Fake Love

Fake Love
Penghinaan Untuk Putriku


__ADS_3

"Apa obatku sudah di ambil?" tanya Tuan Wijaya kepada Nyonya Mariska saat mereka tengah berada di lift menuju ruang perawatan Galen dengan suara dinginnya. Tak ada kehangatan saat itu.


"Sudah. Tadi aku suruh Tomy membawanya. Mas lebih baik perusahaan biar Bara yang menjalankan nya, toh selama ini dia yang mendampingi kamu, jadi Bara pasti bisa mengikuti kinerja kamu untuk perusahaan," usul Nyonya Mariska.


Akhir-akhir ini kesehatan Tuan Wijaya semakin menurun. Pria paruh baya itupun merasa heran dengan kondisi tubuhnya. setiap hari ia mengkonsumsi obat dan vitamin dari dokter. Tapi tak ada perubahan berarti untuknya.


Tuan Wijaya menghela nafas. "Penerus Aksara Grup harus darah dagingku sendiri. Bara hanya anak bawaan darimu. Aku sudah mewariskan satu perusahaan untuk dia kelola. Akan banyak pertanyaan dari para pemegang saham, jika itu terjadi. Kecuali Kartika, dia bisa menjadi penerus jika Galen menolak."


Tuan Wijaya menjeda ucapannya kemudian melipat tangan di depan dada seraya menatap Nyonya Mariska. "Meskipun Galen jarang mengikuti perjalanan bisnis ku, tapi anak itu berhasil membangkitkan dua perusahaan peninggalan Mamanya yang sudah bangkrut akibat ulahmu. "Tuan Wijaya berbicara tegas. Tatapan yang ditunjukkan olehnya kepada Nyonya Mariska membuat wanita itu menundukkan kepala takut.


Banyak orang mengira hubungan mereka berdua harmonis dan bahagia. Di depan publik sebisa mungkin Nyonya Mariska akan bersikap seperti istri baik kesayangan Tuan Wijaya.


Di balik itu semua sikap dingin dan acuh selalu ia terima dari Tuan Wijaya. Kalau bukan karena kehadiran Kartika di antara mereka. Tuan Wijaya sudah menceraikan Nyonya Mariska dari dulu.


Kartika terbukti anak darinya. kejadian terhadap Galen menjadikan ia lebih berhati-hati. Olah karena itu Tuan Wijaya tetap bertanggung jawab terhadap Nyonya Mariska tanpa peduli terhadapnya.


Setelah kepergian Nyonya Indira pratiwi, istri pertamanya. Penyesalan hebat ia rasakan. terlebih saat ia mengetahui kebenarannya. Pria itu sangat menyesal telah berbuat sekejam itu kepada sahabatnya Zaki Rahmadi.


Tuan Wijaya menutup semua akses untuk Zaki pada semua perusahaan di negaranya. Sehingga tak satupun perusahaan yang mau menerima sahabatnya untuk bekerja. Tak bisa di pungkiri kecerdasan yang di miliki Zaki patutlah di perhitungkan saat itu karena satu perusahaan yang di kembangkan oleh Zaki sukses dengan cepat. Hanya karena kesalahpahaman semua menjadi hancur.


Bahkan perusahaan sempat turun karena kepergian Zaki, tapi semua tak berlangsung lama. Dengan kecerdasan Tuan Wijaya perusahaan Askara Grup bisa bangkit kembali bahkan sampai mempunyai beberapa cabang di dalam dan luar negeri.


Semua sikap dingin Tuan Wijaya tak dipermsalahkan oleh Nyonya Mariska. Wanita yang jarang mendapat sentuhan hangat dari Tuan Wijaya memilih bermain apai dibelakangnya.


Wanita itu berselingkuh selama ini. Bahkan Nyonya Mariska beberapa kali mengambil uang dari perusahaan dengan persetujuan tanda tangan Tuan Wijaya, yang isinya sudah ia manipulasi.


Uang dengan jumlah yang tidak sedikit, ia ambil tanpa sepengetahuan suaminya. Wanita itu dan selingkugannya berencana mengambil alih perusahaan sedikit demi sedikit.


Hingga sampai saat ini. Aksinya menukar obat dengan racun penyumbat aliran darah agar kesehatan Tuan Wijaya perlahan memburuk. Dan kekuasaan bisa ia kendalikan sementara. saat itulah wanita itu akan mengambil alih semuanya.

__ADS_1


Mereka berdua bagai orang asing di dalam lift. Sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


"Lihat saja, sampai kapan kamu bertahan hidup Anggara Wijaya. Obat yang aku tukar akan menghancurkan tubuh mu. saat itulah semua harta kekayaan mu akan beralih ke tangan ku yang pasti Kartika lah pelantaranya. Semoga saja anak itu menurut padaku" batin Nyonya Marisa. Tatapannya sinis mengarah kepada Tuan Wijaya.


Ting


Lift terbuka otomatis. Tuan Wijaya sampai di lantai delapan di mana Ruang rawat Galen berada.


Saat pintu lift terbuka pemandangan mengejutkan di lihat Aline. Gadis itu bisa melihat Tuan Wijaya dari dekat. Mereka kini saking berhadapan. Tuan Wijaya dan Nyonya Mariska keluar agar lift bisa beroperasi kembali.


Lirikan tajam di berikan Tuan Wijaya kepada Aline. Membuat gadis itu menunduk seketika.


"Sejak kapan wanita murahan berasa di sini. Apa kamu tidak sadar, karena mengantarmu anakku jadi seperti ini!" ucap Tuan Wijyaa ketus dan galak.


"Pah, sudah cukup! ini musibah bukan salah Aline. Orang yang harus Papa salahkan harusnya mendekam di penjara saat ini, bukan malah Papa bebaskan!" sindir Galen.


Aline mengerutkan alis ketika menunduk. Merasa tak mengerti dengan ucapan yang Tuan Wijaya lontarkan padanya.


Di ujung ruangan. Ayah Zaki berniat untuk mendekati Oma Ratih. Tapi sayang saat melihat lift terbuka, Ayah Zaki melihat siapa yang keluar dari dalam lift tersebut. Beliau mengurungkan niatnya saat keberanian terkumpul untuk menyapa.


Ayah Zaki kembali bersembunyi di balik tembok tak jauh dari mereka berdiri. Sehingga percakapan bisa terdengar olehnya. Pak Mulyo hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh majikannya.


Ayah Zaki mengepalkan tanganya saat putri kesayangannya di sudutkan oleh Tuan Wijaya. Beliau kembali menajamkan pandangan dan pendengaranya agar bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.


"Maksud Om. Apa, ya? Saya enggak ngerti?" Aline masih tak mengerti maksud Tuan Wijaya.


"Kamu belum mengenalnya, Wijaya. Jangan beranggapan seperti itu. Oma kenal baik dengan dia!" sambung Oma Ratih.


"Wanita baik mana yang berpelukan dengan seorang lelaki di ruang terbuka. Saya melihat kamu berpelukan dengan Bara adi sore di resepsi pernikahan. Dan sekarang kamu bersama Galen. Apa kamu mau mempermainkan keduanya?" ucap Tuan Wijaya geram dan marah.

__ADS_1


Aline menggelengkan kepala mendengar ucapan Tuan Wijaya. Seakan menyanggah perkataan yang di lontarkan untuknya.


"Wanita seperti itukah yang di bilang wanita baik-baik."


"Kejadiannya tidak seperti itu, Om!" sangkal Aline lalu beralih kepada Galen. "Gal... tadi aku hampir terjatuh dan Bara menolongku, Aku juga pernah di tolong olehnya saat keluar dari rumah sakit ini tempo hari, Aku bukan wanita murahan!" Aline berusaha menjelaskan kepada Galen kejadian sebenarnya.


Galen berusaha meraih tangan Aline. "Aku percaya padamu." Galen berusaha menenangkan Aline.


Tak terasa tetesan air mata Aline turun melewati pipinya begitu saha, mendengar Galen mempercayainya.


Pak Mulyo yang ikut bersembunyi dengan Ayah Zaki pun merasa geram mendengarnya. Saat akan menghampiri mereka yang sedang berdebat, Ayah Zaki melarangnya.


"Tunggu, dulu, Pak Mulyo! biar saya yang akan bertindak," cegah Ayah Zaki. Terdengar kembali umpatan dari Tuan Wijaya untuk Aline yang membuat Ayah Zaki marah mendengarnya. Beliau mengepalkan tangan tidak menyangka tuduhan tidak baik akan ia dengar untuk putrinya. "Saya sudah memaafkan kejadian dulu Wijaya, tapi kamu membukanya kembali dengan penghinaan untuk putriku. Saya tidak menyangka hatimu sama dengan wanita keji itu," batin Ayah Zaki.


"Dasar wanita murahan, beraninya kamu mendekati Bara. Apa profesimu menjadi artis sudah mulai meredup, dan sekarang kamu mengincar anakku," Nyonya Mariska ikut mencela Aline.


"CUKUP... Beraninya kalian menghina putri saya!" Ayah Zaki menyela perdebatan yang sedang terjadi.


.


.


.


.


Bersambung.


like komen dan vote ya...

__ADS_1


__ADS_2