Fake Love

Fake Love
Si Pemilik Hati dan Pikiran


__ADS_3

Tangis Aline pecah dalam pelukan hangat Galen. Mereka saling memeluk erat. Saling menumpahkan rasa rindu yang membendung selama ini.


Pelukan itu berlangsung beberapa saat. Sampai Aline meredakan tangisnya.


Galen meregangkan tubuh yang tak berjarak itu, kembali saling menatap. Diusapnya pipi putih Aline yang masih basah karena air mata.


"Kamu jelek kalau abis nangis gini!" ejek Galen.


Aline langsung mendaratkan cubitan kecil pada perut pria yang ada dihadapannya itu.


"Aww... sakit, Pol!" keluhnya.


"Lagian, malah ngeledek Aku!" Aline mendongak lalu menatap wajah pria yang terlihat maskulin dengan bulu halus yang tumbuh di rahang dagunya. "Gal... maaf karena melindungiku, kamu jadi terluka seperti ini!" ucap Aline sendu seraya menunduk kembali.


Galen menyentuh dagu Aline agar kembali menatapnya.


"Naluriku sebagai lelaki akan melindungi wanita yang amat dicintainya, meski tubuhku taruhannya." Galen menatap Aline dengan penuh rasa rindu.


Perasaan itu sempat terusik akan kehadiran Bella. wanita yang pernah singgah di dalam hatinya. Beberapa hari semenjak Galen sadar wanita itu sering datang untuk menjenguknya. Lalu menceritakan alasan kenapa Bella pergi meninggalkannya.


Galen menyadari perasaan terhadap Bella sudah tak berbekas. wanita itu telah menjadi sebuah kenangan akan kebodohannya. Galen mendengarkan saja kebohongan demi kebohongan yang Bella ucapkan hanya demi kembali bersamanya.


Dalam hatinya saat ini hanya ada Aline. hati dan pikirannya hanya tertuju pada gadis itu.


Dan kini, gadis yang terus mengusik pikirannya selama ini ada dihadapannya.


Aline sontak memeluk raga tegap Galen lagi. Semua terasa nyata, kini raga itu dapat ia sentuh dan ia dekap seutuhnya.


Galen menghirup aroma tubuh dan rambut Aline, wangi yang selalu terbayang hingga menyiksa tidurnya.


Galen melerai pelukan erat Aline, tangannya terangkat mengelus pipi mulus itu.


Jemarinya terus menyusuri wajah Aline, hingga Ibu jari Galen mendarat di bibir kenyal nan penuh milik Aline.


Sepasang mata gelapnya telah berkabut, entah dorongan setan apa galen mendekat dan mengikis jarak diantara mereka.

__ADS_1


Aline sempat terkejut, terlihat dari matanya yang membola. Ketika benda kenyal nan hangat itu menempel dan meninggalkan sengatan listrik pada seluruh sendinya.


Aline memejamkan matanya. Kini, aksi Galen telah sukses membiusnya.


Pikirannya kosong, yang ia tau hatinya menghangat dan ia merasa rindunya menguar seiring decapan dari sesapan keduanya.


Galen semakin mengeratkan rangkulannya, bahkan ia menarik tengkuk Aline demi memperdalam ciuman mereka.


Lidahnya pun ikut bermain-main, membelit dan mengabsen seluruh isi didalam rongga mulut seksi Aline.


Alunan merdu nan lembut sukses meluncur dari bibir Aline, ketika rasa yang pernah ia rasakan sebelumnya bersama Galen begitu membuai dirinya.


Reflek, kedua tangan Aline mengalung di leher Galen. Melingkar erat disana seakan tak ingin momen ini di pisahkan oleh apapun.


Galen masih membungkam bibir Aline dengan bibirnya. Permainan lembut Galen membawa Aline dalam kenyamanan. Tidak membiarkan pertemuan bibir itu cepat berakhir.


Aline semakin terbuai oleh permainan lembut bibir Galen. Mereka masih bergelut dalam penukaran saliva. Bibir manis Aline membuatnya candu.


Dengan nafas tersengal, Aline melepaskan tautan bibir dari permainan yang semakin panas itu. Lalu memberi jarak untuk posisinya.


Aline menunduk malu. Lekas Galen meraih tangan Aline lalu menggenggamnya erat. setelah security pergi, Galen mengajak Aline ke ruang perawatan yang di tempatinya saat ini.


"Kenapa pindah ruangan gak ngasih tau?" tanya Aline yang berjalan sejajar dengannya.


"Kamu yang susah dihubungi!" sanggah Galen.


"Oh, ya. ponselku tertinggal di mobil! Risa pasti tidak menyadarinya, soalnya ponselku mode silent."


"Yang penting sekarang sudah bertemu." Galen menuntunnya sampai depan ruang perawatannya.


Aline terperangah dengan ruangan baru Galen. Ternyata dia hanya pindah ke sebelah ruangan yang ditempati sebelumnya.


"Kamu pindah kesini? cuma pindah satu ruangan?" tanya Aline.


Galen mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kenapa Aku gak periksa ruangan ini dulu ya. Malah naik lantai atas ngubek-ngubek kamar pasien." ungkap Aline dengan bibir yang mengerucut.


"Lantai delapan ini milik keluarga Wijaya. Jadi, mana mungkin Aku berpindah dari sini. Jangan berekspresi seperti itu, apa kamu mau, Aku cium lagi bibir mengerucut mulai itu."


"Ish.. kami itu!" Aline mendelik ke arah Galen saat mendengar ucapannya.


Galwn tertawa renyah menanggapinya.


Di dalam ruang perawatan terdengar suara Oma Ratih yang menggeruru karena kepergian Galen yang tak tahu kemana.


"Dasar cucu nakal! disuruh istirahat malah ngilang entah kemana. Biarin Oma bakal bilang kalau dokter belum ngasih ijin dia pulang, biar tau rasa anak itu." Oma Ratih terus menggerutu, terlihat begitu cemas menunggu Galen yang pergi tanpa diketahuinya.


Oma Ratih meninggalkan Galen saat cucunya itu tertidur. Saat ia kembali nenek tua itu tak melihat keberadaannya.


Galen menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Aline pun mengikutinya.


"Kenapa?" tanya Aline heran.


"Sstt" Galen menempelkan jari telunjuknya di bibir memberi kode agar Aline tak bersuara.


"Kamu berjalan di belakangku, ok!" titah Galen, Aline mengangguk pelan meski ia tak tahu apa yang terjadi.


ceklek


"Oma," panggil Galen pelan.


"Sekalian saja kamu jangan balik lagi. Apa susahnya si Gal menurut apa kata Oma." Oma Ratih menggerutu seraya membelakangi Galen.


Oma Ratih tidak menyadari kedatangan Galen bersama seseorang di sana. ia terlihat sibuk merapikan beberapa barang yang akan dibawanya pulang.


.


.


.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2