
Sabar ya teh, semoga teh Zainab dapet lagi jodoh yang lebih baik dan sayang sama teteh!”
“Amin, makasih neng!”
Di balik tembok seseorang mendengarkan obrolan mereka berdua.
Oma Ratih merasa bosan menunggu Tuan Wijaya di tambah Galen ikut ke dalam menyusul Aline meminta obat. “Lama sekali mereka, sedang apa sih?” Oma Ratih kembali menggerutu.
“Kalian menginap aja di sini? Masih ada kamar kosong ko, Bu!” Ayah Zaki menawarkannya kepada Oma Ratih.
“Terima kasih, Zak! Lain kali Oma pasti akan menginap di sini. Tapi tidak sekarang.”
“Oma, kita pulang duluan aja, biar nanti Papa dan Galen pulang bersama pak Tomy saja.” Bara memberi usul.
“Itu lebih baik daripada harus menunggu.” Oma Ratih berdiri di bantu Ayah Zaki.
“Tolong sampaikan pada Anggara, Oma pulang duluan.” Oma Ratih sambil berjalan di dampingi Ayah Zaki dan Kartika.
“Iya, nanti Zaki sampaikan, Bu!”
Kartika membuka pintu depan mobil lalu mengatur posisi duduk agar Oma merasa nyaman sambil merebahkan tubuhnya di bangku penumpang.
“Kami pamit, Om, Tante?” seru Kartika lalu menyalami keduanya begitu juga dengan Bara.
“Ya, hati-hati!” ucap Bu Winda.
Keduanya masih berada di depan hingga mobil yang di kendarai Bara menghilang dari pandangan mereka.
“Wijaya berhasil mendidik anak perempuan licik itu,” gumam Ayah Zaki lalu berbalik menuntun istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
“Semoga sifatnya tidak sama dengan mamanya, ya Bang!.”
“Semoga saja.”
Mereka berdua pun memasuki rumahnya.
*
*
Di dapur
“Yank....” Panggil Galen pada Aline yang tengah fokus menenangkan Zainab.
“Hmm, loh ngapain nyusul?”
“Mau minta obat.”
“Obat apaan?”
“Obat rindu,” bisik Galen lembut membuat tubuh gadis itu meremang saat hembusan napas calon suaminya itu menerpa leher jenjangnya.
Gadis itu menarik sedikit tubuhnya karena merasa tidak enak ada keberadaan Zainab di sana.
Aline pun mencebik seraya memutar bola malas mendengar gombalan Galen. Ternyata makin kesini sikap Galen makin pandai merayu.
Galen menyunggingkan senyum melihat sikap Aline.
__ADS_1
“Mana Papa?” tanya Galen seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
“Masih di kamar mandi!” jawab Aline yang kembali melihat lihat kotak hantaran untuknya.
Galen mengerutkan alis. “Masih belum kelar mulesnya?” tanya Galen heran lalu di balas Aline dengan mengangkat bahunya.
Ketika Aline dan Galen beradu kata, Zainab melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua. Wanita itu hendak membuatkan jahe hangat untuk Tuan Wijaya karena ia kasihan melihat pria setengah tua itu bulak balik kamar mandi sambil memegangi perutnya.
“Ekhmm!”
Suara deheman membuat dua orang yang sedang berbalas kata itu menoleh kearahnya.
“Pah, gimana, udah selesai?” tanya Galen saat melihat Tuan Wijaya berjalan menuju meja makan seraya menegangi perutnya.
“Papa lupa, kalau perut ini sensitif sama cabe tapi saat makan jengkol tadi bawaannya nambah terus. Sambalnya juga beda, nikmat.” Tuan Wijaya kembali mengelus perut yang kembali terasa melilit.
“Ah, itu mah emang doyan aja!" sindir Galen. "Oma dan yang lain menunggu kita di depan. Apa sebaiknya mereka pulang lebih dulu aja?” usul Galen.
Tuan Wijaya mengangguk setuju.
“Mereka sudah pulang duluan! tinggal Tomy yang menunggu kalian berdua,” Serobot Ayah Zaki yang muncul dari ruang depan menjawab usul dari Galen.
“Syukurlah kalau begitu. Tunggu sebentar lagi, kita baru pulang setelah ini.” Tuan Wijaya kembali berdiri lalu melangkah cepat memasuki toilet untuk ketiga kalinya.
Ayah Zaki dan yang lain tersenyum geli sekaligus kasian melihat Tuan Wijaya.
“Kamu sudah minta obat sama Aline, Gal,” Ayah Zaki menoleh ke arah Galen.
Pria yang mendapat teguran dari calon mertuanya itu hanya nyengir sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Udah, Om. Barusan sama Aline.” Galen menoleh kepada Aline.
Gadis itu memberikan pelototan tajam kepadanya.
“Bu, carikan obat buat Wijaya, kasian dia!”
Bu Winda mengangguk lalu berjalan melangkahkan kakinya mencari kotak obat di bufet.
Tak lama Zainab datang dari arah dapur sambil membawa secangkir jahe hangat untuk meredakan sakit perut yang di alami tuan Wijaya.
Aline dan Galen berjalan menuju meja makan.
“Apaan itu teh?” tanya Aline saat Zainab meletakkan cangkir berisi teh hangat itu di meja makan.
Galen mendaratkan bokongnya di kursi sedangkan Aline berdiri di samping Zainab melihat apa yang ia bawa.
“ini teh jahe hangat buat calon mertuamu, katanya perutnya mules melilit,” tutur Zainab.
“Teteh sih, masak sambal sama jengkolnya kebanyakan cabe. Jadi gitu deh, si Om!” sindir Aline.
“Ko teteh yang disalahin! Namanya juga balado ya harus banyak cabe dong kalau mau manis ya semur jengkol,” cibir Zainab sambil terus mengaduk jahe hangat campur gula merah.
Aroma yang menguar dari secangkir jahe membuat Galen melirik ke arah cangkir tersebut, Aline pun memperhatikan itu. “Kamu mau?” tanyanya pada Galen.
“Emang masih ada?” Galen menatap Aline
Aline hendak bertanya kepada Zainab tapi wanita itu sudah terlebih dulu menjawabnya. “Masih ada dipanci di atas kompor, Neng! tinggal saring aja masih hangat ko!” seru Zainab.
“Tunggu, aku ambilkan!” Aline melangkah menuju dapur.
__ADS_1
Galen merasa canggung ditinggal berdua dengan Zainab. Karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Begitu pula dengan Zainab. Tapi wanita itu berusaha mencairkan kecanggungan.
"Semoga lancar sampai hari pernikahan ya Gal! semoga rumah tangga kalian,sakinah mawadah, warahmah," ucap Zainab serya mendudukan tubuhnya di kursi.
"Amin, Terima kasih, Teh?"
Ceklek!
Tuan Wijaya
keluar dari kamar mandi masih dengan memegangi perutnya.
Wajahnya terlihat lelah karena harus bolak balik ke kamar mandi.
"Mas, ini saya buatkan jahe hangat, mudah mudahan bisa meredakan perut mas yang sakit." Zainab berdiri agar Tuan Wijaya duduk di kursi yang ia tempati sebelumnya.
"Terima kasih, maaf aku merepotkanmu." Tuan Wijaya lekas duduk lalu menyeruput jahe hangat yang sudah di sediakan Zainab. "Alhamdulillah." Tuan Wijaya merasa lebih baik setelah meminum jahe hangat buatan gadis Sunda berlesung pipi itu.
Bu Winda menghampiri mereka bersama Aline yang membawa secangkir jahe hangat.
"Coba minum obat ini, Mas!" Bu Winda menyodorkan obat dan air putih hangat kepada Tuan Wijaya.
Lekas di terimanya obat itu kemudian diminumnya.
"Maaf, jadi merepotkan kalian," ucap Tuan Wijaya seraya menatap Bu Winda lalu beralih kepada Zainab.
Gadis Itu tersenyum lalu menunduk malu saat tatapan yang tak biasa ia dapatkan dari Tuan Wijaya.
"Terima kasih," ucap Tuan Wijaya lembut.
"Sama-sama."
"Kita pulang sekarang aja, Gal" ajak Tuan Wijaya.
"Kalian menginap saja?" Ayah Zaki yang baru saja datang setelah berganti pakaian menyarankan.
"Betul tuh, Pah? kita menginap aja di sini! takutnya Papa masih sakit perut." Galen ikut bersuara.
Tuan Wijaya menggelengkan kepala menolak usulan itu. "Itu sih maunya kamu, Gal! Zak, sepertinya waktu sebulan terlalu lama untuk mereka, lihat saja anakku ini kelihatan tidak sabar untuk segera menghalalkan anakmu!" ejek Tuan Wijaya.
Semuanya tertawa mendengar penuturan Tuan Wijaya. Aline tertunduk malu sedangkan Galen menyengir kuda mendapat ejekan dari Papanya.
.
.
.
.
**Cie... yang udah gak sabar pengen kawin..
eh. nikah dulu ding.
jangan sampe ke curi start sama papa Wijaya, Gal...
__ADS_1
Bersambung**>>>>