
"Do...," tegur Galen ysng melihat Aldo bergeming.
"Iya, Tuan. Saya akan carikan!" Aldo akhirnya keluar dari ruangan bosnya.
Meskipun tidak tahu apa yang diinginkan Galen. Aldo tetap pergi keluar untuk mencarinya.
Hampir satu jam Aldo keluar kantor. Galen sampai bosan meninggunya, rasa nikmat sudah ia bayangkan saat menikmati makanan yang ia lihat di media sosial itu.
"Makanan apa sih Mas yang Aldo cari, ko sampai lama begini?" tanya Aline sambil menguap karena mengantuk setelah empat potong brownies cokelat dengan satu gelas susu dingin ia habiskan.
"Ibu pernah buat makanan ini di rumah kamu, Yang! Itu loh, sayuran yang direbus terus dicampur bumbu kacang, atasnya ditaburi bawang goreng dan kerupuk warna orange." Galen menelan salivanya sendiri setelah memberitahu Aline. Rasanya ingin cepat menikmati makanan tersebut.
"Oh, kalau sayurannya direbus namanya gado-gado kalau sayurannya masih segar itu karedok," ujar Aline.
Galen merogoh ponsel di dalam sakunya, hendak menelpon Aldo yang tak kunjung kembali.
.
.
Galen melirik ke arah Aline. Istrinya itu telah tertidur pulas di atas sofa. Galen tersenyum bahagia melihatnya.
Semakin hari rasa cintanya kepada wanita yang ada dihadapannya ini semakin besar.
Galen membetulkan posisi tidur Aline agar tidak pegal nantinya. Kaki jenjang yang tertutup gaun panjang dinaikkan ke atas sofa, sejajar dengan tubuh Aline. Galen meraih jas yang ia sampirkan di sandaran sofa untuk menutupi tubuh bagian atas istrinya itu.
Melihat istrinya tertidur di atas sofa, Galen berinisiatif untuk merombak ruangannya, ia ingin ada satu kamar di dalamnya agar Aline bisa beristirahat saat berada di kantornya.
Tak ingin membuang waktu, Galen kembali menghubungi Aldo, asistennya itu masih belum kembali.
"Do... Di mana kamu?" tanya Galen tegas sambil berdiri menjauh dari Aline saat Aldo menerima panggilan telepon darinya. Galen takut Aline terganggu dengan suaranya.
"Saya masih ikut antri beli makanan yang Tuan mau!" balas Aldo dari seberang telepon membuat Galen memijit kepalanya. pelan.
Ia merasa heran, kenapa Aldo tidak bisa cepat selain hal pekerjaan.
"Kenapa lama sekali, Do? Apa kamu tidak bisa menyerobot antrian!" hardik Galen mulai merasa hilang mood dengan makanan yang ia inginkan. Kalo ini keinginannya berubah. "Balik lagi aja deh, kelamaan. Laper saya hilang karena nunggu kamu?"
"Tapi Tuan, saya tinggal nunggu dua antrian lagi, sayang sekali kalau saya pergi begitu saja." Kali ini Aldo yang bersikeras ingin terus melanjutkan antriannya karena merasa perjuangannya akan berhasil setelah hampir setengah jam lebih ia ikut anteian dengan ibu-ibu yang tak hentinya menatap dirinya.
Awal Aldo melihat ibu-ibu berkerumun di lapak gado-gado Mak Enok, Aldo kira para ibu-ibu itu tidak sedang mengantri. Aldo dengan pedenya langsung mendekati meja Mak Enok. Teguran dari salah seorang ibu-ibu membuat Aldo menciut lalu ikut mengantri paling belakang. Kalau tidak diikuti bisa-bisa Aldo mendapar serangan oleh mereka.
__ADS_1
Aldo bergidik ngeri mengingat para ibu-ibu yang menggodanya, saat ikut mengantri dengan mereka.
Amit-amit cabang bayi, jangan sampai anakku kegatelan seperi mereka. Kalau bukan perintah Tuan rasanya ingin segera pergi dari sini.
Batin Aldo. Ia masih ngeri membayangkannya. Hanya karena keinginan Tuannya, Aldo masih bertahan berada di tengah-tengah mereka.
"Terserah kamu! Kali ini ada hal penting yang harus kamu lakukan. Cepatlah kemari!" titah Galen tegas tidak ingin dibantah.
"Siap Tuan." Aldo melongo saat sambungan teleponnya terputus sepihak.
Aldo menggelengkan kepalanya pelan, tanpa sadar ia menjadi pusat perhatian beberapa Ibu-ibu yang berada di sana. Aldo sedikit canggung, karena tak pernah dlaam posisi ini sebelumnya.
Mendengar Galen memerintah dengan nada tinggi, Aldo pastikan itu adalah perintah yang harus segera ia lakukan.
Dengan segenap keberanian Aldo mencoba bernegosiasi dengan dua ibu-ibu yang mengantri didepannya.
"Saya akan bayar pesanan kalian jika saya diijinkan meminta satu bungkus gado-gado."
Kedua ibu-ibu menatap genit Aldo. Bagaimana tidak terpesona dengan pria itu. Penampilan Aldo yang mengenakan Jas rapi, benar-benar penampilan orang kantoran mau saja ikut mengantri di tempat gado-gado Mak Enok.
Kedua ibu-ibu itu saling berbisik. Mak Enok yang sudah terlihat lelah akibat terus menggeol tangan saat mengulek bumbu kacang tidak perduli dengan negoisasi mereka. Ia lekas membungkus gado-gado yang baru saja selesai dibuatnya lalu memasukannya ke dalam plastik bening menyusul kerupuk setelahnya.
sontak membuat Mak Enok menatap Aldo.
"Saya bayar dengan harga segini!" Aldo merampas gado-gado buatan Mak Enok yang siap di ambil oleh satu ibu yang ada di hadapan penjual makanan itu.
Mak Enok meraih bungkusan plastik itu lalu menyerahkannya kepada Aldo.
"Ini buat si Mas aja!" Kali ini Mak Enok berpihak kepada Aldo karena melihat bayaran yang dikeluarkan pria berkas itu.
"Eh, Mas ganteng itu punya saya! Si Emak gimana sih, saya antri duluan juga?" ucap ibu yang ada di depan Mak Enok Boleh diambil tapi kita ngobrol-ngobrol sebentar ya?" ucap si ibu manja membuat Aldo Bergidik ngeri.
"Iya, main serobot aja, Mas! Mana katanya uang ganti rugi udah nyerobot antrian!" sewot ibu yang satu lagi.
Tanpa banyak membantah, Aldo tidak jadi bernegosiasi dengan kedua ibu-ibu genit itu. Ia lekas mengeluarkan dua lembar lagi uang seratus ribuan dan memberikannya kepada keduanya, masing-masing satu lembar seratus ribu.
Aldo lekas pergi dari sana. Melangkahkan kaki selebar yang ia bisa agar cepat menjauh dari warung gado-gadi Mak Enok yang cukup terkenal di daerah sana.
Dalam hatinya semoga kedepannya Galen tidak menyuruhnya untuk kembali ke tempat itu.
"Gila, satu bungkus gado-gado aja, harus ngeluarin duit empat ratus ribu," Umpat Aldo kesal saat ia masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Berbagai makanan yang berbumbu kacang Aldo beli dari ketoprak, cilok dan lainnya. Dan yang terakhir Aldo mengalami kesulitan saat mencari gado-gado. Beruntung ada yang memberitaunya tempat enak yang menjual makanan itu, Tanpa pikir panjang Aldo langsung melesat ke sana. Awalnya menyesal karena anteian yang ramai, tapi Aldo tidak mau membuat Tuannya kecewa.
Setibanya di depan ruangan. Ia melihat Sandra sedang merapikan meja kerjanya. Ternyata sudah waktunya pulang untuk karyawan di kantor itu.
"Permisi, Pak Aldo saya pulang lebih dulu," ucap Sandra sopan sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Aldo melihat ada raut lesu pada Sandra. Kenapa dia, tidak biasanya murung seperti itu?
Aldo kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruangan di mana Galen sedang menunggunya.
Ceklek
Pintu terbuka sontak membuat Galen yang tengah berdiri menatap rak buku yang lumayan besar menoleh ke arahnya.
"Maaf, tuan ini makanan yang berbahan dasar bumbu kacang," ucap Aldo pelan karena Galen memberi kode dengan telunjuk yang menempel di bibirnya.
Aldo segera meletakkan makanan itu di meja kerja Tuannya.
Galen yang tadinya bersemangat untuk menikmati makanan yang sangat diinginkan nya seakan lupa akan hal itu.
Yang ingin ia jelaskan kepada Aldo saat ini adalah ide yang ada dalam pikirannya.
"Ada apa Tuan?" tanya Aldo seakan tahu kalau Galen swdang memikirkan sesuatu.
"Saya ingin besok ruangan ini di bongkar, atau ambil satu tempat di sebelah ruangan ini. Bangun sebuah kamar di sini! Agar istri saya bisa beristirahat kalau ia sedang berada di kantor," tutur Galen.
Sebagai seorang asisten, Aldo hanya bisa mengangguk pasrah. Meng-iyakan semua perintah yang ditunjuk Tuannya. Meskipun akan membuat pekerjaan menjadi dua kali lipat tidak membuat Adlo mengeluh.
Karena ada penyemangat untuknua saat ini. Seorang istri dan calon bayi yang masih dalam kandungan setia menunggunya pulang bekerja.
"Siap... Tuan akan saya kerjakan!" sahut Aldo dengan penuh semangat tak sabar ingin segera pulang ke rumah.
.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya..
__ADS_1