
Prolog
Mark dan Iyas yang sedang bergelut dan mengingat kejadian lampau, yang mereka alami sebuah keburukan dan tidak ada kebaikan dari kehidupan mereka sebelum bertemu Rendi yang bahkan usianya di bawah mereka berdua.
Di perjalanan mereka teringat masing-masing bersama Rendi.
##Flasback on##
Iyas yang saat itu sedang di gantung di atas pohon tangan di ikat ke atas dalam keadaan wajah darah menetes. Saat Rendi sedang pergi membeli makanan untuk dia dan Mark.Ia mendengar seorang lelaki tertawa dengan keras dari balik dinding pagar rumah beton. Rendi mendengar ucapan pria itu.
"Jangan dulu mati nanti setelah semua jatuh ke tanganku baru kau boleh pergi dengan tenang hahaha," ucap seseorng di balik pagar beton.
Rendi mengerutkan dahinya ia sangat penasaran dengan apa yang ia dengar. Ia mencoba melompati dinding beton dengan menaiki bertahap. Dengan bersusah payah ia naik dan terlihat seorang pria sedang tertawa dan mencambuk seseorang yang ia gantung di atasnya.
Iyas tampak kehabisan tenaga untuk berontak setelah bertubi-tubi ia mendapatkan cambukannya.
Saat pria itu mencoba mencambuk kembali tali cambuk tertahan dari arah belakang. Pria itu terpental saat Rendi menendangnya ke depan dan tersungkur di bawah kaki Iyas yang masih dalam posisi tergantung. Rendi menginjak tubuh pria yang tersungkur dan membuatnya pingsan.
Ia melihat ke arah Iyas yang setengah sadar Iyas tersenyum.
"Heh, bodoh...!! Tubuh segede ini kalah dengan pria tak bertenaga, kau makan apa sehingga tidak punya nyali untuk melawannya," ucap Rendi.
Ia memutuskan ikatan tali yang mengikat Iyas dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Tapi Rendi tertindih tubuh Iyas karena terlalu berat.
"Huh badanmu berat sekali tapi kalah sama yang tua,bikin malu saja," cetus Rendi.
Setiap perkataan Rendi Iyas terima dengan hati bahagia. Ia bahkan sempat tidak berharap untuk bisa bernafas lagi setelah Rendi membawanya ke tempat tinggal usang yang sekarang menjadi perumahan elit millik Anggara.
Rendi menopaangnya sampai tempat tinggalnya dan sudah ada Mark yang sedang mengompres wajahnya yang masih segar terpukul. Rendi mendudukan Iyas. Ia melihat ke arah Mark yang masih dengan posisi awal.
Rendi membuka pakaian Iyas yang compangg camping. Mungkin sudah berapa kali cambukan ke tubuhnya sehingga tidak tersisa di tubuhnya.
Saat Rendi mengobati tubuh Iyas dengan obat seadanya,ia melihat Mark yang sedang mengompres wajahnya.
"Heh kalian ini sepasang pria bodoh yang tidak tahu malu dengan badan besar kalian sendiri, membiarkan tubuh bagus sendiri di rusak orang," cetus Rendi.
Mark dan Iyas hanya mendengarkan ocehan Rendi yang banyak berceramah dan ledekan darinya. Justru membuat mereka menyukai Rendi.
"Kau tidak bisa apa-apa tapi tidak pernah terkena pukulan kenapa bukankah itu hanya keberuntungan saja," ucap Mark.
Pertanyaan ini yang baru ia lontarkan setelah sekian lama tidak berbicara pada Rendi yang selalu mengoles obat padanya. Hanya Rendi yang selalu berbicara dengan ucapan pedasnya tidak ada yang berani berbicara padanya. Karena tubuh mereka saja terkulai malah membuat Mark dan Iyas terdiam hanya mendengarkan ocehan Rendi saja.
"Huh,aku tidak perlu berkeringat jika hanya untuk cari masalah atau menghindari masalah gunakan kepala baru bisa berkuasa,tentang fisik bukankah seharusnya bagian kalian yang berbadan besar," cetus Rendi.
Mark dan Iyas tercengang saling pandang mereka melihat Rendi yang pergi mengambil air dan menenggaknya dengan tampilan coolnya. Membuat kekaguman tersendiri dari Mark dan Iyas.
"Apa kamu tidak bisa berkelahi?" Tanya Mark.
"Tapi aku lihat dia tadi memukul Pamanku sampai pingsan," tambah Iyas.
"Aku tidak ada waktu untuk berkelahi dan juga aku mempunyai keluarga baik-baik untuk apa aku berkelahi juga," ucap Rendi.
"Akan lebih baik dengan kecerdasanmu itu di ikuti dengan bela diri juga untuk melindungi diri sendiri," ucap Mark.
"Apa kamu bisa?" Tanya Rendi datar.
Mark mengangguk dengan bangganya ia menjawab pertanyaan Rendi.
"Lalu kenapa kau berlari jika di kejar para berandal itu?" Ucap Rendi.
"Akuuu," Mark tidak bisa menjawabnya.
"Mereka terlalu banyak," jawab Mark.
"Heh, kalau begitu jadi lebih kuat biar aku yang berdiri di belakang mengarahkan untuk kalian menjadi yang berkuasa di dunia yang kejam akan setiap hal ini," tegas Rendi.
Mark dan Iyas mengangguk. Mereka menyetujuinya karena Rendi sendiri belajar untuk bela diri sendiri dari Mark. Mereka saling mengisi satu sama lain.Rendi yng bolak balik dari rumahnya menghampiri mereka hanya untuk memberi makanan dan berlatih bersama.
Suatu malam saat Mark dan Iyas sedang beristirahat, setelah mengangkat beban ada seorang anak sekitar sepuluh tahun bersiri di depan pintu dengan tubuh kotor dan wajah hitam pekat karena debu.
Saat Mark dan Iyas menghampirinya. Ada tangan Rendi yang tiba-tiba masuk dan membawa anak itu ke kamar mandi. Mark dan Iyas hanya melihat ke arah Rendi yang masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah itu Rendi menggendong anak itu dengan tubuh sudah bersih berbalut handuk dan rambut basah.
Anak kecil yang tadi kotor sekali kini berubah menjadi seorang anak tampan berwajah bersih putih bibir kecil manis.
Rendi mengusap mengeringkan rambutnya dan melempar handuk yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Mark dan Iyas melihat Rendi yang mobdar mandir mencari sesuatu untuk di pakai oleh anak itu.
"Bro, dia anak siapa lalu yang tadi kemana kenapa jadi seputih dan sebersih ini bocah yang tadi sangat kotor," ucap Iyas mencoba menyentuh wajah anak itu.
"Berhenti," teriak Rendi.
__ADS_1
Mark memberhentikan tangannya tidak sempat menyentuh anak itu. Ia mematung dengan sekali ucapan Rendi.
Rendi memukul tangan Iyas yang hampir menyentuh tubuh anak itu.
Ia memakaikan pakaian untuk anak itu dan memberinya makan.
Anak itu makan dengan lahap seperti baru menemukan makan setelah beberapa lamanya.
Rendi duduk di depannya memperhatikannya yang dengan lahap memakan makanannya.
Setelah selesai makan dan minum. Anak itu mendongakan kepalanya melihat ke arah Rendi yang duduk di hadapannya.
Rendi memandangnya dengan tatapan datarnya.
"Siapa namamu?" Tanya Rendi.
Anak itu menggelengkan kepalanya.
"Usia mu?" Tanya Rendi.
Anak itu masih menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kenapa kau ada di jalanan tadi?" Tanya Rendi.
Anak itu masih menggelengkan kepalanya.
Rendi berdiri dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Kalau begitu aku akan pergi dan kau tinggal disini," ucap Rendi.
"Jangan pergi," ucap Anak itu.
Ucapan anak itu membuat Rendi berhenti dan menoleh ke arah anak itu. Termasuk Mark dan Iyas yang terkejut dengan ucapan anak itu.
Lain dengan Rendi. Ia sudah tahu pasti anak itu akan menjawabnya.
"Jangan pergi," ucap anak itu dengan tatapan tajamnya pada Rendi.
"Kau ingin aku apa dengan tatapanmu itu?" Tanya Rendi.
"Aku akan mengikutimu jika kau tidak pergi jauh dariku," ucap anak itu lantang.
Mark dan Iyas terkejut dengan ucapan berani anak itu.
Rendi tersenyum. Ia sudah tahu akan sifat anak yang ada di hadapannya ini. Apalagi saat bertemu dengannya anaka itu sedang tertidur di pinggir jalan dalam keadaan mengaduh lapar.
Sampai di sebuah rumah usang Rendi menurunkan anak itu dan pergi meninggalkan anak itu sendiri di depan rumah itu.
Anak itu menatap ke arah Rendi yang pergi meninggalkannya. Ada rasa takut saat di tinggalkan Rendi dari hati anak itu. Sehingga dia memilih untuk memasuki rumah itu dan berharap Rendi kembali menemuinya.
"Kau ingin mengikutiku dengan tubuh kecilmu ini?" Tanya Rendi datar.
"Beri aku makan aku akan menjadi lebih kuat," ucap anak itu.
"Hahahaha, kata siapa hanya dengan makan tubuh bisa menjadi kuat hah ucapan siapa itu?" Tawa Rendi.
Mark dan Iyas sangat terkejut bahkan berdiri menyaksikan senyum tawa Rendi yang belum pernah mereka lihat.
Ada hati senang di antara Mark dan Iyas melihat seorang Rendi yang tertawa dengan lantang dari wajah dan ucapannya yang selalu dingin dari awal bertemu dengannya.
Anak kecil itu menatap lekat wajah Rendi yang sedang tertawa. Ia mengingt-ingat wajah yang hanya bersedia menolongnya bahkan menggendongnya dari banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya.
Rendi terdiam kembali setelah tawanya mengejutkan seisi ruangan.
Dengan wajah dinginnya Rendi menatap kembali anak itu.
"Apa kau punya nama?" Tanya Rendi.
"Ken," jawab anak itu.
Karena hanya nama itu yang ia ingat dan tidak ada yang lainya yang ia ingat bahkan keluarganyapun dia tidak tahu.
"Berapa usiamu?" Tanya Rendi kembali.
"Aku lebih muda darimu," jawab Ken.
Rendi terdiam dia sudah tahu akan pembicaraan yang tidak penting jika di lanjutkan.
"Hmmm, bagus Ken kau harus jadi lebih kuat seperti mereka jika ingin bersamaku," tegas Rendi.
Rendi berdiri hendak pergi. Tapi sebuah tangan menyentuh tangannya,mencegahnya untuk pergi.
Rendi menoleh ke arah Ken.
__ADS_1
"Jangan pergi," ucap Ken kembali.
"Aku tidak suka mengulang ucapanku apa kau paham aku menyuruhmu untuk tinggal di sini dan belajar dari mereka," tegas Rendi dengan tatapan dibginnya
Ken terdiam ia melepas pegangannya pada tangan Rendi dan melihat ke arah Mark dan Iyas, yang dalam keadaan telanjang dada.
Ia merasa takut saat melihat mereka.
"Aku...," Ucapan Ken terputus.
"Jika kau menjadi kuat dan tinggal bersama mereka aku akan jadikan kau selalu di belakang langkahku untuk itu kau harus jadi kuat," tegas Rendi dan Ken mengangguk.
Rendi berdiri dan pergi keluar rumah itu meninggalkan Ken yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Dalam diri Ken sudah tertanam keyakinan bahwa ia akan mengikuti dia. Dia yang telah menolongnya memberi makan dan memandikannya dengan teliti dan bersih.
Ken bahkan tidak tahu siapa nama orang yang telah menolongnya itu.
Setelah kepergian Rendi. Ken melihat ke arah Mark dan Iyas yang menatap lekat padanya. Iyas yang tadinya ingin menyentuh anak itu ia urungkan karena melihat tatapan tidak suka Ken padanya.
Mark berdiri dan berbicara pada Ken.
"Jika kau sudah yakin kau bawakan ember air dari lubang sumur sana dan isi ke sana seharian penuh dan hanya istirahat untuk makan minum sisanya kau isi air," tegas Mark.
Ken terdiam ia melihat ke arah bak besar yang terbuat dari bangunan bata yang luasnya sangat besar.
Ia mengangguk dan duduk.
Mereka tertidur dalam ketenangan hati mereka setelah hari hari buruk yang mereka lewati selama ini.
Setiap hari Mark Iyas dan Ken berlatih kekuatan bela diri sendiri mereka saling pukul satu sama lain untuk kekebalan tubuh mereka. Lain dengan Ken ia mengisi bak besar dengan mengambil air setiap hari penuh dari sumur tua yang jaraknya tidak jauh dari rumah usang mereka bolak balik. Mark bermaksud untuk melatihnya dengan kekuatan kebiasaan dari kecil dan selanjutnya bisa berlatih. Sedangkan Rendi hanya memperhatikan cara berlatih mereka dan membawa makanan dari rumahnya untuk semua.
Tapi Rendi sekarang jauh lebih kuat dari mereka. Ia berlatih hanya dengan pernah melihat cara latihan Mark itupun karena faktor ia ingin mencari informasi tentang kebangkrutan keluarganya yang mendadak dan juga adiknya.
Sejak saat itu tidak ada yang namanya Rendi berleha-leha.Apalagi berkunjung ke rumah usang yang sekarang menjadi tempat Elit di perumahan terbesar.
#Flasback off#
Rendi sedang duduk di sofa ruangannya. Ia membuka email yang di kirim Adam padanya ada senyuman di balik wajah serius Rendi melihat handponenya.
"Sepertinya aku harus selalu berada dekat istriku dia sedang mencari tahu tentang orang terdekatku saat ini," ucap Rendi.
Rendi menopang dagunya dengan tangannya ia memikirkan segala cara agar semua itu tidak terjadi. Apa lagi ini wilayah kekuasaan Jason . Rendi sering ragu jika harus memperketat ke amanannya yang belum pasti bisa menjaga istrinya itu. Kelemahannya saat ini hanyalah anak dan istrinya.
Rendi sempat memutar segala cara agar bisa memperketat keamanan istrinya.
Terdengar sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Rendi.
Ia mendongakan pandangannya dan melihat Mark, Iyas, beserta Ken memasuki ruangannya. Ia tetap duduk dan mereka bertiga menyapanya dan duduk begitupun Ken yang baru masuk.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Mark
Ia bertanya langsung pada intinya karena Rendi tidak pernah mau berbasa basi bila sudah pertemuan seperti ini.
"Kau porak porandakan rumah ke dua Jason jangan sampai tersisa dan juga perusahaan sepatunya yang ada di kota timur kau buat hangus," ucap Rendi.
Mark, Iyas dan Ken tercengang mendengar perkataan tuannya yang secara tiba-tiba ingin membuat masalah setelah sekian lama.
Tuannya bahkan belum pernah membuat masalah dalam dunia mafia sekalipun tapi kali ini dia ingin membuat murka Jason yang bahkan saat ini sedang murka karena masalah proyeknya yang di curi.
Tidak ada yang menjawab atas perkataan Rendi bahkan untuk protespun tidak ada yang berani. Apalagi menyetujuinya.
Rendi tersenyum tipis saat melihat teman-temannya tidak mengatakan iya ataupun tidak. Ia berdiri dan memberikan dokumen yang tadi ia buka saat ia memasuki ruangannya. Ken bahkan tidak mengetahui tentang dokumen tersebut. Ia hanya terdiam dan menunggu giliran untuk melihat dokumennya setelah Mark dan Iyas melihatnya.
Mark dan Iyas tampak serius membuka dokumentnya. Mark memasang wajah merah geram dengan apa yang ia lihat.
Iyas juga tampak kesal setelah melihat dan membacanya. Lain dengan Ken ia terlihat datar dan tidak mengatakan apapun pada tuannya.
Rendi yang melihat setiap ekspresi teman-temannya ia duduk setelah mengambil sebuah buku kecil dari laci mejanya.
"Aku mendapatkannya dari Adam tadi pagi," ucap Rendi.
"Kapan aku bahkan tidak tahu akan hal ini apa tuan selalu merahasiakannya dariku astaga aku sampai tidak tahu harus berbicara bagaimana," batin Ken.
"Tidak perlu bingung bukankah kalian punya musuh yang sama.Jason dan Ayahnya dalang dari setiap sudut kebangakrutan keluarga kita apa kalian masih mau berdiam diri tanpa mengusiknya?" Jelas Rendi.
"Dengan bergeraknya kali ini akan membuatnya semakin tegang dan merasa resah tapi asal kalian tahu kita harus memancing cacing untuk keluar untuk itu kita taburkan garam di atas tempat tinggalnya aku juga ingin punya alasan jika harus menghancurkannya," ucap Rendi dengan tatapan tajamnya.
Mark, Iyas, Dan Ken terdiam saat melihat kembali tatapan kebencian dalam sorot mata Rendi.
Setelah sekian lama Rendi berdiam diri di Indonesia.
Kini Rendi bahkan bergerak lebih dulu sebelum Jason bergerak.
__ADS_1
Setelah Jason mengumumkan kebangkrutan perusahaan kosmetik di media. Ia tampak senang yang kebenarannya perusahaan itu masih berjalan hanya dengan saham terbesar Rendi Anggara.
Tapi tidak di publikasikan agar Jason tidak gentar dan masih percaya diri dengan kemampuan dan kekuasaannya di dunia Mafia nya.