Fake Love

Fake Love
Kecuriagan Tuan Wijaya


__ADS_3

Tuan Wijaya mengalami serangan jantung ringan setelah pertemuan pertama setelah puluhan tahun tidak bertemu malah menjadi pertemuan yang tidak ia harapkan. Perbuatan yang makin tak bisa di maafkan untuk Zaki sahabatnya. Beruntung beliau berada di rumah sakit saat itu, jadi dengan cepat ia mendapatkan tindakan medis.


Tiga hari menjalani perawatan, Tuan Wijaya di ijinkan pulang. Sebelumnya, Tomy melaporkan kepada Tuan Wijaya tentang kecurigaan bosnya itu terhadap Nyonya Mariska yang kemungkinan bermain api di belakangnya.


Jika kecurigaannya kali ini benar, ia takkan memberikannya ampun kepada istrinya itu.


Tuan Wijaya sangat membenci pengkhianatan, karena itulah ia menyuruh Tomy menyelidiki kegiatan Nyonya Mariska akhir-akhir ini. Dirinya juga sudah lelah hidup berdampingan dengan orang yang tidak ia cintai. Kondisi Tuan Wijaya saat ini sudah pulih kembali sehingga beliau diperbolehkan pulang ke rumah.


Selama Tuan Wijaya dirawat, Nyonya Mariska terlihat sedikit kesal karena tak bisa menukar obat yang biasa diberikannya kepada Tuan Wijaya selama di rumah sakit. Penanganan yang begitu ketat membuat Wanita itu sulit menukarkan obat untuk tuan Wijaya.


Tomy memang sengaja tidak pernah meninggalkan Tuan Wijaya. Dia curiga perihal obat yang dikonsumsi Tuan Wijaya selama ini mengalami sabotase. Bosnya pernah mengeluh kesehatannya semakin tidak baik padahal selama ini mengkonsumsi vitamin yang di sarankan dokter.


Asisten Tuan Wijaya itu pernah memergoki Nyonya Mariska bertemu dengan seseorang secara sembunyi - sembunyi sambil menerima bungkusan obat. Untuk masalah yang satu ini, Tomy belum melaporkan kecurigaannya sebelum ia mempunyai bukti kuat untuk memberitahu bosnya.


Nyonya Mariska biasa melancarkan aksinya di rumah saat Tuan Wijaya hendak beristirahat. wanita itu menukarkan obat yang serupa dengan obat yang biasa di konsumsi suaminya itu. Tak pernah ada yang curiga kepadanya.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


"Hai, Pa! wah ..., udah rapi aja nih?" sapa Kartika saat dirinya memasuki ruang perawatan Tuan Wijaya. Gadis itu berjalan mendekati Papanya yang udah terlihat rapi dengan kaos polo dan celana jeansnya. Meski sudah berumur penampilannya bisa membuat para wanita bersuami beralih menatapnya. Dipeluknya pria berbadan atletis itu, lalu Kecupan manis mendarat di kening Kartika dari Tuan Wijaya.



Tuan Wijaya


"Hari ini Papa sudah di ijinkan pulang. Mana Mamamu?" Tuan Wijaya mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang selama ini ia acuhkan. Lalu meregangkan pelukan terhadap putrinya.


"E-em ... Ma-ma masih di perjalanan Pah! tadi Aku dari kampus langsung ke sini jadi gak barengan sama Mama." Kartika berucap ragu, ia harus berbohong kali ini karena sepanjang perjalanan gadis itu terus menghubungi Mamanya tetapi sama sekali tak diangkat.


"Mamamu itu hanya sibuk dengan kegiatan yang gak jelas," sindir Tuan Wijaya, tapi sindirannya tak berpengaruh kepada Kartika karena gadis itu pun tau kesibukan dari Mamanya.


Nyonya Mariska lebih banyak shopping dan berkumpul dengan teman- teman sosialitanya yang kerjanya hanya menghamburkan uang para suami mereka.

__ADS_1


"Kita ke ruangan Kakak dulu 'kan, Pah?" tanya Kartika saat mereka bersiap keluar ruangan.


Tuan Wijaya mengangguk. "Ya, kita lihat kondisinya saat ini, tadi Tomy bilang Oma ingin berbicara sama Papa." Tuan Wijaya berjalan beriringan dengan Kartika. Gadis manja itu merangkul tangan papanya saat menuju ruang perawatan Galen.


Galen harus menjalani perawatan lanjutan. Kejadian yang membuatnya terkejut membuat Galen harus berpikir dan berakibat terhadap cedera di bagian kepala belakang yang dialaminya.


Cedera Fraktur tengkorak yang dialami Galen akibat benturan keras pada kepalanya membuat tengkorak kepala mengalami retak atau patahnya tulang tengkorak. Beruntung tak ada pendarahan saat itu. Tapi pemeriksaan CT scan lanjutan yang di lakukannya beberapa saat lalu baru di ketahui, ada penumpukan cairan akibat benturan itu.


"Setelah melihat hasilnya Saya menyarankan agar pasien menjalani operasi, Nyonya! ada penumpukan cairan di bagian yang cedera," ucap Dokter Fais menunjukan hasil CT Scannya pada Oma Rarih.


"Lakukan yang terbaik untuk cucuku, Dok!" Oma Ratih terlihat murung mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Galen.


Beberapa hari ini, Galen mengalami sakit kepala, sensasi berputar dan sering mengalami mual. Ternyata itu salah satu dari penumpukan cairan yang dialaminya.


Dokter menyarankan agar Galen segera menjalani operasi agar cairan yang timbul sedikit demi sedikit itu tidak menjalar pada fungsi otaknya.


Oma Ratih menyetujui tindakan yang terbaik untuk Galen. Beliau meninggalkan ruangan dokter syaraf dan bedah itu dengan wajah sedihnya. Berharap yang terbaik untuk cucunya.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


"Kamu harus segera selesaikan masalah masa lalumu dengan Zaki. Harusnya pengalaman masa lalu kamu jadikan pelajaran. Jangan pernah menuduh seseorang dengan apa yang kamu lihat, bicarakan baik-baik jangan sampai kamu kembali memfitnah orang yang tak bersalah. " Oma Ratih menasehati Tuan Wijaya. Kartika yang berada di sampingnya hanya mengelus pelan pundak Oma Ratih, berupaya menenangkan agar nenek tua itu tidak terbawa emosi.


Oma Ratih menghela napas sejenak seakan mengeluarkan banyak beban dalam dirinya.


"Oma tidak mau kehilangan cucu Oma, Gar!" ucap Oma Ratih lirih seraya mengelus pelan Punggung tangan cucunya yang tertidur pulas karena obat penenang.


Beberapa hari ini Galen memberontak ingin keluar dari rumah sakit. Penjelasan Oma tentang masa lalu Ayah Zaki dan Papanya membuat dirinya semakin ingin menemukan Aline.


"Maafkan, Gara, Mah! Gara janji akan meluruskan kesalahpahaman ini!" Tuan Wijaya menunduk sedih. Tubuh yang baru saja pulih itu duduk di sofa, kedua siku tangannya bertumpu di atas paha menahan kepala yang terasa pusing dengan masalah nya.


Tuan Wijaya biasa menyebut dirinya Gara pada Oma Ratih. Itu adalah panggilan Oma Ratih kepada Tuan Wijaya saat berbicara dengannya.

__ADS_1


"Galen harus menjalani operasi sedot cairan yang ada di belakang tengkorak kepalanya. Dokter menyarankan agar operasi di lakukan di luar negeri ada rumah sakit terbaik di sana!" Oma Ratih berbicara seraya terus memandangi Galen.


Pria yang biasanya bersikap urakan itu kembali berbaring tak berdaya di atas brankar. Tatapan Oma Rarih, Tuan Wijaya dan Kartika tertuju padanya.


Suara pintu yang terbuka memcah kesedihan diantara mereka.


"Ternyata Mas ada di sini, syukurlah hari ini Mas di ijinkan pulang!" ucap Nyonya Mariska seraya berjalan mendekati Tuan Wijaya. Tanpa mengucapkan salam atau sapaan kepada penghuni ruangan itu. Oma Ratih membuang muka malas melihat kedatangan Nyonya Mariska yang gayanya selangit itu.


"Dari mana saja kamu? kamu lupa kalau aku bisa memutus semua aksesmu untuk bersenang-senang!" Tuan Wijaya menatap Nyonya Mariska sinis.


"Maaf, Mas! tadi di jalan macet. Maaf juga ya, sayang! tadi Mama tidak angkat telpon kamu, ponsel Mama dalam mode silent, jadi tidak tau kamu nghubungi Mama." elak Nyonya Mariska.


"Hampir saja terlambat, untung saja Seno bisa main cepat kalau tidak bisa gawat kalau macan ini mengaung, baru saja di tinggal Aku sudah rindu sentuhannya!" batin Nyonya Mariska membandingkan Seno kekasihnya dan Tuan Wijaya suaminya.


"Cepat buat surat persetujuannya, temui Dokter Syaraf dan bedah dulu. Setelah itu pulanglah! kamu juga perlu beristirahat." titah Oma Ratih. Beliau risih melihat Mariska ada satu ruangan denganya.


Melihat Mariska seakan mengingatkan Oma Ratih terhadap Indira. Oma Ratih belum mengetahui kelicikan Mariska kepada Indira putrinya.


.


.


.


bersambung


Mohon maaf kemarin aurhor tidak bisa up.


Author mengalami sakit yang butuh istirahat cukup.


jangan lupa dukung terus karyaku ya.

__ADS_1


__ADS_2