
...Jangan lupa setelah membaca, dukungannya untuk karya ku ini. 😘😘😘...
Satu bulan sudah Aline beralih pekerjaan menjadi seorang model. Cuti istimewa yang diambilnya pun sudah berakhir. Sudah saatnya ia kembali bekerja di kantornya. Ilmu yang di dapat selama bekerja menjadi model memberikan modal untuknya dalam berpenampilan, tentunya juga dengan bayaran yang lumayan jika di bandingkan dengan upah pekerja perusahaan.
Jika disuruh memilih Aline antara menjadi seorang model dengan bekerja di perusahaan televisi. Jiwa matre-nya meronta saat itu karena hanya dua kali penampilan panggungnya menjadi model saja sudah bisa mengalahkan satu bulan dia bekerja di perusahaan. Sungguh cepat dalam menghasilkan uang menurutnya.
"Jadi model aja bayaran nya lumayan begini, apalagi jadi artis kaya Derald sama Chyntia. pantes aja mereka merendahkan banget gue!
Derald aja setengah tahun jadi artis bisa jadi tajir begitu, berarti ini pekerjaan yang menjanjikan," batin Aline.
Sempat berpikir untuk mengundurkan diri dari perusahan FMC TV tempatnya bekerja saat ini tapi Aline tidak enak hati dengan pekerjaan yang telah ditinggalkan selama masa cutinya.
Maka dari itu akhir-akhir ini Aline sering mengambil lembur untuk menyelesaikan tugas yang tertunda, Ia berniat untuk mengundurkan diri dari kantor ini.
Bu Syahrani pun tidak memaksa Aline. Dia masih bisa menerima tambahan pemotretan di luar jam kerja perusahannya.
***
Satu bulan sudah Aline beraktifitas seperti biasa di kantornya. Semua teman satu divisi dengannya bersikap ramah dan banyak yang memuji penampilan Aline yang sekarang. selama itu pula Aline mengambil job pemotretan menjadi model setelah bekerja di kantor ataupun hari libur di hari Sabtu dan Minggu.
"Tau deh, beda yang punya profesi sampingan mah? Sibuk banget ya, Lin sekarang?" tanya Dino dengan nada mengejek pada Aline.
"Enggak juga, biasa aja! lagian cuman berpose aja sih di depan kamera," sahut Aline seraya membereskan file di atas meja kerjanya dan siap di serahkan kepada Kapala divisi.
"Kamu hebat, Lin bisa membagi waktu buat bekerja. Berita tentang mu juga sudah jadi trending topik loh di media sosial.
Aline hanya tersenyum menanggapinya.
"Biasa aja, No! bagaimana Riri, betah gak dia di rumah?" tanya Aline basa basi menanyakan Riri yang sudah berhenti bekerja semenjak menikah dengan Dino, dua Minggu yang lalu.
"Masih beradaptasi dengan keadaan. Lebih sering ngeluh sih! jenuh katanya kalau kerjaan rumah sudah beres. Makanya dia suka ngrecokin nelpon kalau lagi kerja. Apalagi saat lihat berita tentang Kamu, sering muncul di beberapa majalah. Ribut Mulu pengen ketemu!" tutur Dino.
"Suruh Riri main ke tempatku, lusa! hari ini, terakhir aku bekerja di sini. Surat pengunduran diriku sudah disetujui Pak Maryono!" ucap Aline seraya menata beberapa file yang akan dibawa ke ruangan Pak Maryono. File itu adalah berkas pekerjaan yang sudah selesai di kerjakan sebelum dirinya keluar dari kantor itu. Selama satu minggu ini Aline sengaja memilih pulang malam agar semua pekerjaannya bisa selesai sebelum dirinya mengundurkan diri.
__ADS_1
"Kamu risen juga?" tanya Dino pelan tak mau mengganggu teman satu divisinya.
Aline menoleh ke arah Dino kemudian mengangguk pelan. Segera ia melangkah menuju ruangan Pak Maryono, karena kehadirannya sudah di tunggu dari tadi oleh Beliau.
Tok ... tok ...
"Masuk," sahut seseorang dari dalam ruangan.
Aline meraih gagang pintu kemudian membukanya perlahan. Sebelum masuk ia mendengar suara seorang pria yang tak asing baginya sedang berbicara dengan Pak Maryono.
"Permisi, Pak." Aline melangkah pelan mendekat ke arah dua orang yang saling berhadapan itu.
Dari belakang Aline seperti mengenal sosok pria yang menjadi tamu Pak Maryono, pria itu duduk membelakanginya. Postur tubuhnya seperti sangat familiar untuk Aline.
"Akhirnya ... Kamu ke sini juga. Saya kira Kamu akan menarik kembali surat pengunduran dirimu. Divisi ini kehilangan lagi orang-orang pintar dan bisa diandalkan sepertimu dan Riri," ucap Pak Maryono seraya berdiri menyambut kedatangan Aline, tetapi tidak dengan pria yang menjadi tamunya itu, menoleh pun tidak dilakukannya.
"Silakan duduk," titah Pak Maryono kepada Aline.
"Terima kasih, Pak," sahut Aline, bokongnya mendarat duduk di kursi yang berhadapan dengan Pak Maryono tanpa menoleh kearah pria di sampingnya itu.
Derald sudah lebih dulu melihat ke arah Aline, senyum manis sudah mengembang dari wajah tampan penuh tipu daya itu.
Mata Aline membulat tak percaya. "Derald," gumam Aline sambil diam membeku saat kedua mata itu saling menatap. Dugaan di hatinya ternyata benar bahwa pria itu adalah Derald. Perasaan benci langsung menjalar ditubuhnya. Tangannya mengepal kuat, teringat kejadian yang membuat hampir saja kehilangan hal yang paling berharga dalam diri seorang wanita.
"Hai ... apa kabar? sudah lama kita baru berjumpa," Derald mengulurkan tangannya ke arah Aline.
Tatapan tajam seakan ingin mencakar wajah yang penuh tipu itu, Aline tunjukan saat Derald seperti tak merasa bersalah kepadanya.
"Maaf ... Saya tidak kenal dengan Anda, jadi jangan pernah mengaku Anda pernah punya hubungan dengan Saya,"ucap Aline tegas membuat Derald malu seakan telah berbohong di hadapan Pak Maryono.
"Bukankah kalian saling kenal?" tanya Pak Maryono heran, matanya bergantian melihat ke arah Derald kemudian Aline.
"Bapak percaya dengan ucapannya? Heuh ... mana mungkin gadis norak, jelek penuh jerawat, bahkan tidak menarik sama sekali seperti penampilan saya dulu bisa menjalin hubungan dengan artis terkenal yang digilai para wanita ini, Pak!" Aline menggeleng pelan kemudian tersenyum kecut ke arah Derald.
__ADS_1
Skak mat. Itulah balasan Aline untuk Derald. mempermalukannya di hadapan kepala divisi yang beberapa Minggu ini ia datangi. Entah apa yang dilakukan Derald bersama Pak Maryono, sebab itulah Aline mengambil keputusan risen dari kantor FMC TV ini. sering bertemu Derald membuat sakit hati itu kembali terasa.
Pak Maryono mengangguk membenarkan ucapan Aline.
"Benar juga pacarnya Chyntia aja cantiknya paripurna masa Derald mau menjalin hubungan dengan Aline tempo dulu," batin Pak Maryono.
"Mungkin kalian sedang dekat akhir-akhir ini? Kamu 'kan sekarang model ternama Aline, apalagi Saya dengar bakatmu berlanjut ke dunia akting dan bintang iklan. Wah bakalan mengalahkan ketenaran Derald dan Chyntia, nih," puji Pak Maryono. Lalu kembali berkata. "Atau mungkin kalian diam-diam menjalin hubungan. Apalagi kalian sama-sama publik figur saat ini."
"Itu tidak mungkin, Pak. Saya bukan orang yang berani main dibelakang. Berani mengkhianati seseorang," sergah Aline dengan nada mengejek seraya melirik ke arah Derald lalu tersenyum lembut kepada Pak Maryono.
"Saya kira, kalian seperti itu. Ya kita tau sendiri dunia entertainment ini banyak hal yang tidak kita duga. "Pak Maryono kembali berucap.
Derald diam tak bersuara. Ia hanya bersikap biasa agar tidak terpancing emosi dengan ucapan Aline. Tidak mau wibawa nya hancur dihadapan Pak Maryono.
"Kalau begitu Saya permisi, pak! Saya tidak bisa berlama-lama di sini. Terima kasih untuk semua yang sudah diajarkan sehingga saya bisa bekerja dengan baik di perusahaan ini. Semua pekerjaan sudah diselesaikan dan staf pengantin juga sudah bisa bekerja tanpa arahan saya."
"Saya senang bisa bekerja sama dengan Kamu, Aline. Semoga karir mu semakin sukses dan makin terkenal, jangan lupa sama saya kalau kamu sudah jadi bintang ternama!" ucap Pak Maryono.
"Baik, Pak! Saya tidak akan pernah melupakan jasa Bapak, Saya juga bukan seperti kacang lupa akan kulitnya saat sudah berjaya, melupakan jasa baik dan pengorbanan seseorang kepada kita." Aline melirik Derald dengan sinis.
Derald merasa semua yang diucapkan Aline ditujukan kepadanya. Dia merasa marah karena itu benar kenyataanya. Mengkhianati dan melupakan semua kebaikan Aline kepadanya.
"Hei ... jangan mentang-mentang Kamu sudah terkenal, Sekarang Kamu merasa sombong, Aline." Derald berdiri merasa emosi sudah dipermalukan olehnya.
Suasana di ruangan itu semakin memanas.
bersambung.
jangan lupa abis membaca beri dukungan buat Author Kakak.
like👍
komen✍️
__ADS_1
Vote juga ya
Salam hangat dari teteh Author Mayya_zha.