Fake Love

Fake Love
Tuan Burns


__ADS_3

"Apa?" balas pria itu dengan wajah sangarnya.


"Eumm... Maaf... Saya dengar obrolan Anda di telepon barusan sedang mencari pekerja. Paa benar? Kerjaan apa ya? Saya tertarik karena saya sedang benar-benar membutuhkan uang," ucap Sandra kikuk karena pria itu langsung memperhatikan sekujur tubuh Sandra.


"Ya, benar! lo mau bekerja dengan gue?" tanya balik pria itu.


"Apa uang bayaran bisa saya dapatkan setelah selesai melakukan pekerjaannya?" lanjut Sandra.


"Bisa, asal lo nggak kabur saat bekerja. lo harus membayar kerugian saat lo mangkir dari pekerjaan," tutur si pria yang masih terus menatapnya tajam.


Boleh juga nih cewek, mayan buat dijual sama pelanggan gue.


"Kapan saya bisa bekerja?" Sandra terus bertanya membuat si pria memberikan senyum mengejek kepadanya.


"Kalau lo mau besok malam, lo kerja cuman dua hari doang. tapi lo harus bisa bikin pelanggan gue puas. otomatis bayaran langsung lo dapet, kalau lo pinter bikin pelanggan gue seneng lo bakalan dapet uang lebih dari tiga puluh juta."


Ucapan pria itu membuat Sandra tidak banyak berpikir. Hanya mendengar nominal uang sebesar itu dia langsung menyetujuinya. Yang penting buatnya satu ini adalah mendapat uang untuk menutupi biaya operasi ibunya. jika mendapat lebih malah beruntung. Bisa dia jadikan untuk biaya pengobatan selanjutnya.


"Baik, saya setuju." ucap Sandra.


Pria itu tersenyum senang. Tak perlu bersusah payah mencari, ternyata ia dapatkan di depan mata.


"Emang kalau rejeki gak bakal kemana, tanpa di cari dia datang sendiri." oceh pria itu lalu menatap Sandra tajam. "Lo temuin gue besok malam di jalan Xx... mana nomer hape lo?" lanjutnya seraya menyerahkan ponsel miliknya ke arah Sandra menyuruhnya untuk mengetikkan nomernya sendiri.


Usai Sandra memasukan nomer hape nya. Pria itu lekas berdiri dan masuk ke dalam mobil hitam yang berhenti tepat di hadapan mereka.


Mobil mewah itu melesat cepat pergi dari hadapan Sandra.


Apa keputusan ku sudah benar?


Batin Sandra merasa ragu dengan apa yang akan ia lakukan. Ia berusaha menepis semua pemikiran buruk. Kalaupun memang harus melayani untuk sebuah kepuasan bukankah memang dia sudah tidak perawan. Jadi apa yang harus di takutkan. Sandra tinggal membawa pil pencegah kehamilan saja.


***


Esok hari


Setelah pulang bekerja Sandra langsung bersiap pergi ke alamat yang kemarin ia dapat dari pria yang baru dikenalnya. Tidak memerlukan banyak waktu untuk sampai di tempat tujuan.


Saat ini Sandra menunggu seseorang tepat di depan apartemen mewah di pusat kota Jakarta. pria itu telah menghubunginya, ia menyuruh Sandra untuk menunggu.


Setengah jam telah berlalu, hampir saja Sandra mengurungkan niatnya. Ketika Sandra hendak meninggalkan tempat itu, pria yang kemarin menjanjikan pekerjaan padanya turun dari mobil yang sama dengan kemarin.


"Lo mau lepasin duit tiga puluh juta?" ucap seorang pria membuat Sandra menoleh kepadanya.


Sandra menggelengkan kepalanya.


"Ikut gue!" Pria itu berjalan memasuki area apartemen mewah. Sandra mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Apa aku tidak perlu ganti pakaian?" tanya Sandra saat mereka melewati beberapa ruangan.


"Tidak perlu! Di dalam juga lo pasti gak pake baju," balas pria itu.


Sandra sudah menduga, pekerjaan apa yang akan ia jalani malam ini.


Mungkin memang ini sudah jalan takdirku.


Kelabu....


Hanya itu warna yang ada di hidup ini.


Secercah cahaya sedikitpun tidak pernah kulihat.


Kali ini ia pasrah saja. Apapun yang akan ia lakukan saat ini yang penting bisa mendapatkan tambahan yang untuk operasi ibu.


Saat ini Sandra sudah berada di sebuah depan kamar apartement. Pria yang sedang bersamanya menekan tombol bel, tak lama seorang pria tinggi besar dengan tanpa memakai pakaian membuka pintu. Yang ia heran kenapa pria tersebut memegang alat untuk melecut binatang di tangannya.


Pria tinggi besar yang ia dengar dengan sebutan Tuan Burns itu mempersilakan Sandra masuk. Pria tadi hanya mengantarnya sampai di depan pintu saja.


"Ingat kamu tidak bisa mundur setelah masuk ke dalam," ancam pria yang membawa Sandra ke tempat itu.


Sandra mengangguk pelan. Perlahan Sandra masuk ke dalam apartemen itu. Di dalam sana sangat gelap. Hanya ada lampu temaram yang mengantarkannya ke dalam sebuah ruangan.


Sandra mengikuti langkah Tuan Burns.


Alat pelecut binatang itu diayunkan dengan kencang beberapa kali sehingga mengenai tubuh seorang wanita yang terlihat sudah tidak berdaya. Kaki tangannya diikat oleh tali yang dikaitkan pada sebuah tiang besi.


"Akh... Sakit... Tuan, tolong hentikan! Aku tidak sanggup," wanita itu terus berteriak kencang sambil meronta kesakitan.


Tuan Burns tersenyum puas saat melihat wanita dihadapannya meminta ampun. Ada rasa kebanggaan tersendiri terpancar di wajah ganas pria di depannya itu.


"Kamu... " Panggil Tuan Burns kepada Sandra. "Bersiaplah setelah ini giliranmu, kamu harus paham permainan ini." Perkataan yang keluar dari mulut Tuan Burns membuat Sandra merinding.


Sandra menoleh ke arah wanita yang terlihat tidak berdaya di hadapannya. Ia diam sambil berpikir, ternyata pria di hadapannya ini mengalami kelainan.


Tuan Burns akan mendapatkan kepuasan seksual dari menyiksa pasangannya secara psikologis dan fisik, seperti menjerat pasangannya atau mengikatnya dengan sebuah tali. Pemukulan pada tubuh bagian belakang bahkan melayangkan alat pelecut binatang agar pasangannya mengeluarkan sebuah suara yang ia inginkan untuk didengar.


Biasanya penderita kelainan ini membuat sebuah permainan. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti akan permainan dari si penderita kelainan ini.


Sandra paham dengan situasi yang ada dia pernah membaca sebuah artikel tentang ini.


Bukanya takut atau mundur. Sandra berusaha mencermari setiap gerakan yang Tuan Bachoy berikan kepada Wanita yang terikat itu.


Dan Sandra paham dengan apa yang harus ia lakukan nanti.


Ditempat lain.

__ADS_1


"Bara kamu dimana?" tanya seorang wanita kepada Bara dari seberang telepon.


"Dijalan, Mah!" balas Bara dengan malas.


"Mama ada di rumahmu. Mama butuh uang, di mana kamu menyimpan uangmu? Biar mama ambil sendiri!" ucap Nyonya Mariska dengan paksa.


"Cukup, Mah. Aku sudah banyak memberikan uang. Tapi mam selalu menghabiskan tanpa berpikir. Aku akan membiayai semua kebutuhan Mama asal tinggalkan pria bernama Seno itu! Dia hanya parasit dalam hidup Mama." balas Bara marah. Rasanya ingin langsung mematikan teleponnya.


"Hanya dia yang mengerti Mama, Bara!"


"Kalau begitu mintalah uang kepadanya. Jangan selalu menghubungiku."


"Kamu anak Mama yang bisa Mama andalkan saat ini, Kartika... anak itu bahkan tidak menanyakan kabar Mama sama sekali."


Bara menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Mamanya. "Dia malu dengan kelakuan Mama." lirih Bara. Ia pun merasa sama dengan Kartika.


Ingin rasanya Bara mengabaikan Mama nya. Tapi ia masih punya rasa bakti terhadap orang tua.


"Kamu kenapa berbicara seperti itu sama Mama."


"Karena itu kenyataanya, Mama tinggal bersama lelaki yang hanya memaafkan uang Mama saja"


"Kalau begitu bantu Mama rujuk lagi dengan Wijaya." ucap Nyonya Mariska dari seberang telepon.


"Jangan ngadi-ngadi, Mah! Tidak mungkin Papa mah kembali pada Mama. Itu sangat tidak mungkin."


"Kalau begitu berikan Mama uang, saat ini Seno akan membuka bisnis baru. Ini akan berhasil dan sukses, hanya saja ia butuh dana besar untuk memulainya." Lagi-lagi Nyonya Mariska seakan minta dengan paksa.


"Lihat saja nanti, Mah! Hari ini aku sangat sibuk. Kita bicarakan ini nanti." Bara langsung menutup sambungan teleponnya. Tanpa ia tahu Nyonya Mariska begitu marah saat telepon terputus begitu saja.


Harusnya saat ini Bara pulang ke rumahnya. Rumah yang ia beli atas kerja kerasnya sendiri. Rumah yang ia rancangan untuk kehidupan rumah tangganya, nanti. Tapi saat ini ia begitu malas ke pulang sana.


Tepat di pertigaan jalan, mobil yang ia kendarai berbelok ke sebuah apartemen mewah. Malam ini Bara berencana pulang ke salah satu apartment miliknya. Menenangkan diri dari desakan Nyonya Mariska yang selalu meminta uang kepadanya.


.


.


.


Baca terus kelanjutan ceritanya.


Karena kehidupan Aline dan Galen sudah bahagia kita selingi kisah Bara dan Tuan Wijaya ya.


Jangan bosan baca ceritanya.


Sambil nunggu up. Baca cerita temanku yuk karya dari kakkak Alya lii

__ADS_1



__ADS_2