Fake Love

Fake Love
Perubahan Papa


__ADS_3

Sandra begitu tersentuh mendapat perlakuan hangat dari Oma.


"Terima kasih, Oma!"


"Sama-sama."


Oma berdiri meninggalkan Sandra yang masih terharu mendapat perlakuan hangat dari Oma Ratih untuk bersiap ke rumah sakit.


"Andai saja Aku bisa memiliki keluarga baik dan hangat seperti kalian. Tidak seperti Bibi Erma yang selalu menekan Aku agar selalu mengiriminya uang. Tapi bagaimana keadaan ibu ya, beberapa hari Aku belum memberi kabar kepada mereka," gumam Sandra.


Gadis ini merasa khawatir terhadap ibunya yang memang sakit-sakitan dan dirawat oleh bibinya. Bibi yang selalu menekannya untuk selalu mengiriminya uang dengan alasan obat dan biaya kontrol ibu Sandra ke rumah sakit mahal.


*


*


*


Tuan Wijaya sudah mendengar kabar kepulangan Galen dari Oma Ratih. Beliau merasa lega mendengarnya. Setelah menyelesaikan urusan bisnisnya, ia langsung menuju rumah sakit untuk menemui putranya tersebut. Oma Ratih dan yang lainnya sudah menunggu di ruang perawatan untuk segera keluar dari rumah sakit tersebut.


Setibanya di rumah sakit Tuan Wijaya mendapat telpon dari Bara putra bawaan dari Nyonya Mariska. Beliau menghentikan langkahnya sejenak untuk berbicara dengan Bara. Tomy yang mengikutinya dari belakang pun ikut menghentikan langkahnya. Menunggu dengan jarak tak jauh dari bosnya tersebut.


Bara menghubungi Tuan Wijaya meminta penjelasan yang terjadi sebenarnya terhadap Mamanya karena ia tidak mau ada salah paham dengan Papa tirinya tersebut.


"Kalau seperti itu kebenarannya, Bara minta maaf, Pah, atas kelakuan Mama. Bara menyetujui apapaun keputusan Papa," sahut Bara setelah Tuan Wijaya menceritakan secara singkat masalah yang terjadi antara dirinya dengan mama kandung Bara tersebut. "Kartika apa ikut kesana?" tanya Bara lagi dari sebrang telpon. Meski tak sedekat Galen dan Kartika tapi Bara juga menyayangi adik satu mama itu. perhatian kecil sering ia berikan kepada adik perempuannya itu.


"Terima kasih sudah memahami keputusan Papa! Papa masih memberi kebaikan kepada Mamamu, karena Papa masih memandang dirimu dan Kartika. Adikmu ikut bersama Papa, iya masih syok mendengar sendiri pengakuan Mamamu," sambung Tuan Wijaya.


"Iya, Pah, Aku juga berterima kasih Papa tidak membedakan Aku dengan Galen. Aku pasti menasehati Mama. Syukur lah kalau memang Kartika ikut bersama Papa. Sekali lagi Bara minta maaf," ucapnya dari sebrang telpon. "Bagaimana keadaan Galen, Pah? maaf Bara belum bisa melihat kondisinya ke sana!" tanya Bara lagi.


"Galen sudah lebih baik, hari ini dia di ijinkan pulang. Sepertinya kita akan bermalam dulu di hotel. Besok baru kita kembali ke Indonesia. Bara!" panggil Tuan Wijaya.


"Ya, pah, kenapa?"


"Kamu adalah anak tertua. Kamu harus tegas kepada Mamamu. Meskipun kamu bukan anak kandung Papa, tapi kamu sudah membuat Papa bangga akan usaha dan kerja kerasmu."


"Bara hanya melanjutkan usaha Papa, bukan memulai dari awal. Harusnya Mama sadar diri, kalau bukan karena Papa Wijaya, Bara tidak akan berhasil seperti sekarang ini." Bara tersenyum miris.


"Papa minta maaf perbuatan Mamamu di masa lalu sungguh tak termaafkan. Kita tidak bisa banyak bicara melalui telpon, nanti Papa akan jelaskan kepadamu semuanya," ujar Tuan Wijaya.


"Baik, Pah. Sampaikan salamku untuk Galen!"


"Ya, akan Papa sampaikan. Papa bersyukur Aline bisa ikut dengan Papa ke sini. Kondisi adikmu berangsur membaik karena dirinya."


"Aline Barsha?" tanya Bara.

__ADS_1


"Ya, gadis itu! lagi-lagi dialah yang membantu Galen."


"Benarkah? syukurlah kalau begitu. Pah ..., Bara tutup telpon dulu. Ada investor yang sedang menunggu," sela Bara ingin segera mengakhiri sambungan telponnya. Dalam hatinya ia terkejut dengan Aline yang rela menyusul Galen ke Negeri Singa itu.


"Ya sudah! Kita bicara lagi nanti!"


Sambungan telpon pun berakhir. Tuan Wijaya melanjutkan langkahnya menuju ruangan Galen. Tomy masih setia mendampingi langkah bosnya itu. Asisten Tuan Wijaya itu mensejajarkan langkahnya dengan bosnya tersebut.


"Bagaimana dengan Mariska, Tom? apa dia berbuat ulah lagi?" tanya Tuan Wijaya seraya terus melangkahkan kakinya pelan.


"Tidak Tuan, tapi semua perhiasan yang ia beli dari hasil menguras uang kantor semua di bawa olehnya, Tuan! Nyonya juga pergi menemui Seno."


"Saya tidak peduli dia kembali bersama pria parasit itu atau tidak, biarkan saja mereka! perhiasan sebanyak itu tidak ada artinya buat Saya. Awasi terus perempuan itu jangan sampai dia memanfaatkan Kartika yang masih tinggal di kediaman Wijaya," titahnya pada Tomy dan langsung mendapatkan respon dari asisten yang selalu siaga itu.


"Baik, Tuan."


*


*


*


Di dalam ruang perawatan terdengar candaan dan tawa dari sana. Ternyata suara Sandra yang sedang bercerita perihal masalah yang menimpanya kemarin.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut tertawa menanggapinya. Tapi tidak dengan Galen. Pria itu hanya mengembangkan senyum seraya menggelengkan kepala mendengar penuturan Sandra.


"Wah... ramai sekali ada apa ini?" sapa Tuan Wijaya saat dirinya memasuki ruang perawatan.


"Ini Pah, Sandra cerita pengalamannya kemarin. Ternyata dia berani juga ya melawan pria bertubuh besar itu. Sepertinya ilmu bela dirinya lumayan juga, buktinya anak majikannya sampai babak belur olehnya!" Kartika menjelaskan kepada Tuan Wijaya dengan wajah cerianya kali ini. Kesedihan tak nampak lagi dari wajah manisnya itu, membuat Tuan Wijaya tersenyum menanggapinya.


Tuan Wijaya menoleh kepada gadis yang berdiri di dekat Oma Ratih. Dia menghentikan ceritanya saat Tuan Wijaya dan Tomy masuk ke dalam ruangan tersebut. Tatapan Tuan Wijaya terus mengamati Sandra, perlahan ia berjalan mendekati gadis itu. Sandra merasa akan ada yang terjadi padanya melihat tatapan yang tidak biasa dari Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya melayangkan tangannya ingin menyentuh dagu gadis tersebut, dengan cepat Sandra menngkisnya lalu hendak memutar tangan Tuan Wijaya. Tetapi gerakan Tuan Wijaya juga begitu cepat. Tangkisan Sandra hanya mengenai angin saja. Suasana terlihat tegang, melihat Tuan Wijaya dan Sandra saling berbalas tangkisan. Terakhir gerakan yang membuat mereka berhenti adalah ketika tubuh Sandra di putar hingga tubuh tersebut di iring duduk di bangku single dekat brankar oleh gerakan cepat Tuan Wijaya.


Semua yang terperangah melihat aksi ke dua orang itu. Gerakan yang begitu cepat.


"Wah... Papa keren, Sandra juga hebat. Kartika jadi mau belajar ilmu bela diri, supaya kalau ada yang berani melecehkan bisa ku lawan dengan cepat, seperti Sandra," Kartika begitu antusias. "Boleh kan, Pah?"


Tuan Wijaya mengangguk pelan. "Sangat boleh, wanita memang harus bisa bela diri untuk keselamatan dirinya. Ilmu bela dirimu, lumayan juga," puji Tuan Wijaya kepada Sandra. gadis itu tersenyum malu menanggapinya.


"Terima kasih Tuan."


Sore itu menjadi keseruan untuk mereka. Obrolan singkat seraya menunggu obat yang akan di bawa pulang galenpun berakhir.


Tuan Wjaya akan mengajak mereka beristirahat semalam di hotel tempat mereka menginap sebelumnya.

__ADS_1


Galen akan bersama Tuan Wijaya dan Tomy. Sedangkan Aline akan ikut dengan Oma Ratih dan Sandra.


Tuan Wijaya juga mengajak mereka menghabiskan malam melihat keindahan Negeri Singa itu. Tapi untuk Galenkarena, Tuan Wijaya menegaskan harus ada pengawalan khusus karena kondisi nya yang baru pulih.


Kartika begitu senang mendengarnya. Jarang bahkan tidak pernah ia bisa menghabiskan kebersamaan bersama sang Papa. Gadis itu langsung berlari dan menghambur kedalam pelukan Tuan Wijaya.


"Kartika senang sekali, akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama Papa!" Kartika memeluk erat tubuh Papanya itu.


Tuan Wijaya membalasnya dengan memberikan kecupan di pucuk kepala gadis tersebut. "Maafkan Papa sudah melewati waktu kebersamaan dengan kamu."


Galen melihatnya pun begitu bahagia. Ia sangat tahu betul Keseharian Papa nya yang selalu sibuk bahkan tak pernah sedikit waktu untuk bersama anak-anaknya. Perhatiannya hanya sebatas menanyakan kabar perkembangan saja tanpa ingin melakukan kebersamaan. Semua karena Nyonya Mariska. Sengaja ia menghindari istrinya tersebut selama ini.


"Perpisahan Papa dengan Mama Mariska sudah membuat perubahan pada sikapnya." celetuk Galen dengan suara pelan.


"Berubah jadi lebih baik!" balas Aline tanpa melihat ke arah Galen.


"Aku pun mau berubah, menjadi lebih baik akan Aku buat kenangan indah malam ini bersamamu." Galen berbisik di telinga Aline. membuat Aline menoleh ke arahnya.


Tanpa sadar wajah mereka tak berjarak. Hembusan napas Galen begitu terasa menerpa wajah Aline.


Galen menaikkan alis menggoda Aline. Refleks Aline menjauh karena ada Oma Ratih dan yang lainnya di sana. "Apaan sih?" gumam Aline


Wajah Aline bersemu merah menahan malu karena godaan Galen. Membuat Pria di hadapannya itu tersenyum jahil dan senang.


Di sudut lain ada dua pasang mata yang memperhatikan tingkah mereka berdua. Entah tatapan senang, iri atau sedih melihat kedekatan mereka semakin dekat.


.


.


.


Dukung terus karya Author....


like


komen


vote


gift/hadiah


apa mau kasih THR...


monggo....

__ADS_1


__ADS_2