
Zainab terlihat bingung. Apakah harus ikut dengan Tuan Wijaya atau menunggu supir online itu, tapi saat ini Pak Supirnya tidak ada di tempat.
"Duh, kumaha iye, ngantosan Pak supir atawa ngiring sareng Tuan Wijaya," pikir Zainab sambil terdiam.
"Kalau tidak ingin ikut bareng juga tak masalah. Ayo, Tom!" Tuan Wijaya sedikit kecewa tidak mendapatkan respon dari Zainab.
"Tunggu, Tuan! saya ingin ikut sama Anda. Tapi, saya belum bayar ongkos mobilnya." Zainab kembali termenung. Rasanya tidak tega kepada Pak Supir.
Tuan Wijaya menggelengkan kepala. Malas harus menunggu. "Terserah kamu saja." Tuan Wijaya berbalik lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam mobil.
"Cepat, Tom!" titahnya sembari melangkah ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
"Saya tunggu jika, Nona Zainab mau ikut bersama kami." tawar Tomy.
Zainab masih diam mematung. Dirinya jadi serba salah. ingin ikut bersama Tuan Wijaya tapi kasian dengan supir online yang sudah mengantarkan nya sampai sejauh ini. Jika diam tempat ini, ia akan kehabisan waktu, rencananya nanti sore Zainab akan pulang ke kampungnya.
Dengan dekat hati Zainab melangkah pelan mendekati mobil Tuan Wijaya yang sudah menunggunya. Saat hendak masuk mobil Zainab bingung mau duduk dimana. Di bangku depan bersama asistennya, atau di belakang bersama Tuan Wijaya, tapi tak mungkin rasanya ia harus duduk berdamoingan dengan Tuan Wijaya.
Zainab memilih membuka pintu mobil bagian depan. Saat wanita itu sudah duduk di bangku penumpang itu. Zainab melihat dari kaca spion, supir online yang tadi mengantarnya datang kembali dengan menggunakan ojek. Terlihat supir tersebut membawa ban mobil cadangan ya tadi.
"Mas, bisa menunggu sebentar tidak?" tanya Zainab kepada Tomy. "Saya mau bayar ongkos tadi. Kasian supir itu kalau saya pergi begitu saja, meskipun tempat yang saya tuju belum sampai."
Tomy belum menjawab, tapi ia melirik sekilas ke arah Tuan Wijaya. Anggukan kecil Tuan Wijaya membuat Tomy membuka suara. "Silakan, Nona." jawabnya.
"Terima kasih, Mas." Zainab lekas keluar dari mobil lalu sedikit berlari menghampiri supir online itu.
"Pak Supir... " panggil Zainab saat melihat supir itu celingukan mencari seseorang.
"Saya kira, si Mbak nya pergi ninggalin saya."
__ADS_1
Zainab tersenyum, ia ingat ucapannya sendiri yang takut di tinggalkan di sana." tadinya sih, saya mau pergi. Habisnya Pak Supir ngilang gitu aja." sahut Zainab.
"Saya harus isi angin dulu ke bengkel sebentar, naik ojek. Tadi mau ngasih tau, Mbaknya lagi sibuk ngobrol. Saya pikir cuma sebentar, gak usah pamit." tutur Pak Supit online.
"Ini ongkos yang tadi." Zainab menyodorkan uang kepada Pak Supir.
"Tapi belum sampai, Mbak." Pak Supir menerima dia lembar uang seratus ribuan yang di selipkan di tangannya.
"Gak pa-pa, Pak. Saya mau bareng temen. Kebetulan dia mau ke rumah sakit juga." ucap Zainab.
"Terima kasih, Mbak. Lagian menunggu saya juga tidak akan cepat selesai." Supir itu menyengir kuda.
Zainab melirik ke arah mobil Tuan Wijaya tidak enak kalau mereka menunggu terlalu lama.
"Manis sekali dia memanggilmu dengan panggilan Mas!" celetuk aturan Wijaya. Ucapannya terdengar seperti sindiran halus. "Suruh dia duduk di belakang." titahnya pada Tomy.
"Baik, Tuan." Tomy hanya bisa menuruti apa yang di ucapkan majikanya.
Asistennya itu sudah puluhan tahun menemani Tuan Wijaya, jadi ia sangat mengerti perasaan majikannya itu. Meskipun menjalani rumah tangga dengan Nyonya Mariska tapi Tuan Wijaya selalu merasa kesepian dan sendiri.
Melihat Zainab berjalan mendekati mobil, Tomy segera keluar mobil lalu membukakan pintu untuk Zainab.
Wanita itu melongo diperlakukan seperti itu. Ia ingin mencegah tapi ucapan Tomy membuatnya tidak bisa berkutik. "Silakan Nona. ini perintah dari Tuan Besar."
...***...
Kini, Zainab harus duduk berdampingan dengan Tuan Wijaya. Ada perasaan canggung saat itu, Zainab yang tadi banyak bicara dengan supir online saja saat ini hanya diam seribu bahasa. Jarak yang tak begitu dekat serasa menjadi ratusan kilometer jaraknya.
Zainab membuang napas berat. Kenapa menahan kecanggungan terasa lebih berat daripada membawa rantang yang ia pegang saat ini.
__ADS_1
Tiba di gedung Rumah Sakit Soedibyo. Setelah membukakan pintu untuk Tuan Wijaya, pria itu setengah berlari hendak membukakan pintu untuk Zainab.
"Terima kasih, Mas Tomy. Padahal saya juga bisa sendiri. Maaf saya merepotkan Anda!" ucao Zainab sambil tersenyum.
"Sama-sama, Nona." Tomy sedikit membungkuk untuk membalasnya. "Silakan lewat sini, ikuti Tuan Besar, Nona."
Tuan Wijaya sudah berjalan lebih dulu, tanpa menunggu Zainab. "Duh, dingin pisan sih, Tuan Wijaya. Apa dia marah ya, aku ikut bersama mereka?" batin Zainab.
"Kenapa dia bisa tersenyum pada Tomy semanis itu, sedangkan padaku wajahnya terlihat biasa saja. Ucapan Terima kasih juga tidak. Padahal aku yang menyuruh Tomy untuk mengajaknya, Dasar Wanita." gerutu Tuan Wijaya dalam hatinya.
.
.
.
.
.
Bersambung>>>>
Ahay.... ada yang marah apa cemburu.. yakin gak sih Tuan Wijaya sudah move on dari mendiang istrinya.
Apa hatinya sudah luluh oleh janda berlesung pipi itu, sampai-sampai ia rindu dengan senyum manisnya Zainab.
Persiapkan hati untuk kisah Aline selanjutnya...
.
__ADS_1
.