Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Pernikahan


__ADS_3

Di dalam kamar Dilla tertidur dengan berguling-guling gelisah, ia berkali-kali melihat handponenya ia berharap ada seseorang yang ia rindukan menghubunginya. Dilla bahkan lebih sering mendesah.


"Dia bahkan tidak pernah menelponku kalau bukan dulu ia bilang suruh menunggu aku selama sebulan.Inikan udah sebulan Ken kamu kenapa siih gak pernah peka akukan sudah mencoba agar kamu mencariku"ucap Dilla.


Terdengar ketukan dari pintu kamar Dilla, ia terperanjat dan bertanya siapa yang mengetuknya .


"Siapa?" Teriak Dilla.


"Dilla cepat bergegas keluar ayahmu menyuruhmu keluar," ucap Mamah Dilla di balik pintu.


"Iyaaaa nanti aku kesana Mah," jawab Dilla malas.


Dilla berjalan keluar dengan ia hanya memakai baju tidur rapih dan memakai hijab jeblus.


Dilla berjalan perlahan malas.Hingga sampai ia di tengah rumah ia terkejut melihat orang-orang yang sedang duduk di ruang tengah yang berjumlah sekitar sepuluh orang termasuk ayah dan ibu Rara disana. Dilla terkejut melihat siapa yang ada di depanya.


"Astagfirullooh,ada apa ini?" Ucap Dilla terkejut.


"Asalamuallaikum Dilla," ucap Rara tersenyum.


"Aaaah aku kembali dulu ke kamar yaa," teriak Dilla.


Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya wajahnya merah padam karna ia merasa malu karna pakaian yang ia kenakan sangat berantakan.


Rara yang melihat Dilla kembali ke kamarnya ia mengikuti Dilla masuk ke kamarnya. Semua orang yang melihat tingkah Dilla tersenyum, termasuk Ken ia tersenyum melihat wajah kekasihnya yang memerah karena malu,Ken mendengarkan percakapan orang tua Rara juga nyonya besarnya kepada orang tua Dilla.


Rara yang masuk ke kamar Dilla sambil menggendong Rayn ia tersenyum duduk mendekati Dilla.


"Makanya kalau di panggil tuh keluar bukannya malah jawab dengan teriakan ," ucap Rara.


"Maaf aku tadi lagi bete,hehe," ucap Dilla.


"Cepetan siap-siap jangan sampai pada kelamaan,nungguin kamu"ucap Rara.


"Iya sayang sebentar yaa aku mau cium baby Rayn dulu," ucap Dilla ia mencium baby Rayn yang sedang di pelukan ibunya.


"Iya tante jangan lama-lama jomblonya ya cepetan nikahnya,biar Rayn ada temenya," ucap Rara.


"Iiiih, kamu ini masa udah pengen ada temen aja nikahnya aja belum," ucap Dilla cemberut.


"Udah ayo cepetan keluar aku mau kasih minum susu Amira dulu yaa Rayn kayanya udah kenyang nih biar papanya gantiin gendonk Rayn," ucap Rara.


"Kenapa tiap kali ketemu kamu kayanya selalu aja kalau gak sama suamimu juga sibuk sama kedua anakmu,apa aku juga nanti sesibuk kamu ya Ra?" Ucap Dilla.


"Nanti kamu juga merasakanya asal kamu tau bukan kesusahan yang aku dapatkan tapi berkah yang melimpah dari hadirnya kedua anaku ini, banyak sekali di satu sisi selain aku dapat dua anak.Aku mendapatkan kasih sayang berlipat dari suamiku di tambah mertuaku yang selalu memperhatikanku juga anak-anaku," jelas Rara.


"Hmmm aku ikut bahagia Raraku Sayang," ucap Dilla memeluk Rara.


Setelah Dilla keluar dengan pakaian rapih menghampiri keluarganya berada,baru semua memulai membicarakan maksud dan tujuan keluarga Anggara ke rumah Keluarga Dilla.


"Sebenarnya kami mempunyai maksud baik dalam kunjungan kami ini karena Ken tidak mempunyai keluarga untuk hadir.Tapi kami sudah menganggapnya seperti putra kami jadi sebagai walinya saya ingin melamar putri Anda untuk Ken keluarga kami,dengan maksud ingin menikahkanya secepat mungkin," ucap Bapak Anggara.


Dilla yang terkejut dengan maksud kedatngan keluarga Anggara beserta Kekasihnya ia tersenyum bahagia.


"Jadi ini maksudnya aku harus menunggunya tapi kenapa lama banget juga tidak memberitahuku akukan jadi seneng," batin Dilla.


Orang tua Dilla yang sudah paham dengan maksud ucapan tuan Anggara ia mengangguk dan memahami.


"Kami selaku orang tua hanya bisa merestui jika memang putri kami menerimanya Tuan," ucap Ayah Dilla.


"Apa sih bapak ini bukannya langsung di terima aja,pake acara bertanya padaku akukan pasti setuju, kalo begini aku harus bagaimana jawabnya," batin Dilla.


Kini semua melihat ke arah Dilla, ia hanya menganggukan kepalanya tanda bahwa Dilla setuju dengan lamaranya.


"Secepat itu dia menjawab huh," bisik Rara pada suaminya.


"Kenapa memangnya kamu cemburu ?" Bisik Rendi juga.


"Apa siiih kamu tidak ada yang lain Sayang," bisik Rara.


"Benarkah kalau begitu apa buktinya?" Ucap Rendi.


"Ini ... " jawab Rara menunjukan Amira yang kini sudah selesai minum susunya.


"Hahaha itu hasil karyaku Sayang," ucap Rendi.


Rendi tertawa ia lupa bahwa ucapanya nyarig dan banyak orang yang mendengarnya dan melihatnya dengan heran.


Rara mencubit pinggang suaminya Rendi yang sadar bahwa ia salah bicara merah padam wajahnya menahan malu ia menutup mulutnya dengan satu tangan nya.


"Memang apa hasil karyamu bro?" Tanya Iyas yang tidak mengerti.


"Astaga kenapa aku harus ajak dia sih," gumam Rendi.

__ADS_1


"Bro bagaimana apa karyamu memangnya?" Tanya Iyas kembali.


"Kalau kau sudah tidak ingin pekerjaanmu lagi aku akan mengurusnya," ucap Rendi dingin.


"Oooooh kalem bro baiklah aku tau karyamu itu ko," ucap Iyas.


Semua yang mendengar itu terkejut mereka saling pandang takutnya Iyas akan bicara yang tidak-tidak yang berhubungan dengan karya Rendi dengan istrinya.


"Jangan bilang kamu tahu sesuatu," gumam Rendi.


"Kamu tidak perlu menutupinya lagi bro aku tahu karyamu yang baru di Singapore itu karena aku banyak intel jadi tidak perlu kamu beritahu aku juga tahu ko," ucap Iyas polos.


Rendi dan semua menghela nafas lega, karena temannya yang satu ini ternyata masih jauh dari pengalaman ranjang makanya ia sangat terdengar bodoh. Iyas bahkan memakan makanan yang di sajikan keluarga Dilla tanpa basa basi.


"Ada baiknya juga dia bodoh dalam hal ini," gumam Rendi yang terdengar oleh Mark dan Ken mereka mengangguk mengerti.


Tiga hari setelah acara lamaran acara pernikahan akan di selenggaran secepatnya dengan meriah di rumah Dilla.


Walau semua serba mendadak tapi bukan Rendi ataupun Ken bila semua tidak mereka persiapkan dengan rapih. Semua acara tinggal menunggu hari pernikahan saja .


Mertua Rara yang kini tinggal di rumah orangtua Rara,mereka tampak seperti orang kampung baru,sangat polos tidak mengerti apa yang di lakukan orang-orang di dapur rumah Rara.


Karena orang-orang yang ada di dapur semua keluarga Rara, tidak ada pelayan sama sekali. Semua aktivitas di rumah permana di kerjakan oleh keluarga sendiri.


Ibu Rara tantenya juga saudaranya semua di kerjakan tanpa yang bekerja di rumah yang terbilang besar di daerahnya itu,bahkan ayah Rara berkebuh sendiri palingan nanti akan ada yang berkuli padanya untuk sementara tapi tidak menetap.


"Tidak perlu masuk ke dapur besan disini banyak asapnya," ucap ibu Rara pada bu Ratih yang menghampirinya.


"Saya hanya melihat saja bu kenapa disini tidak ada yang membantu?" Tanya ibu Ratih.


"Karena semua bisa saya kerjakan bu dan karna ada banyak saudara jadi kami bagi-bagi tugas," ucap ibu Rara.


"Hmmm terbilang ramai ya di rumah ini," ucap ibu Ratih.


"Tidak juga bu keluarga kami hanya sedikit makany kami tinggal berdekatan," jelas ibu Rara.


"Begitu dekat dengan keluarga," ucap ibu Ratih.


Rara yang sedang menidurkan Rayn dan juga Amira bersama Rendi, yang selalu siap untuk mengurus anak mereka bersama.


Rara yang sudah tertanam oleh orangtuanya yang menanamkan, usahakan minta bantuan pada keluarga dekat. Karena mereka lah yang akan selalu ada saat kita dalam keadaan membutuhkan.


Ucapan itu Rara dapatkan dari kecil, hingga sudah tertanam apapun itu. Prioritaskan keluarga agar tetap bersama.


Dari tadi Rendi selalu memandang buah dada yang si kembar minum tanpa henti,Rendi termenung setiap kali melihat lambungan sesuatu yang sangat ia Rindukan.


Karena sebuah alasan Rendi jarang mendapatkan jatahnya makanya pikiranya selalu kacau, selalu ingin minum susu yang anaknya minum itu.


"Memang kamu mau apa?" Tanya Rara.


"Aku mau makan," jawab Rendi.


"Aku ambilkan yaah," ucap Rara.


Rendi menarik tangan istrinya dan membuat Rara terduduk di pangkuan Rendi, ia mengecup bibir istrinya dan dengan rakus melakukan aktivitasnya di siang hari hingga merekapun terlelap tidur karena kelelahan.


Ken yang sedang berbincang dengan Mark,Iyas. Mereka membicarakan tentang ketegangan Ken nanti di akad nikahnya.


"Aku yakin kamu akan secepatnya merapalkanya kan?" Ucap Iyas


"Tidak perlu aku sudah tahu," jawab Ken.


"Kamu tidak tahu bahwa pernikahan membuat keringat dingin keluar," ucap Iyas.


"Seperti pernah menikah saja," ucap Ken datar.


"Hahaha kau benar-benar sedingin es bro," ejek Iyas tertawa.


"Sebaiknya kamu habiskan makanan di mulutmu itu," ucap Mark.


"Apa kali ini kamu serius?" Tanya Mark.


"Tidak perlu menjawab cukup buktikan saja," jawab Ken.


"Lanjutkan bro jika itu menurutmu baik aku mendukungmu," ucap Mark.


"Hmm pasti," jawab Ken.


Di malam hari keluarga permana dan keluarga Anggara terduduk di teras depan, di suguhi dengan camilan singkong goreng juga kopi , tampak pancaran kebahagiaan di setiap obrolan mereka.


Rendi menghampiri mereka dalam keadaan sudah segar mandi,ia bahkan meninggalkan iatrinya yang sedang menemani anak-anaknya tertidur.


Rendi menghampiri mereka terduduk dan mengikuti arah pembicaraan keluarganya,tentang Rara yang kini sudah sangat dewasa bisa mengurus anak dan suaminya juga kebiasaanya yang tidak bisa di ubah yaitu keras kepala tapi demi kebaikan.

__ADS_1


Rendi hanya mangut-mangut memahami perbincangan orangtuanya itu dengan mertuanya.


Rendi menghampiri Ken dan Mark dan juga Iyas.


"Apa kamu gugup?" Tanya Rendi.


"Tidak Tuan," jawab Ken.


"Huh tidak seru," ucap Rendi.


"Iya memang tidak seru bos," timpal Iyas.


"Istirahatlah agar besok kau bertenaga," ucap Rendi.


"Saya tidak apa-apa Tuan," jawab Ken.


"Istirahat sana," ucap Rendi kembali


"Baik Tuan," jawab Ken.


"Kalau tetap membantah pasti akan panjang urusanya," batin Ken.


Hari ini adalah acara pernikahanya Ken dan Dilla, Kini keluarga Rara sedang bersiap untuk pergi ke acara utama yaitu pernikahan Ken.


Rendi dan Rara benar-benar sibuk, disaat sedang sibuk-sibuknya , Amira yang sedang di gendong ayahnya yang sudah rapih akan ke acara Ken. Kini tertunda karna Amira buang air di pakaian Rendi,hingga membuatnya harus berganti pakian kembali.


Rara yang langsung memegang Amira dengan Rayn yang terlentang di kasurnya, Rara sedang mengganti popok Amira dan Rayn sangat pintar ia bahkan tidak menangis sama sekali,


"Kamu memang kakak yang baik sayang di saat adikmu butuh pengertianmu kamu bahkan mema'lumi adikmu yang manja ini,saling berbaiklah kalian anak-anak mamah," ucap Rara.


Selesai memakaikan popoknya,Kini si kembar tidur di ranjang orangtuanya bersama mereka tampak seperti bayi yang sedang mengobrol dengan posisi tangan yang mencoba saling menyauti.


"Kalian sangat manis muah," ucap Rara mencium pipi anak-anaknya.


Rendi melihat istrinya yang sedang bahagia dengan anak-anak mereka dan mengabadikan di handponenya.


"Ayo sayang semua sudah siap," ajak Rendi.


Diluar rumah orangtua Rara sudah banyak rombongan yang akan mengantar pengantin pria, tapi masih ada lagi yang belum hadir dan itu bukan pengantinya Ken.


Melainkan menunggu Rendi dan istrinya, hingga Rendi dan Rara datang dari dalam dan menghampiri keluarga besar.


"Bukankah kita biasanya paling lama menunggu pengantin prianya ya yang dandan sangat lama," ucap Iyas.


"Kami juga pengantin," ucap Rendi datar.


Ken yang sudah siap di depan barisan dengan orangtua Rendi di samping kananya juga Rendi dan istrinya di samping kiri Ken.


Rombongan berjalan hanya sekitar sepuluh menit untuk sampai pada rumah mempelai wanita.


Dilla yang sedang gelisah ia di dandani oleh perias bawaan Ken yang ia panggil. Dilla senyum-senyum melihat dirinya di depan cermin, ia bahkan mengenakan kebaya putih dengan kerudung mahkot, tamak cantik.


Rara yang di temani Amira karna Rayn di peluk oleh ibu Rara,kini Rara melihat ke arah suaminya yang sama sekali tidak mau bergantian.


"Mungkin dia sedang tegang hingga tidak mau menggendongmu Sayang," ucap Rara pada Amira.


Hanya beberapa langkah sudah sampai di tempat tujuan, kini semua sudah siap tinggal menunggu pengantin wanitanya yang belum juga hadir.


"Kemana dia kenapa belum keluar," bisik Iyas pada mMark.


"Diamlah," ucap Mark.


Dilla yang keluar dengan dandanan yang tidak mencolok kini Dilla menghampiri meja penghulu.


Dilla terduduk di samping Ken. Hingga acara akad pernikahan lancar setelah dua kali gagal mengucapkan ternyata Ken sangat prustasi tapi tidak ia tunjukan pada tuannya.


Karena Dilla dan Ken sudah sah menikah kini Dilla terdiam di kamarnya karena Ken masih harus berbincang dengan tuanny.


"Apa ini benar?" Tanya Mark.


"Hmmm," ucap Rendi.


"Ada apa?" Tanya Ken.


"Kamu bilang segampang seperti biasanya tapi kenpa sampai tiga kali ucapan?" Tanya Iyas.


"Aku tidak percaya bahwa pernikahann semenakutkan itu," ucap Ken.


"Huh kamu akan menyesal mengatakan itu,bro," jawab Rendi tersenyum.


"Memang ada apa?" Tanya Iyas yang keberanianya sudah memuncak hari ini.


Rara yang masih di sibukan dengan putra putrinya, kini ia tertidur bersama anak-anaknya di kamar Rara.

__ADS_1


Rara tampak memeluk anak-anaknya di tengah Amira dan di ujung ada Rara dan juga Rayn yang di halang bantal guling oleh Rara. Biar belum sebesar itu tapi Rara tetap khawatir takutnya akan terjadi hal yang tak di inginkan.


__ADS_2