia takut ada sesuatu yang terjadi.
"Kalian menyembunyikannya dari kami? Aku sangat menyesali perbuatan kalian. Aku sebagai Mamanya Chyntia akan menerima cucuku baik itu perempuan ataupun laki-laki" tegas Bu Mirna.
"Tapi Papa tidak, Ma!" hardik Tuan Baskoro.
"Pah, dia cucu kita!"
"Yang Papa inginkan hanya cucu laki-laki untuk penerus perusahaan, Mah!" bentak Tuan baskoro.
"Pah, jangan berteriak! Ini rumah sakit!" cegah Bu Mirna.
Derald tidak bisa berkutik karena ia tahu hidupnya dan keluarganya bergantung pada keluarga Chyntia saat ini. Semenjak vakum nya di dunia entertainment, Derald bekerja di perusahan papanya Chyntia. Semua kehidupan keluarganya bergantung di sana.
"Sudahlah, Pah! Laki-laki atau perempuan sama saja. Dia tetap cucu kita. darah daging kita juga." Bu Mirna mencoba menenangkan Tuan Baskoro.
Derald masih tertundu. Ia akan menerima kalau saja Tuan Baskoro akan menyalahkannya. Derald pun merasa lega setelah mengungkapkan semuanya kepada Tuan Baskoro dan Bu Mirna.
"Saya tidak akan menerima anaknya begitu saja. Apalagi kondisinya cacat. Kamu dan Chyntia sudah membuat ku marah dan kecewa. Dasar menantu tidak berguna. Putriku begitu bodohnya bisa jatuh cinta kepada pria tek berguna sepertimu!" caci Tuan Baskoro.
Lagi-lagi Derald menerima hinaan dari mertuanya. Sakit, Apalagi sekarang ini Siska adiknya mendengar hinaan itu. Rasanya harga dirinya sebagai lelaki sangatlah rendah.
"Kita, pulang sekarang, Mah!" titah Tuan Baskoro kepada istrinya.
"Tapi, Pah. Kita belum melihat cucu kita. Chyntia juga belum sadarkan diri."
Tuan Baskoro menatap tajam pada Bu Mirna. "Baiklah," ucap Bu Mirna sedihDeral karena tidak bisa melihat cucunya dan menemui anaknya yang sedang mengalami koma. Wanita itu pun mengikuti langkah suaminya yang tengah marah besar. Ia akan berusaha membujuk suaminya agar menerima cucu mereka yang baru saja di lahirkan ke dunia ini.
__ADS_1
"Ibu akan ke sini lagi, nanti," ucapnya pelan kepada Derald.
"Terima kasih Bu, Doakan Chyntia bisa melewati masa kritisnya."
"Ibu akan selalu mendoakan, Ibu titip anak ibu. Kabari ibu kalau terjadi apa-apa. Saat ini Papamu sedang marah besar jadi ibu harus mengikuti apa perintahnya terlebih dulu."
Galen mengangguk pelan. Bu Mirna pun menyusul suaminya yang telah berjalan lebih dulu keluar dari rumah sakit itu.
Beban makin menumpuk pada Derald. Pria itu kembali duduk di bangku besi tepat di belakangnya. Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya bertumpu di atas paha, Jemarinya menutupi wajah. Perlahan air matanya berurai. Rasa senang, sedih takut bercampur jadi satu.
Merasa senang anaknya telah lahir meski dengan kelainan pada fisiknya. Takut istrinya Chyntia tidak bisa terselamatkan. Sedih harus menanggung semuanya sendiri. Tak ada tempat berbagi dan mengerti dirinya.
"Kakak yang sabar, ya? Kakak harus kuat demi istri dan anak kakak!" Siska memberi semangat. "Ibu sedang di perjalanan menuju ke sini. Tadi aku yang mengabarinya."
Derald mengusap air mata di pipinya, beralih menatap Siska, adik yang menemaninya saat ini.
"Dek, maaf, kamu harus melihat kejadian tadi!" ujar Derald.
"Apa kakak selalu mendapatkan perlakuan seperti itu dari Papanya Kak Chyntia?" Derald tersenyum perih menanggapinya.
"Kakak pasti sangat tertekan. Maafkan ibu yang selalu menuntut banyak permintaan kepada Kakak,"
"Itu sudah tanggung jawabku, Dek! Saat ini aku hanya ingin Putriku bisa bertahan dan Chyntia bisa terselamatkan. Setelah ini, kakak berjanji tidak akan tergantung kepada siapapun. Kakak akan berusaha sendiri tanpa memanfaatkan orang lain. Ini balasan untuk Kakak akan perbuatan masa lalu."
Siska menarik sudut bibirnya. Merasa bersyukur mendengar penyesalan Derald. "Iya, Kakak harus lebih baik setelah ini. Semoga semuanya baik-baik saja." Siska mendoakan. " Sekarang sebaiknya Kakak ke ruangan bayi dulu, bukankah putri kecil kakak haris segera di adzankan?"
Derald berdiri, ia ingat belum sempat mengadzani putri kecilnya. "Tolong, kamu di sini dulu sebentar, Dek! Kakak mau ke ruang bayi dulu."
"Ya, Kak. Aku tunggu di sini!" balas Siska.
Derald pun melangkahkan kakinya menuju ruanagn bayi di mana putri kecilnya berada.
Dari dulu Siska selalu mengingatkan kepada Derald maupun kepada Bu leli, Kebahagiaan tidak selalu di ukur dengan uang dan serba ada. Tapi mereka selalu saja mengelak. Dengan adanya kejadian ini, ada rasa syukur yang di rasakan Siska, Kakaknya bisa berubah lebih baik. Menjadikan pengalamannya saat ini, tamparan untuk dirinya sendiri agar berintrofeksi dengan kelakuan di masa lalu. Supaya kehidupannya ke depan bisa berubah lebih baik lagi.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG>>>>
Mohon maaf, aku masukan sedikit cerita Derald dulu sekilas. Barangkali ada yang kangen sama dia. Setelah ini kita lanjutkan kebahagiaan Galen menuju unboxing... Kejutan manis untuk keduanya......